Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Menghilangkan Bukti


__ADS_3

Lydia masuk ke apartemen dengan langkah tergesa dan wajah panik. Tadi saat di parkiran beberapa orang sempat melihatnya dengan tatapan bingung karena pada pakaian Lydia terdapat bercak merah meski tidak terlalu banyak. Menutup pintu depan sangat cepat , Lydia menguncinya dengan buru-buru.


"Bagaimana ini? Bagaimana kalau mereka sampai curiga?" Lydia frustasi sendiri memikirkan apa yang harus dirinya lakukan saat ini. Menghilang jejak? Tentu saja.


"Ya. Aku harus menghilangkan semua bukti ini!" Buru-buru melepas pakaiannya, lalu berpikir di mana ia akan menyembunyikan benda itu.


"Di mana aku harus menyembunyikan pakaian yang terkena darah gadis itu!" Panik, matanya menatap sekeliling. Hingga akhirnya memutuskan untuk membuangnya langsung.


Pakaian yang terkena darah tadi sudah mendarat sempurna dalam tempat sampah yang ada di pojok kamar Lydia. Selanjutnya Lydia menuju kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya agar tidak lagi meninggalkan bekas apapun.


"Selesai." Lydia menarik napas lega saat semua barang bukti yang tadi ia pakai sudah terbungkus rapi di tempat sampah. Baju, sepatu, serta tas yang sempat Lydia bawa ke lokasi tadi tidak akan pernah Lydia pakai lagi.


"Aku bisa membelinya lagi nanti. Toh, Yudi sudah memberikan jatah uang bulanan yang cukup untukku!" Tersenyum senang saat melirik ATM yang Yudi berikan padanya. Tak lama dering ponsel terdengar. Senyum Lydia surut seketika melihat siapa yang saat ini menghubunginya.


[Apa? Kenapa kalian hubungi aku lagi?!] jawab Lydia dengan sangat ketus.


[Kami mau menagih sisa uang pembayaran!] ucap dua pria yang Lydia sewa waktu di gedung kosong itu.


[Hei! Jangan gila kalian! Kerjaan nggak beres minta bayaran penuh!] Tentu saja Lydia tidak terima masalahnya karena kecerobohan dua pria itu hampir saja rencananya gagal.


[Tapi kami sudah melakukan tugas sampai selesai! Jadi, kami menagih sisa pembayaran uang itu!] Di seberang sana tetep kekeuh mengenai uang tadi. Bahkan nada suaranya sudah lebih galak.


[Pokoknya aku nggak akan kasih uang itu!]


[Jadi, Anda ingkar janji? Anda sedang tidak berusaha kabur, kan?!]


[Hei, apa urusan kalian?! Memangnya kalian siapa?!]


[Kami akan membeberkan pada orang-orang jika Anda tidak mau melunasinya!]


Hahhh!


Lydia menjadi emosi mendengar ancaman pria di seberang sana.


[Kalian ngancem aku?!]


[Ya! Kami bisa melaporkan kejahatan Anda ke polisi jika sampai tidak di lunasi!]


[Kalau aku polisi sampai menangkapku, kalian juga akan ikut masuk penjara!] Lydia tak mau kalah. Perempuan itu kembali melayangkan ancaman yang membuat dua pria itu kalah telak.


[Kami sudah biasa keluar masuk penjara. Jadi, kami tidak takut!]


Lydia semakin frustasi mendengarnya. Bahkan tadi saja Lydia sudah mengeluarkan lima puluh juta untuk uang muka. Sekarang Lydia harus membayar lima puluh juta lagi sisanya.

__ADS_1


[Iya, iya. Aku transfer sekarang!]


[Makasih, Bos!]


Sialan! Kenapa malah aku yang merasa di peras sama mereka sih!


Klik,


Lydia lngsung memutus sambungan telepon secara sepihak.


Mengabulkan permintaan dua pria tadi, akhirnya Lydia membayar lunas janji yang telah mereka sepakati.


"Lima puluh juta? Ck, jumlah yang lumayan banyak buat aku belanja." Menggerutu sendiri.


"Astaga ...!" Lydia memekik saat mendapati panggilan serta chat yang menumpuk dari Yudi. Perempuan itu buru-buru membukanya agar tidak sampai membuat Yudi curiga dengan apa yang tadi dirinya lakukan.


[Yud ...?]


[Ke mana saja?] jawab Yudi saat panggilan itu terjawab.


