Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Terbalik


__ADS_3

"Kau ....!" Mutia nampak terkejut sekali melihat kedatangan laki-laki di depannya. Kenapa dia ada di sini? bisiknya dalam hati.


"Kenapa memangnya kalau aku ada di sini? Tidak boleh?" Seolah tahu dengan apa yang di pikirkan Mutia, Haidar tersenyum melihat wajah bingung gadis itu.


"Kau mengikutiku?" tanya Mutia dengan tatapan menyelidik, menatap pada penampilan laki-laki di depannya.


"Mengikutimu? Kenapa kau percaya diri sekali?" Laki-laki itu tergelak sendiri hingga gadis di depannya semakin yakin jika kedatangannya ke mari memang berniat mengganggunya.


"Lalu untuk apa kau datang ke sini? Kau tak punya kerjaan? Atau, kau memang berniat mengganggu–ku lagi?" Sudah curiga lebih dulu. Tapi nyatanya memang benar sih, Haidar memang telah mencari tahu banyak hal tentang Mutia setelah bertemu dengan gadis itu saat di pesta kemarin.


"Kantorku ada di dekat sini. Makanya aku ke mari untuk makan siang," ucap laki-laki itu sembari meraih buku menu yang tergeletak di atas meja. Buka dan buka lagi, tanpa melihatnya sama sekali karena kedua mata laki-laki itu malah mengawasi gadis di depannya.


"Kau bekerja di daerah sini?" tanya gadis itu sekali lagi. Jelas saja Mutia tidak percaya, karena selama ia bekerja di sini belum pernah melihat laki-laki itu datang. Atau mungkin, dulu ia belum mengenalnya saja.


"Ya, jadi untuk apa aku mengikutimu? Kurang kerjaan!" ungkap laki-laki itu dengan senyum mengejek.


Mutia menarik napas panjang. Kalau di teruskan berdebat bisa-bisa mood–nya kembali buruk, tenaganya juga akan habis sia-sia hanya untuk melayaninya.


Sedangkan kejadian semalam saja masih membekas jelas di ingatannya. Kesal, marah, benci masih Mutia rasakan sampai saat ini. Mutia harus merasakan kecewa untuk yang kesekian kalinya tatkala mendatangi rumah Yusuf. Apalagi saat mengetahui jika sang papa juga berada di sana, tepat di depan matanya saat ia di hina dan di keroyok habis-habisan oleh keluarga Yusuf. Tapi, laki-laki itu malah diam karena lebih memilih menyelamatkan harga diri keluarga barunya di banding membela anak kandung sendiri.


Harusnya ia tidak datang ke sana. Harusnya ia lebih mendengarkan ucapan Mama Naila. Tapi, apa salah jika ia hanya ingin tahu alasan mereka yang selalu saja mengusik kehidupan sang mama? Apa salah jika ia tidak terima jika orang tuanya di perlakukan seperti itu?

__ADS_1


Mutia hampir menangis lagi saat ia mengingat itu. Tapi, ia buru-buru mengusap sudut matanya agar cairan bening itu tidak sampai keluar dan di lihat oleh laki-laki yang ada di depannya.


Mulai sekarang ia berjanji, tidak akan pernah menangis lagi atau berharap apapun pada laki-laki itu. Mutia tidak ingin membuang air matanya sia-sia hanya demi laki-laki seperti Yusuf.


Ini yang terakhir, terakhir kalinya aku menangis! Setelah ini kupastikan tidak akan ada air mata lagi yang Kutumpahkan demi kamu, Yusuf!


"Hei, kau kenapa?" Haidar menatap heran dengan gadis di depannya yang terlihat berkaca-kaca. Apa ucapanku tadi menyakitinya? pikir laki-laki itu.


"Tidak! Sebaiknya cepat pesan apa yang kau inginkan. Aku sibuk!" ucap Mutia mengalihkan pembicaraannya tadi. Gadis itu memalingkan wajah kesamping untuk menghilangkan tatapan mata Haidar.


