Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Mutia Sadar


__ADS_3

Semalam akibat terlalu asik bermain-main dengan Airin, Alex jadi lupa waktu dan berakhir bangun kesiangan. Untung saja posisinya saat ini sudah menjadi bos, jadi ia tidak perlu khawatir akan ada yang memarahi atau memecatnya.


Tadi, sebelum berangkat ke kantor Arya, laki-laki itu sempat mengecek ponsel milik Mutia yang sejak kemarin ia simpan. Memang ponsel itu sudah tidak bisa di perbaiki lagi, hingga Alex hanya mengambil sim card dan memorinya saja.


Sedikit penasaran, Alex tak sengaja memeriksa benda pribadi milik Mutia. Dan betapa terkejutnya saat mendapati sesuatu di dalam memori milik gadis itu.


"Bagaimana, Lex, apa polisi sudah menangkap dua berandal yang kemarin berhasil meloloskan diri?" Kini keduanya sudah duduk berdampingan di ruangan kerja milik Arya. Mereka memang sudah sepakat bertemu untuk kembali membahas mengenai kasus yang menimpa Mutia kemarin.


"Sedang dalam proses, Tuan." Alex mengambil sesuatu yang sejak tadi ia bawa dari rumah, dan menyodorkannya ke depan Arya. "Anda harus melihat ini!"


Arya sedikit menyipitkan matanya menatap kearah benda kecil di atas meja. "Itu apa?" Meski Arya sudah tahu itu hanya sebuah memori card. Tapi, maksudnya apa coba?


Alex kembali meraihnya dan langsung memasangkan pada ponsel milik laki-laki itu.


Arya masih tidak mengerti. Ia berusaha menunggu apa yang akan di perlihatkan laki-laki itu padanya.


"Lihat video ini, Tuan." Video itu sudah di putar. Adegan demi adegan jelas terlihat di depannya matanya.


Kedua mata Arya tampak membulat sempurna setelah menyaksikan sampai habis video berdurasi hampir lima menit itu. Video yang memperlihatkan bagaimana para pria itu menghajar sang putra habis-habisan. Lalu setelahnya dengan tidak berbelas kasih mereka melemparkannya ke dalam danau.


"Brengs*k!" Arya mengepalkan kedua tangannya kuat. Wajahnya sudah berubah memerah memperlihatkan amarahnya yang kian memuncak.


"Video ini ada di ponsel Mutia, Tuan," jelas Alex, hingga membuat laki-laki di depan sana nyaris ambruk karena terkejut.


"Apa?! Mutia?" Ingatan Arya langsung pada kejadian yang menimpa sang putra beberapa bulan yang lalu. Saat itu pihak rumah sakit memang mengatakan jika seorang gadis yang telah mengantarkan Haidar. Tapi, Arya terlalu sibuk mencari siapa pelaku pengeroyokan putranya hingga akhirnya melupakan gadis itu.


"Jadi, gadis itu adalah ... Mutia?" bisik laki-laki itu pelan.

__ADS_1


"Ya, Tuan. Saya yakin sekali jika Mutia yang telah menyelamatkan Haidar waktu itu."


Arya kembali di buat shock dengan kenyataan di depan matanya. Bagaimana gadis itu dulu menyelamatkan Haidar, dan kemarin Mutia juga yang telah menyelamatkan dirinya.


"Tapi ... kenapa Mutia tidak pernah melapor ke polisi? Atau, setidaknya dia bisa memberitahukan itu padaku?" ucap Arya pelan. Ia tak habis pikir kenapa Mutia malah diam dan menyimpannya sendiri.


"Mungkin Mutia takut kawanan pria itu akan mencarinya. Jadi, dia berusaha untuk menyimpannya sendiri." Ucapan Alex ada benarnya. Tapi, dengan membiarkan kejahatan terus berkeliaran bebas apa itu malah tidak semakin berbahaya?


"Saya yakin ketiga pria itu ingin menuntut balas pada Mutia karena tahu dia yang telah menyelamatkan putra Anda."


"Jadi benar, mereka orang yang sama? Orang yang melukai putraku? Dan sekarang ... mencoba melukai Mutia juga?"


