Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Berapa Yang Kamu Minta


__ADS_3

"Tolong pikirkan lagi, Mutia. Aku minta maaf karena tadi udah bentak-bentak kamu," ucap Hendrik dengan nada penuh penyesalan. Laki-laki itu terus saja mengikuti ke mana langkah gadis itu.


"Bapak tak perlu minta maaf. Saya yang salah kok." Mutia sudah terlihat baik-baik saja, meski tadi ia sempat hancur dan menangis sendirian di kamar mandi.


"Jadi, kamu akan tetap bekerja di sini, kan?" Lega. Setidaknya ia masih punya kesempatan untuk merebut hati gadis itu.


"Nggak, Pak. Maaf!" Mutia menggeleng cepat. Baginya untuk apa berada di tempat yang tak bisa menghargai dirinya.


"Tapi, Mutia, kalau kamu keluar dari sini, mau kerja di mana lagi?" Hendrik sengaja meracuni pikiran gadis itu agar membatalkan rencananya tadi.


"Di tempat lain masih banyak yang mau nerima saya kok, Pak! Untuk apa saya ada di sini jika Bapak sendiri nggak percaya sama saya." Akhirnya apa yang tak ingin Mutia ucapkan keluar juga dari bibirnya.


"Iya, aku salah. Tapi tolong Mutia, kamu pikirin lagi yah? Atau, sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau gajimu aku naikkan?" tawar Hendrik tak main-main. Hendrik tidak mungkin melepaskan Mutia begitu saja. Bagaimana pun ia harus bisa mencegah Mutia agar tidak sampai keluar dari restoran miliknya.


"Memangnya berapa yang bisa Bapak kasih ke saya?" tantang gadis itu tiba-tiba. Padahal Mutia hanya ingin tahu seberapa berani Hendrik mengeluarkan uang untuk dirinya.


"Ka .. kamu minta berapa?" tanya Hendrik dengan suara terbata. Laki-laki itu gelisah sendiri. Bagaimana kalau Mutia benar-benar meminta gaji yang tinggi sebagai syarat permintaan maafnya.


Mutia hanya diam menatap wajah laki-laki itu yang terlihat begitu gelisah. Padahal Hendrik sendiri tadi yang menawarinya.


"Setelah di pikir ..."


Hendrik sampai harus menahan napasnya sendiri saat ingin mendengar jawaban gadis itu.


"Bapak beneran mau tahu berapa yang saya inginkan?" tanya Mutia sekali lagi. Gadis itu sudah menyiapkan jawaban yang mungkin akan membuat laki-laki di depannya guling-guling sendiri.


"I ... iya. Katakan saja, Mutia. Berapa yang harus aku berikan untuk menggajimu setiap bulan!" ungkap laki-laki itu dengan sangat yakin.


Sementara di luar ruangan itu, tepat di depan pintu ruangan yang menjadi tempat percakapan antara Mutia dan Hendrik, para karyawan lain tengah menguping pembicaraan keduanya. Mereka sama-sama melotot dengan mulut yang terbuka lebar ketika mendengar Hendrik–sang manager menjanjikan gaji yang besar untuk gadis itu.


"Kira-kira Mutia mau minta berapa ya?"


"Beruntung yah jadi Mutia."

__ADS_1


"Kalau aku sih minta aja gaji yang besar, kan lumayan tuh."


"Udah mending terima aja cinta Pak Hendrik, otomatis semua hartanya jadi milik dia, kan?"


Mereka saling berbisik dengan pendapatnya masing-masing. Beberapa dari mereka juga ada yang merasa iri dengan keberuntungan yang Mutia miliki. Padahal Mutia sendiri merasa jika hidupnya selama ini hanya di penuhi kesialan saja.


"Udah tunggu aja, paling bentar lagi Mutia minta gaji yang besar. Dia mah sok-sokan mau keluar padahal cuma mau bikin Pak Hendrik cemas aja."


"Lebay!"


"Iya ihhh ... norak!" bisik mereka yang memang tidak menyukai Mutia.


Kembali ke dalam sana.


"Jadi, gimana Mutia? Kamu nggak jadi keluar dari restoran ini, kan?" Hendrik sudah yakin sekali jika Mutia telah berubah pikiran. Ya lah, siapa sih yang bisa nolak di iming-imingi uang banyak?


"Em .... saya ...."


