
Tiba-tiba saja Haidar menahan tengkuk gadis itu, mendekatkan miliknya kearah bibir Mutia. Dan ....
Laki-laki itu memagut mesra bibir milik Mutia. Gadis di atas sana hanya mampu terpaku mendapatkan perlakuan dari atasannya itu. Sejenak Mutia memejamkan mata, menikmati geleyar aneh dalam dirinya.
Haidar tersenyum menyadari Mutia juga tidak menolak apa yang ia lakukan. Beberapa menit keduanya sama-sama terhanyut dalam permainan mereka. Hingga akhirnya suara melengking di sertai pintu yang di buka dengan kasar membuat keduanya tersentak kaget.
"Haidar ....!!" Rengganis masuk dengan amarah serta sorot mata tajam. Haidar terkejut, begitupun dengan Mutia, gadis itu melepas cepat pagutannya dan berusaha bangkit dari tubuh laki-laki itu. Tapi ...
"Aww ...!" Lagi-lagi karena tidak sengaja, Mutia justru terjatuh lagi dalam dekapan Haidar.
"Ma–maaf, aku tak sengaja." Gadis itu bangkit cepat dan membenahi pakaiannya.
"Apa yang kalian lakukan?!"
"Nyonya ..." Meski hanya sekali bertemu dalam acara ulang tahun Kia, Mutia tahu siapa perempuan yang saat ini tengah berdiri di depannya. Ya. Nyonya besar dari Keluarga Pratama.
"Mama ...!" Haidar berusaha menguasai diri, laki-laki itu juga bangkit dan membenahi pakaiannya sendiri. "Mengganggu saja!" bisik laki-laki itu lirih.
"Kau bilang apa?"
Mutia menelan salivanya kasar. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena tadi sempat terpana oleh pesona laki-laki itu. Harusnya ia menolaknya, kan? Harusnya ia tahu diri siapa dia. Saat ini Mutia hanya mampu menyesal karena merasa telah berkhianat pada sahabatnya sendiri.
"Mutia, kamu boleh pulang. Jam kantor sudah habis, kan?" Haidar hanya tidak ingin Mutia terkena amukan sang mama, biarlah ia yang menanggung sebab memang dirinya yang memulai.
"Tapi, Tuan ...?"
"Sudah, kamu tidak mungkin mampu menerima amukan Nyonya!" bisik laki-laki yang malah semakin mendekat kearah telinganya. Tubuh gadis itu meremang seketika merasakan hembusan napas hangat milik Haidar. Mutia langsung mundur demi menghindari kesalahpahaman lagi.
"Haidar!!" Suara itu terdengar lagi.
"Cepat, pulang!" bisiknya lagi untuk segera meninggalkan ruangan itu.
"Ba–baik. Permisi, Nyonya." Mutia membungkuk hormat lantas berlalu menuju meja kerjanya untuk mengambil tas.
__ADS_1
Setelah kepergian Mutia, suasana di dalam ruangan itu seketika berubah. Udara terasa sesak bahkan untuk menghela napas saja rasanya berat sekali. Laki-laki itu hanya mampu menunduk, menunggu Mama Rengganis membuka suara lebih dulu.
"Jelasin, apa yang kalian lakukan!" Meski tadi sempat melihatnya secara langsung adegan tidak senonoh itu, Rengganis tetap ingin mendengar sendiri dari kedua bibir laki-laki muda yang saat ini tepat berdiri di hadapannya.
"Ma, maaf ..." Hanya itu yang mampu Haidar ucapkan. Mungkin saat inilah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.
"Maaf? Kau bilang maaf?!" ulang perempuan paruh baya itu lagi. Rengganis berusaha meredam emosinya agar tetap bisa berpikir secara jernih. "Katakan, sudah berapa kali kau melakukannya pada gadis itu?"
"Sekali, Ma."
Rengganis menarik napas lega. Seperti yang tadi ia pikirkan, kejadian itu pasti bukanlah di sengaja. Putraku tidak mungkin sengaja melakukannya, bisiknya pada dirinya sendiri.
"Tapi, aku melakukannya dalam keadaan sadar," ungkap Haidar lagi. Sudah di pastikan reaksi dari perempuan yang ada di depan sana. Rengganis yang tadinya sudah lega karena yakin putranya tidak mungkin melakukan hal sekonyol itu langsung berubah meradang lagi. Perempuan paruh baya itu melangkah mendekat, lantas ...