Arya menggeleng beberapa kali. Merasa jika dirinya merasa tak berguna akhir-akhir ini. Bagiamana bisa selama ini ia malah santai dan tidur nyenyak sedangkan ada seorang gadis yang mati-matian berusaha menyembunyikan diri agar tidak di temukan para penjahat itu.


"Aku tidak mau tahu, Lex, urus mereka secepatnya! Aku ingin mereka mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatan yang telah mereka lakukan!" Kali ini Arya tidak akan membiarkan sampai mereka lolos lagi, bahkan Arya tidak akan membiarkan para penjahat itu menghirup udara bebas di luar sana.


"Baik, Tuan. Saya akan urus semuanya."


"Terimakasih. Mungkin setelah ini aku akan banyak merepotkan–mu, Lex. Kamu tak keberatan, kan?"


"Saya akan berusaha sebisa mungkin," jawab Alex dengan senang hati. Bagi Alex saat ini mungkin waktu yang tepat untuk membalas semua kebaikan yang telah Keluarga Arya lakukan padanya dulu.


"Nanti siang kita ke rumah sakit. Aku ingin menggantikan barang gadis itu yang telah rusak!" ucap Arya pada laki-laki di sebelahnya.


Rumah Sakit.


"Dikit lagi ya, Nak?" Naila dengan telaten menyuapi putrinya dengan bubur yang telah di antarkan oleh perawat tadi.

__ADS_1


"Aku kenyang, Ma." Gadis itu menolak membuka mulutnya lagi. Saat ini keadaan Mutia sudah semakin baik. Dokter juga telah melakukan serangkaian pemeriksaan dan hasilnya tidak ada yang perlu di khawatirkan. Mungkin Mutia hanya sedikit trauma saja akibat kejadian kemarin yang hampir merenggut kehormatannya.


"Apa masih ada yang sakit?" tanya Naila pada putri semata wayangnya. Semalam perempuan itu nyaris di buat pingsan saat tiba-tiba ada dua lelaki datang ke rumah dan mengabari jika Mutia tengah berada di rumah sakit.


Awalnya Naila tak percaya dan malah mencurigai Arya dan Alex yang membawa kabar mengenai putrinya. Tapi, setelah dua laki-laki itu menunjukkan bukti dari pihak rumah sakit barulah Naila mempercayainya.


"Siapa yang membawaku ke mari, Ma?" tanya gadis cantik itu sambil meringis merasakan ngilu di bagian tulang punggungnya.


"Tuan Arya dan papanya Kia." Naila pun baru tahu jika salah satu dari lelaki itu adalah papanya Kia. Gadis yabg seringkali bertandang ke rumahnya.


"Aku harus berterimakasih pada mereka, Ma. Aku nggak tahu kalau bukan karena mereka pasti aku udah ..." Ingatannya kembali pada kejadian kemarin. Kejadian yang hampir merenggut masa depannya.


"Hei, tunggu sembuh dulu, Nak!" Naila buru-buru mencegah saat melihat Mutia hendak bangkit dan menapakkan kakinya ke lantai.


"Tunggu sampai kamu sembuh dulu, baru berterimakasih–lah pada mereka," usul Naila yang langsung mendapat anggukan dari gadis itu.


"Ma ... tapi ... bagaimana dengan pekerjaanku?" Mutia ingat seharusnya ia meminta ijin tidak masuk kantor untuk hari ini. Tapi, bagaimana? Sedangkan ponselnya saja sudah rusak dan entah ke mana benda itu.


"Jangan khawatir, Tuan Arya telah memberimu ijin secara langsung. Bukankah dia pemilik langsung dari Pratama Group, kan?" Naila menggeleng pelan. Masih sakit saja tetap memikirkan pekerjaan.


"Oh, syukurlah ...." Sekarang Mutia bisa bernapas lega karena ia tidak harus kena marah oleh atasannya.


Keduanya asik berbincang tatkala pintu ruangan itu di ketuk dari luar. Naila memasang wajah bingung. Pasalnya baru tadi pagi sang ibu minta untuk pulang lebih dulu.


"Siapa yang datang, Ma? Apa Papa?" Mutia juga ikut menatap ke arah luar sana. Terlihat seorang laki-laki dari balik pintu kaca itu.


"Entahlah ...."

__ADS_1


__ADS_2