"Maaf, Pak. Tapi, keputusan saya udah bulat. Saya akan keluar dari restoran ini!" Gadis itu merapikan seragam yang tadi ia lepas di kamar mandi, lantas memberikannya pada laki-laki itu.


Hendrik sampai melongo. Ia sudah percaya diri sekali tadi. Hendrik yakin sekali jika Mutia tidak akan pernah keluar dari restoran miliknya. Tapi, kenyataannya apa? Mutia dengan lantang menolak tawarannya. Bahkan gadis itu tidak terlihat menyesal sama sekali saat akan keluar dari ruangan itu.


"Mutia, tunggu!" Hendrik berlari cepat berusaha mengejar langkah Mutia yang sudah hampir mencapai pintu depan sana.


"Mutia ...!"


"Apa sih, Pak! Saya nggak punya hutang sama Bapak, kan?" tanya gadis itu sembari mengingat tanggungan hutang yang ia miliki.


"Ti ... tidak, Mutia. Ini bukan perkara soal hutang. Sungguh, aku tak peduli jika seandainya kamu masih punya hutang di sini. Aku tetap nggak bisa kasih kamu keluar begitu aja!"


"Memangnya kenapa, Pak? Bukanya itu hak saya mau bekerja di mana? Lagipula, di sini nggak ada surat kontrak, kan? Jadi, saya nggak perlu ganti rugi atas kontrak yang belum saya jalani." Ungkapan Mutia langsung membungkam mulut Hendrik rapat.


Benar. Harusnya ia membuat surat kontrak agar ia bisa tetap mengikat gadis itu. Tapi, sekarang mau bagaimana lagi? Mutia bersikeras untuk tetap keluar dari pekerjaannya.

__ADS_1


"Mutia ...!"


Gadis itu sudah tidak mempedulikan panggilan Hendrik karena tubuhnya sudah masuk ke dalam taksi online yang baru saja ia pesan.


"Apa!!" Kia sampai menggebrak meja keras taatkala Mutia menceritakan semua kejadian yang di alami hari ini.


"Adik tirimu itu keterlaluan sekali, sih! Kenapa juga kamu tak melawan?" protes Kia setelah tahu Mutia hanya diam dan malah meminta maaf.


"Ya, aku harus gimana dong? Aku nggak mungkin lawan dia, Kia! Posisi aku tuh cuma pelayanan, sedangkan dia tamu di sana." Mutia membeberkan alasannya kenapa ia memilih diam saja.


"Tapi, nggak gitu juga kali. Kamu 'kan bisa minta perlindungan Hen .... siapa sih manager yang katanya suka sama kamu itu?" Kia mencoba mengingat satu nama yang pernah Mutia ceritakan padanya.


"Hendrik?"


"Nah, iya. Hendrik. Kenapa kamu nggak minta bantuan dia aja?"


Ucapan Kia hanya di balas gelengan kecil gadis itu. "Hendrik lebih membela tamunya di banding aku," balas Mutia.


"Apa! Serius?" tanya Kia memastikan apa yang baru saja ia dengar.


"Ya!"


Kia langsung menarik napas panjang. Suka? Bulshit! Jika memang dia memiliki perasaan, pasti tidak akan mungkin membiarkannya terluka.


"Jadi gimana dong? Aku sekarang pengangguran nggak jelas gini! Mana banyak kebutuhan yang harus aku beli." Mutia mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak pernah berpikir jika keputusannya akan membuatnya galau seperti ini.


"Kan masih ada Tante Naila."


"Mama–ku udah nggak kerja, Kia. Dan sekarang, aku bingung harus cari kerjaan di mana?"


Keduanya sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing. Mutia memikirkan ke mana ia akan mencari pekerjaan setelah ini. Sedangkan Kia, sebagai sahabat tentunya ingin sekali membantu gadis itu.


Tapi, bagaimana caranya? Apa perlu meminta bantuan Ayah Alex untuk mencarikan pekerjaan untuk Mutia? pikir gadis cantik yang tak sadar sudah menghabiskan lebih dari dua gelas jus itu.

__ADS_1


"Ah ... aku tahu!" pekik Kia dengan sangat tiba-tiba. Hingga suaranya nyaris membuat Mutia tersedak oleh jus yang tengah ia teguk. "Gini aja, gimana kalau ...."


__ADS_2