
Mutia mundur beberapa langkah menyadari siapa laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya. Lidah gadis itu mendadak kelu bahkan untuk sekedar mengucapkan namanya saja. Sialnya, Mutia justru berbisik lirih hingga membuat semua orang yang ada di sana menatapnya dengan heran,
"Kau ....?"
Berbeda sekali dengan Haidar. Laki-laki yang sejak tadi menatapnya dengan tajam, kini malah terlihat menarik sudut bibirnya sendiri.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Kia dengan rasa ingin tahu karena melihat gelagat keduanya yang sedikit canggung.
"Ti–dak!" Mutia menjawab cepat. Bagaimana–pun ia tidak ingin sampai Kia tahu bahwa laki-laki yang saat ini menjadi kekasihnya adalah pria yang pernah ia selamatkan di danau waktu itu. Apalagi ia juga pernah menciumnya saat pria itu belum sadarkan diri.
"Oh ...." Kia hanya ber–oh ria saja mendengar jawaban dari Mutia.
Para orang tua sudah meninggalkan mereka untuk melanjutkan obrolannya sendiri dan membiarkan para anak untuk melanjutkan pestanya lagi.
Selanjutnya tiba pada sesi foto-foto. Kia mengambil posisi tepat di sebelah Haidar. Laki-laki itu hanya menurut saja saat Kia terus saja berusaha mengaturnya dengan berbagai pose.
"Kakak agak geser dikit dong?" Mutia mengambil alih kamera, lantas meminta Mutia dan Haidar lebih mendekat lagi.
Sejenak Haidar ragu saat Kia memintanya untuk merangkul pundak Mutia. Agar terlihat akrab, katanya. Canggung, merasa tak enak. Tapi karena Kia terus memaksa akhirnya Haidar memberanikan diri, namun setelah ia membisikkan kata maaf pada telinga gadis itu.
Mutia memaksakan senyum. Sejujurnya di sini ia merasa paling tidak nyaman. Apalagi saat memergoki laki-laki itu yang beberapa kali terlihat mencuri pandang kearahnya.
"Nah, oke!" Kia mengambil beberapa foto Mutia dan Haidar untuk ia simpan di album koleksinya nanti.
"Mutia, boleh minta tolong nggak?" Tiba-tiba saja Kia ingat dengan ponselnya yang sejak tadi tertinggal di atas meja kamar. Jika ia mengambilnya sendiri pastinya nanti akan kerepotan karena gaunnya yang lumayan panjang. Lagipula ia juga tidak enak meninggalkan Haidar begitu saja.
"Ya ...?"
__ADS_1
"Tolong ambilkan ponselku di kamar, bisa?" Kia memasang wajah seimut mungkin, berharap Mutia mau menolongnya sebentar saja.
"Siap!" Mutia tersenyum senang. Merasa ada kesempatan untuk lari dari situasi yang tak mengenakkan ini. Mutia melangkah cepat meninggalkan keduanya menuju lantai atas, kamar pribadi milik Kia.
Sedangkan Kia langsung tersenyum senang melihat punggung sahabatnya itu perlahan menghilang saat sudah mencapai anak tangga paling atas. Ibarat sambil menyelam minum air, Kia akan memanfaatkan moment berdua ini dengan Haidar.
"Apa Kakak mau aku ambilkan sesuatu?" Kia berusaha membuka suara lebih dulu. Gadis itu meremas ujung gaunnya sendiri demi menyembunyikan kegugupannya.
"Tidak." Haidar hanya melirik sekilas dan malah mengalihkan pandangannya kearah lain. Laki-laki itu seolah tidak menganggap sama sekali gadis cantik yang berdiri di sebelahnya.
Kia menarik napas pelan. Ia sadar jika Haidar pasti belum terbiasa dengan situasi seperti ini. Jika dulu hubungan mereka hanya sebatas adik dan kakak, kini semuanya telah berubah. Tidak lama lagi laki-laki itu akan resmi menjadi tunangannya.
Kia mengira kedatangan Haidar ke acara pesta ulang tahunnya akan jadi kejutan spesial bagi dirinya. Nyatanya sikap Haidar masih saja dingin dan seolah masih ada dinding pembatas yang memisahkan antara dirinya dan laki-laki itu.
