
Ternyata selama beberapa hari Dika ikut melakukan penyelidikan mengenai kasus menimpa Mutia. Lelaki itu juga mengerahkan orang-orang bayaran demi memata-matai beberapa orang yang di curigai oleh Dika. Termasuk Yudi–papa kandung Mutia sendiri.
Bukan apa, Dika hanya melihat hal ganjil setelah menguntit Yudi malam itu. Dan hasilnya memang benar, pelaku penculikan Mutia tak lain adalah selingkuhan Yudi sendiri. Yang lebih mengherankan lagi, kenapa Yudi hanya diam padahal ia sudah lebih dulu tahu bahwa Lydia yang telah melukai Mutia.
"Ka–lian nggak bisa nuduh aku tanpa bukti!" Lydia tetap mengelak karena ia tahu hanya Yudi yang mempunyai bukti mengenai kejahatannya.
"Kau perlu bukti?!" tatap Dika pada perempuan itu.
Lalu dari arah belakang sana datanglah beberapa orang menyeret paksa dua pria yang nyaris membuat jantung Lydia meloncat dari tempatnya.
"Kalian ...?"
"Maafkan kami, Tuan. Kami hanya di suruh dia!" tunjuk pria itu pada Lydia.
"Bohong! Itu sama sekali nggak benar!" bantah Lydia cepat.
"Apa kau masih ingin mengelak? Perlu kubawakan bukti lain?" Lalu Dika melirik kearah pintu masuk lagi, dari arah sana Alex datang dengan membawa Yudi dalam keadaan pasrah.
"Mas, kamu ...?!" Naila sontak melebarkan mata melihat kedatangan mantan suaminya. "Ini maksudnya apa?" tanyanya bingung.
"Kau ingin berbicara sendiri atau aku yang membeberkannya?" Alex mencengkeram kerah baju Yudi. Mungkin dalam masalah ini dia lah pihak yang paling merasa di rugikan karena Kia harus menanggung akibat dari sesuatu yang tidak pernah di lakukan.
"Maafkan aku, Naila. Sungguh aku tidak ada niat menyembunyikan kebenaran ini. Aku hanya ingin ..."
"Menikmati perempuan itu dulu, kan? Kau ingin menikmatinya dulu sebelum menyerahkan ke polisi!" sambar Alex dengan wajah geram. "Tapi, apa kau tahu di sini putriku menderita karena sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Dan, yang lebih parahnya lagi kau juga menyembunyikan itu padahal putrimu sendiri yang menjadi korbannya!"
Wajah Naila langsung memerah mendengar semua pernyataan Alex. Naila tidak menyangka jika Yudi malah mengambil kesempatan dalam kejadian yang menimpa Mutia.
"Keterlaluan kamu, Mas!"
__ADS_1
Plakkk!
Naila langsung melayangkan tamparannya pada wajah Yudi. "Kenapa kamu tega ngelakuin itu pada putrimu sendiri! Kau enak-enakan dengan perempuan sialan itu, sedangkan ada seorang gadis yng tengah menderita menanggung kesalahan orang lain."
"Maaf, Nai, maaf ...." Yudi tidak bisa lagi mengelak karena memang benar semua yang di ungkapkan Naila baru saja.
Naila sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menahan geram yang teramat sangat. Wanita itu kembali mendekati Mutia yang sejak tadi meminta untuk di pertemukan dengan Kia lagi.
"Sekarang Kia udah bebas kan, Ma? Kia udah nggak di kurung di sana lagi?" tanya Mutia pada wanita paruh baya di sampingnya. "Aku mau bilang terima kasih sama dia, Ma. Aku juga mau minta maaf."
Naila mengangguk dan langsung mengabulkan permintaan putrinya untuk bertemu dengan Kia yang saat ini statusnya sudah benar-benar tidak bersalah.
"Lex, mana Kia?! Mana putriku?!" Airin yang mendapat kabar bahwa pelaku Sebenarnya sudah tertangkap langsung berangkat ke kantor polisi. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan putrinya dan ingin segera mengajaknya pulang.
"Biarkan mereka berbicara lebih dulu." Alex menahan langkah Airin yang hendak mendekat kearah Kia. Di sana Kia, Mutia, dan Haidar sedang berdiri saling berhadapan. Semua orang yang berada di tempat itu sengaja membiarkan mereka berbicara dari hati ke hati.
