
"Hei, apa yang kau lakukan! Astaga ...!" Haidar memekik terkejut tatkala jus yang seharusnya Mutia letakkan di atas meja kini malah menyiram jas yang ia kenakan. Begitupun Mutia, gadis itu langsung gelagapan saat sadar dengan kesalahan yang baru saja dirinya lakukan.
"Ma ... Maaf! Aku tak sengaja!" Gadis itu meraih tissu cepat lantas ikut membersihkan pakaian milik Haidar yang sudah kotor akibat ulahnya.
"Tidak usah!" Haidar menepis cepat tangan gadis itu yang tadi sempat menyentuh tubuhnya. Aku bisa membersihkannya sendiri.
"Astaga, apa yang terjadi? Kenapa aku ...?" Laki-laki itu berbisik pelan. Tanpa sadar ia menarik sudut bibirnya sendiri.
"Maaf, aku tak sengaja."
"Kau ini keterlaluan sekali! Kenapa malah melamun saat bekerja!"
"Sebenarnya apa yang tengah kau pikirkan? Lihat, bajuku jadi kotor, kan?" sembur laki-laki itu. Padahal satu jam lagi ada janji dengan klien, tapi Haidar malah di buat repot karena harus mengganti pakaiannya lebih dulu.
"Aku 'kan udah minta maaf!" Mutia malah ikut berbicara ketus seolah kejadian tadi bukan kesalahannya. Rasain! ucap gadis itu dalam hati. Tiba-tiba pandangan Mutia tersita kearah sana, kearah dua orang yang hampir melintas di dekatnya.
"Kita makan di sini saja ya, Mas?" ucap gadis belia yang sejak tadi bergelayut manja pada tangan seorang laki-laki.
"Apa tidak sebaiknya cari tempat lain aja?" tawar laki-laki itu.
"Di sini aja. Lebih dekat." Gadis itu terlihat menarik tangan sang lelaki dan memaksanya lebih melangkah kedalam.
"Hei, ternyata kau bekerja di sini?" ucap gadis yang baru datang itu. Pandangan mereka bertemu. Kania terlihat semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Yusuf seakan tengah pamer kemesraan pada gadis di depannya.
Mutia memutar kedua matanya malas. Apalagi yang ingin kau lakukan? ungkapnya dalam hati. Belum cukup merampas semua kebahagiaan–ku! Kau kira aku cemburu? Cih, ambil saja kalau mau.
"Ya, memangnya kenapa?" jawab Mutia tidak peduli.
__ADS_1
"Pantas, kampungan!" Kania tersenyum sinis menatap kearah penampilan Mutia.
"Kania, udah, sebaiknya kita segera makan lalu kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan." Yusuf berusaha mengajak Kania agar tidak lagi mengganggu Mutia. Ia hanya tidak tega melihat Mutia terus-menerus di hina.
"Kenapa? Mas Yusuf kasihan lihat dia?" tunjuk Kania tepat di depan wajah Mutia. "Selama ini Mas Yusuf hanya kasihan aja, kan?" Kania semakin memotivasi.
"Kania, udah!" Yusuf menarik tangan gadis itu agar secepatnya menjauh. Mencari meja yang kosong, Yusuf mengajak Kania untuk segera duduk dan memesan apa yang gadis itu inginkan.
Sepeninggalan mereka, Mutia hanya bisa menarik napas panjang. Ia berusaha sabar dan tidak membalas apapun yang Kania ucapkan.
Sedangkan Haidar yang tidak mengerti apapun hanya bisa menatap perubahan wajah Mutia ketika berhadapan dengan kedua tamu restoran tadi.
"Hei, siapa mereka?" tanya Haidar penasaran.
"Bukan urusanmu!" Mutia berjalan cepat meninggalkan Haidar yang masih di liputi oleh rasa penasaran. Gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya lagi dan memilih melupakan kejadian yang baru saja ia alami.
