
"Maaf, Bu, rumah Mutia sebelah mana ya?" tanya laki-laki yang baru saja turun dari mobil mewah berwarna hitam. Laki-laki itu melepas kaca mata hitam hingga menampakkan wajah tampannya yang sempurna.
Para ibu-ibu komplek yang saat itu tengah bergosip langsung menghentikan kegiatannya. Mereka nampak terpukau dengan sosok laki-laki yang berdiri mengenakan kemeja yang di padu dengan jeans berwarna hitam itu.
"Mutia? Maksud Anda, Mutiara?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya, Mutiara. Apa Ibu tahu yang mana rumahnya?" tanya laki-laki itu lagi. Menurut alamat memang rumah Mutia berada di daerah ini, tapi Haidar tidak tahu pasti rumah yang mana milik gadis itu.
"Apa Anda kekasih barunya?" tanya salah satu dari mereka dengan tatapan selidik. "Baru beberapa bulan yang lalu gagal nikah, eh ... sekarang udah dapet yang baru aja!" celetuknya lagi.
"Gagal nikah? Siapa yang Ibu maksud?" Jelas saja Haidar tak mengerti karena ia memang belum pernah mendengar kabar itu sebelumnya.
"Ya itu, Mutiara. Tiga bulan yang lalu dia gagal nikah, kan? Kabarnya sih karena calon suaminya tahu kalau dia anak pelakor!" ungkap salah satu dari para Ibu itu.
"Jadi, Anda hati-hati aja lah. Mamanya juga sering keluar masuk pekerjaan gara-gara sering godain laki-laki di sana katanya."
Haidar hanya diam mendengar semua yang di ucapkan ibu-ibu di sana. Sungguh, ia sama sekali tidak percaya dengan semua tuduhan yang mereka berikan pada Mutia karena selama ini ia melihatnya gadis yang baik.
Setelah mengetahui pasti rumah milik gadis itu, Haidar cepat-cepat pamit dan meninggalkan ibu-ibu yang malah semakin gencar bergosip mengenai Mutia. Ia memacu mobilnya perlahan kearah rumah sederhana dengan pagar berwarna putih seperti yang di beritahukan salah satu ibu tadi. Dan benar saja ternyata gadis itu sudah menunggunya di depan pintu.
"Mau mampir dulu, Tuan?" tawar gadis itu saat melihat Haidar yang turun dari dalam mobil.
"Tidak usaha. Aku hanya ingin berpamitan pada orangtuamu. Apa mereka ada?" tanya laki-laki itu melihat kearah pintu rumah.
"Maaf, Tuan. Tapi, Mama sedang tidak ada di rumah. Sedangkan Nenek saya belum pulang dari pasar," ucap gadis itu seraya melempar senyum kearah Haidar.
Tidak ada di rumah? Bukankah ini hari libur? Haidar hanya mampu bertanya dalam hati. Ia jadi ingat dengan ucapan ibu-ibu tadi. Apa benar semua ucapan mereka mengenai orang tua Mutia?
Haidar menggeleng cepat membuang pikiran buruk yang sempat singgah di kepalanya.
__ADS_1
"Mau langsung berangkat atau ..."
"Kita langsung jalan saja!" Haidar memutar tubuhnya menuju mobil dan masuk di belakang kemudi.
"Hei, duduk di depan!" ucap laki-laki itu tatkala melihat Mutia yang duduk di bangku belakang. "Kamu kira aku supir pribadimu!" protes Haidar lagi.
"Iya, tapi nanti ada ..." Mutia tidak ingin sampai Kia salah paham apalagi cemburu, meski sebenarnya ia tidak sengaja melakukannya.
"Kamu bisa pindah nanti kalau kita sudah sampai di rumah Kia!" Seakan tahu isi hati Mutia. Haidar masih belum menghidupkan mesin mobilnya menunggu gadis itu untuk pindah ke depan.
"Eh ya baiklah." Mutia terpaksa keluar lagi dan menuju ke bangku depan. Tangan gadis itu menarik pintu mobil, tapi malah ..
"Awww ....!" pekik Mutia seraya mengusap keningnya karena tak sengaja beradu dengan bagian atas mobil milik laki-laki itu.
"Tak bisakah kamu hati-hati? Kenapa selalu ceroboh seperti ini sih!" Haidar langsung menarik tangan Mutia yang menutupi bekas memar akibat beradu dengan mobil miliknya. "Kalau kamu terluka bagaimana?"
