Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Maafkan Aku ... Kia


__ADS_3

Tuhan ... kenapa ini sakit sekali?


Kenapa aku harus merasakan ini?


Di saat aku baru merasakan indahnya cinta, kenapa tiba-tiba Kau renggut?


Apa salah? Apa aku tak pantas? Atau, mungkin takkan pernah ada cinta tulus di dunia ini.


Tuhan ...


Rasanya aku lelah sekali.


Lelah mengejar ketidakpastian.


Terus bersabar dan berusaha tersenyum meski hati ini menjerit.


Tuhan ... jika di ijinkan, apakah boleh aku meminta?


Tidak banyak. Aku hanya mau dia ...


Laki-laki yang selama ini namanya tersemat di hati ini. Dulu, sekarang, dan mungkin sampai nanti.


Tuhan ... apa boleh aku bertanya?


Sampai kapan aku seperti ini?


Sampai kapan aku terus tersiksa oleh perasaanku sendiri.


Perasaan yang tak akan mungkin pernah terbalaskan.


Tuhan ...


Ini sungguh sakit. Rasanya aku tak kuat lagi.


Azkia Aditama.

__ADS_1


"Kakak becanda, kan? Kakak pasti cuma mau bikin kejutan aja, kan?" Kia menolak dengan apa yang baru saja Haidar katakan. Mana mungkin Haidar bisa berbicara segampang itu?


Padahal Kia sudah bahagia sekali saat pulang kuliah mendapati laki-laki itu sudah berdiri menunggunya di depan gerbang. Tak seperti biasanya Haidar mau menjemputnya. Apalagi saat melihat laki-laki itu membawa sebuket bunga indah di tangan. Jantung gadis itu semakin berdebar hebat saat ingin mendekatinya.


Tapi, setelah tahu apa tujuan laki-laki itu menemuinya, rasanya Kia tak sanggup lagi, bahkan ia tak pernah memikirkan sebelumnya Haidar akan mengucapkan kalimat itu.


"Aku membatalkan rencana pertunangan ini!"


Duarrr


Tubuh gadis itu langsung lemas. Kia berusaha untuk tetap berdiri meski susah payah ia melakukannya.


"Lantas untuk apa Kakak mengirimkan semua hadiah itu kalau akhirya akan seperti ini?" Kia mempertanyakan mengenai hadiah-hadiah yang selama beberapa hari terakhir ini selalu Haidar kirimkan untuknya. "Apa Kakak sengaja ingin membuatku semakin tersiksa?" tanya Kia pada laki-laki di depannya.


"Hadiah? Apa maksudmu, Kia? Aku sama sekali tak mengerti," balas laki-laki itu dengan wajah bingung.


"Kakak sengaja 'kan melakukan ini? Membuat seolah-olah benar-benar mencintaiku. Tapi, setelahnya Kakak mencampakkan aku begitu saja."


"Kia tunggu!' Haidar menarik tangan gadis itu cepat sebelum benar-benar meninggalkannya.


"Hadiah apa yang kamu maksud? Bahkan ini pertama kalinya aku berniat memberikannya padamu." Haidar memperlihatkan sesuatu di tangan yang sejak tadi sudah ia persiapkan.


"Aku serius, Kia. Semua hadiah itu bukan aku yang mengirimkannya." Haidar menunggu reaksi Kia lagi. Kedua netra gadis itu sudah terlihat berkaca-kaca. Kia sengaja menutup wajah dengan kedua telapak tangannya sendiri.


"Maaf, Kia, maaf ...." Ucapannya menggantung. Sungguh, sebenarnya Haidar tak tega, tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak mungkin terus membohongi dirinya sendiri dan juga gadis di depannya. Baginya sebuah pernikahan adalah ikatan yang suci. Ia tidak mungkin mempermainkannya.


Kia shock saat Haidar memutuskan acara pertunangannya yang akan di adakan dua minggu lagi. Kia sungguh tak mengerti apa kesalahannya hingga Haidar berubah pikiran secepat itu.


"Aku pasti mimpi, kan? Ini pasti cuma mimpi!" Gadis itu berharap jika saat ini ia tengah bermimpi. Mimpi buruk yang akan secepatnya hilang saat ia bangun nanti.


"Kak ...! Hik ..." Kia menangis lagi, bahkan kini suaranya semakin kencang. Untung saja saat ini mereka sudah berada di mobil jadi tidak ada orang lain yang melihatnya.