"Kau tak bisa bersikap sedikit lembut saja? Aku ini 'kan tamu!" Menjelaskan posisinya saat ini.


"Memangnya kenapa kalau tamu? Memangnya aku peduli!" Gadis itu melengos. Mutia hanya tidak suka membuang waktunya sia-sia.


Haidar langsung tersentak kaget, lantas menatap pada buku yang sudah di berikan Mutia padanya lagi. "Aku memang sengaja membaliknya," jawab laki-laki itu beralasan. Padahal yang sebenarnya ia memang sedikit gerogi hingga tidak sadar buku yang ia pegang malah terbalik.


Mutia memutar kedua bola matanya malas. Rasanya lama-lama ia bisa gila sendiri jika terus berada di sana. Gadis itu melangkah cepat meninggalkan Haidar yang terus berteriak memanggil namanya.


Mutia memilih ke belakang, membantu yang lain untuk menyiapkan pesanan para pelanggan. Tapi, baru saja ia ingin mengantar pesanan ke salah satu meja, suara Hendrik sang manager restoran membuyarkan konsentrasinya.


"Mutia, tolong antarkan ini ke meja nomer lima!" perintah Hendrik pada gadis itu.

__ADS_1


Mutia melirik pada nampan yang sudah berisi itu, lantas tatapan mengarah pada Hendrik yang berdiri tepat di depannya. "Kenapa harus saya, Pak? Kan ada yang lain!" protes gadis itu. Entah hanya kebetulan atau apa, kenapa juga Hendrik malah memintanya menemui laki-laki itu lagi.


"Dia pelanggan VIP di restoran ini, Mutia. Bisakah kau memperlakukannya dengan baik?" ucap Hendrik yang langsung mendapat tatapan bingung dari gadis itu.


"Maksud Bapak apa? Bukankah setiap tamu memang wajib di perlakukan dengan baik?" tanya gadis itu kembali. "Apa tamu yang punya meja nomor ini yang mengadu sama Bapak? Dih, menyebalkan!" Mutia berbisik pelan. Tapi tentu saja Hendrik masih bisa mendengarnya.


"Kau bilang apa tadi?" Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada. Meminta pada gadis di depannya untuk mengulang lagi apa yang ia ucapkan tadi.


"Iya, iya, saya antar deh, Pak!" Mengalah saja. Dia kan memang yang berkuasa di sini. Mutia meletakkan nampan yang sudah hampir ia antarkan ke depan sana, lantas menukarnya dengan pesanan milik laki-laki itu.


"Sebenarnya siapa dia sih, kenapa juga Pak Hendrik mau aja di suruh-suruh seperti tadi!" Mendengus kesal, tapi tetap saja Mutia melanjutkan langkahnya untuk mengantarkan pesanan itu.


Saat tiba di depan meja yang di tuju, laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan. Mungkin merasa jika dirinya berhasil mengerjai Mutia.


"Apa lihat-lihat! Cepat habiskan makananmu, lalu pergi!" Mutia meletakkan satu persatu pesanan milik laki-laki sedikit keras.


"Dih, kenapa kau sopan sekali pada tamu?" sindir Haidar pada gadis itu. "Tidak bisa lebih galak lagi?" Laki-laki itu malah sengaja menggodanya.


"Jadi makan tidak sih?"


Saat mereka tengah berdebat untuk yang kesekian kalinya, dari arah luar sana datanglah laki-laki dan seorang gadis yang terlihat tengah berbicara asik. Keduanya terlihat mesra sekali hingga tidak sadar kedatangannya membuat seseorang di depannya kehilangan fokus. Tangan Mutia masih menggantung memegang gelas berisi minuman yang akan ia letakkan diatas meja itu. Sementara kedua matanya terus mengawasi gerak-gerik kedua pasangan tadi yang tidak peduli dengan suasana di sekitarnya. Hingga tanpa sadar jus buah yang harusnya Mutia letakkan di atas meja, kini malah mendarat sempurna pada pakaian milik laki-laki di depannya.

__ADS_1


"Hei, apa yang kau lakukan!"


__ADS_2