Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Siapa Yang Pantas?


__ADS_3

Sepulang kerja Mutia sengaja mampir lebih dulu ke rumah Kia untuk meluruskan kejadian kemarin. Selain itu, Mutia juga tak ingin Kia sampai salah paham mengenai ucapan Arya yang mengatakan jika dirinya adalah calon menantu dari Keluarga Pratama.


Mutia sudah berdiri di depan pintu, ragu saat tangannya ingin mengetuk. Tapi Mutia juga tidak mungkin pergi begitu saja sebelum bertemu dengan gadis itu.


Pintu berwarna coklat itu terbuka, Airin terlihat muncul dari dalam sana dengan menunjukkan wajah tidak suka.


"Mau apa kamu ke mari?" Perempuan paruh baya itu berkata ketus, bahkan seperti enggan menatap kearah Mutia.


"Tante ... a–aku ingin minta maaf. Aku juga mau jelasin sesuatu sama Kia," ucap Mutia sebelum akhirnya gadis yang ia cari muncul di belakang sang mama.


"Mutia ... mau apa kamu ke sini?!" tanya Kia tak kalah ketus. Kia melengos, melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kia ... aku minta maaf soal kemarin. Aku juga mau jelasin sesuatu sama kamu"


Padahal seharusnya Kia yang meminta maaf. Karena gadis itu Mutia terluka dan jadi bahan hinaan semua orang. Tapi demi persahabatan, Mutia berusaha mengesampingkan egonya.


"Jelasin apa? Jelasin kalau kamu udah berhasil rebut Kak Haidar dari aku?"


"Ini nggak seperti yang kamu bayangin, Kia. Aku sama sekali nggak ada hubungan apapun dengan Tuan Haidar. Percayalah." Mutia berharap Kia akan merubah cara pikirnya. Ya, mereka memang dekat, tapi hanya sebatas pekerjaan tidak lebih. "Dan, mengenai ucapan Tuan Arya kemarin ....?"


"Apa? Dia hanya ingin menyelamatkanmu, begitu? Mutia ... aku nggak bodoh ya? Aku tahu bagaimana sifat Om Arya. Dan, dia nggak mungkin ngomong kaya gitu kalau memang kamu nggak ada hubungan apapun dengan Kak Haidar." Kia tetap pada pendiriannya. Tidak mau tahu apa yang di jelaskan Mutia tadi.


"Lagian kamu itu keterlaluan, Mutia! Kurang baik apa sih, Kia sama kamu? Tapi, kenapa kamu tega hianatin dia?!" Airin juga merasa tak terima Kia di perlakukan seperti itu oleh sahabatnya sendiri. "Udah, mulai sekarang kamu jangan ganggu Kia lagi! Pergi!"


"Tapi, Tante ...?"


"Sebaiknya kamu pergi! Pertemanan kita juga cukup sampai di sini!" ungkap Kia semakin menambah kesedihan gadis di depan sana.


"Udah, sana pergi!"


Melihat Mutia hanya mematung dan tidak beranjak sama sekali dari tempatnya, Airin jadi geram sendiri. Perempuan itu terpaksa memanggil satpam dan menyuruh untuk mengusir Mutia dari rumahnya.

__ADS_1


"Jangan biarkan dia masuk lagi, Pak!" teriakannya saat melihat Mutia berusaha berontak.


Sedangkan Mutia hanya mampu menangis dan terus berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya meskipun dua perempuan di dalam sana tidak memperdulikannya sama sekali.


Satu jam berlalu Mutia masih berdiri di depan gerbang rumah Aditama. Gadis itu masih menunggu barangkali Kia akan berubah pikiran dan mau mendengar penjelasannya. Tapi, sampai waktu hampir mendekati senja, Kia sama sekali tidak menampakkan diri di depan matanya.


Sampai akhirnya mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah keluarga itu. Seorang laki-laki paruh baya turun dan mendekati Mutia yang masih berdiri mematung dengan tatapannya yang terus mengarah ke dalam sana.


"Mutia ..."


Gadis itu lantas menoleh, Mutia mengenali siapa sosok laki-laki itu.


"Mutia, kenapa kamu di sini?"


"Om ...?"


"Pak, Kenapa Mutia tidak di kasih masuk?"


