
"Ayah, ada apa ini?" Haidar baru muncul setelah drama panjang itu selesai. Laki-laki itu berjalan tergesa menghampiri Mutia yang sejak tadi masih berdiri di dekat sang ayah.
"Ke mana saja kau?!" balas Arya dengan sorot mata tajam. Laki-laki itu terlihat kesal karena Haidar malah meninggalkan Mutia sendirian hingga harus mengalami kejadian seperti tadi.
"Maaf, Yah, aku tadi ada urusan sebentar."
Lantas pandangan laki-laki itu mengarah pada gadis di depan sana.
"Mutia ...?" Haidar menatap penampilan Mutia yang terlihat basah kuyup. Kedua pipi Mutia juga memar dengan sudut bibir yang sedikit berdarah. "Apa yang terjadi?"
"Saya tidak apa-apa, Tuan." Mutia hanya menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Ayah ... sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang telah menyakiti Mutia?" Beralih menatap kearah sang ayah. Laki-laki itu meminta penjelasan pada ayahnya mengenai kejadian apa yang sudah ia lewatkan.
Haidar merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa pun. Apalagi melihat tatapan orang-orang di sekitarnya.
"Jangan banyak tanya, cepat bawa calon istrimu pergi dari tempat ini!" titah Arya pada laki-laki itu.
Haidar langsung melongo mendengar ungkapan ayahnya. Apa tadi, calon istri?
"Yah ....?"
"Cepat, Kenapa malah diam?!" Arya kembali mengulangnya saat melihat Haidar malah kebingungan.
"I–iya, Yah," balas laki-laki itu. Haidar menggandeng tangan Mutia dan mengajak gadis itu melangkah pergi keluar dari gedung.
"Kita ke rumah sakit ya?" Haidar membuka suara lagi setelah membukakan pintu untuk Mutia dan memastikan gadis itu duduk dengan nyaman.
"Tidak usah, Tuan. Saya tak apa-apa."
"Tak apa-apa bagaimana? Lihat, kedua pipimu memar begini?!" balas Haidar dengan napas yang naik turun. Haidar berjanji akan mencari tahu siapa yang telah melakukannya pada Mutia.
"Ini hanya luka kecil, Tuan. Nanti juga sembuh sendiri kok." Mutia masih bersikeras untuk tidak mau di bawa ke rumah sakit. Hingga laki-laki itu frustasi sendiri bingung harus dengan cara apa membujuknya.
"Kamu yakin? Tapi, apa tidak sakit?"
__ADS_1
Mutia hanya menggeleng pelan. Ia hanya tidak ingin merepotkan Haidar. Terlebih sekarang sudah terlalu malam, lebih baik ia membersihkan luka-lukanya di rumah.
Selepas kepergian kedua pasangan tadi Arya lantas membereskan urusannya pada orang-orang yang tadi ikut terlibat dalam pengeroyokan Mutia. Arya benar-benar membatalkan kerja sama dengan mereka, bahkan tak segan menarik saham yang ia miliki pada perusahaan yang terlibat dalam insident tadi.
"Pastikan jika kejadian memalukan ini tidak akan sampai tersebar!" perintah Arya pada pengelola gedung. Arya tidak akan tinggal diam jika besok atau lusa ada kabar miring mengenai Mutia.
"Baik, Tuan. Saya pastikan tidak ada yang berani mengungkit mengenai kejadian tadi."
"Bagus. Karena aku tidak akan segan menyeretnya ke penjara jika sampai ada kabar buruk mengenai calon menantuku!" Arya menegaskan sekali lagi bahwa gadis yang tadi mereka hina adalah calon menantu dari keluarga Pratama.
"Tuan Arya, saya mohon ...." Laura sampai mengiba demi mendapatkan kerja sama itu kembali, tapi Arya seolah tak peduli dan memutuskan secara sepihak.
"Ah, bagaimana ini?" Laura frustasi sebab dari pihak Pratama Group sampai mengancam akan mempidanakan kasus tadi jika Kania tidak meminta maaf pada Mutia.
"I–iya, saya pastikan Kania akan segera meminta maaf pada Mutia."
"Sial! Ke mana Yudi, kenapa di saat seperti ini malah menghilang." Laura sudah mencari Yudi ke seluruh ruangan, tapi tetap belum juga menemukan di mana keberadaan laki-laki itu.
"Kania, ini semua karena salahmu!" ucap Laura dengan pandangan putus asa kearah gadis cantik itu.
