Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Permintaan Airin


__ADS_3

Sejak obrolannya dengan Mutia di rumahnya, Kia jadi sering melamun. Ia tidak tahu lagi harus dengan cara apa agar bisa menarik perhatian Haidar. Nampaknya laki-laki itu memang tidak memiliki perasaan sama sekali terhadapnya.


"Sayang, kau tidak kuliah?" Airin menghampiri Kia yang tengah duduk melamun di teras rumah. Tumben sekali, pikir perempuan itu Biasanya Kia akan menghabiskan waktunya bersama teman-temannya walaupun mata kuliah sedang kosong.


"Aku malas, Ma." Kia hanya menjawab malas. Gadis itu sama sekali tak menoleh kearah sang mama yang baru saja keluar dari dalam rumah. Pandangan gadis itu lurus, kearah gerbang yang menjulang tinggi di depan sana.


"Kenapa? Apa kau punya masalah?" Sebelumnya Airin tidak pernah melihat putrinya melamun seperti ini. Kia gadis yang ceria, sama persis seperti dirinya waktu muda dulu.


"Ma ..." Tiba-tiba saja Kia ragu untuk mengucap. Bagaimana kalau sang mama menolak usulannya itu?


"Ya, Sayang?" Airin menatap lekat pada wajah gadis itu. Meski sebenarnya ia sedikit tahu mengenai kabar kedekatan Kia dengan putra Arya.


"Sebenarnya ..." Kia menggeleng pelan. Sudahlah. Ia memutuskan untuk tidak akan melanjutkan ucapannya itu. "Nggak jadi, Ma."


Airin menghela napas panjang. Kenapa harus laki-laki itu yang Kia cintai? Putra dari orang yang sangat berjasa dalam kehidupan sang ayah? Airin masih merasa tak pantas saja untuk itu, meskipun Arya sendiri tidak pernah mempermasalahkannya.


"Mainlah. Ajak teman-temanmu." Airin mengusap lembut puncak kepala gadis itu. Kia tersenyum senang, lantas memeluk sang mama dengan perasaan haru. Rasanya Kia ingin kembali ke masa kecil dulu, saat ia terjatuh mungkin hanya kakinya saja yang terluka, bukan hatinya.


Kesedihan sang anak kini menjadi beban untuk Airin. Perempuan itu beberapa kali terlihat melamun, bahkan tidak merespon saat keduanya tengah melakukan ritual malamnya.


"Apa yang tengah kau pikirkan?" Alex menarik tubuh Airin kedalam dekapannya. Sebagai seorang suami tentunya ia sudah hapal sekali akan sifat sang istri.


"Aku tak apa-apa." Airin menjawab kurang semangat. Tubuhnya merosot ke bawah selimut yang menutupi tubuh keduanya.


"Jangan berbohong. Katakan saja, apa yang menjadi beban pikiranmu saat ini?"


Perempuan itu terlihat menarik napas panjang. Airin ragu untuk mengungkapkannya pada Alex. Tapi, jika ia diam saja, bagaimana suaminya itu tahu?


"Ini mengenai putri kita," ucap perempuan itu.


"Kia? Ada apa dengannya?" Alex sontak memfokuskan pandangan kearah sang istri.

__ADS_1


"Sebagai Ayah, bisakah kau mengabulkan keinginannya?"


"Maksudmu?"


Lagi-lagi Airin menjeda ucapannya. Alex masih tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Airin.


"Dia menginginkan sesuatu."


Oke, Alex mengerti sekarang. Jadi, putri semata wayangnya menginginkan sesuatu? Mudah saja baginya. Dengan uang serta kekuasaan yang ia miliki sekarang, Alex tidak khawatir lagi untuk memenuhi segala permintaan sang anak.


"Katakan!" tuntut Alex. Laki-laki itu meminta penjelasan lagi pada sang istri. Namun, Airin malam membisu.


"Apa dia mengingikan mobil baru? Liburan, atau ....?"


Airin menggeleng samar. Airin tiba-tiba bangkit dan menggunakan selimut tadi sebagai penutup untuk tubuhnya. "Kau tidak akan bisa mengabulkannya!"


Entah kenapa Airin merasa pesimis sekali, padahal Alex sendiri belum tahu apa kemauan Kia yang sebenarnya.


"Tunggu!" Alex langsung mencekal tangan sang istri yang hendak bangkit. "Aku akan berusaha mengabulkannya, meski itu hal mustahil sekalipun!"


"Tentu saja!" jawab Alex dengan sangat yakin.


"Ini mengenai Haidar!"