"Kenapa Kakak tega sekali? Kenapa Kakak tega memperlakukan aku seperti ini?" Dunia Kia hancur sudah. harapannya menikah dengan laki-laki di sampingnya sudah tidak ada lagi. Kini hanya ada luka yang menganga di hati gadis itu.


"Katakan sama aku, Kak? Katakan, apa alasannya?!" desak gadis itu karena Haidar hanya bungkam saat Kia berusaha menanyakan alasannya.

__ADS_1


"Tidak ada, Kia. Aku hanya tidak ingin menyakitimu dengan kebohonganku." Barulah laki-laki itu menjawabnya.


Gadis itu menelan salivanya susah payah. Rasanya tenggorokannya tiba-tiba saja mengering. Udara di dalam mobil pun tiba-tiba sesak, bahkan untuk bernapas pun rasanya susah sekali.


"Aku tahu kalau selama ini Kakak memang tidak pernah menyukaiku." Kia memejamkan matanya sejenak, berusaha menguasai dirinya lagi yang tengah kacau. "Tapi setidaknya aku bahagia, Kak. Aku bahagia dengan kebohongan itu."


Setulus itu perasaan Kia untuk Haidar. Tapi, Haidar sampai saat ini tidak pernah ada perasaan apapun, selain menganggap Kia hanya sebagai adik.


"Percayalah, jika suatu saat nanti ada laki-laki yang lebih baik lagi, yang mencintaimu dengan setulus hati." Haidar memegang kedua bahu gadis itu yang masih terguncang hebat, berusaha untuk memberinya pengertian.


Kia menggeleng lemah. Baginya di dunia ini tidak ada laki-laki yang lebih baik dari Haidar. Kia hanya mau laki-laki itu, bukan yang lain.


"Kamu cantik, Kia. Kamu pintar. Percayalah ... di luar sana banyak laki-laki yang menginginkanmu."


Nyatanya Kia masih saja terus menangis sampai mobil itu memasuki pekarangan rumahnya. Haidar jadi kebingungan sendiri, berusaha mengusap wajah gadis itu dengan kedua telapak tangannya. Tapi, apa yang terjadi? Kia tiba-tiba saja menariknya, menempelkan tubuh bagian depannya pada dada bidang milik laki-laki itu.


"Kia, apa yang kamu lakukan?!" Haidar berusaha melepaskan diri. Tapi cengkeraman kuat tangan gadis itu tidak mau melepasnya begitu saja.


"Kia, lepas! Bagaimana kalau ada yang melihat kita?" Haidar mengusap wajah kasar. Bukannya segera di lepaskan gadis itu malah semakin merapatkan tubuh kearahnya.


"Apa yang kalian lakukan?!" Benar, belum juga Haidar menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja terdengar suara seorang perempuan yang mengetuk kaca mobil dari arah luar sana.


"Astaga ...! Kia ...!!" Airin langsung menarik putrinya cepat saat pintu mobil itu sudah terbuka. Haidar langsung gelagapan. Ia tidak menyangka aksi Kia akan di pergoki oleh mamanya sendiri.


"Dasar, memalukan!" ungkap perempuan itu sembari menatap kearah sepasang kekasih yang baru saja melakukan adegan memalukan di dalam mobil.


"Tante, ini tidak seperti yang Tante lihat!" Haidar coba menjelaskan, ia tidak ingin sampai perempuan itu salah paham.


"Diam! Siapa yang mengijinkanmu berbicara!" Airin melemparkan tatapan tajam kearah laki-laki itu.


"Aku tak melakukan apapun, Ma!" Meski sebenarnya ia senang jika mamanya sampai menuduh macam-macam. Kia malah berharap ia akan segera di nikahkan dengan laki-laki itu.


"Katakan, apa yang kalian lakukan di dalam mobil tadi?!" Airin masih menghujam keduanya dengan tatapan tajam. Perempuan itu sangat terkejut saat melihat mobil milik Haidar tiba di rumahnya. Tapi, menunggu hingga beberapa menit ternyata tidak ada seorangpun yang keluar dari dalam mobil tersebut.


"Kami tak melakukan apapun, Ma. Percayalah ..." Gadis itu mendekat kearah sang mama dan memeluk tubuh perempuan paruh baya itu.

__ADS_1


Airin menatap wajah putrinya dengan seksama. Ia merasa ada sesuatu yang tengah di sembunyikan oleh gadis itu. Terlihat dari reaksi Kia yang langsung memalingkan wajah ke samping saat mata keduanya tak sengaja bertemu.


"Kia ... ada apa dengan matamu? Apa kau baru saja menangis?"


__ADS_2