Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Kebiasaan Setelah Mandi


__ADS_3

Alex sempat marah saat Airin mengatakan jika Kia membatalkan rencana pertunangannya dengan Haidar. Ia merasa malu sekali terutama pada keluarga Arya yang sangat berjasa bagi keluarganya, apalagi ia yang lebih dulu meminta pada Arya mengenai perjodohan itu. Tapi, setelah Haidar datang ke kantor dan mengakui bahwa dia yang memutuskan rencana pertunangan itu lebih dulu, Alex jadi merasa bersalah dengan putrinya, mungkin Kia hanya berusaha melindungi Haidar agar tidak terkena amukan dari dirinya.


"Maafkan aku, Om. Maaf ..." Laki-laki muda itu menunduk menunggu jawaban seorang ayah dari gadis yang beberapa hari lalu ia lukai hatinya.


Jujur saja rasanya Alex ingin langsung menghajar laki-laki itu karena telah berani melukai putrinya. Tapi melihat permintaan maaf Haidar, Alex merasa tidak memiliki hak apapun untuk memaksanya.


"Sudahlah. Mungkin kalian memang tidak berjodoh." Alex menepuk pundak Haidar, lantas meninggalkan laki-laki itu begitu saja di dalam ruangannya.


Alex memilih menghindar daripada ia tidak bisa menahan diri dan akhirnya menghajar laki-laki itu. Tidak! Alex tidak mungkin melakukannya, ia tahu siapa Haidar, putra dari orang yang sangat ia hormati.


Pagi ini Alex sudah rapi, ia bersama Airin melangkah ke arah kamar Kia untuk menemui gadis itu. Alex ingin meminta maaf, ia sungguh menyesal karena terlalu terburu-buru tanpa mencari tahu kebenarannya lebih dulu.


"Kia ..." Airin melangkah masuk. Di tatapnya gadis itu yang masih bergulung dalam selimut tebalnya. "Hei, bangun!" Perempuan itu menepuk pipi putrinya lembut.


"Hari ini aku masih libur, Ma," ucap gadis itu dengan suaranya yang serak. Kia memang mengambil cuti kuliah selama seminggu. Ia memilih menghabiskan waktunya di rumah dan tidak ingin bertemu siapa pun.


"Anak gadis jangan malas. Ayo, bangun! Ayah udah menunggu!" Airin sengaja menarik selimut itu, hingga gadis yang berada di bawahnya tersentak dan buru-buru bangkit.


"Ayah ...?" Kia semakin melebarkan kedua matanya saat melihat sang ayah juga berada di dalam ruangan itu.


"Selamat pagi kesayangan ayah." Alex maju dan memberi kecupan lembut di kening putrinya.


"Ayah ...?" Gadis itu mengerjap lagi, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Ayah nggak ke kantor?" Heran saja melihat laki-laki itu masih berada di kamarnya, padahal jam di kamar sudah lebih dari pukul delapan pagi.


"Ayo mandi, Mama bantu!" Airin sudah menarik tangan gadis itu, memaksanya bangkit dan menapakkan kakinya ke lantai.

__ADS_1


"Aku masih libur, Ma. Ngapain sih mandi?" Gadis itu masih berusaha menolak. Tapi, melihat ayahnya belum beranjak Kia terpaksa ikut saja apa yang di perintahkan sang mama. Gadis itu sudah menghilang saat pintu kamar mandi mulai tertutup.


"Kau yakin Kia mau ikut?" Airin was-was sendiri, pasalnya dari kemarin laki-laki itu tidak pernah mengatakan apapun mengenai rencananya mengajak Kia ke pertemuan bisnis itu.


"Bujuklah. Kau bisa, kan?" Alex malah menyerahkan tanggung jawab itu pada istrinya.


"Kenapa aku, huhhff .... menyebalkan!" Perempuan itu menatap malas wajah suaminya yang terlihat santai sekali. "Lagian kenapa nggak bilang dari kemarin?" Setidaknya memberitahu dulu agar ia bisa menyiapkan pakaian yang cocok untuk putrinya. Karena pertemuan ini bukanlah pertemuan sembarangan, banyak para pebisnis besar yang pasti akan datang pada acara nanti.


