
Hilangnya Mutia dari ruangan rias sontak membuat panik Haidar dan Arya. Dua lelaki itu langsung berlari keluar dan memastikan sendiri apa yang di katakan tukang ruas tadi.
"Mutia ...!" Haidar meneliti seluruh ruangan, bahkan kamar mandi pun tak luput dari pencariannya juga
"Tidak ada, Yah! Bagiamana ini?"
"Tenang, kita cari sama-sama."
Kepanikan itu bukan hanya terjadi di ruangan rias. Di luar sana Naila sampai pingsan berkali-kali saat mendengar bahwa Mutia tiba-tiba menghilangkan.
"Naila, sadar!" Dika selalu berada di sisi Naila sejak kedatangannya lima belas menit lalu.
"Mu–Mutia ... Mas!" Naila kembali terisak setelah bangun dari pingsan. Ia tidak tahu harus mencari di mana keberadaan Mutia setelah semua orang termasuk Haidar sendiri mencarinya ke seluruh ruangan.
"Lex, kita cek CCTV!" Seperti biasa Alex langsung sigap untuk urusan yang satu ini. Dua laki-laki langsung menuju bagian informasi untuk memeriksa CCTV yang terpasang di setiap ruangan, meninggalkan Airin yang masih terkejut dengan semua kejadian yang baru saja terjadi.
"Semoga ini nggak ada hubungannya dengan Kia."
"Tuan, lihat!" Sesampainya di ruangan khusus, mereka langsung memeriksa satu-persatu CCTV di setiap sudut-sudut ruangan. Arya dan Alex sontak melebarkan kedua matanya melihat salah satu rekaman CCTV yang berada di dekat taman. Di sana terlihat Mutia tengah duduk seperti menunggu seseorang, tapi tak lama kemudian dari arah belakang dua pria berbadan besar membekapnya hingga Mutia pingsan.
"Sial! Siapa mereka?" Arya mengepalkan kedua tangannya. Padahal Arya tidak merasa memiliki masalah dengan siapa pun, lantas siapa yang tega menculik Mutia? Sedangkan para penjahat itu sudah di penjarakan olehnya dalam waktu yang cukup lama.
"Aku tidak akan memaafkan siapapun yang melukai Mutia!" Ancaman Arya sungguh membuat laki-laki di sebelahnya merinding. Alex bergidik ngeri melihat amarah Arya kali ini.
"Sebaiknya kita kembali ke depan, Tuan, siapa tahu ada petunjuk tentang orang yang menculik Mutia."
Di depan sana kepanikan masih melanda seluruh keluarga besar, serta kerabat yang ikut hadir dalam acara tersebut. Naila tak hentinya menangis membayangkan bagaimana nasib putrinya.
"Tenang, Nak, Ibu yakin Mutia akan baik-baik saja." Nenek Sri berusaha menenangkan Naila yang terus terisak di pelukannya.
Sedangkan Laura sejak tadi menatap wajah Kania dengan penuh selidik hingga gadis itu merasa tidak nyaman sendiri.
"Mama kenapa lihat aku kaya gitu?" Kania sedikit gugup mengingat obrolannya dengan mamanya beberapa minggu yang lalu. Lantas ia juga ingat kemarin dua hari sebelum hari pernikahan Mutia pernah mendatangi Kia ke kediaman Aditama.
__ADS_1
"Ini nggak ada hubungannya sama kamu, kan?"
"Jadi, Mama nuduh aku yang telah menculik Mutia?!" balas Kania dengan ekspresi wajah tak suka.
"Bukan, Mama hanya takut kamu terlibat dalam masalah ini, Kania!" Meski Laura mengatakannya dengan sangat pelan, tapi Yudi masih bisa mendengar obrolan dua wanita itu.
"Apa benar yang Mama Katakan, Kania?" Yudi ikut mengintrogasi putrinya. Pria itu berharap bukan Kania yang ada di balik semua masalah itu.
"Papa juga nuduh aku?!" Gadis itu melengos, meski Kania sangat membenci Mutia, tapi Kania masih menggunakan akal sehatnya agar jangan sampai berurusan dengan Keluarga Pratama.
"Sumpah, Pa! Kania nggak ada hubungannya sama hilangnya Mutia! Sumpah!"
"Awas jika semua ini adalah ulahmu! Papa nggak akan diam aja!" Yudi bahkan sampai mengancam Kania.
