Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Bukan Kia, Ma


__ADS_3

Mutia membuka kedua matanya dengan napas tersengal dan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya. Bibir gadis itu pun terlihat pucat dan gemetar. Nama yang pertama kali Mutia sebut setelah dua hari mengalami koma adalah ...


"Kia ...!" Mutia meneriakkan nama itu sedikit kencang. Semua orang yang tengah menunggu di ruangan itu pun begitu terkejut.


"Mutia ...! Akhirnya kamu sadar juga, Sayang ..." Naila langsung memeluk tubuh putrinya dengan rasa haru. Sedangkan Haidar dan sang nenek ikut mendekat kearah Mutia yang masih terlihat kebingungan.


"Ma ... Kia, Ma ...!" ucap gadis itu dengan wajah cemas.


"Tenang, Nak. Tidak perlu takut. Ada Mama di sini." Naila memegang kedua pundak Mutia untuk menenangkan.


"Kia ... mana, Kia ...!"


"Mutia ... tenanglah. Kamu udah aman. Kia udah mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya." Haidar pun ikut bersuara demi memenangkan calon istrinya.


"K–ia mana, Tuan. Di–a baik-baik saja, kan?" Semua serentak terkesima dengan pertanyaan Mutia kali ini. Bagiamana bisa Mutia malah mengkhawatirkan orang yang telah melukainya.


"Aku pengen ketemu Kia, Ma."


Lagi-lagi ucapan Mutia membuat semua orang menatap bingung.


"Mutia ... sadarlah. Kia udah nyakitin kamu!" Haidar duduk di depan ranjang milik Mutia, persis di samping Mama Naila berdiri.


"Nggak, Ma, Kia nggak bersalah." Mutia menggelengkan kepalanya. "Aku mau ketemu, Kia!"


Tiba-tiba saja Mutia sudah memaksa untuk bangkit. Gadis itu menapakkan kakinya ke lantai, tapi ...


"Akhhh ...!" Mutia memekik memegang pundak sebelah kirinya. Hasil operasi itu belum sepenuhnya sembuh hingga masih sedikit nyeri.


"Hati-hati, Nak. Ya Tuhan ..." Naila langsung memegang tubuh Mutia yang nyaris ambruk. "Kamu belum benar-benar sehat."


"Katakan, di mana Kia, Ma? Dia baik-baik aja, kan? Kia nggak terluka, kan?"

__ADS_1


"Mutia, apa maksudmu, Nak? Kenapa malah mengkhawatirkan Kia? Dia udah jahat sama kamu! Dia yang udah buat kamu celaka!"


Mutia menggeleng lagi. Kali ini air mata juga deras membasahi kedua pipinya.


"Nggak, Ma! Bukan Kia yang buat aku celaka! Bukan Kia pelakunya!"


.


.


Di kantor polisi.


Kia hanya meringkuk disudut ruangan tanpa mau berbicara sepatah katapun. Airin yang melihat keadaan putrinya jadi seperti itu semakin bersedih. Terlebih Mutia yang menjadi korban belum sadar dari koma sehingga tidak bisa memberikan kesaksian apapun.


"Kia ... kamu makan ya, Nak?" Selama dua hari ini Airin selalu datang dan menjenguk Kia. Membawa makanan tapi gadis itu selalu saja menolaknya.


"Bukan aku pelakunya, Ma! Tapi perempuan itu." Kia berbisik lirih. Gadi itu juga terus menggigit kuku jemarinya sendiri.


"Iya, Nak, Mama percaya sama kamu. Sekarang Kia makan ya?" Airin menahan air matanya dengan terus menemani Kia dari balik ruangan yang di pisahkan oleh jeruji besi.


Airin tidak lagi mampu menahan air matanya. Perempuan paruh baya itu terisak bahkan kedatangannya selalu menjadi tontonan para penghuni lain di ruangan itu.


"Lex, bagaimana? Apa belum ada kabar lagi tentang Mutia?" Airin sungguh tidak bisa melihat lebih lama lagi nasib Kia yang begitu menyedihkan. Baru dua hari tinggal di tempat itu saja penampilan Kia sudah sangat berubah. Gadis itu sudah terlihat kurus dan sangat kumal.


"Hari ini aku akan datang lagi ke rumah sakit. Semoga segera ada kabar baik untuk Kia."


