Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Membatalkan Pertunangan


__ADS_3

"Hati-hati, kondisimu belum sepenuhnya pulih!" Mutia mematung saat melihat penampakan Haidar yang tiba-tiba saja sudah ada di depan pintu. Entah sejak kapan kebiasaannya berubah, yang Mutia tahu jika sebelumnya Haidar tidak pernah berangkat ke kantor sepagi ini.


"Tuan ...?"


Pintu ruangan sudah terbuka. Mutia melangkah masuk mengikuti laki-laki itu di belakangnya.


"Jangan di paksakan jika belum kuat!" Suaranya menghentikan langkah Mutia lagi yang hendak menuju ke ruangannya. Gadis itu memutar tubuhnya lagi, dan menatap Haidar yang sudah duduk berhadapan dengan setumpuk berkas.


"Baik, Tuan. Tapi saya sudah tidak apa-apa."


Hari-hari di lalui Mutia seperti biasanya. Mengenai para pria yang hendak melecehkannya kemarin, polisi sudah mengatasi sampai tuntas. Dari pihak Arya pun sudah menyampaikan kabar ini pada keluarga Mutia.


"Beneran kamu udah sehat? Apa masih ada yang sakit?"


Mutia hanya mengangguk sambil melirik sekilas kearah Haidar yang sudah berdiri di sampingnya lagi.


"Tuan kenapa? Apa tidak ada kerjaan?" tanya gadis itu heran. Seminggu lebih ia tidak masuk, jadi Mutia sama sekali tidak tahu ada jadwal apa hari ini.


"Menurutmu?"


Mutia melengos, membuang wajahnya ke samping. Gadis itu berusaha bersikap biasa saja meski rasanya tidak nyaman sejak tadi.


"Sebaiknya Anda kembali ke meja kerja milik Anda, Tuan. Saya takut ada yang melihatnya." Mutia berusaha mengusir laki-laki itu secara halus, meski ia sendiri ragu apakah Haidar akan mendengarkan.


"Memangnya kenapa kalau ada yang melihatnya?" Ya, bos mah bebas. Tapi, Mutia sendiri yang tak enak jika sampai ada karyawan lain yang melihatnya.


"Nanti mereka salah paham, Tuan," balas Mutia lagi.


"Biarkan saja!"


Obrolan terhenti. Mutia berusaha tak menanggapinya lagi. Gadis itu sudah sibuk mencatat agenda untuk hari ini dan selanjutnya.


"Mutia ...?"


"Ya ...?" Gadis itu menyahut cepat. Kedua mata mereka beradu, seolah tengah menyalurkan sesuatu.


"Kamu mau jadi kekasihku?" tanya laki-laki itu tiba-tiba.


Mutia sontak terkejut. Kedua matanya terbelalak sempurna menatap kearah wajah laki-laki itu.


Kekasih?

__ADS_1


"Apa sekarang Anda tengah menyatakan cinta?"


"Tidak! Aku tengah melamarmu!" Haidar secara terang-terangan mengatakannya tanpa tahu seperti apa reaksi Mutia saat ini.


"Jangan sembarang, Tuan. Memangnya saya apaan? Saya nggak mau yah jadi yang kedua!" tolak gadis itu secara tegas.


Dasar buaya, bisa-bisanya dia merayu, padahal tak lama lagi akan bertunangan.


"Saya ini gadis baik-baik, Tuan. Lagi pula saya tidak mungkin merebut milik sahabat saya sendiri, Tuan" tegasnya lagi. Gadis itu kembali menunduk, jari jarinya asik menari lagi mencatat apa-apa saja yang akan di lakukan Haidar hari ini.


"Jadi, kalau aku jomblo kamu mau, kan?" tanya laki-laki itu dengan entengnya. Haidar nampak berpikir sejenak, lantas manggut-manggut sendiri entah apa yang tengah ia pikirkan.


Jomblo? Dia tahu juga istilah itu?


"Itu tidak lucu, Tuan! Tolong, biarkan saya bekerja!" Meski sudah di usir berulangkali, Haidar tetap nekat dan tak mempedulikannya.


"Baiklah. Aku akan membatalkan pertunanganku dulu. Jadi, nanti kamu tak punya alasan untuk menolakku lagi." Ungkapan itu sukses membuat gadis berambut panjang itu menatap kearahnya. Mutia tidak menyangka lelucon tadi anggap serius oleh laki-laki itu.


"Jangan sembarang, Tuan! Sebentar lagi Anda akan bertunangan dengan Kia. Bagaimana mungkin Anda akan membatalkannya begitu saja?"


Walaupun sebenarnya Mutia sendiri sudah terpesona oleh ketampanan laki-laki itu. Tapi tidak mungkin ia berharap lebih.


"Aku hanya berusaha mengabulkannya permintaanmu, Mutia! Memangnya kenapa? Ada yang salah?" Seolah tak merasa berdosa sedikit pun. Haidar melangkah kembali ke ruangannya dengan sangat santai.


.


.


.