"Apa Tuan mengkhawatirkan saya?" Gadis di sebelahnya bertanya bingung. Kenapa terdengar lebay begitu sih! "Saya 'kan cuma terbentur sedikit, nggak akan sampai gegar otak kok!" Mutia melanjutkan kalimatnya lagi.
"Kita akan di sini sampai kapan, Tuan? Apa kita tidak jadi pergi?" Mutia terpaksa membuka suara lagi karena Haidar belum juga melajukan mobilnya. Entah apa yang tengah laki-laki itu pikirkan. Haidar malah diam dan terlihat gelisah.
"Apa Anda sakit? Atau, Anda berubah pikiran dan tidak jadi mengajak saya?" Mutia melirik laki-laki di sebelahnya yang masih diam tanpa kata.
"Oh saya tahu!" Gadis itu memekik kencang, seolah baru saja menemukan harta karun yang sangat berharga. "Pasti Anda ingin pergi berdua dengan Kia saja, kan? Saya tidak apa-apa kok! Saya akan turun!" Mutia sudah melepaskan sabuk pengaman yang tadi sempat ia pasangkan, lantas siap mendorong pintu mobil.
"Duduk, dan gunakan sabuk pengaman–mu lagi!" perintah laki-laki itu cepat. Haidar mencekal tangan Mutia yang masih menggenggam sabuk pengaman itu.
"Tapi ...?"
"Cepat pakai, atau aku akan memecatmu saat ini juga!" ancam laki-laki itu dengan sangat tegas.
__ADS_1
Lagi-lagi Mutia di buat tidak percaya dengan ungkapan Haidar yang tak pernah terduga. "Anda mau pecat saya?" balas Mutia dengan tatapan menantang. Apa salahnya coba?
Mentang-mentang bos bisa seenaknya sendiri.
"Apa kamu mau aku pecat?" Bukannya menjawab pertanyaan Mutia, Haidar justru memberikan pertanyaan lagi untuk gadis itu.
Mobil sudah melaju perlahan meninggalkan halaman rumah Mutia yang nampak asri dengan bunga-bunga di depannya. Haidar langsung mengarahkan mobilnya ke arah rumah calon tunangannya itu.
"Ya pecat saja, saya bisa cari pekerjaan lain lagi." Mutia merasa tidak di rugikan sama sekali jika harus keluar dari perusahaan itu. Toh, ia baru bekerja beberapa hari saja dan nanti masih bisa melamar di tempat lain.
"Kalau aku menuntut ganti rugi padamu bagaimana?" tanya Haidar sembari fokus menatap jalanan di depan sana. Meski hari libur, jalanan masih lumayan ramai. Mungkin di padati oleh sebagian orang yang hendak mengajak keluarganya jalan-jalan.
"Ganti rugi gimana maksudnya? Kan saya udah bekerja selama beberapa hari. Harusnya Tuan dong yang ganti rugi buat waktu saya yang terbuang sia-sia." Gadis itu merasa sudah bekerja dengan sebaik mungkin. Jadi, jika ada pihak yang di rugikan pastilah dirinya.
"Kamu benar-benar tidak membaca surat kontrak kerjamu lebih dulu? Atau, pura-pura tidak tahu?" Haidar menyunggingkan senyuman. Aneh bukan, jika Mutia tidak sampai membacanya lebih dulu sebelum menandatanganinya.
"Sa... saya bacalah!" Mutia sedikit terbata. Memang benar ia membacanya, tapi tidak sampai pada point terakhir.
"Lalu, kenapa masih bertanya? Bukankah di situ tertulis jika kamu keluar sebelum kontrak selesai maka akan di kenai denda?"
"Tuan jangan bohongin saya dong? Mana ada seperti itu?" Gadis itu belum juga mempercayainya.
Sudahlah. Tidak ada gunanya menjelaskan pada orang yang tak percaya. Haidar memilih memfokuskan dirinya agar secepatnya sampai di rumah milik Kia.
"Tuan ...?"
"Hemmmm ...."
"Boleh saya bertanya?" Mutia takut-takut mengungkapkan. Sebenarnya bukan tak percaya, hanya saja Mutia penasaran dengan ganti rugi yang harus ia bayar jika sampai keluar dari perusahaan itu sebelum kontrak selesai. "Memangnya berapa sih denda yang harus di bayar jika saya memaksa keluar dari perusahaan Anda?"
__ADS_1
"Kamu benar-benar ingin tahu?"