
"Awas, Pak, saya mau lewat!" ucap gadis itu penuh kesal. Sudah lebih dari setengah jam yang lalu Kia di tahan dan tidak di ijinkan masuk oleh satpam yang berjaga di depan. Pria berumur hampir setengah abad itu bersikeras menolak meski Kia berusaha menjelaskannya berkali-kali.
"Maaf, Nona, bukannya saya ingin kurang ajar, tapi ini memang tugas langsung dari Tuan Haidar." Pria itu membeberkan alasannya. Namun Kia tetap saja tidak peduli. Ia sudah terbiasa datang ke tempat itu. Tapi, kenapa hanya hari ini saja ia tidak di ijinkan masuk?
"Bapak jangan bohong deh, Kak Haidar nggak mungkin ngasih tugas nggak masuk akal kaya gitu!" Kia curiga ini hanya akal-akalan satpam itu saja. Padahal tujuannya ke mari sangatlah penting. Selain ingin bertemu laki-laki itu Kia juga ingin mengajukan Mutia sebagai sekretaris baru di Perusahaan Pratama.
"Maaf, Nona, tapi Tuan Haidar benar-benar sedang tidak bisa di ganggu. Beliau tengah sibuk memimpin rapat perusahaan," tolak satpam itu lagi. Pria itu frustasi sendiri menghadapi Kia yang sangat keras kepala.
"Aku cuma mau ketemu Kak Haidar, kenapa Bapak malah menghalangi saya terus sih!" Suaranya sudah mulai meninggi. Kia maju lagi tapi pria itu buru-buru menghadangnya
"Maaf, Nona, tidak bisa! Sekali lagi maaf."
"Pak!
"Maaf, Nona, saya hanya menjalankan perintah," ucap pria itu seraya menunduk hormat pada gadis di depannya.
"Bapak tahu, kan siapa Ayah saya?" Pertanyaan sekaligus ancaman itu sukses membungkam mulut pria yang sudah puluhan tahun bekerja di perusahaan itu.
"Ta ... tahu, Nona."
Sadar tengah berhadapan dengan siapa saat ini. Siapa sih yang tak kenal dengan Alex Aditama? Asisten sekaligus orang kepercayaan Arya sejak dulu.
Meski sedikit gemetar saat mengingat namanya saja, pria itu tetap kekeh dan tidak memberikan kesempatan pada kedua gadis di depannya untuk masuk.
"Saya hanya menjalankan perintah, Nona. Saya mohon mengertilah." Berharap gadis yang sejak tadi memaksa ingin masuk mendengarkan. Atau setidaknya kasihan jika dirinya sampai di anggap lalai dan akhirnya mendapatkan teguran dari sang bos
"Kalau Bapak udah tahu, kenapa masih menghalanginya? Bapak mau saya adukan sama Ayah? Atau, Bapak ingin di pecat sama Om Arya, iya?" Karena kesal Kia terpaksa menggunakan jurus andalannya yaitu memakai nama sang ayah untuk membujuk satpam tadi.
"Saya tidak bermaksud menghalangi Anda, Nona. Lagipula bos saya sekarang Tuan Haidar, bukan Tuan Alex." Satpam tadi memberikan jawaban yang langsung membuat kedua mata gadis itu melebar sempurna. Meski sebenarnya dalam hati pria itu tengah di liputi kebimbangannya.
"Astaga, sebaiknya kita pulang saja, Kia. Mungkin laki-laki menyebalkan itu .... eh maksudnya, Haidar mungkin lagi sibuk dengan pekerjaannya." Mutia langsung melirik wajah Kia yang menatapnya tanpa ekspresi.
"Maaf, maaf .... aku tak sengaja." Memasang senyum, sementara Kia sendiri sebenarnya tengah memikirkan cara bagaimana ia bisa menerobos masuk tanpa di halangi oleh satpam tadi.
__ADS_1
"Kakak ...!" Tiba-tiba saja Kia memekik. Gadis itu tersenyum senang menatap kearah depan sana.
"Yes, berhasil!" berteriak dalam hati.
Sementara satpam dan Mutia yang berada di dekatnya langsung mengikuti arah pandangan gadis itu. Mencari dan mencari di mana sosok laki-laki itu berada.
"Ayo, cepat!" Kia menarik tangan Mutia dan mengajaknya untuk segera melarikan diri. Bukan untuk pergi dari perusahaan itu, tapi kedua gadis itu malah berlari masuk dan menuju kearah lift khusus pimpinan perusahaan.