Alex nyaris kehilangan semangat hidupnya melihat penderitaan putri semata wayangnya. Berbagai cara sudah Alex coba tapi sampai saat ini belum membuahkan hasil sama sekali. Alex hanya berharap akan ada keajaiban, atau setidaknya pihak Keluarga Mutia akan segera mencabut tuntutannya pada Kia.


.


.

__ADS_1


Apartemen.


"Kamu gila, Yud! Kamu benar-benar tak waras!" maki Lydia pada pria yang masih saja asik menggagahi tubuhnya tanpa ampun. Selama dua hari ini Yudi selalu datang dan melampiaskan hasratnya pada Lydia sebagai hukuman atas kejahatan yang perempuan itu lakukan pada Mutia.


"Ya, aku memang gila! Kau mau apa?!" Yudi meneruskan kembali aksinya dengan begitu kasar. Memaksa Lydia untuk memuaskan hasratnya hingga kadangkala Lydia merasa tak sanggup lagi.


"Yud, kumohon berhenti ..." Lydia merintih merasakan bagian intinya yang sangat perih. Tubuhnya juga lemas bak tak bertenaga karena selama dua hari ini Yudi tidak memberikan makanan sama sekali.


"Kau bilang apa? Berhenti?!" Yudi menatap Lydia dengan wajah di penuhi amarah, ia juga mencengkeram wajah Lydia lagi dan menghempasnya dengan kasar. "Mimpi saja!"


Lydia merasa ingin mati saja. Dengan kedua tangan serta kaki yang terikat Yudi terus mengerjainya tanpa ampun.


"Apa kau tahu apa yang di rasakan putriku saat kau menculiknya? Lantas, kau berusaha menyakitinya?!" tanya Yudi dengan tatapan tajam.


"A–ku minta maaf, Yud! Aku menyesal." Wajah Lydia sudah berderai air mata. Tapi kali ini benar-benar air mata kepedihan bukan air mata palsu seperti biasanya. "Tolong lepaskan aku," pintanya dengan sisa tenaganya.


"Melepaskanmu? Kau minta aku melepaskanmu?" ucap Yudi dengan napas memburu. " Setelah semua yang aku berikan untukmu, kau malah tega mencelakai putriku."


"Tapi, aku sungguh khilaf, Yud. Mantan istrimu yang bersalah. Dia yang menjadi penyebab aku melakukan ini pada putrimu." Lydia malah berusaha mengkambinghitamkan Naila, berharap Yudi mau sedikit saja mendengar alasannya.


"Jadi, sekarang kau malah menyalahkan Naila atas semua yang kau lakukan?"


"Bu–bukan seperti itu, Yud. Tapi ... kau perlu tahu jika dulu Naila pernah menggoda suamiku, hingga akhirnya kami bercerai," jawab Lydia memberi alasan. "Aku sakit hati, Yud. Aku jadi gelap mata karena perbuatan Naila dulu. Hingga akhirnya putrimu yang menjadi korbannya."


Yudi menatap Lydia dengan sinis. Pria menarik diri dari tubuh perempuan itu dan berusaha mengatur napasnya yang masih memburu.


"Tolong, Yud ... setidaknya berikan aku makanan sedikit saja. Aku lapar, Yud. Aku janji akan menuruti semua keinginanmu," ucap Lydia dengan wajah memelas.


Yudi bungkam sesaat. Lydia menarik sudut bibirnya. Ia yakin sekali Yudi telah termakan bujuk rayunya lagi. Yang harus Lydia lakukan saat ini hanyalah memelas sedikit lagi agar Yudi benar-benar mempercayainya.


"Kamu mau maafin aku 'kan, Yud? Aku akan lakukan apapun yang kamu mau." Dengan keadaan tubuh polos tanpa mengenakan sehelai benangpun Lydia berusaha merayu Yudi.

__ADS_1


"Apa?! Kau pikir aku akan termakan bujuk rayumu lagi? Ck, jangan mimpi Lydia! Dasar perempuan sialan!" Yudi menjawab ketus.


"Nikmatilah waktumu di sini!" Yudi melemparkan pakaian Lydia yang sudah tidak berbentuk lagi tepat mengenai wajah perempuan itu. "Nikmatilah sebelum aku menyerahkan mu ke kantor polisi!"


__ADS_2