
"Mutia ... Ya Tuhan ... apa yang terjadi, Nak?!" Naila memekik terkejut melihat penampilan putrinya sangat berantakan dengan luka-luka di wajah serta tubuhnya. Wanita paruh baya itu langsung berlari mendekati Mutia yang tengah berjalan kearahnya dengan langkah gontai.
"Aku baik-baik saja, Ma."
Lalu tatapan Naila beralih pada sosok laki-laki di belakang Mutia.
"Apa yang terjadi dengan putri saya, Tuan? Kenapa bisa sampai seperti ini?" Perasaan cemas itu tergambar jelas di wajah wanita paruh baya itu. Haidar jadi merasa bersalah sendiri karena secara tidak langsung dia lah yang menjadi penyebab utama pertengkaran tersebut.
"Maaf, Tante Sebenarnya Mutia baru saja bertengkar."
"Bertengkar?" ulang Naila dengan wajah tak mengerti. "De–dengan siapa, Tuan? Apa Mutia berbuat salah? Atau ...." Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Naila. Ia hanya tidak mau sampai putri semata wayangnya kenapa-napa.
"Ini hanya salah paham, Ma. Aku nggak apa-apa." Mutia tidak ingin sampai mamanya tahu apa masalah yang sebenarnya. Takut, jika hanya akan menjadi beban pikiran.
Mengantar Haidar kembali ke mobil, Mutia meminta Laki-laki itu untuk merahasiakan kejadian yang sebenarnya.
"Kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan bilang sama Mama Kamu."
Mutia tersenyum lega mendengar ucapan laki-laki itu. Haidar sudah duduk di belakang kemudi setelah lebih dulu pamit pada orang tua Mutia.
"Tuan ...?"
"Ya ...?"
"Sepertinya saya tak bisa menerima lamaran Anda."
Laki-laki itu langsung mengurungkan niatnya untuk memacu mobilnya. Haidar memilih keluar dari mobil lagi sesaat setelah mendengar pernyataan Mutia.
"Apa ini artinya penolakan buat aku?"
"Saya hanya tidak ingin ada yang terluka. Lagipula, saya tidak memiliki perasaan apapun pada Anda," ucap gadis itu lagi.
Haidar mencoba mencari kebenaran dari sorot mata gadis di itu. Tapi Mutia malah menunduk menghindari tatapan Haidar yang terus mengarah pada wajahnya.
Haidar sendiri tidak tahu apakah jawaban itu benar-benar berasal dari lubuk hati Mutia, atau hanya ingin menghindar dari semua tuduhan buruk yang Kia berikan.
"Apa ini mengenai Kia?" tanya Haidar dengan tatapan yang menyelidik.
"Bu–bukan sama sekali, Tuan. Saya hanya belum siap untuk menikah, ya saya belum siap," ungkap Mutia beralasan.
"Aku akan menunggumu."
__ADS_1
Kedua mata gadis itu membola sempurna mendengar jawaban Haidar yang terdengar sangat yakin.
"Kenapa? Jika memang alasanmu belum siap, aku akan berusaha menunggu!" ucap laki-laki itu lagi.
"Ti–tidak perlu, Tuan." Mutia mendadak kehilangan kata-kata. Niat hati ingin menolak Haidar secara halus, justru ia kalah telak dengan jawaban darinya.
"Jangan khawatir, aku akan menunggumu sampai siap." Tanpa berkata apa-apa lagi Haidar kembali masuk mobil dan memacu kendaraan itu meninggalkan rumah Mutia.
Keesokan harinya.
Hari ini Haidar memberikan ijin pada Mutia agar gadis itu bisa istirahat dengan tenang. Haidar juga mengatakan mengenai pekerjaan yang akan di ambil alih oleh Nina untuk sementara waktu. Mutia lega mendengarnya, selain ingin menyembuhkan luka-lukanya kemarin, Mutia juga merasa canggung setelah penolakan yang ia berikan untuk Haidar.
"Aku yakin ini yang terbaik." Mengamati ponsel di atas meja, Mutia di kejutkan suara ketukan pintu dari luar yang ternyata berasal dari Mama Naila.
"Ada apa, Ma?"
"Ada tamu di depan. Kamu temui dulu ya?"
"Hahh, siapa?" Mutia bertanya-tanya sendiri. Seingatnya ia tidak ada janji apapun dengan seseorang hari ini.
"Udah temui aja dulu."
"Mutia ..."