"Kau tak usah khawatir." Laki-laki itu melirik ke arah sana, seketika terdengar pintu di ketuk dari luar. "Bukalah, dan ambil apa yang sudah aku persiapkan untuk Kia."


Airin hanya menurut, ia membuka pintu lantas mendapati pelayanan tengah berdiri di depan sana dengan membawa sebuah paperbag di tangan.


"Saya mengantarkan pesanan Tuan Alex, Nyonya."


"Ya, siapa lagi?"


"Sungguh?" Kedua mata perempuan itu berbinar senang. Tapi, detik selanjutnya wajah Airin berubah kesal. "Kenapa hanya Kia, lalu aku mana?" protesnya lagi.


Alex langsung tergelak kencang mendengar protes dari istrinya. Apalagi melihat wajah murung Airin yang malah semakin menggemaskan di matanya. "Aku kau tengah cemburu dengan putrimu sendiri?" Tiba-tiba Alex menarik pinggang perempuan itu hingga jatuh tepat di atas pangkuannya.


"Akhhh ... apa yang kau lakukan!" pekik Airin dengan suara tertahan. Ia melirik kearah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. "Bagaimana kalau Kia melihatnya?" Berusaha melepaskan diri. Tapi aksinya malah membuat sesuatu di bawah sana bereaksi.


"Hei, diam! Kau ingin membangunkannya?!" bisik Alex tepat di telinga milik perempuan itu, bahkan kini Airin bisa merasakan napas hangat milik suaminya.


"Diam! Atau, kau ingin membuatku terlambat datang ke acara pertemuan itu?" Wajah perempuan itu memerah. Tidak! Ia harus segera menghentikannya.

__ADS_1


"Ta–tapi ... akhhh ...!"


Alex tidak ingin kesempatan itu terbuang begitu saja. Ia langsung menyesap bibir milik perempuan itu dan sengaja bermain-main sebentar.


"Cukup, Lex, cukup!" Airin menahan tangan laki-laki itu yang sudah bergerilya entah ke mana. Apa jadinya jika tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Kia melihat pemandangan ini?


"Sebentar saja." Alex sengaja menjeda aksinya. Tapi, hanya sesat karena laki-laki itu kembali mengulangi kegiatannya lagi. Bermain-main di bibir milik perempuan itu meski Airin berusaha menolaknya.


"Dasar menyebalkan!" Airin membenahi pakaiannya saat pagutan itu terlepas. Buru-buru menjauh karena tidak ingin kejadian baru saja terulang lagi.


"Kenapa kau ketakutan sekali? Apa kau belum paham juga berapa lama putrimu mandi?" Laki-laki itu menyunggingkan senyuman kearah Airin. Meskipun ia jarang berada di rumah, tapi ia paham sekali apa-apa saja yang menjadi kebiasaan istri serta putrinya.


"Biasanya setengah jam lebih 'kan Kia mandi? Dia juga akan berputar-putar lebih dulu di depan cermin sebelum keluar dari ruangan itu. Jadi, kau tak usah khawatir dia akan memergoki aksi kita tadi!"


Airin membulatkan kedua matanya saat mendengar Alex mengungkapkan kebiasaan putrinya. Bagaimana bisa Alex sampai tahu sedetail itu? Padahal ia jarang sekali berada di rumah.


"Jangan heran, karena aku ini 'kan ayahnya. Aku juga ikut merawatnya sejak kecil." Seolah menjawab keterkejutan istrinya.


Sementara di dalam sana Kia sudah beres dengan kegiatan membersihkan diri. Seperti ucapan Alex tadi, gadis itu tak langsung keluar tapi malah asik berputar-putar lebih dulu di depan cermin besar yang ada di kamar mandi.


"Aku tetap harus cantik Meskipun hatiku tak baik-baik saja." Gadis itu tersenyum sendiri. Mengusap-usap pipinya lembut, lantas berputar lagi untuk yang terakhir sebelum ia memutuskan untuk melangkah keluar.


Kia sudah memegang knop pintu dan ingin segera menariknya. Tapi, suara dari luar sana memaksanya untuk berhenti dan menahan lebih dulu.


"Sebenarnya apa yang di lakukan Ayah sama Mama di luar sana sih?!"

__ADS_1


__ADS_2