
"Hei, aku tidak terlambat bukan?" Dokter Eko masuk dengan tergesa ke ruangan Haidar sembari menenteng perlengkapan medis. Pria berusia 30 tahun itu langsung saja mendekat kearah Haidar dan memeriksa seluruh bagian tubuh laki-laki itu.
"Sebelah mana yang sakit? Kau terlihat baik-baik saja," ungkap dokter muda itu dengan wajah bingung. Ia kira Haidar–lah yang terluka, nyatanya laki-laki itu terlihat sehat tanpa kurang satu apapun.
"Bodoh! Bukan aku yang sakit, tapi dia!" menunjuk kearah gadis di sebelahnya. Rasanya Haidar ingin langsung memukul wajah dokter itu. Sudah terlambat masih bertingkah tak jelas. Tapi, Haidar terpaksa mengurungkan niatnya mengingat Mutia yang saat ini lebih membutuhkan pertolongan.
"Cepat, periksa!" perintah laki-laki itu lagi.
"Iya, iya. Kenapa kau galak sekali sih?" Lantas Dokter Eko mengalihkan pandangannya kearah gadis yang sejak tadi duduk bersebelahan dengan laki-laki itu. "Dia siapa? Kekasih–mu yang mana lagi?" celetuknya lagi.
"Kenapa kau cerewet sekali? Cepat, periksa! Kalau sampai lukanya tambah parah, kau yang harus bertanggungjawab!" Ancaman Haidar sontak membuat Dokter Eko melempar pandangan kearahnya laki-laki itu dengan wajah bingung,
"Kenapa mesti aku yang harus bertanggungjawab? Memangnya dia hamil? Yang benar saja!" Di saat keadaan genting seperti ini sempat-sempatnya ia malah membuat lelucon. Hingga Haidar sendiri tambah kesal di buatnya.
"Maksudku cepat periksa lukannya, bodoh! Jangan banyak tanya! Atau, kupatahkan lehermu!"
Bukannya takut, Dokter Eko malah tersenyum melihat reaksi Haidar yang tidak seperti biasanya.
"Jatuh cinta memang kadang bisa membuat seseorang jadi tak waras!" Ungkapan Dokter Eko langsung mendapat pelototan tajam dari laki-laki di depan sana. "Iya, iya. Maaf. Aku hanya becanda kok." Tersenyum jahil.
Tidak ingin membuat laki-laki semakin kesal. Dokter Eko memilih mendekat kearah gadis yang tengah duduk sambil meringis memegangi sebelah tangannya.
"Nona, sebelah mana yang sakit?" Dokter Eko langsung duduk di sebelah gadis cantik itu.
"Ini, Dok, tangan saya." Mengulurkan tangannya yang sudah berbalut perban. Dokter Eko terpaksa membuka perban itu lagi dan segera memeriksanya.
"Tahan sebentar. Mungkin ini akan sedikit perih." Mutia hanya bisa meringis menahan perih saat tangan itu kembali mendapatkan perawatan.
"Bagaimana, apa lukanya parah?" tanya Haidar yang sejak tadi terlihat tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan dokter muda itu.
__ADS_1
"Tenang. Ini tidak terlalu parah kok! Mungkin dua atau tiga hari lagi lukanya akan segera sembuh," ungkap Dokter Eko memberi penjelasan. Baru saja ia ingin duduk setelah menyimpan peralatan kerjanya, tiba-tiba terdengar suara dari laki-laki yang berada di depan sana.
"Sekarang kau boleh pergi!" ucap Haidar tanpa basa-basi lagi.
"Kau mengusirku? Ck, tak punya sopan santun sekali!" umpat pria itu kesal. Padahal Dokter Eko masih penasaran dengan gadis yang baru saja ia obati. Siapa sebenarnya dia? Kenapa Haidar terlihat sangat peduli padanya? Bukankah kabar yang ia dengar jika laki-laki itu sebentar lagi akan bertunangan dengan kekasihnya?
"Tugasmu sudah selesai, bukan? Jadi, untuk apa kau berada di sini? Lagipula aku sibuk. Mutia juga harus menyiapkan berkas meeting untuk rapat dua jam lagi!"
"Jadi, namanya Mutia?"
"Bukan urusanmu!"
Dokter Eko hanya mendengus kesal. Pria itu terpaksa bangkit dan menyambar tas miliknya yang tadi tergeletak begitu saja.
