
"Terimakasih, Tuan." Mutia melangkah keluar setelah tangannya mendorong pintu mobil milik Haidar. Namun, belum sempat kakinya melangkah, suara berat milik laki-laki itu memaksa Mutia untuk kembali memutar tubuh kearahnya lagi.
"Apa mamamu ada di rumah?" tanya laki-laki itu. Entah apa alasannya Mutia sendiri tidak tahu karena ini untuk pertama kalinya Haidar menanyakan mengenai orang tuanya.
"Mungkin ada," jawab Mutia. Matanya melirik kearah dalam sana, seperti tengah ada tamu. Terlihat juga sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Apa aku boleh bertemu dengan mamamu?" tanya Haidar lagi. Hal itu semakin membuat Mutia mengernyit heran.
"Ketemu Mama?" ulang Mutia memastikan.
"Ya. Aku ingin berterimakasih mengenai kejadian di danau waktu itu. Bukankah aku belum sempat mengatakannya?"
Mutia mengangguk pelan. Ia pikir ada apa, ternyata Haidar hanya ingin berterimakasih karena dulu ia yang sudah menyelamatkan laki-laki itu.
"Tapi, sepertinya ada tamu? Apa tak apa-apa jika aku mengganggu?" tanya Haidar untuk yang kesekian kalinya. Ia hanya tidak ingin menundanya lagi.
"Tak apa, Tuan. Itu Om Dika, teman Mama." Mutia yakin jika tamu di dalam sana adalah Dika, lelaki yang sudah sangat ia kenal.
"Baiklah."
Mengetuk pintu rumah, kedatangan mereka di sambut hangat oleh Naila dan seseorang di dalam sana.
"Ayo masuk dulu, Tuan." Naila tak kalah hormat memperlakukan Haidar. Wanita itu mengajaknya masuk dan mengajaknya bergabung dengan Dika.
Mereka terlibat obrolan yang lumayan asik, sampai akhirnya Haidar merasa saatnya yang tepat untuk mengatakan maksud kedatangannya ke mari.
"Maaf, Om, Tante. Sebelumnya saya ingin menyampaikan sesuatu." Haidar menarik napas panjang, berusaha menetralkan detak jantungnya yang sejak tadi sudah berpacu kian cepat.
Naila dan Dika saling lirik, seolah tengah berusaha mengartikan maksud dari laki-laki muda di depan sana. Sedangkan Mutia sendiri sejak tadi sudah menunduk, gugup berada di situasi seperti itu.
"Saya ingin mengucapkan terimakasih karena Mutia telah menyelamatkan saya dari kejadian naas itu." Laki-laki menjeda kalimatnya, kembali mengumpulkan keberanian yang mendadak hilang entah ke mana. "Selain itu saya ...."
__ADS_1
Ah, sial! Kenapa mendadak gugup begini sih! Haidar mengusap keningnya yang sejak tadi berkeringat. Ia menatap sepasang laki-laki dan wanita di depannya yang masih menunggunya dengan sabar.
"Tante, saya ... menyukai Mutia. Saya berniat melamarnya menjadi istri saya," ucap laki-laki itu mantap meski sedikit tersendat akibat rasa gugup yang masih menguasainya.
"Me–lamar?" Kedua pasang mata Naila melebar mendengar pengakuan dari lelaki di depannya.
"Ya. Saya menginginkan Mutia menjadi istri saya." Haidar mengulangi lagi.
Tidak tahu sudah semerah apa wajah gadis di depan sana. Mutia terkejut sekaligus tak percaya jika Haidar akan mengatakan kalimat itu pada mamanya. Menyukaiku? Dan, dia bilang ingin melamarku? Ya Tuhan ...
Rasanya Mutia tak percaya dengan semua yang ia dengar. Bagaimana laki-laki itu dengan mantap mengatakannya secara langsung pada Mama Naila. Meski sebenarnya Mutia senang karena ia sendiri pun sudah lama memiliki rasa yang sama pada lelaki itu.
Tapi, bagaimana dengan Kia? Jika ia sampai menerima Haidar? Apa tidak akan jadi masalah kedepannya nanti?
"Ehmm ...!" Deheman pelan memecah keheningan di dalam ruangan. Naila melirik putrinya sekilas, lalu beralih pada laki-laki itu lagi.
"Sebelumnya maafkan saya, Tuan ..."