"Maafkan aku, Kia," ucap Mutia lirih. Selama ini Mutia merasa sangat egois hingga tidak memikirkan perasaan gadis itu.
"Tapi, kamu kaya gini gara-gara aku. Seandainya kamu nggak nolongin aku mungkin ..."
"Udah, Mutia. Aku nggak apa-apa, kok!" Kia hanya membalasnya dengan senyuman.
"Mutia ... bagiamana keadaanmu? Kamu udah baik-baik aja, kan?" Kia memulai pembicaraan. Gadis di depannya tersenyum meski dalam keadaan masih duduk di kursi roda, Mutia merasa beruntung bisa selamat dari insiden tersebut.
Sebenarnya kemarin Kia minta bertemu hanya ingin mengatakan jika dirinya sudah merelakan Haidar sepenuhnya. Kia juga ingin mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Tapi, Kia tidak menyangka kejadian akan seperti ini.
"Kia, aku minta maaf." Kini giliran Haidar yang meminta maaf. Ia merasa sangat bersalah karena sudah menuduh Kia tanpa mau mendengar penjelasan gadis itu. "Aku juga minta maaf karena selama ini udah nyakitin kamu."
"Nggak, Kak. Kakak nggak pernah nyakitin aku kok. Aku aja yang keras kepala udah maksa Kakak buat suka sama aku." Entah kenapa rasanya tidak ada beban lagi yang terlihat dari sorot mata Kia. Apa karena Kia memang sudah melepaskan Haidar sepenuhnya?
__ADS_1
Laki-laki itu hanya tersenyum. Menarik tubuh mungil itu lalu membenamkan dalam pelukannya. "Kamu tetap jadi adikku, Kia."
Hubungan persahabatan dua gadis itu akhirnya membaik lagi. Saat ini sudah tidak ada dendam apapun di antara mereka.
Semua tersenyum lega, termasuk Alex yang tadi sempat sangat emosi dengan Yudi. Namun, tidak lama kemudian Laura dan putrinya datang setelah mendengar kabar mengenai suaminya yang di seret ke kantor polisi.
"Yud, sebenarnya ada apa sih?! Kenapa kau bisa ada di sini?!"tanya Laura dengan wajah tidak mengerti. Laura juga menatap orang-orang yang berada di ruangan itu.
"Sebenarnya ada apa, Pa? Dan ... siapa perempuan ini?" Menunjuk Lydia. Laura juga baru sadar jika di ruangan itu ada seorang perempuan asing yang tidak pernah ia kenal.
"Dia selingkuhan suamimu!" jawab Naila spontan. Wanita itu melihat ekspresi wajah Laura yang seketika berubah.
"Tutup mulutmu! Yudi nggak mungkin ngelakuin itu sama aku!"
"Cih, kenapa nggak mungkin?! Bukankah dulu dia juga melakukan itu padaku?" ucap Naila mengingatkan perlakuan Yudi belasan tahun yang lalu. "Kau pikir dia nggak bisa ngelakuin itu juga ke kamu?!" tanya Naila lagi dengan senyum mengejek.
"Apa maksudmu?"
"Penghianat tetaplah penghianat, Laura! Dan, itu nggak akan bisa sembuh gitu aja!"
"Yud ...!" Kini tatapan Laura beralih pada Yudi, meminta penjelasan sebenarnya pada pria itu. "Apa benar perempuan sialan itu selingkuhanmu?!"
"Sayang ... " Yudi mendekat kearah Laura. Sedangkan ada satu perempuan lagi melengos melihat adegan memuakkan itu.
"Sayang ...? Dia juga sering memanggilku seperti itu saat kami sedang berc***!" decak Lydia tak suka.
"Kau bilang apa?!" Ternyata Laura masih bisa mendengarnya. Perempuan itu langsung mendekati Lydia dan ...
"Akhhh ..! Gila kamu ya!" pekik Lydia saat mendapat serangan tiba-tiba dari Laura. Perempuan itu meringis menahan sakit, bahkan beberapa helai rambutnya harus tercabut dari kepalanya.
__ADS_1
"Ini hukuman untuk perempuan murahan kaya kamu!"
"Laura, cukup! Jangan membuat keributan di sini!" Yudi berusaha memisahkan, tapi justru tangan Laura berhasil mendarat di pipinya beberapa kali.