Namun hingga beberapa menit Dokter Eko belum juga melangkah menuju pintu. Hal itu jelas membuat bingung Haidar yang sudah mengusirnya sejak tadi.
Sementara di rumah kediaman Aditama, Kia tengah sibuk sendiri menata berbagai macam masakan kedalam wadah yang entah akan di bawa ke mana oleh gadis itu. Mama Airin yang mengetahui jika hari ini putrinya libur kuliah sangat penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh Kia dengan makanan-makanan itu.
"Aku mau ke kantor Kak Haidar, Ma. Mau makan siang di sana," jawab Kia pada sang mama. Wanita paruh baya itu hanya menggeleng tak percaya. Mungkin kisah percintaannya dulu berbeda sekali dengan Kia. Dulu jangankan ia membawakan makanan untuk calon suaminya, bahkan menyapa laki-laki itu saja rasanya sungkan sekali. Apalagi sampai bersikap baik seperti Kia.
Tapi jika takdir, apa mau di kata. Awalnya terpaksa, lalu terbiasa, dan lama-kelamaan tumbuh yang namanya cinta.
"Kenapa banyak sekali? Apa kau membawakan makanan untuk orang satu kantor?" sindir Mama Airin saat melihat makanan yang tengah di siapkan putrinya.
"Kan ada Mutia juga di sana, Ma. Jadi, biar sekalian nanti bisa makan siang bareng," ungkap gadis itu yang semakin membuat Mama Airin terkejut.
"Mutia?" tanya Mama Airin memastikan.
"Iya, Mutia. Sekarang yang jadi sekretaris Kak Haidar 'kan dia, Ma."
__ADS_1
Ada sedikit perasaan tidak enak. Tapi, Airin coba untuk memahami kedekatan kedua gadis itu.
Aku tak boleh punya pikiran buruk, ucap Airin dalam hati. Selama ini ia mengenal Mutia sebagai gadis yang baik. Ia percaya itu.
"Jadi sekarang Mutia bekerja sebagai sekretaris Haidar? Kamu tahu dari mana?" Mama Airin hanya ingin memastikan jika sudah ada persetujuan dari gadis itu.
"Tentu saja aku tahu. Aku yang rekomendasiin dia ke sana."
"Kamu serius, masukin Mutia ke sana?" Sebagai orang tua dan juga sesama wanita tentunya Airin harus tetap waspada 'kan? Bukan menuduh tapi ini sebagai bentuk kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.
"Memang kenapa, Ma?" Kia bukan anak kecil lagi, ia paham sekali dengan kekhawatiran sang mama.
"Kia .... Mama sebenarnya ...." Airin ragu ingin mengungkapkan. Bagaimana kalau hubungan kedua gadis itu jadi renggang karena prasangka darinya?
"Mama tenang aja, Mutia bukan gadis kaya gitu kok. Dia sahabat aku, Ma. Lagipula aku yakin kalau Kak Haidar juga laki-laki yang bertanggung jawab. Dia nggak mungkin hianatin kepercayaan aku."
Ungkapan Kia sontak membuat Mama Airin tersenyum haru. Wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh putrinya dan memberikan kecupan lembut di kedua pipi gadis itu.
"Semoga saja, Nak. Maafin Mama ya sempat meragukan persahabatan kalian ya?"
Gadis itu hanya tersenyum membalas perlakuan mamanya. Tak di pungkiri Kia juga sempat ragu saat ingin memasukkan Mutia ke perusahaan milik calon tunangannya sendiri. Bukan tak percaya, tapi Mutia juga cantik dan tak kalah pintar. Kia takut nantinya akan terjadi sesuatu yang tak pernah ia harapkan.
Tapi ia yakin Mutia bukan gadis seperti itu. Kia percaya jika Mutia bisa menjaga kepercayaannya. Mutia tidak mungkin macam-macam apalagi merebut Haidar dari dirinya.
"Mobilnya sudah siap, Nona." Suara supir yang akan mengantarkannya ke kantor Pratama Group membuyarkan lamunannya. Kia menggeleng cepat, mengusir semua prasangka buruk yang tadi sempat hinggap di hati.
"Aku nggak boleh mikir macem-macem lagi! Mereka nggak mungkin hianatin aku!" Gadis itu meyakinkan pada dirinya sendiri kalau semua yang tadi sempat terlintas di kepalanya hanya kekhawatiran yang tak masuk akal.
"Pak, ayo jalan!"
__ADS_1