"Hei, tunggu!" Satpam panik melihat kedua gadis tadi sudah menghilang dari pandangannya. "Sial, aku di tipu!" makinya setelah dua tubuh gadis tadi menghilang masuk kedalam lift.
Pria itu segera menyusul menggunakan lift karyawan biasa. Cepat dan lebih cepat lagi ia harus bisa segera menangkap dan menahan gadis itu seperti yang bosnya perintahkan.
Saat lift berhenti dan pintu itupun terbuka ...
"Nona ...!"
"Yah, Kia, kita ketangkap lagi," ucap gadis di sebelahnya.
"Tunggu, Nona!"
"Masalahnya Tuan Haidar melakukan rapat di ruangan miliknya." Terlambat. Sebelum satpam itu menyelesaikan kalimatnya, Kia sudah lebih dulu mendorong pintu ruangan itu dengan keras.
Brakkk!
Suasana tenang di dalam ruangan itu berubah kacau taatkala pintu ruangan terbuka secara kasar dan tiba-tiba. Para anggota serta orang yang berada di dalam rapat itu pun saling berbisik, bertanya siapakah gerangan gadis yang baru datang itu.
"Siapa dia?"
"Apa mereka adik-adik Tuan Haidar?"
"Atau mungkin, kekasihnya?"
"Tapi setahuku, Tuan Haidar tidak memiliki adik."
__ADS_1
Karena ada beberapa orang dari mereka yang merupakan tamu dari perusahaan lain.
Haidar nampak terkejut, ia melirik ekspresi wajah para tamu yang bergabung dalam rapat ini, rasanya ia sangat malu sekali dengan mereka.
"Bagaimana ini, Tuan?" Heni berbisik kearah Haidar. Meminta pada laki-laki itu untuk segera melakukan tindakan. Sebelum banyaknya bisik-bisik lain yang akan mengganggu jalannya proses rapat.
"Rapat di tunda sampai besok pagi!" ucap Haidar dengan tegas. "Kau atur ulang lagi, Hen!" Melirik kearah orang yang menjadi kepercayaannya. Perempuan itu mengangguk dan segera merapikan perlengkapan rapat tadi.
Sementara semua orang yang mengikuti acara tersebut mulai membubarkan diri masing-masing. Mereka terlihat kecewa karena gagal membahas proyek sampai usai. Padahal ada yang sengaja menunggu rapat itu dari jauh-jauh hari.
Sementara Kia hanya bungkam dengan mata yang melotot nyaris keluar dari tempatnya. Ia sama sekali tdak tahu jika rapat yang di ceritakan satpam tadi diadakan di ruangan kerja milik Haidar.
"Ka ....k ...?"
Laki-laki itu terlihat menghempas tubuhnya keras pada kursi kebesarannya.
"Maafin aku, Kak, aku ... "
"Tuan, maafkan saya." Satpam yang berjaga di lobi datang dengan wajah yang memucat. Pria itu takut sekali jika sang bos sampai marah dan menganggapnya lalai dalam bertugas.
"Nona Kia memaksa masuk, Tuan. Dan dia juga ..."
Haidar menjawabnya dengan isyarat tangan agar satpam tadi menghentikan ucapannya. Pria itu mengangguk, lantas segera pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ngapain ke sini?" Pertanyaan itu tentu di tujukan untuk dua gadis di depannya. Mereka sudah duduk saling berhadapan. Sedangkan Kia, meski tadi sempat merasa takut, Kia tetap saja memasang full senyum saat di depan laki-laki itu.
"Aku mau ngomong sesuatu."
"Katakan!" tanya laki-laki itu dengan suara tegas. Pandangannya kini mengarah ke depan sana, pada wajah gadis yang duduk persis di sebelah Kia.
Dia juga datang.
"Apa Kakak udah dapat sekretaris baru?" tanya Kia menyadarkan lamunan laki-laki itu.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Kedua mata laki-laki itu menyipit, berganti menatap kearah Kia. "Jangan berharap jika aku akan mengabulkan permintaanmu untuk menempati posisi itu!" ucap Haidar terus terang.
Gadis di depan sana langsung merengut. Kia memasang wajah kesal pada sosok di depannya. "Bukan buat aku, Kak, tapi ... dia!" tunjuk Kia pada gadis di sebelahnya.