Plakk!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi milik laki-laki yang berdiri tegak di depan sana. Darah segar mengalir dari sudut bibir milik laki-laki itu karena luka robek akibat tamparan dari sang mama.
"Ya, Ma. Aku memang melakukannya dengan penuh kesadaran." Ungkapan Haidar kali ini nyaris membuat perempuan itu jatuh pingsan.
"Sengaja? Kau bilang sengaja? Ya Tuhan ...!" Rengganis sampai mengulang kata-kata itu lagi karena ia sendiri belum sepenuhnya percaya.
"Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan baru saja?" Tubuh perempuan itu seketika lemas, Rengganis terpaksa menyandarkan tubuhnya di sofa ruangan itu.
"Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Nak? Atau, gadis itu yang sengaja menggodamu, iya?" Tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada gadis yang saat ini entah sudah berada di mana.
Jika sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan menendangnya keluar dari kantor ini! bisik Rengganis dengan menggebu.
"Aku yang salah, Ma. Jadi, tolong ... jangan apa-apakan Mutia." Tentu saja Haidar berusaha melindunginya karena tadi memanglah murni kesalahannya sendiri.
"Kau harus secepatnya memecat gadis itu, Haidar, Mama nggak mau tahu!" tegas Rengganis, ia tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan mereka tetap berada di lingkungan yang sama. Itu akan sangat berbahaya sekali.
"Aku tidak bisa melakukan itu, Ma!" Haidar menggeleng pelan. Entah apa lagi alasannya.
__ADS_1
"Kenapa? Kau tak perlu menuntut ganti rugi padanya, Nak? Kau hanya perlu memecatnya saja, lalu membiarkannya mencari pekerjaan baru lagi!" Rengganis pikir itulah jalan satu-satunya.
"Aku menyukainya, Ma!"
"Hahhh ....!!"
"Aku benar-benar menyukainya, Ma!" ucap laki-laki itu untuk yang ke dua kalinya. Rengganis mengerjapkan matanya lagi. Tidak! Itu tidak mungkin.
"Aku tidak bisa memecat Mutia, Ma, karena aku .... benar-benar menyukainya." Haidar mengatakannya dengan sorot mata yang serius
Rengganis menggelengkan kepalanya. Sungguh, ia pasti salah mendengarnya. Tidak! Haidar tidak mungkin menyukai gadis itu.
"Nak ...!"
"Ma, kumohon ..." Laki-laki menjeda ucapannya sejenak. Haidar terlihat tak kalah frustasi. Tapi, ia juga tidak bisa berpura-pura lagi.
"Kau bercanda, kan? Mama yakin kau tak serius mengatakannya." Rengganis yakin sekali tadi mereka hanya terbawa suasana saja. Kalau Haidar sampai menyukai gadis itu, lantas bagaimana dengan Kia?
"Aku serius, Ma! Aku tak main-main!"
"Ba–bagaimana mungkin?" Bagai ada beban berat yang tiba-tiba menimpa perempuan paruh baya itu. Apa yang akan ia jelaskan pada Arya nanti? Terutama pada Kia dan kedua orangtuanya.
"Maaf, Ma, aku tidak bisa melanjutkan rencana pertunangan ini."
Saat Haidar mengatakannya, sontak perempuan itu bangkit dari sofa yang sejak tadi ia tempati. Perempuan paruh baya itu memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut karena terlalu shock mendengar pernyataan dari sang putra.
"A–apa yang kau lakukan?!" Bahkan untuk mengucapkannya rasanya berat sekali. "Kau tidak bisa seenaknya seperti ini, Haidar!" tegas perempuan itu lagi.
"Kenapa, Ma? Bukankah aku juga berhak menentukan hidupku sendiri? Lalu, apanya yang salah jika sekarang aku memilih Mutia?"
Lagi-lagi Rengganis menggeleng pelan. Bukan salah, hanya saja ia harus memikirkan bagaimana perasaan seorang gadis yang nantinya akan tersakiti oleh keputusan itu.
"Kau tidak bisa memutuskan pertunangan ini secara sepihak, Haidar! Kau harus tetap melanjutkan pertunanganmu dengan Kia. Harus!"
__ADS_1