Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Ini Tentang Aku dan Kamu


__ADS_3

Aku siapa sih? Hanya seorang yang pernah singgah di hatimu, sebentar.


Dan mungkin saat ini kehadiranku tidak kau harapkan lagi.


Aku siapa sih? Hanya orang asing yang mungkin sudah terlupakan.


Kita siapa? Tanah dan hujan yang saling merindukan kehadirannya. Atau .... siang dan malam yang kehadirannya saling meniadakan.


Mulai sekarang aku bebaskan hatiku untuk tidak mengingatmu, apalagi mengharapkan–mu.


Kemarin setelah perkelahian di toko perhiasan yang berakhir dengan gagalnya membeli cincin pertunangan, Mutia memutuskan untuk pulang lebih dulu dan menolak di antar oleh Haidar dan juga Kia.


Gadis itu memilih menggunakan taksi online meskipun Kia sudah membujuknya berkali-kali. Dan saat ia tiba di depan rumah, Mutia di kejutkan oleh kedatangan seseorang yang sebelumnya tidak pernah ia duga.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Mutia dengan sorot mata tidak bersahabat.


"Mutia ... aku ...?" Yusuf terlihat ragu. Laki-laki itu beberapa kali melirik kearah taksi yang belum juga pergi dari hadapannya.


"Kamu dari mana?" tanya Yusuf seraya mendekat kearahnya gadis itu.


"Bukan urusanmu!"


"Mutia ... aku minta maaf," ucap Yusuf lirih. Laki-laki itu menatap pada kedua bola mata milik gadis yang beberapa bulan yang lalu menjadi kekasihnya.


"Sudah aku maafkan."


"Mutia ... aku sungguh ...." Laki-laki itu menghela napas panjang. Seolah ada beban berat yang tengah ia rasakan.


"Jadi, kalian saudara? Kamu dan Kania adalah kakak adik?"


Mutia melengos. Tidak penting lagi siapa aku dan dia!


"Mutia ....!"


"Bukan urusanmu!"


"Tapi, sekarang jadi urusanku, Mutia. Karena ....?"


"Kau ingin menikahinya?" serobot Mutia tiba-tiba. "Nikahi saja, aku tak peduli!"


"Mutia ini tentang aku dan kamu," jelas laki-laki itu lagi.

__ADS_1


"Cerita aku dan kamu udah nggak ada lagi! Sekarang saatnya kita urus hidup kita masing-masing!"


Yusuf menggeleng pelan. Sejujurnya saat ini Yusuf tengah di rundung penyesalan yang tiada kira. Tadi saat menemani sang mama berbelanja, keduanya memergoki papanya tengah berada di toko itu juga. Mereka sempat terlibat pertengkaran sampai akhirnya Yusuf memutuskan untuk mengajak Mama Seli pulang.


Yusuf memapah Mama Seli yang masih hancur menuju mobil yang masih terparkir. Namun sebelum mencapainya ia di kejutkan oleh kabar dari salah satu temannya mengenai sebuah video yang tengah viral saat itu.


Yusuf berusaha meraih kedua tangan gadis itu, tapi Mutia buru-buru menepisnya kasar,


"Jangan kurang ajar!"


"Apa benar, Kania adik tirimu? Dan Om Yudi itu papamu?" Pertanyaan Yusuf sontak membuat Mutia menghentikan langkahnya yang hampir mencapai pintu rumah.


"Ya. Kania itu adik tiriku! Dan pria yang kau sebut namanya tadi adalah papa kandungku! Kenapa? Kamu menyesal ingin memiliki saudara ipar sepertiku?"


"Bukan seperti itu, Mutia. Ak–aku hanya ingin minta maaf. Aku salah karena terlalu percaya sama ucapan Papa yang menuduh orang tuamu sebagai pelakor. Aku menyesal, Mutia."


"Ck! Lalu, setelah tahu kebenarannya, kamu mau apa? Bukankah semua itu udah berlalu?"


"Aku menyesal, Mutia. Maukah kamu memberiku kesempatan? Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu."


Ternyata selama ini Yusuf selalu di hantui oleh rasa bersalah dengan Mutia. Bagaimana ia bisa semudah itu memutuskan rencana pernikahannya sendiri hanya karena kabar yang belum di ketahui kebenarannya? Dan, yang lebih herannya lagi, kenapa sang papa tega sekali memfitnah keluarga Mutia? Apa semua itu hanya untuk menutupi kebusukannya selama ini?


"Mutia, hei ...!"


"Tuan ..?"


"Kamu melamun?"


Mutia menggeleng cepat. Meski apa yang di ucapkan laki-laki itu memang benar.


"Masih memikirkan yang kemarin?" tanya Haidar seraya duduk di hadapannya.


"Ti–dak!" Meski gadis itu mengelak, Haidar tahu jika Mutia tengah menyembunyikan sesuatu.


