Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Kecoa


__ADS_3

Mutia benar-benar merasa sesak apalagi posisi tubuhnya kini yang hanya berjarak beberapa senti saja. Hidung mancung, alis tebal, serta mata yang berwarna kebiruan itu sejenak berhasil membuatnya terpukau. Bahkan napas hangat milik laki-laki itu sukses menerpa wajahnya yang sedikit memucat.


"Apa yang kau lakukan! Aku tidak mengenalmu sama sekali!" Gadis itu berusaha berbohong. Sekuat tenaga Mutia mendorong tubuh laki-laki itu agar ia bisa segera melepaskan diri. Tapi, bukannya terbebas dari kungkungannya, kini mereka malah terjatuh dengan posisi yang saling berhimpitan.


"Akhhhh ....!"


Beruntung posisi Mutia berada di atas, jadi ia tidak harus merasakan kerasnya lantai kamar.


"Aku tak menyangka jika ternyata kau gadis yang sangat bernafsu!" Haidar tersenyum lagi. Sedangkan wajah Mutia sudah memerah menahan malu. Jika bisa, ia ingin bersembunyi ke dasar bumi agar tidak ada satu orangpun yang melihatnya.


"Lepas!" Mutia memberontak. Seharusnya ia cepat bangkit dari atas tubuh laki-laki itu. Tapi karena cekalan Haidar yang semakin kencang, Mutia terpaksa menggigit pergelangan tangan hingga laki-laki itu mengaduh kesakitan.


"Akh .... kenapa kau malah menggigitku!" Saat Haidar mengendurkan cekalannya, Mutia menggunakan kesempatan itu untuk bangkit dan melarikan diri.


"Tunggu!" Haidar membulatkan kedua matanya, laki-laki itu juga bangkit dengan cepat dan menyusul langkah Mutia yang sudah hampir mencapai pintu keluar.


Brakkk!


"Akhhh ....!" Lagi-lagi Haidar harus merasakan kelakuan bar-bar Mutia. Keningnya terasa ngilu sekali saat tak sengaja beradu dengan kerasnya pintu kamar milik calon tunangannya itu.


"Shitt ...! Awas kau!"


Sementara di luar sana Mutia mengusap dada lega setelah bisa meloloskan diri. Gadis itu tidak tahu lagi apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia masih berada di dalam sana. Mungkin orang menyangka jika mereka tengah melakukan perbuatan tak senonoh, atau bisa saja Kia akan menuduh dirinya berusaha menggoda Haidar jika gadis itu sampai memergokinya.


"Dasar kurang ajar! Beraninya dia berbuat seperti itu di kamar calon tunangannya sendiri! Memalukan! Aku juga heran kenapa Kia bisa menyukai laki-laki seperti itu, sih!" Mutia memaki laki-laki di dalam sana, meluapkan kekesalannya yang telah berusaha menahannya tadi.


"Untung ponsel Kia tidak sampai terjatuh. Bisa mampus kalau sampai benda ini rusak!" Mengusap-usap benda pipih itu dengan hati-hati. Mutia tidak bisa membayangkan jika benda itu sampai jatuh dan rusak. Dari mana ia bisa menggantinya? Sedangkan sampai saat ini pun ia belum bisa membeli ponsel baru setelah kejadian di danau waktu itu.

__ADS_1


"Mutia, kamu kenapa?" Tiba-tiba Kia sudah muncul saja di depannya. Gadis itu menatap bingung kearah Mutia yang malah berdiri sendirian di depan kamar pribadinya.


"Ak ... aku ....?" Mutia kelabakan sendiri. Haruskah ia jujur pada gadis di depannya bahwa ia baru saja berduaan dengan Haidar di dalam kamarnya? Tidak!


"Hei, kenapa malah bengong?"


Tepukan tangan Kia membuat gadis di depannya tersadar. Mutia cepat-cepat memutar otak agar ia bisa menemukan alasan yang cocok untuk lari dari situasi sulit ini.


"Emmmm ... di kamarmu ada kecoa ... ya kecoa!" ucap Mutia sedikit merasa gugup, ia melirik kearah pintu kamar yang baru beberapa menit lalu ia tutup dengan asal.