"Nyonya ..."
Saat ini dua wanita berbeda usia itu sudah duduk saling berhadapan. Naila sengaja pamit kebelakang agar keduanya bisa bicara dengan leluasa tanpa rasa sungkan.
Mutia masih menunduk, meremas jemarinya yang terasa dingin sejak ia memasuki ruang tamu. Gadis itu takut-takut menatap wanita yang saat ini ada di hadapannya.
"Mutia ..." Rengganis membuka suara lebih dulu. Ia menyadari gadis di depan sana tengah menahan gugup sejak tadi. "Ada yang ingin saya tanyakan."
Mutia langsung mendongak menatap kearah pemilik suara, "A–apa yang ingin Nyonya tanyakan? Apa ini mengenai Tuan Haidar?" tanya gadis itu menebak.
"Bukan. Ini mengenai kamu."
"Sa–saya?"
"Apa kamu benar-benar belum siap untuk menikah?"
Nah, kan, pasti ada hubungannya dengan laki-laki itu.
__ADS_1
"Saya memang belum siap kalau dalam waktu dekat ini, Nyonya," balas Mutia terus terang.
"Kenapa? Bukankah .... maaf..."Rengganis sengaja menjeda kalimatnya. Wanita itu menarik napas panjang sebelum akhirnya menghembusnya lagi dengan perlahan. "Bukankah sebelumnya kamu akan menikah?"
Raut wajah Mutia langsung berubah saat Rengganis mengatakannya. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa bulan yang lalu, saat ia hampir menikah dengan Yusuf, tapi rencana itu justru gagal sehari menjelang pernikahannya.
"Mutia ... kamu nggak apa-apa, kan?" Suara Rengganis membuyarkan lamunan gadis itu. Mutia buru-buru menyeka sudut matanya yang hampir mengalirkan cairan bening. "Maaf, jika ucapanku baru aja menyakitimu."
Mutia menggeleng pelan. Tidak sama sekali. Mutia hanya ingat saat-saat terberat dalam hidupnya. Saat ia harus melepas Yusuf laki-laki yang sangat ia cinta.
"Saya baik-baik saja, Nyonya." Mutia menunduk lagi.
"Apa ini milikmu?" Menyodorkan sesuatu di depan Mutia. Mata gadis itu sontak membelalak sempurna.
"Nyonya, itu milik saya." Mutia langsung mengambil alih benda berbentuk kalung itu, lalu menelitinya lagi.
"Benar itu milikmu?" tanya Rengganis sekali lagi.
"Iya, Nyonya. Ini memang milik saya, bagaimana bisa ..."
"Sebenarnya yang menemukan kalungmu adalah Haidar."
"Tuan Haidar?" Karena seingatnya memang kalung itu hilang saat Mutia menyelamatkan laki-laki itu.
"Sebenarnya setelah kejadian di danau waktu itu Haidar berusaha mencari keberadaanmu, Mutia. Begitupun kami. Hanya saja kami tidak tahu harus mencarimu ke mana." Rengganis sedikit membeberkan mengenai kejadian setelah Haidar sadar dari koma.
Rengganis juga menceritakan bagaimana Haidar hampir setiap hari mendatangi danau, berharap bisa menemukan titik terang mengenai siapa gadis yang telah menolongnya. Tapi selama hampir satu bulan Haidar tidak bisa menemukan apapun.
Hingga desakan untuk secepatnya menikah membuat Haidar terpaksa menerima perjodohan yang di rencanakan oleh kedua orangtuanya.
"Saya hanya tidak mau hubungan persahabatan saya dengan Kia hancur, Nyonya. Bagaimana pun Kia lebih pantas dengan putra Anda."
"Jadi, ini mengenai Kia?" Sekarang Rengganis benar-benar yakin jika Kia lah yang menjadi alasan Mutia menolak Haidar. "Apa dia kembali menyakitimu lagi?"
"Tidak, Nyonya."
"Mutia ... dengar, Nak. Kita tidak bisa memaksa siapa saja untuk menyukai kita. Begitupun dengan perasaan seseorang. Kamu tahu 'kan maksud saya?"
"Haidar sangat menyukaimu, Mutia. Bahkan sejak pertama kali pertemuan kalian di danau dulu."
"Tapi, bagaimana dengan nasib Kia, Nyonya? Apa hubungan keluarga Anda tidak akan bermasalah dengan keluarga Aditama?"
__ADS_1