[Ma–af, tadi aku ...] Lydia memutar otak mencari alasan apa yang sekiranya cocok ia pakai. [Tadi aku di kamar mandi,] balas Lydia memberi alasan.


[Tidak jadi datang ke acara pernikahan putriku?]


[Aku capek, Yud. Aku mau istirahat aja di kamar. Nggak apa-apa, kan?] Dasar Lydia memang pintar sekali berdalih.


[Capek? Memangnya kau dari mana?]


Pertanyaan Yudi kembali membuat Lydia bingung.


[Emm .... tadi aku abis belanja sebentar, Yud! Nggak apa-apa, kan uangmu aku pakai?]


[Apa acaranya udah selesai?] tanya Lydia pura-pura peduli. Padahal dia sudah mengacaukan segalanya.


[Sudah. Tapi ....]


[Kenapa ...?]


[Ceritanya panjang. Nanti aku ke apartemen. Jangan ke mana-mana.]


Setelah itu sambung terputus. Lydia meletakkan lagi ponsel ke atas ranjang. Menunggu Yudi yang mungkin sebentar lagi akan sampai ke tempatnya.


.

__ADS_1


Rumah Sakit.


"Dokter, bagaimana keadaan putri saya?" Naila langsung mendekat saat pintu ruangan itu terbuka. Dokter dan beberapa perawat keluar dari dalam sana dengan wajah sedikit muram.


"Pasien kehilangan banyak darah. Apa pihak Keluarga ada yang bisa membantu? Kebetulan stok di bank darah tidak cukup untuk pasien."


"Ada, Dok. Ambil darah saya saja!" Naila langsung menawarkan diri.


"Baik. Nanti Nyonya bisa melakukan pemeriksaan lebih dulu apakah cocok atau tidak."


"Saya papanya, Dok. Apa saya juga bisa menyumbangkan darah untuk putri saya?" Yudi ikut bersuara. Ia juga dengan senang hati jika memang saat ini Mutia membutuhkan donor darah darinya.


"Baik. Semakin banyak yang bersedia semakin bagus. Karena kami tidak tahu darah milik siapa yang cocok untuk pasien."


Sementara Naila dan Yudi pergi ke ruang pemeriksaan untuk menjalani serangkaian tes, Haidar dan Arya berunding membahas mengenai kejadian di gedung tua tersebut.


"Apa menurut Ayah, Om Alex akan berusaha membebaskan Kia?" Sebenarnya Haidar sedikit gusar akan berhadapan dengan Alex. Selama ini hubungan kedua keluarga itu sangat dekat. Apalagi dulu Haidar dan Kia sempat ingin melangsungkan pertunangan.


"Sebagai orang tua pastilah Alex akan berusaha membela Kia. Tapi, mau bagaimana lagi?"


"Meskipun putrinya nanti terbukti bersalah?" tanya Haidar sekali lagi.


"Mungkin Ayah juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Alex."


"Ayah yakin akan berhadapan dengan Om Alex?"


"Menurutmu? Apa kejahatan bisa di biarkan begitu saja?!" Kini gantian Haidar yang bimbang mendengar pertanyaan Arya.


"Entahlah."


Obrolan terhenti bersamaan dengan keluarnya Naila dan Yudi dari dalam ruang pemeriksaan. Mereka terlihat tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan mengenai darah siapa yang cocok untuk di berikan pada Mutia.


"Bagaimana Dokter? Punya saya pasti cocok 'kan dengan Mutia?" Naila langsung mencegat langkah kaki dokter yang baru saja keluar ruangan.


"Begini, Nyonya. Dari hasil pemeriksaan ternyata Tuan Yudi lah yang cocok dengan darah milik pasien."


Tidak heran sih karena Yudi menang papa kandung Mutia. Meski Naila sedikit kecewa karena tidak bisa menyumbangkan miliknya untuk putrinya sendiri.


"Ya sudah, Dokter, segera ambil darah saya. Berapapun saya tidak masalah!"


Naila menghela napas lega. Setidaknya ia tidak khawatir Mutia akan kekurangan stok darah lagi. Meski cemas masih menderanya, Naila berusaha untuk tenang. Ia melirik ke samping pada Dika yang masih setia menunggunya di depan ruang ICU. Laki-laki itu tidak meninggalkannya sedetik saja padahal Naila sempat memintanya untuk pulang dan beristirahat.


.

__ADS_1


__ADS_2