Laki-laki merogoh sesuatu di saku celananya, lantas memperlihatkan tepat di depan wajah gadis itu.


"Tuan, itu punya saya!" pekik Mutia saat melihat sesuatu yang selama ini ia cari. Gadis itu langsung bangkit dan berusaha menyambar benda berkilau di depannya.


"Kamu yakin ini punyamu?" Haidar menarik cepat tangannya dan ikut bangkit memundurkan langkahnya.


"Akh ...!" Mutia memekik saat tubuhnya malah menabrak dada bidang milik laki-laki itu. "Kembalikan, Tuan, itu milik saya."

__ADS_1


"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" Laki-laki itu seolah mempermainkan Mutia. Gadis di depan sana memasang wajah kesal.


"Itu tidak ada harganya, Tuan. Bagaimana mungkin Anda menahannya?" Mutia memasang wajah memelas. Memang harga kalung tak seberapa, tapi itu sangat berharga bagi Mutia karena di beli dengan gaji pertama saat bekerja di restoran waktu itu.


"Jadi benar ini milikmu, Mutiara?" Haidar mengeja tulisan yang terukir di sana. "Kenapa kamu malah menghilang?"


"Menghilang? Maksud Tuan apa?" tanya gadis itu tidak mengerti.


"Setelah membawaku ke rumah sakit, kenapa kamu malah tidak datang lagi?"


"Ma–maaf, saat itu saya sedang banyak urusan. Jadi, saya terpaksa meninggalkan Anda sendirian di rumah sakit," balas Mutia memberi alasan. Memang saat itu Mutia menghubungi rumah, tiba-tiba saja sang nenek memintanya untuk segera pulang karena di rumah tengah terjadi pertengkaran antara Mama Naila dan Papa Yudi.


"Apa pria yang di restoran waktu itu benar mantan calon suamimu?" Pertanyaan Haidar semakin menjurus entah ke mana. Mutia sendiri bingung, bagaimana laki-laki itu bisa mengetahuinya?


"Itu ... bukan urusan Anda! Tolong, kembalikan, Tuan!" Mutia sampai frustasi sendiri saat Haidar belum juga mengembalikan kalung miliknya, padahal sebentar lagi jam kerja sudah habis. Itu artinya satu persatu karyawan kantor mulai membubarkan diri.


"Bagaimana kalau aku menukarnya dengan yang lebih bagus?" tawar laki-laki itu.


"Tidak! Aku tidak mau! Kembalikan!" Aksi saling rebut itu terus saja terjadi. Haidar masih berusaha mempertahankan benda itu meski Mutia sudah berusaha keras merebutnya. Hingga akhirnya ...


Brukk!


"Akh ....! Pelan-pelan, Mutia, kenapa kamu jadi bar-bar begini sih!"


Di luar sana seorang perempuan paruh baya tengah berjalan tergesa di dampingi salah satu pegawainya menuju ruangan milik sang putra. Rengganis hanya ingin memastikan perihal cincin tunangan dan juga menginterogasi mengenai video yang beredar pada laki-laki itu.


Perempuan itu melangkah keluar dari lift khusus Presdir di susul Nina di belakangnya.


"Kamu yakin kalau hari ini tidak sibuk? Haidar ada di ruangannya, kan?" tanya Rengganis memastikan keberadaan sang putra.


"Tuan Haidar ada di ruangannya, Nyonya. Dan kebetulan hari ini jadwal meeting tengah kosong." Nina menjelaskan sedikit perihal yang ia tahu mengenai kegiatan sang bos hari ini.


"Baiklah. Kamu boleh kembali ke ruanganmu."


"Baik, Nyonya." Setelah mengantarkan perempuan tadi, Nina lantas berbalik dan kembali menuju ruangannya. Sedangkan Rengganis Kembali melangkah menuju ruangan sang putra yang tinggal beberapa langkah lagi.


Namun karena mendengar sesuatu dari dalam sana Rengganis terpaksa menghentikan langkah dan berusaha mengintip dari celah pintu yang di biarkan sedikit terbuka.


Kedua bola mata perempuan itu langsung melotot sempurna tatkala melihat adegan di dalam sana. Adegan seorang laki-laki dan perempuan yang saling menindih dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan bibir milik gadis itu nyaris menyentuh bibir laki-laki yang berada di bawahnya.


Rengganis berusaha membiarkannya meski dadanya sudah bergemuruh sejak tadi. Perempuan itu yakin sekali jika adegan ini terjadi tanpa kesengajaan. Tapi, tiga detik kemudian apa yang di pikirkan oleh perempuan itu berubah saat melihat aksi berani putranya pada gadis yang berada dalam dekapannya.

__ADS_1


"Ya Tuhan .....!"


__ADS_2