
Prankkk!
"Awww ....!" Mutia menarik tangannya cepat saat cipratan kopi panas tak sengaja mengenai tangannya. Gadis itu meringis merasakan kulitnya yang memerah bekas tumpahan kopi tadi.. Sedangkan cangkir sudah terjun bebas mengenai lantai dan pecah menjadi berkeping-keping.
"Astaga, Mutia! Kamu tak apa-apa?" Nina yang tak sengaja akan menuju pantri untuk membuat minuman di buat terkejut mendapati Mutia tengah meringis sembari memegangi sebelah tangannya. Gadis itu terlihat kesakitan sekali, beruntung ia cepat datang dan memergokinya.
"Aku tak apa-apa." Gadis itu langsung membawa tangannya yang terluka kearah kran air dan mengguyurnya lumayan lama.
"Ayo aku obati." Nina mencari kontak obat yang tersimpan di laci meja, lantas menarik Mutia agar ikut duduk di depannya.
"Tidak usah, Nina, nanti Tuan Haidar pasti marah kalau saya terlambat membuatkan kopi untuknya," tolak Mutia ketika gadis itu hendak menempelkan kapas yang sudah di tetesi obat.
"Jadi, sejak tadi yang kamu pikirkan malah kopi? Bukan tanganmu yang terluka ini?" Nina hanya melongo, gadis itu menggeleng tak percaya dengan jalan pikir Mutia. Pantas saja tadi terlihat ragu saat ia menyuruhnya untuk duduk. Nina pikir karena terlalu takut luka di tangannya parah, nyatanya Mutia malah memikirkan nasib kopi yang tadi dirinya tumpahkan.
"Iya. Tadi Tuan Haidar menyuruhku jangan lama-lama. Nanti kalau aku terlambat dia pasti marah." Pernyataan polos Mutia lngsung membuat gadis di depannya lagi-lagi menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak mungkin, Mutia. Percayalah, Tuan Haidar pasti akan memakluminya. Yang terpenting obati luka di tanganmu dulu." Nina dengan hati-hati mengobatinya. Setelah luka itu di sudah di balut perban, barulah Nina menggantikan kopi yang tumpah tadi untuk di bawa ke ruangan sang bos.
"Nah, ini sudah aku buatkan lagi. Kamu tinggal antarkan." Gadis itu menyodorkan secangkir kopi sebagai pengganti yang pecah tadi. "Ingat, hati-hati!"
Mutia tersenyum membalas perlakuan Nina yang sangat baik padanya. Setelah mengucapkan terimakasih, Mutia membawa secangkir kopi tadi kembali ke ruangan sang bos. Ia yakin sekali laki-laki itu pasti tengah memasang wajah kesal karena ia sudah terlalu lama membuang waktu hanya untuk menyiapkan secangkir kopi.
Benar, kan, baru saja Mutia mendorong pintu ruangan itu, suara milik laki-laki di depan sana sudah terdengar sangat kesal.
"Kenapa lama sekali?" ucap Haidar saat mendengar pintu ruangannya terbuka. Laki-laki itu masih menunduk, sibuk dengan tumpukan berkas di depannya.
"Ma–maaf, Tuan. Saya ...?"
"Letakkan saja di sini" memerintahkan tanpa mengalihkan pandangannya kearah gadis yang baru saja masuk.
__ADS_1
"I–iya." Menurut saja. Mutia berjalan mendekat, lalu dengan hati-hati meletakkan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap itu.
Greppp!
Baru saja gadis itu hendak mundur, Haidar sudah mencekal pergelangan tangannya. Mutia menyangka, pasti laki-laki itu akan memarahinya karena jam kerjanya sudah terbuang banyak karena insiden kecelakaan kecil di pantri tadi.
"Ma–maaf, Tuan, tadi saya ..."
"Kenapa dengan tanganmu?" tanya Haidar dengan sorot mata tajam memandang kearah wajah gadis itu. "Kenapa bisa terluka seperti ini?"
Mutia menarik tangannya cepat, dan memilih menyembunyikannya. "Tidak apa-apa, Tuan. Tadi hanya terkena sedikit tumpahan kopi," jawab Mutia lirih.