Sontak ucapan itu langsung membuat Alex mengernyit heran. "Maksudnya? Ada apa dengan Haidar?"


"Bisakah kau menjadikannya sebagai menantu kita?"


Langit seolah runtuh dan menimpanya. "Apa! Jangan main-main Airin! Kau tahu siapa dia, kan?"


"Jadikan Haidar menantu kita, karena Kia sangat menginginkannya!" ulang Airin dengan seyakin-yakinnya. Airin memilih terus terang. Ia tidak ingin ada lagi yang di tutup-tutupi.

__ADS_1


"Jangan gila, Airin!!" Lagi, Alex berusaha menyadarkan posisinya kini. Haidar adalah putra dari Arya Pratama, orang yang sangat di segani dalam hidup Alex. "Jangan melewati batasan!"


Benar, kan? Airin sudah menduganya. Respon Alex pasti seperti tadi.


"Aku serius, Lex! Nikahkan Haidar dengan Kia, apa kau bisa melakukannya?" Airin tersenyum miris mendapati respon Alex yang seperti itu. Mungkin itu ketidakmungkinan yang selalu putrinya harapkan.


"Baiklah, lupakan saja!" Perempuan itu bangkit, melilit tubuhnya dengan selimut tebal itu, lantas buru-buru membawa langkahnya kearah kamar mandi.


Alex merenung memikirkan ucapan sang istri tadi. Meminta Haidar untuk menikahi Kia, apa tidak sama halnya memberikan sebuah penghinaan bagi keluarga Arya? Bagaimana mungkin ia bisa melakukannya? Sedangkan Airin tahu sekali siapa Arya dalam kehidupannya selama ini.


Tapi, jika ia tidak bisa mengusahakannya untuk Kia, apa gunanya ia sebagai seorang Ayah? Sungguh, Alex merasa di lema.


Saat pintu kamar mandi terbuka pun Alex masih saja diam. Mengulang lagi ucapan Airin tadi, hingga kata-kata itu terus berputar dan terngiang di telinganya.


Airin tak menyapa Alex sama sekali. Perempuan itu langsung merebahkan diri di atas ranjang dam memilih memiringkan tubuhnya ke samping. Menyesal telah mengungkapkan semuanya. Jika tahu akan berakhir seperti ini, mungkin ia kan memilih diam dan menyimpannya sendiri.


"Aku akan berusaha mengabulkannya!" Tiba-tiba terdengar Alex mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang langsung membuat kedua mata Airin berbinar. Meskipun ada sedikit keraguan dalam ucapan Alex, tapi Airin yakin jika suaminya itu tidak akan pernah mengecewakan putri kandungnya. Perempuan itu langsung bangkit dan menatap kearah Alex dengan pandangan senang. "Apa kau serius?"


Airin hanya ingin memastikan kalau Alex bukan sekedar ingin menghiburnya saja. Ia harap Alex benar-benar serius mengatakannya.


"Aku akan berusaha berbicara pada Tuan Arya. Aku harap Haidar juga mau menerima putri kita."


"Apa ada yang salah dengan putri kita? Kia cantik, pintar, dan berpendidikan!" Airin sedikit tersinggung dengan ungkapan Alex baru saja, seolah merendahkan putrinya sendiri.


"Bukan itu maksudku. Tentu saja tidak ada yang salah dengan putri kita. Hanya saja ...."


"Pokoknya kau harus berusaha agar Haidar mau menikahi Kia! Kalau perlu memohon–lah sedikit pada Tuan Arya." Bagi Airin kebahagiaan Kia yang terpenting. Ia akan melakukan apa saja untuk itu.


"Baiklah. Doakan agar Tuan Arya juga menyetujui permintaanmu itu."


"Terimakasih!" Airin langsung memeluk tubuh Alex. Perempuan itu tidak bisa membayangkan akan sebahagia apa nanti jika Kia mendengar berita ini.

__ADS_1


"Tapi, apa kau yakin Haidar belum memiliki kekasih? Yang aku takutkan jika saat ini ia telah menjalin hubungan dengan seorang gadis di luar sana. Apa kita tidak egois jika merusak hubungan mereka?" Mungkin ini salah satu alasan Alex ragu melakukannya. Apa gunanya jika kedua orang tua Haidar memberikan restu, sedangkan laki-laki itu sendiri malah sudah memiliki seorang kekasih? Apa tidak akan semakin membuat Kia sakit hati nantinya?


"Ti ... tidak mungkin! Aku yakin Kia tidak mungkin mendekatinya jika memang Haidar telah memiliki kekasih!" jawab Airin dengan sangat yakin


__ADS_2