Eh, ke mana dia?


"Kecoa ...!" Kia memekik terkejut. Karena selama ini memang belum pernah menemukan hewan menjijikan itu di kamarnya. "Kamu serius?" tanyanya lagi.


"I–iya ...." Mutia menjawab cepat demi meyakinkan gadis di depannya. Sedangkan Kia sendiri malah penasaran, gadis itu ingin melihat sendiri ke dalam kamarnya. Memastikan jika itu benar-benar kecoa atau hanya halusinasi sahabatnya saja.


Maaf, aku nggak bermaksud bohongin kamu, Kia. Gadis itu berbisik pelan. Menyesali ucapannya baru saja.


"Ya udah, nanti aku suruh pelayan aja buat bersihin kamar." Setelah mendapatkan ponsel dari tangan Mutia. Kia memutar tubuhnya lagi dan kembali menuruni tangga.


Mutia menarik napas lega. Untung saja Kia langsung percaya dan tidak bertanya macam-macam lagi.


Setelah memastikan semuanya aman, Mutia lantas cepat-cepat menyusul sahabatnya itu untuk kembali ke pesta bersama yang lain.


Sedangkan di dalam sana Haidar mengusap keningnya yang masih berdenyut akibat berciuman dengan kerasnya pintu kayu tadi. Ia ingin segera menyusul langkah Mutia, tapi terpaksa harus mengurungkan niatnya karena mendengar suara Kia dari arah luar sana.


Haidar hampir tak bisa menahan tawa saat Mutia gelagapan menjawab pertanyaan Kia tadi. Bahkan gadis itu menggunakan alasan adanya kecoa di kamar sebagus ini.

__ADS_1


Tapi, tunggu-tunggu, apa tadi, kecoa?


Sial! Artinya yang Mutia maksud adalah dirinya. Mutia menganggapnya kecoa, begitu?


Setelah tidak mendengar suara mereka lagi, dengan hati-hati ia membuka pintu kamar itu. Haidar bergegas keluar sebelum ada orang lain yang memergokinya. Tapi, baru saja tangannya hendak mendorong handle pintu agar segera tertutup, suara seseorang yang entah dari mana asalnya membuat jantungnya nyaris melompat keluar.


"Apa yang kau lakukan di kamar putriku?" Suara bariton Alex terdengar tepat di belakangnya. Haidar buru-buru membalikkan tubuhnya dan menatap kearah laki-laki yang merupakan ayah dari calon tunangannya itu.


"Eh ... Om?" Haidar mengusap tengkuknya sendiri yang tiba-tiba meremang.


"Aku tanya, apa yang kau lakukan di kamar Kia?" tanya Alex untuk yang kedua kalinya.


Pria paruh baya itu terlihat menakutkan sekali saat tengah marah, bisik Haidar dalam hati.


"Maaf, Om, tadi saya .... hendak ke toilet, tapi malah salah masuk kamar ini," ucap Haidar memberikan alasan. Meski ia tak yakin jika pria di depannya itu akan percaya.


"Toilet?" Alex menarik sudut bibirnya samar. Tentu saja ia tidak percaya. Alasannya tak masuk akal. Mana mungkin mencari toilet sampai ke lantai atas? Sedangkan di lantai bawah–pun ada.


"Kedua orang tuamu mencarimu ke mana-mana, tapi kau malah asik bermain-main di sini." Suara Alex kembali membuat laki-laki di depannya tersentak.


Apa tadi, main-main?


"Maksud, Om? Saya hanya ...."


"Sudah, lupakan saja! Kembalilah ke pesta, karena Kia juga menunggumu sejak tadi." Setelah berhasil membuat Haidar merasa tersindir, Alex membawa langkahnya lagi menuju lantai bawah. Tinggal Haidar yang masih mematung di tempatnya tadi.


Haidar tak habis pikir, kenapa pria paruh baya tadi bisa berkata seperti itu. Atau, jangan-jangan ....

__ADS_1


"Ah, sudahlah! Untuk apa aku memikirkannya. Aku yakin Om Alex tidak mungkin melihat apa yang aku lakukan tadi di dalam sana."


__ADS_2