Tapi, beberapa menit kemudian. Saat tiba giliran mengantar pesanan makanan, Mutia di buat kesal karena ulah Kania yang berusaha mempermalukannya lagi. Gadis itu menolak dan memarahinya dengan sengaja di depan para tamu yang tengah makan di restoran itu
"Kania, apa yang kamu lakukan?" Yusuf kaget bukan main melihat Kania yang sengaja menyiramkan minuman yang ia pesan sendiri. Gadis itu marah-marah dan mengaku jika pesanan yang di antarkan ke mejanya ternyata salah.
"Kau ....!" Mutia hanya hanya bisa menahan kesal saat jus buah itu harus mengenai seragamnya.
"Kau bisa kerja tidak! Kenapa pesananku salah semua!" teriak Kania hingga suaranya mengundang perhatian para tamu lain. Sejenak suasana restoran berubah hening. Semua pandangan orang-orang beralih menatap gadis cantik yang tengah memaki salah satu pelayan di restoran tersebut.
"Maaf ... bukannya makanan itu sudah sesuai yang kau pesan tadi?" Jika bukan di tempat kerja, mungkin Mutia akan langsung menjambak atau membalas perlakuan gadis itu. Tapi, Mutia sadar ia masih butuh pekerjaan ini. Jadi, ia tidak mungkin membuat keributan yang akhirnya akan merugikan dirinya sendiri.
"Minta maaf saja, Mutia, minta maaf. Nanti juga Kania akan capek lalu pergi." Gadis itu berbisik berusaha menenangkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tapi ini salah semua! Kenapa restoran sebesar ini punya pelayan yang nggak becus begini sih!" Kania masih berteriak, hingga suaranya sampai ke ruangan belakang sana.
"Maaf, ada apa ini?" Hendrik datang dari arah belakang karena mendengar suara ribut-ribut. Laki-laki itu berusaha meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi di restorannya.
"Maaf, Nona, kami akan mengganti pesanan makanan Anda dengan yang baru."
"Maaf ...? Kau pikir aku punya banyak waktu untuk menunggu makanan lagi?" jawab Kania dengan sangat ketus. Sepertinya Kania sengaja agar Mutia mendapat teguran dari atasannya.
"Tapi, saya nggak salah, Pak! Saya hanya mengantarkan apa yang dia pesan tadi!" Mutia berusaha membela diri. Memang seperti itu kenyataannya. Ia hanya membawa apa yang di pesan oleh gadis itu.
"Buktinya mana?"
Mutia menggeleng tak percaya. Apa ia harus kembali kebelakang dan mengambil catatan pesanannya tadi?
"Sebentar, Pak, saya ke ...."
"Udah, cukup, Mutia!" Hendrik berbicara sedikit tegas. Tentu saja sebagai menager restoran ia akan lebih mengutamakan kenyamanan tamu di banding mendengar alasan dari karyawannya sendiri.
"Tapi, Pak?"
"Cukup, Mutia! Sekarang bereskan makanan ini lalu ganti dengan yang baru!" ucap Hendrik sekali lagi dengan sangat tegas. Bahkan laki-laki itu tidak memberikan kesempatan pada Mutia untuk menjelaskan.
"Sekali lagi maafkan pelayan saya, Nona. Secepatnya pesanan Anda akan segera datang.
Gadis di depan sana tersenyum puas melihat Mutia lagi-lagi tidak mendapatkan pembelaan dari siapapun. Ia sengaja, Kania memang sengaja ingin menghancurkan hidup Mutia.
"Baik, Pak, saya permisi!" Mutia buru-buru pergi begitu saja tanpa menuruti perintah terakhir atasannya. Tak peduli jika setelah ini ia akan di pecat dari pekerjaannya. Mutia berlari kebelakang, masuk ke kamar mandi lantas menumpahkan segala kekesalannya di dalam sana.
__ADS_1
Suara gemericik air yang menyembur deras dari kran terdengar jelas saat Hendrik juga ikut menyusul cepat langkah gadis itu. Hendrik merasa sangat bersalah karena tak sengaja telah membentak Mutia secara terang-terangan di depan tamu restoran.
"Mutia ...! Buka pintunya!" pinta Hendrik dari luar kamar mandi. Sedangkan Mutia sendiri tak peduli. Ia masih menangisi nasibnya yang selalu sial.