Nyatanya apa yang di ucapkan Haidar siang tadi bukanlah lelucon semata. Laki-laki itu benar-benar mempersiapkan segalanya. Malam ini selepas urusan pekerjaannya selesai ia melangkah cepat. Bukan kearah kamar pribanya, melainkan ke arah kamar kedua orang tuanya yang terletak di lantai bawah.


Maju mundur Haidar ragu untuk mengetuk pintu, karena melirik jam dinding yang sudah menunjuk angka sepuluh malam.


Di dalam sana, dua orang yang usianya tak muda lagi tengah bercengkerama. Rengganis dan Arya tengah berbincang santai, membahas pekerjaan serta kegiatannya hari ini.


Ketika obrolan selesai dan lampu kamar hendak di matikan, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar sana. Rengganis bangkit cepat, menggulung rambutnya tinggi dan menapakkan kakinya ke lantai.


"Haidar ...?" Perempuan paruh baya itu mengernyit heran mendapati anak lelakinya berdiri di depan pintu. Rengganis langsung menariknya untuk masuk dan mengajaknya duduk di pinggiran tempat tidur.


"Belum tidur? Apa ada masalah di kantor?" Sang ayah ikut bersuara saat melihat laki-laki muda itu ikut masuk ke kamarnya bersama sang istri.

__ADS_1


"Tidak, Yah!"


"Lantas, ada apa? Jangan ganggu mamamu, dia butuh istirahat! Lagipula Ayah sama Mama ingin ...." Padahal niatnya setelah obrolan tadi selesai, Arya ingin melepas rindu bersama perempuan itu karena sudah sejak tiga hari yang lalu ia harus keluar kota mengurus pekerjaannya di sana. Tapi karena kedatangan laki-laki itu, Arya jadi harus menahannya sebentar lagi.


"Mas, kamu apa-apaan sih!" Rengganis langsung mencubit pinggang laki-laki itu hingga sang pemilik mengaduh keakitan."


"Kenapa mencubitku? Aku 'kan hanya bilang ..."


"Sttt ...!" Rengganis langsung membungkam mulut Arya dengan tatapan tajamnya. Nampaknya usahanya berhasil. Laki-laki paruh baya itu langsung mengunci mulut rapat, meski tergambar kekesalan di wajahnya.


"Yah, Ma ..." Laki-laki itu bungkam sesaat. Tiba-tiba saja Haidar merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakannya. "Maaf, tidak jadi," ucapnya.


Kedua orangtua yang duduk di atas tempat tidur saling pandang dengan tatapan bingung. "Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Rengganis lembut.


"Sebenarnya aku ...?" Laki-laki itu menatap kedua wajah orang tuanya dengan tatapan serius.


"Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?" Sang ayah sudah menggerutu. Gelisah sendiri karena waktunya terbuang habis oleh laki-laki muda di depan sana. "Kalau tak penting sebaiknya cepat pergi! Ayah sama Mama ingin istirahat!"


Setelah beberapa menit mereka saling teridiam, akhirya Haidar memberanikan diri untuk berbicara.


"Apa Ayah sama Mama ingin aku cepat menikah?"


"Ya, tentu saja. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Rengganis yang menyahut. Tapi di sisi lain perasaannya sudah tidak enak sendiri.


"Mengenai pertunanganku ...?"


"Kenapa? Kau ingin di percepat?" sambar perempuan itu cepat. Mungkin akan jadi kabar yang menggembirakan jika Haidar mau memajukan acara pertunjukan yang seharusnya di adakan dua minggu lagi.


Haidar menggeleng lemah. Bukan itu yang ia inginkan.


"Aku ingin membatalkan acara pertunanganku, Ma!" Akhirnya Haidar mengatakannya juga. Laki-laki itu mengucapkannya dengan sungguh-sungguh dan penuh kesadaran.


"Apa kau bilang?!" Rengganis nyaris pingsan dengan pernyataan putranya. Sementara laki-laki paruh baya di sebelah sana langsung melolot menatap kearah Haidar dengan penuh emosi.


"Jangan berbicara sembarangan, Haidar! Kau ingin membuat malu seluruh keluargamu?!" ucap Arya dengan penuh penekanan.


"Tapi. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya, Yah! Aku tak bisa melanjutkan pertunangan ini." Haidar mengulang lagi ucapannya tadi.


"Katakan, apa alasanmu? Bukankah sejak awal kau sudah menyetujuinya?" Arya ingat sekali waktu itu Haidar sudah menyetujui mengenai perjodohan yang ia rencanakan bersama Alex.


"Apa semua ini karena gadis itu lagi? Apa kau membatalkan pertunangan ini karenanya?" Rengganis nampak emosi sekali. Ia tidak bisa membayangkan jika nanti pertunangan itu sampai batal. Akan seperti apa perasaan Kia?

__ADS_1


"Tidak, Ma! Kumohon ... biarkan aku meraih kebahagiaanku sendiri. Maaf. Sekali lagi, maafkan aku ..."


__ADS_2