Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Jangan Menyiksa Diri


__ADS_3

"Kubilang tak usah menggangguku lagi, kenapa kau malah membuat semuanya jadi tambah rumit begini sih!" Bukannya senang saat Dika mengatakan jika baru saja ia sudah membuat perhitungan dengan Lydia, Naila justru khawatir ancaman yang Dika berikan malah membuat perempuan itu semakin menggila.


Jika kemarin-kemarin Lidya hanya merusak reputasinya di kantor. Entah besok apa yang akan di lakukan oleh perempuan itu. Naila hanya khawatir nantinya Lydia akan semakin membencinya dan berimbas pada kehidupan Mutia juga. Naila tidak bisa membayangkan jika putri satu-satunya itu ikut terseret dalam semua permasalahannya.


"Tak usah khawatir, Nai, Lydia tidak mungkin berani mengusikmu lagi. Aku jamin itu!" Dika meyakinkan sekali lagi kalau apa yang baru saja ia lakukan tidak akan berimbas apapun untuk Naila dan keluarganya.


"Kau terlalu gegabah, Mas! Bagaimana kalau setelah ini Lydia jadi semakin membenciku? Aku hanya tak ingin permasalahanku dengannya semakin panjang. Aku capek, Mas! Aku lelah terus-menerus di tuduh yang tidak-tidak!" Rasanya hampir gila saat harus bertahan dengan tuduhan-tuduhan keji yang sebenarnya tak pernah ia lakukan. Naila bahkan hampir menyerah saat tidak satu orangpun yang mendukungnya. Bahkan mantan suaminya sendiri ikut menuduhnya, bahkan menganggapnya tidak becus mendidik anak hanya karena pernikahan Mutia yang gagal waktu itu.


"Nai .... percayalah!" Dika memegang kedua pundak wanita itu. Meyakinkan bahwa semua pasti akan baik-baik saja.


"Terserahlah, Mas. Aku tak peduli! Aku mau masuk dulu!" Keduanya berada di pekarangan rumah milik Naila. Rumah sederhana yang ia beli atas hasil jerih payahnya dua tahun setelah perceraiannya dengan Yudi. Waktu itu karier Naila lumayan bagus. Ia bekerja di salah satu perusahaan besar dengan gaji yang lumayan. Tapi tidak lama perusahaan itu pindah ke luar kota. Naila terpaksa mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain.


"Nai, tunggu! Bisa kita kita bicara sebentar?" tahan laki-laki itu. Dika nampak ragu saat ingin menghentikannya. Tapi, ia tidak ingin terus memendamnya lagi. Dika tidak ingin tersiksa Karena terus menahan perasaannya sendiri.


"Lima menit!" ucap Naila memberikan batasan waktu.


"Apa perasaanmu masih sama, Nai? Apa aku belum ada di hatimu?" Pertanyaan Dika entah yang keberapa kalinya.


"Menurutmu? Apa perlu kuperjelas lagi?" Naila sama sekali tidak memalingkan wajah kearahnya. Wanita itu masih berdiri tegak dengan posisi membelakangi.


"Itu bukan karena Lydia, kan, Nai? Apa kau menolakku karena perempuan itu?" Dika ingin memastikan mengenai ucapan Lydia kemarin. Apa sebenarnya yang membuat Naila selalu bersikap dingin dan menolaknya.

__ADS_1


"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mantan istrimu, Mas! Ini murni karena aku memang tidak memiliki perasaan apapun padamu!" Ada yang menetes dari kedua sudut mata Naila. Tapi, wanita itu buru-buru mengusapnya cepat. Ia tidak ingin laki-laki di belakang sana sampai melihatnya.


"Setidaknya aku lega, Nai, sudah mendengarnya langsung darimu. Aku tahu Lydia hanya membual. Dia hanya ingin membuatku hancur, hingga mengatakan sesuatu yang tidak nyata." Kedua sudut laki-laki itu juga nampak berembun. Bertahun-tahun Dika berusaha menghilangkan perasaannya pada Naila. Tapi, tetap saja bayangan wanita itu semakin lama seolah mengejarnya.


