
Tiba saatnya hari yang paling mendebarkan bagi Haidar. Setelah menunggu sembilan bulan lamanya akhirnya sebentar lagi buah hati yang di nanti-nantikan akan segera lahir ke dunia.
Di depan ruang persalinan sudah ada seluruh keluarga besar Pratama, sedangkan Naila dan Dika sudah sampai satu jam lebih dulu di bandingkan keluarga besannya. Mereka sama-sama menanti Mutia yang saat ini tengah berjuang di dalam sana dengan wajah cemas.
"Dokter, apa saya boleh masuk menemani putri saya?" tanya Naila pada dokter yang bertugas menangani persalinan putrinya.
"Maaf, Nyonya. Mungkin sebaiknya suaminya saja yang ikut masuk dan menemaninya," jelas dokter pada wanita paruh baya itu. Takut saja jika akan mengganggu ketenangan pasien jika terlalu banyak orang.
Naila mendesah pelan. Meski kecewa dengan ucapan dokter muda tadi, tapi ia tidak bisa berbuat banyak selain menunggu dan mendoakan Mutia dari luar ruangan.
Sementara di dalam sana ketegangan tengah menyelimuti Haidar. Laki-laki itu menatap istrinya yang tengah kepayahan menahan sakit karena pembukaan jalan lahir yang belum lengkap.
"Dokter, tolong istri saya!" Haidar langsung menghampiri dokter yang baru masuk ruangan. "Bisakah segera di ambil tindakan, saya tidak tega melihat istri saya kesakitan, Dokter?"
"Sabar, Tuan. Proses melahirkan memang seperti ini." Dokter sedikit memberi penjelasan pada Haidar mengenai proses pembukaan sampai lengkap yang mungkin membutuhkan waktu hingga berjam-jam. Dan, setiap orang biasanya berbeda-beda.
"Dokter pasti becanda, kan? Kenapa bisa sampai selama itu?!" protes Haidar tidak terima. Sungguh ia tidak tega melihat Mutia terus-terusan merintih menahan sakit setiap kali kontraksi itu datang.
"Tenanglah, Tuan. Kita doakan saja agar istri Anda bisa melewatinya dengan tenang."
Meski sudah mendapat penjelasan dari dokter, ternyata tidak cukup membuat Haidar merasa tenang. Laki-laki itu terus saja gelisah hingga sedikit mengganggu konsentrasi dokter yang tengah memeriksa keadaan Mutia.
"Tuan, tenanglah. Kasihan Nona Mutia jika Anda terus panik seperti ini!" Merasa tidak ada jalan lagi akhirnya dokter memberanikan diri menegur laki-laki itu.
"Bagaimana saya bisa tenang, Dokter, sedangkan istri saya kesakitan sekali?!" Frustasi sendiri setiap kali menatap wajah Mutia yang semakin memucat.
"Apa tidak bisa lewat jalan operasi saja, Dokter? Saya sungguh tidak kuat lagi melihat istri saya seperti itu?"
Dokter dan beberapa orang perawat yang berada di ruangan itu hanya menggeleng tak percaya dengan permintaan aneh Haidar.
__ADS_1
"Tapi, istri Anda sanggup melahirkan normal, Tuan. Kita hanya perlu menunggu sampai pembukaan lengkap saja."
"Saya tidak sanggup, Dokter! Saya nggak bisa!" Meracau tak jelas.
"Bagiamana, Nona, suami Anda menyarankan untuk operasi?"
"Nggak, Dok! Aku nggak mau! Aku mau lahiran normal aja!" tolak Mutia dengan tegas. Bukan apa, Mutia sudah membayangkan meja operasi serta jarum suntik yang besar, hingga membuatnya langsung merinding.
"Tapi, aku nggak tega lihat kamu kesakitan gini! Mau ya, operasi aja!" Haidar berusaha membujuk Mutia agar mau melakukan operasi. Tapi, jawaban wanita itu justru membuat semua orang yang berada di sana tercengang.
"Kamu apa-apaan, sih, Mas! Kalau kamu nggak tega lihat aku kaya gini, jangan bikin aku hamil dong!"