"Bagaimana, apa ada petunjuk mengenai calon istri saya?" Haidar sudah mengerahkan seluruh orang kepercayaan ayahnya untuk menyusuri setiap sudut gedung.
Mereka secara serempak menggeleng. Mungkin penculik itu sudah menyiapkan rencananya dengan sangat matang hingga tidak meninggalkan jejak sama sekali. Hanya saja mereka tidak bisa mensabotase rekaman CCTV karena orang-orang Arya berjaga di tempat itu dua puluh empat jam.
"Belum, Yah. Belum ada bukti sama sekali." Haidar mengacak rambutnya frustasi. Bukan lagi tentang pernikahannya yang gagal, tapi bagaimana keadaan Mutia saat ini.
"Tuan, saya menemukan ini di dekat taman." Tiba-tiba salah satu pelayan memperlihatkan benda berbentuk pipih.
"Itu ponsel Mutia." Naila langsung menyambar cepat ketika melihat bahwa ponsel tersebut ternyata milik putrinya.
Haidar mengambil alih ponsel itu dan mencoba untuk membukanya.
"Apa Tante tahu passwordnya?"
"Coba pakai tanggal lahir Mutia."
Benar, saat Haidar memasukkan tanggal lahir Mutia, ponsel itu langsung terbuka. Hal yang pertama kali Haidar lihat pada daftar panggilan. Tapi, tidak ada panggilan baru yang menghubungi. Lantas Haidar beralih ke pesan. Haidar membuka aplikasi berlogo hijau, dan menampilkannya siapa saja yang mengirimkan pesan pada calon istrinya.
"Kia ..."
__ADS_1
Itulah kontak terakhir yang menghubungi Mutia. Di situ Haidar juga membaca pesan Kia yang mengajak calon istrinya untuk bertemu.
Taman?
Ya, tepat di temukan benda itu.
"Nggak! Nggak mungkin Kia yang menculik Mutia!" Airin langsung membantah tuduhan yang mungkin mengarah pada putrinya.
"Airin, tenanglah." Alex berusaha menenangkan istrinya yang terlihat menangis. "Aku yakin bukan Kia yang melakukannya."
"Tapi, Lex. Tuduhan itu mengarah pada Kia, pada putri kita!" Bagaimana pun Airin tidak akan rela jika Kia di jadikan tersangka atas penculikan Mutia, biarpun selama sebulan terakhir ini memang putrinya terlibat hubungan tidak baik dengan gadis itu.
"Saya juga melihat seorang gadis berada di dekat taman itu, Tuan." Pelayan tadi bersuara lagi. Semua orang yang ada di ruangan itu langsung mengalihkan pandangan kearah. "Gadis itu menggunakan mobil berwarna merah."
"Om, bukannya mobil Kia berwarna merah?" Pikiran Haidar langsung tertuju pada Kia. Bukan menuduh, tapi memang mobil yang sempat Alex hadiahkan pada Kia berwarna merah.
"Ya, Tuhan ... jadi benar pelakunya Kia?" Kania membekap mulutnya sendiri tatkala seluruh tatapan tajam mengarah padanya.
"Diam, jangan buat suasana jadi tambah keruh!" Laura menginjak kaki Kania pelan.
"Awww ... Mama! Aku 'kan hanya bilang apa yang aku dengar."
"Lex, kau tahu kira-kira ke mana Kia membawa kabur Mutia?" Saat pertanyaan di berikan oleh Arya, Alex sontak merasa jika tuduhan itu benar-benar mengarah pada putrinya.
"Apa Anda juga menuduh putri saya yang melakukannya?!" tanya Alex sedikit tersinggung.
"Astaga ... Lex!" Arya mengusap wajah kasar. Arya berusaha menahan diri agar tidak melukai siapapun yang berada di ruangan itu. "ini bukan masalah menuduh atau bukan, intinya kita harus secepatnya menemukan keberadaan Mutia."
"Saya sendiri kurang tahu ke mana Kia sering pergi." Jawaban Alex cukup membuat Arya geram. Bagaimana mungkin Alex tak pernah tahu ke mana biasanya putrinya pergi?
"Lex ...!!" Arya sungguh tidak bisa menahan diri lagi. Saat ini keselamatan Mutia benar-benar di pertaruhkan. Arya mencengkeram kerah baju laki-laki itu dan menariknya dengan kasar.
"Yah, tunggu! Bagaimana kalau kita lacak ponsel milik Kia saja!"
__ADS_1