
"Bu, Vani ke toilet sebentar yah," pamit Vani pada ibu. Vani semakin pusing jika berada di keramaian seperti ini, maka buru-buru mengayun langkah setelah mendapat anggukan setuju dari perempuan itu.
Sayup-sayup Vani masih bisa mendengar saat salah satu dari mereka bertanya mengenai kabar pernikahannya. Awalnya Vani tak peduli, karena itu sudah biasa orang-orang tanyakan pada Ibu. Tapi, terpaksa Vani menghentikan langkah sejenak ketika pertanyaan itu menyinggung perihal anak.
__ADS_1
"Bu Widia yakin kalau Vani nggak mandul? Udah periksa ke dokter belum?" Pertanyaan itu sedikit menyayat hati wanita di depan sana. Meski tidak berniat menggunjing, tapi tetap saja seharusnya mereka tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga orang lain.
"Saya sih udah bilang ke Faisal suruh bawa istrinya ke dokter. Suruh Vani minum vitamin juga. Tapi ya, entahlah." Ibu terlihat frustasi saat pertanyaan itu mulai memprovokasinya. Begitupun dengan Vani yang masih setia menatapnya dari kejauhan.
__ADS_1
Deg,
Sebuah belati seolah menghujam Vani dengan tiba-tiba. Tubuh wanita itu hampir limbung, namun sekuat tenaga Vani menahannya agar tidak ambruk.
__ADS_1