Apa mungkin itu hanya rasa bersalahnya saja? Karena secara tak sengaja ia yang membuat hidup wanita itu sempat berantakan. Naila harus keluar dari perusahaannya sebab tuduhan keji dari Lydia yang saat itu masih menjadi istri sahnya.


"Semoga kau selalu bahagia, Nai. Jangan sungkan, jika ada sesuatu yang kau butuhkan, datanglah! Aku pasti akan membantumu!" Perlahan Dika mengayun langkahnya pelan. Laki-laki itu memilih menyerah, mengubur semua harapan yang ada untuk Naila.


Detik demi detik berlalu begitu lambat. Dika masih berdiri tepat di pagar rumah milik Naila, berbalik dan menatap punggung perempuan itu.


"Tatap aku sebentar saja, Nai. Setidaknya untuk yang terakhir kali," bisik laki-laki itu pelan. Tidak ada lagi yang Dika harapkan selain melepaskannya demi kebahagiaan wanita itu.


Laki-laki itu kecewa. Mungkin Naila memang tidak pernah menyukainya.


"Selamat tinggal Naila. Hiduplah dengan baik. Semoga di lain kesempatan kita akan bertemu lagi." Laki-laki itu mengusap kristal bening yang tak kuasa lagi ia tahan.


Jika saja aku tahu perpisahan semenyakitkan ini, mungkin aku memilih tidak akan pernah mengenalnya.


Sedangkan di depan sana, Naila berdiri dengan jarak tiga meter dari laki-laki itu. Wanita itu sebisa mungkin menahan tangisnya yang hampir tak terbendung lagi. Meski, isaknya sudah terdengar sangat lirih.


"Selamat tinggal, Mas. Carilah kebahagiaan–mu. Maaf, aku sungguh tak bisa. Meski aku juga mencintaimu, tapi ini lebih baik. Aku tak ingin ada yang tersakiti. Aku tak ingin hubunganmu dengan Lydia makin rumit. Aku juga merasa tidak pantas untukmu." Setelah Dika pergi, barulah suara tangis wanita itu pecah. Naila menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Menjadi single parent adalah pilihan. Daripada harus terus sakit hati oleh suami yang menduakannya. Naila memilih bercerai dengan Yudi dan melanjutkan hidupnya yang baru. Meski setelah perpisahan itu hidupnya kian rumit. Tapi, setidaknya itu lebih baik, daripada terus bertahan dengan laki-laki yang salah.


"Sudah, Nai, biarkan dia mencari kebahagiaannya jika kamu memang tidak menyukainya," ucap sang ibu mencoba menenangkan hati Naila. Wanita itu buru-buru bangkit dan menghapus air matanya dengan cepat.


"Ibu ... sejak kapan ada di sini?" Naila menelan salivanya kasar. Ia takut sang ibu mendengar apa yang baru saja ia ucapkan selepas kepergian Dika tadi.


"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Nai. Kamu juga berhak bahagia. Tapi, jika memang dia bukan laki-laki yang kamu inginkan, Ibu harap suatu saat nanti kamu tak menyesal melepaskannya."


"Mak–sud Ibu apa?" Suara Naila terbata. Ia yakin sekali jika tadi sang ibu pasti telah mendengar semua ucapannya.


"Ibu memang bukan yang melahirkan–mu, Nai. Tapi, Ibu sudah sangat mengenalmu. Jika kamu juga menyukaiku, lantas apa yang salah?" ucap perempuan itu lagi.


"Ingat Naila, berapa lama dia menunggumu dengan sabar. Apa kamu yakin akan menyakitinya lagi?" Pertanyaan sang ibu kali ini berhasil membungkam Naila. Wanita itu terlihat gelisah, seolah tengah menyesali semua yang baru saja ia lakukan.


"Bu ... tapi ..."


Sang ibu menggeleng pelan. Perempuan berumur sekitar enam puluh tahun itu menatap kedua mata sang anak dengan tatapan serius. "Kamu tak pernah tahu 'kan apa yang selama ini dia simpan? Begitupun dirinya. Jadi, jangan biarkan perasaan ragu akhirnya menghancurkan–mu."


"Jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Naila dengan tatapan tak mengerti.


"Kejar dia, Nai. Jangan biarkan dia pergi lagi."

__ADS_1


__ADS_2