"Aku ke toilet dulu." Tanpa menatap kearah Kia, laki-laki itu berpamitan dan mengayun langkahnya begitu saja.
Di dalam kamar.
"Jadi orang kaya enak kali ya? Punya rumah besar, mobi bagus, dan ...." Gadis itu menyapu seluruh ruangan yang terlihat cantik dan elegan. Kamar berukuran besar itu terlihat mewah sekali di mata Mutia yang hanya seorang gadis biasa.
"Eh, di mana ponselnya." Saat Mutia tengah mencari di mana keberadaan benda itu. Tiba-tiba saja ia merasakan panggilan alam yang tidak bisa di tunda lagi.
Ia melirik toilet di sudut ruangan, lantas buru-buru melangkah masuk ke dalam sana.
"Kapan aku punya kamar mandi sebagus ini?" Mutia yang kampungan begitu takjub melihat isi kamar mandi milik Kia. Beberapa kali ia berdecak kagum, seolah enggan cepat-cepat keluar dari dalam ruangan itu. Namun detik selanjutnya ia merutuki kebodohannya sendiri karena malah terlena dan melupakan permintaan Kia tadi.
"Jangan mimpi, Mutia! Jangan mimpi!" Ia menepuk pipinya keras, berusaha menyadarkan lamunannya yang terlalu tinggi. Mutia membuka pintu kamar mandi dan membawa langkahnya keluar dari dalam sana.
__ADS_1
Baru beberapa langkah ia keluar, Mutia di kejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya. Keadaan kakinya yang masih basah membuat tubuh gadis itu limbung dan akhirnya ...
"Akh ....!" Kaki Mutia terpeleset, beruntung laki-laki itu langsung sigap dan menolongnya.
"Hati-hati." Pandangan mereka bertemu. Sejenak keduanya sama-sama diam. Mutia sendiri tidak sadar jika posisinya tengah di peluk oleh laki-laki yang merupakan kekasih dari sahabatnya itu.
"Kau ....!" Gadis itu berusaha melepaskan diri secepat mungkin. Namun karena tidak siap lagi-lagi ia hampir terjatuh membentur dinginnya lantai kamar.
"Apa yang kau lakukan! Plak!" Tangan gadis itu sudah melayang mengenai pipi sebelah kiri Haidar. Laki-laki itu hanya menyentuh bekas tamparan itu tanpa ekspresi apapun.
"Astaga, apa yang aku lakukan!" Mutia memekik kecil. Ia menatap tangannya sendiri yang tadi telah lancang melukai wajah tampan itu. Ia merasa bodoh sekali karena sudah tergesa-gesa melakukan sesuatu.
"Ma–maf. Maafkan aku." Mutia mendadak takut sendiri. Ia paham sekali siapa laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya itu.
Bagaimana kalau dia marah? Bagaimana kalau dia mengadu sama Kia? Bagaimana kalau dia membalas menamparku?
Berbagai pertanyaan itu muncul di benaknya. Gadis itu tidak tahu lagi harus melakukan apa.
"Ja–jangan lakukan ini padaku!" Mutia reflek memejamkan kedua mata saat Haidar tiba-tiba mengangkat tangan kanannya. Gadis itu yakin sekali jika Haidar pasti akan membalas perlakuannya tadi.
Tiga detik kemudian ia tidak merasakan tamparan itu. Hingga akhirnya ia mencoba membuka kedua matanya.
"Ternyata kau masih mengenaliku." Haidar tersenyum menatap kearah Mutia yang masih di liputi perasaan takut.
"A–apa maksudmu?" Meski sebenarnya ia tahu maksud dari laki-laki itu. Mutia hanya tidak ingin ada kesalahpahaman dengan Kia saja.
"Ternyata kau pintar sekali bersandiwara." Mutia terpaksa menahan napasnya sejenak taatkala tangan laki-laki kini malah menyentuh wajahnya. Mengusap lembut sebelah pipinya, hingga turun perlahan menyentuh bibir milik gadis itu.
__ADS_1
"Bahkan saat itu kau tak ragu lagi untuk menciumku."