Dokter serta para perawat hanya bisa menahan tawa melihat perdebatan sepasang suami istri itu. Suasana yang tadinya tegang sedikit mencair oleh aksi konyol mereka.
"Iya, iya maaf." Haidar hanya bisa pasrah mendengar omelan sang istri. Meski ia masih tidak tega melihat Mutia yang kadangkala merintih serta meremas apa saja yang berada di dekatnya..
tiga jam paling menyiksa akhirnya terlewatkan juga. Saat pembukaan sudah sepenuhnya sempurna, dokter segera memberikan arahan untuk Mutia agar wanita itu mengambil napas banyak-banyak dan mendorongnya dengan kuat.
Tidak tahu sebahagia apa hatinya saat ini, yang pasti ini pengalaman pertama bagi Haidar menemani istrinya melahirkan.
"Selamat, Tuan, bayi Anda laki-laki."
Setengah jam kemudian perawat membawa bayi mungil itu setelah di bersihkan. Mutia terlihat berkaca-kaca menatap wajah mungil bayi laki-laki dalam gendongan sang perawat.
"Mas, putra kita ...."
Dari arah luar sana Mama Rengganis dan Mama Naila sudah heboh sejak tadi. Kedua wanita paruh baya itu sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa wajah tampan cucu laki-lakinya.
"Cup ... cup ... cup ... Sayang ..." Keduanya saling bergantian untuk menggendong cucu pertama dari keluarga mereka.
__ADS_1
"Apa kalian udah menyiapkan nama buat putra kalian?" tanya Ayah Arya yang terlihat paling tenang. Laki-laki paruh baya itu memilih memberikan kesempatan lebih dulu kepada para wanita.
"Emmm .... .." Keduanya terlihat saling pandang. Antara Haidar dan Mutia belum memberikan jawaban apapun mengenai siapa nama yang akan mereka berikan pada putra pertamanya.
"Udah, Mas, kalau mereka belum nyiapin nama biar aku yang kasih nama buat cucu kita." Rengganis langsung mengambil kesempatan emas itu. Bangga saja jika bisa memberikan nama buat cucu pertamanya.
"Kalau tidak, saya juga bisa memberikan nama buat bayi Haidar dan Mutia." Naila tidak ingin kalah begitu saja. Ia juga merasa punya hak memberikan nama untuk bayi mungil itu.
"Lho, apa-apaan sih ini? Kenapa malah jadi rebutan?" Haidar langsung bersuara demi menghindari ketegangan yang mungkin sebentar lagi akan terjadi. "Pokoknya yang berhak kasih nama cuma aku dan Mutia," tegas laki-laki itu.
"Mama tadi cuma bilang kalau kalian belum menyiapkan nama bisa pakai nama yang Mama pilihkan."
"Nggak, Ma! Pokoknya aku nggak mau kalau Mama sama Mama Naila sampai berselisih karena masalah nama putra kami."
Kedua wanita paruh baya itu hanya bisa pasrah mendengar jawaban Haidar. Siapapun nama untuk bayi laki-laki itu, mereka akan tetap menerimanya dengan suka cita.
"Nanti kalian tinggal di rumah Mama, kan? Biar ada yang bantuin ngerawat." Mama Rengganis tiba-tiba bersuara lagi.
"Di tempat Mama aja, Nak. Mama juga bisa bantu rawat bayi kamu." Kini gantian Mama Naila memberikan usul.
Arya dan Dika hanya menggeleng mendengar dua wanita itu saling berebut lagi.
"Kita akan tinggal di rumah kami sendiri." Jawaban Haidar membuat dua laki-laki di belakang sana lega mendengarnya. Setidaknya tidak akan ada yang kata pilih kasih.
"Tapi, siapa yang akan bantuin kamu, Nak? Ngurus bayi nggak gampang lho?" ungkap Mama Rengganis lagi.
"Sama Mama aja ya, Nak? Kan lebih dekat sama rumah kalian?" Mama Naila juga memberikan usulan. Karena rumah mereka memang lebih dekat dengannya.
"Nggak! Pokoknya kita tetap pulang ke rumah kami! Nanti kalau Mama saya Ayah mau nengokin ya datang aja."
__ADS_1
"Tapi, kan ..."
"Udah, Sayang ... jangan paksa mereka lagi ya?"