Pria di pos jaga sana berlari kearah gerbang dengan wajah gugup. "Maaf, Tuan. Tapi, Nyonya yang melarang saya membuka pintu lagi untuk Nona Mutia," jelas satpam tadi.


"Ayo, ikut Om masuk!" ajak laki-laki paruh baya itu. Tapi Mutia menggeleng, mungkin lebih baik ia pulang dan kembali menemui Kia lain waktu.


"Aku pulang aja, Om. Mungkin Kia lagi butuh waktu sendiri. Aku nggak mau ganggu dia dulu."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya?"


Sepeninggalan Mutia, Alex lantas masuk dan mencari di mana keberadaan sang istri. Ternyata perempuan itu berada di kamar dan tengah asik membaca majalah.


"Kenapa kau melarang Mutia untuk masuk?" Alex langsung melayangkan pertanyaan itu untuk istrinya.


Airin mendongak, ia meletakkan majalah yang sejak tadi ia baca. "Kamu bahas gadis itu? Apa jangan-jangan dia ngadu sama kamu?"

__ADS_1


"Rin ..."


"Cukup!" Perempuan itu tidak mau lagi mendengar apapun mengenai Mutia. Mulai sekarang Airin tidak akan membiarkan Kia berteman lagi dengan gadis itu.


"Mutia tidak seperti yang kamu kira."


"Jadi, kamu belain dia ketimbang putrimu sendiri?" tanya Airin dengan sorot mata tajam. Saat ini hanya ada kebencian di matanya untuk Mutia.


"Aku tidak ada maksud seperti itu. Tapi, percayalah ... Kia sudah salah paham. Mutia tak pernah merebut atau mengambil Haidar dari siapapun."


"Maksudnya apa? Kamu nuduh Kia berbohong? Apa gadis itu lebih penting di banding putri kita sendiri?" Sebagai seorang ibu Airin merasa kecewa dengan sikap Alex yang malah terlihat membela Mutia.


"Aku hanya mengatakan kebenarannya, Rin. Bahkan kemarin Kia sudah sangat keterlaluan, dia tega menampar dan menyiram Mutia dengan minuman," jelas Alex yang mendengar cerita itu dari Arya.


"Baguslah, Mutia memang pantas mendapatkannya. Mungkin kalau aku yang jadi Kia juga akan melakukan hal yang sama."


Astaga, Alex hanya bisa mengeram kesal. Bagaimana cara menjelaskannya bahwa Mutia benar-benar tidak bersalah? Apa iya harus berdebat lagi? Sedangkan ia tidak mau jika sampai Airin dan Kia malah jadi membencinya.


Rumah Keluarga Pratama.


"Mas, kamu yakin ngomong kaya gitu?" tanya Rengganis pada suaminya yang baru saja melangkah masuk kamar. Entah dari mana perempuan itu tahu mengenai kabar kemarin, yang pasti Rengganis tidak akan setuju jika Mutia menjadi calon menantunya.


"Maksudmu?" Arya masih melepas kain yang melilit di leher. Melemparnya ke keranjang kotor, lantas mendaratkan tubuhnya pada sofa ruangan itu.


"Kamu belain gadis itu, kan? Bahkan kamu ngomong sama semua orang kalau dia calon istri Haidar?"


"Maksudmu Mutia?" Arya baru menangkap maksud dari pembicaraan Rengganis.


"Jangan main-main, Mas! Kamu nggak mikirin perasaan Kia? Pokoknya aku nggak setuju!" tolak perempuan itu dengan sangat tegas.


"Memangnya ada yang salah dengan Mutia? Dia gadis baik-baik. Keluarnya pun baik." Arya masih menanggapinya dengan santai, tapi tidak dengan Rengganis, perempuan itu mulai kesal saat Arya berulangkali memuji Mutia.

__ADS_1


"Tapi dia anak pelakor, Mas! Dia nggak pantas jadi bagian dari keluarga kita!!"


"Lalu, menurutmu siapa yang pantas? Apa Kia?" tanya laki-laki itu dengan menatap wajah sang istri. "Apa gadis yang sudah menyerang orang tanpa mencari kebenarannya lebih dulu yang pantas menjadi menantu kita?" Kini gantian Arya memberikan pertanyaan untuk Rengganis. Perempuan itu hanya mematung menatap wajah sang suami yang terlihat mulai emosi.


__ADS_2