"Maaf, karena saya tidak bisa memutuskan apapun. Saya menyerahkan sepenuhnya keputusan ini pada Mutia." Menatap wajah Mutia yang masih menunduk.
Seperti mendapat angin segar, Haidar lega mendengarnya. Setidaknya ia masih punya harapan untuk menunjukkan keseriusannya pada Mutia.
"Apa itu artinya Anda menerima lamaran saya?" Haidar sedikit menarik sudut bibirnya hingga terbit sebuah lengkungan kecil.
Naila menggeleng pelan. Sampai Haidar pamit pulang pun Naila tidak mengucap kalimat apapun selain senyum yang terus terpancar dari wajah wanita paruh baya itu.
"Berusahalah, Nak! Berusahalah merebut hatinya," bisik laki-laki paruh baya yang sejak tadi terlibat obrolan dengannya. Mereka melangkah bersama memasuki mobil masing-masing sampai akhirnya bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah tersebut.
*
Di Dalam Kamar.
__ADS_1
"Mutia ..." Naila mendorong pintu perlahan memasuki kamar putrinya yang tidak terkunci. Gadis itu masih sibuk dengan pekerjaan yang ia bawa dari kantor dan harus buru-buru di serahkan besok pagi pada sang bos.
"Mama belum tidur?" Mutia membalikkan tubuh dan mengikuti sang mama duduk di atas ranjang.
"Kamu sendiri belum tidur? Apa nggak bisa di lanjutin besok lagi?"
"Udah selesai kok, Ma." Melempar tubuhnya ke ranjang dan menghirup napas dalam-dalam.
"Nak ..."
"Ya ..."
"Menurutmu bagaimana mengenai lamaran bos kamu tadi?" Naila hanya ingin tahu bagaimana perasaan Mutia pada laki-laki itu. Meski ia sendiri ragu jika Mutia mau menerimanya, mengingat siapa Haidar yang tak lain adalah mantan kekasih dari Kia.
"Entahlah, Ma." Mutia menghela napas berat. Sesak rasanya jika mengingat tuduhan yang di berikan Kia padanya. Padahal selama ini Mutia sama sekali tidak pernah merayu Haidar, apalagi berusaha menghianati sahabatnya itu.
"Aku takut hubunganku tambah rusak jika sampai menerimanya, Ma. Lagipula siapa kita? Apa kedepannya nanti nggak akan jadi masalah?"
Mutia sadar diri jika status sosial mereka berbeda. Ia hanya gadis biasa, sedangkan Haidar adalah putra bungsu dari keluarga Pratama yang terkenal kaya raya. Ia takut jika orang-orang menuduhnya hanya ingin memanfaatkan kekayaan Haidar.
"Ya udah, Mama terserah kamu aja. Tapi, kalau ada apa-apa tolong cerita sama Mama langsung." Naila mengusap puncak kepala putrinya, mengecupnya lembut lantas bangkit melangkah kearah pintu.
Sebelum menutup pintu kamar putrinya, Naila mematung beberapa saat menatap kearah sana tempat di mana Mutia berbaring. Hingga suara dering ponsel membuyarkan lamunannya. Naila bergegas cepat, menyambar benda pipih itu dan berjalan menjauh dari kamar Mutia.
[Naila, bagaimana?] Suara seorang laki-laki di seberang sana.
[Entahlah, Mas. Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Aku bisa melihat jika sebenarnya Mutia juga menyukai Haidar. Tapi ....?] Naila menghembuskan napas berat. Ia tahu jika hubungan Mutia dan Kia sedang tidak baik, tapi apa harus mengorbankan perasaan sedangkan mereka sama-sama suka.
[Lalu, bagaimana dengan kita?]
Pertanyaan Dika membuat Naila semakin di lema. Sesaat Naila teringat akan obrolannya dengan laki-laki itu mengenai hubungannya. Kemarin Dika sudah melamarnya secara resmi, dan Naila berencana akan segera membicarakan hal ini dengan Mutia. Tapi, semua rencana itu berubah setelah Haidar tiba-tiba menyatakan keseriusannya pada Mutia. Detik itu juga Naila memutuskan untuk mengalah, mungkin lebih tepatnya menunda urusan pribadi demi kebaikan putrinya lebih dulu.
__ADS_1
[Nai ...? Kamu masih mendengarku?] Suara Dika kembali menyentak lamunan Naila.