"Terkena tumpahan kopi?" Laki-laki bangkit dan langsung memeriksa tangan yang terluka tadi. "Seperti ini kau bilang sedikit?" ungkap Haidar gusar sendiri. Laki-laki itu meraih telepon di meja kerjanya dan menghubungi entah siapa di seberang sana.
[Cepat datang, sepuluh menit!] Haidar menutup telepon itu dengan kasar lantas mengayun langkahnya menuju sofa ruangan itu.
"Duduk!" perintah Haidar dengan tiba-tiba. Laki-laki itu sudah bersandar dan terlihat memijit pelipisnya sendiri.
"Kau tak lelah terus berdiri di situ? Duduk!" ucap laki-laki itu untuk yang kedua kalinya. Mutia hanya mengangguk, lantas menurut saja ikut duduk bersebelahan dengannya.
"Kenapa kau ceroboh sekali?" Haidar merasa sangat bersalah telah menyuruh Mutia membuatkan kopi untuknya. Padahal niatnya hanya ingin mengerjai gadis itu saja. Tapi malah membuatnya terluka.
"Ini hanya luka kecil, Tuan. Saya tidak apa-apa." Ucapan Mutia malah semakin menyulut kekesalan laki-laki itu.
"Kau bilang apa? Hanya luka kecil?"
Bahkan rasanya Haidar ingin menghancurkan sesuatu yang telah melukai tangan gadis itu. Tapi, kenapa Mutia sendiri malah terlihat biasa saja.
"Ini memang luka kecil, Tuan. Tadi juga sudah di obati sama Nina. Jadi, Anda tak perlu khawatir." Gadis itu berusaha menjelaskan. Tapi, detik selanjutnya ia menyadari jika ada yang salah dengan ucapannya tadi. "Maaf, maksud saya, Anda tak perlu memanggil dokter karena luka saya sudah di obati kok."
__ADS_1
Laki-laki yang duduk di sebelahnya tak menjawab lagi. Haidar hanya bolak-balik melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sial! Kenapa lama sekali!" Entah umpatan itu di tujukan untuk siapa, yang pasti Mutia tidak berani untuk bertanya sama sekali.
[Kau di mana?] Haidar kembali menghubungi dokter pribadinya yang tadi ia minta untuk datang ke kantor.
[Sebenarnya siapa yang terluka? Kenapa kau panik sekali?] tanya suara dari seberang sana dengan penasaran.
[Kenapa banyak sekali yang kau tanyakan?] jawab Haidar dengan tidak sabar. Ia tidak tahu saja di seberang sana sudah tunggang langgang karena panggilan Haidar yang menyuruhnya datang secara tiba-tiba.
[Iya, iya. Aku hanya ingin tahu siapa yang terluka?] Seperti tidak menyerah meski sudah di hujami kata-kata kesal.
[Cepat datang! Atau, aku hapus ijin praktekmu!] Ancaman Haidar ternyata sukses membungkam seseorang di seberang sana. Dokter tadi langsung diam dan memilih tidak bertanya apapun lagi. Laki-laki yang berprofesi sebagai dokter pribadi keluarga Pratama itu ingin secepatnya datang dan melihat sendiri siapa yang terluka hingga membuat putra kedua keluarga itu sampai kelabakan sendiri.
Klik,
Sambungan telepon Haidar putuskan secara sepihak. Ia tidak peduli jika di seberang sana laki-laki tadi mengumpat serta memakinya. Yang ia mau agar dokter cerewet tadi segera datang dan memberikan pertolongan pada gadis cantik yang tengah duduk di sebelahnya.
Sementara di seberang sana Dokter Eko tengah memaki kesal karena panggilannya di tutup begitu saja. Laki-laki itu segera memacu mobilnya secepat mungkin agar ia bisa sampai di tempat tujuan dengan tepat waktu.
"Tunggu sebentar, Dokter akan segera datang untuk mengobati lukamu."
Mutia semakin tak mengerti. Pasalnya beberapa menit yang lalu Haidar terlihat marah-marah dan seakan ingin menelan siapapun. Tapi, kenapa sekarang sikapnya bisa berubah lembut seperti ini?
"Apa masih sakit? Lain kali hati-hati. Aku tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi padamu lagi."
"Hahh ....?"
"Jangan bertindak ceroboh lagi hingga melukai dirimu sendiri!"
__ADS_1