"Aku nggak ngelakuin apapun, Ma!" elak Kania tak mau mengakui kesalahannya. Padahal jelas-jelas semua kejadian tadi berawal dari dirinya.
"Aku cuma kasih peringatan aja ke gadis tak tahu diri itu, Ma! Lagipula Kia yang memulai, aku hanya ikut-ikutan aja," ucap gadis itu lagi dengan penuh percaya diri.
"Harusnya tadi kau cukup melihat saja. Kenapa malah ikut menghina Mutia?!"
"Aku juga sakit, Ma. Lihat nih!" Memperlihatkan tangannya yang memerah akibat balasan dari Mutia.
"Pokoknya Mama nggak mau tahu, kamu harus secepatnya minta maaf sama Mutia!" tegas Laura pada putri satu-satunya itu.
"Minta maaf? Mama yang bener aja, sih? Aku nggak mau!" Kania merasa menjatuhkan harga dirinya sendiri jika hal itu sampai terjadi.
"Mama nggak mau tahu, Kania, kau harus minta maaf. Harus!" ucap Laura dengan sorot mata yang tajam.
"Tapi, Ma ..."
__ADS_1
Ah, sial!
Di luar gedung.
"Tuan, saya sungguh minta maaf atas kelakuan putri saya." Alex menunduk tepat di depan Arya menunggu laki-laki itu menjawab. Tadi Alex hanya meninggalkan Kia sebentar. Tapi, saat ia datang sudah ada ramai-ramai dan Kia berada di antara mereka.
"Lain kali aku tak mau melihat kejadian seperti ini lagi, Lex." Jujur saja Arya sedikit kesal dengan sikap Kia yang sangat keterlaluan. Jika bukan putri dari Alex mungkin saja Arya sudah memperpanjang masalah ini, bisa saja Arya menempuh jalur hukum agar gadis itu jera.
"Maaf, sekali lagi saya minta maaf." Alex mengeram kesal mengetahui tingkah putrinya. Ia merasa malu sekali pada keluarga Arya.
Alex sengaja diam dan tak berbicara apapun saat di mobil. Namun, sesampainya di rumah Alex langsung memberondong Kia dengan berbagai pertanyaan.
"Kia ..."
"Apa Ayah mau marahin aku juga?" Ternyata gadis itu sudah merasakan perubahan raut wajah ayahnya sejak tadi.
"Ayah bukan ingin memarahimu, Kia. Tapi, Ayah hanya ingin bertanya, kenapa sikapmu seperti itu? Bukankah Mutia itu sahabatmu sendiri?" Mereka masih berada dalam mobil. Alex menahan Kia agar tidak segera masuk karena ada sesuatu yang ingin ia tanyakan.
"Sahabat?" Kia malah tergelak sendiri hingga Alex bingung di buatnya. "Mana ada seorang sahabat yang tega merebut kekasih dari sahabatnya sendiri."
"Maksud kamu apa, Kia? Siapa yang merebut dan di perebutkan?" tanya Alex tak mengerti.
"Apa Ayah nggak sadar juga kenapa pertunanganku batal? Kenapa Kak Haidar tiba-tiba berubah pikiran?" tanya gadis itu pada sang ayah.
"Ya karena kalian belum berjodoh," jawab Alex dengan sangat enteng.
Kini Kia malah terlihat tidak terima begitu saja dengan jawaban sang ayah.
"Itu karena Mutia, Yah. Dia yang udah rebut Kak Haidar dari aku!" jelas Kia dengan wajah kesal. "Coba dulu aku dengerin Mama, pasti kejadiannya nggak akan seperti ini."
"Kia ... dengar, Nak." Alex mengusap rambut gadis itu dengan lembut.
"Karena Mutia ataupun bukan, jika Haidar memang di takdirkan untukmu pasti tetap akan menjadi milikmu. Tapi sebaliknya, sekuat apapun kau menjaganya jika Haidar memang tidak di takdirkan untukmu, kau tak akan pernah bisa menahannya untuk tetap tinggal."
"Tapi aku yakin semua ini karena Mutia, Yah. Aku salah karena terlalu percaya padanya." Kia tetap yakin Mutia–lah yang menjadi penyebab kandasnya hubungannya dengan Haidar. Terlebih tadi setelah mendapat hasutan dari Kania, gadis itu bertambah membenci Mutia.
__ADS_1
"Sudah. Sekarang masuklah. Mama pasti menunggu di dalam."
Kia hanya merengut, memasang wajah kesal karena sang ayah lebih membela gadis itu. "Kenapa sih, Ayah dan Om Arya sangat membela Mutia?"