
"Tolong bilang sama Mama, Kia, sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau sakit?" Airin heran karena baru kali ini putrinya di antara oleh laki-laki itu. Biasanya juga Kia selalu pulang sendiri.
"Tidak, Ma." Gadis itu menggeleng pelan, wajahnya juga terlihat tidak bersemangat.
"Apa kau baru saja menangis?" Sebagai orang tua tentu Airin cemas melihat wajah sayu putrinya. Padahal pagi tadi keadaannya masih baik-baik saja.
"Ma ...."
"Ya ...?"
"Sepertinya pertunanganku nggak bisa di lanjutin lagi."
Pernyataan Kia sontak membuat Airin terkejut bukan main. Perempuan paruh baya itu sampai meminta pada Kia untuk mengulangi lagi ucapannya baru saja. Ya, barangkali Airin salah dengar.
"Kau bilang apa?!"
"Aku ingin membatalkan rencana pertunanganku, Ma!" ucap Kia memperjelas ucapannya tadi. Gadis itu urung melangkah ke kamar dan memilih mendaratkan tubuhnya pada sofa ruang tamu.
"Jangan main-main, Kia! Kau tahu jika Mama dan Tante Rengganis saat ini tengah mempersiapkan semuanya." Perempuan itu sudah duduk tepat di samping putrinya dengan gelisah. Bagaimana reaksi keluarga besarnya nanti?
"Apa kalian bertengkar?" Airin berusaha berpikir positif. Ia yakin semuanya bisa di bicarakan dengan baik-baik.
"Nggak, Ma. Aku hanya ingin pertunanganku di batalkan," ucap Kia dengan sangat serius.
"Tapi kenapa, Nak? Kenapa tiba-tiba kau ingin membatalkan pertunangan ini? Apa kau sudah tidak menyukai Haidar lagi?"
Jika di tanya suka, sungguh, perasaan itu tak pernah berubah. Tapi, untuk apa jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
"Maaf, Ma. Mungkin Aku dan Kak Haidar memang tak berjodoh. Jadi, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana pertunangan ini."
Jawaban Kia nyatanya tidak membuat Airin percaya begitu saja. Airin tahu jika Kia sangat menyukai laki-laki itu. Jadi tidak mungkin ia membatalkan dan melepaskannya begitu saja.
"Kau atau Haidar yang membatalkan pertunangan ini?" Pertanyaan Airin membuat gadis di depan sana gelagapan sendiri. Apa harus berterus terang sekarang? Tapi bagaimana jika sang mama sampai murka.
"Jawab, Nak! Kenapa diam aja?" Airin curiga jika Kia tengah menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?
"A–aku, Ma ... Aku yang memutuskan hubungan kami lebih dulu."
__ADS_1
Glek,
Kia menelan salivanya dengan susah payah. Ia berusaha menyembunyikan kenyataan pahit ini sendiri. Kia hanya tidak ingin mamanya salah paham dan akhirnya merusak hubungan keluarga yang telah lama terjalin.
Airin menatap wajah gadis itu dengan serius. Kia terlihat menunduk menyembunyikan kebohongan yang baru saja ia ungkapkan.
"Aku memang yang memutuskannya lebih dulu."
"Tapi Kenapa? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran seperti ini? Apa jangan-jangan kau sudah ....?" Ah, Tidak! Rasanya Airin tidak percaya jika perasaan Kia untuk laki-laki itu telah hilang.
Bagaimana ini? Airin bingung untuk menjelaskan masalah ini pada suaminya. Perempuan itu terus mondar-mandir menunggu kepulangan Alex dengan perasaan gelisah. Tapi hingga tengah malam laki-laki itu belum juga menampakkan diri. Karena lelah menunggu sampai-sampai ia tertidur di sofa ruang tamu tempat tadi ia berbincang dengan putrinya.
Ceklek,
Pintu rumah terbuka, Alex muncul dari luar sana dengan wajah lelah. Sebagian lampu di beberapa ruangan sudah mati, mungkin hanya tersisa di ruangan itu dan juga dapur yang masih terlihat menyala.
Alex melirik ke samping, kearah perempuan yang tengah terlelap di atas sofa. Laki-laki itu mendekat mengangkat tubuh sang istri untuk di pindahkan ke kamar pribadinya.
"Airin, bangun!" Mengguncang bahu istrinya pelan.
"Kenapa aku ada di sini?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau sampai ketiduran di sofa? Apa kau menunggu kepulanganku?" Tangan laki-laki itu melepas ikatan di lehernya lantas mendaratkan tubuhnya tepat di samping Airin.
Airin berpikir sejenak mengembalikan kesadaran yang belum sepenuhnya sempurna. Airin jadi teringat obrolannya dengan Kia tadi mengenai ...
"Kia ..." Airin berbisik pelan. Ia kebingungan ingin memulainya dari mana.
"Ada apa dengan Kia? Apa dia sakit? Atau .....?" Tiba-tiba saja Alex gelisah mengira tengah terjadi sesuatu pada putrinya. "Apa Kia belum pulang?" Alex bangkit dan berjalan menuju pintu. Laki-laki itu ingin memeriksa apa Kia sudah berada di kamarnya atau belum.
"Kia sudah pulang. Dia juga baik-baik aja." Ungkapan Airin sontak membuat Alex menghentikan langkahnya. Laki-laki itu memutar tubuhnya lagi dan kembali melangkah kearah tempat tidur.
"Lalu, ada apa dengan Kia? Bukankah dia baik-baik aja?"
Padahal tadi Alex sudah cemas sendiri takut sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.
"Lex ...?"
__ADS_1
"Hemmmm ..."
"Ada yang ingin aku sampaikan." Kali ini Airin bangkit dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
"Tunggu, sebaiknya aku membersihkan diri lebih dulu." Laki-laki tersenyum, lantas malah mendekat kearahnya.
"Mau apa?"
Tiba-tiba saja Alex menempelkan miliknya pada bibir perempuan itu, menyesapnya sebentar barulah ia lepaskan. "Sebentar saja." Melangakah pergi setelah tautan bibir mereka terlepas.
Airin memutar kedua bola matanya malas. Padahal ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting, yang menyangkut kehidupan putrinya. Tapi Alex malah pergi dan memilih membersihkan tubuhnya lebih dulu.
Airin sedikit kesal karena lagi-lagi waktu tidurnya harus terbuang sia-sia karena menunggu Alex sampai keluar kamar mandi. Rasanya ingin sekali marah, tapi tidak mungkin ia meluapkan amarahnya pada suaminya sendiri.
Pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan munculnya laki-laki itu dari dalam sana. Alex sudah terlihat segar dan siap mendengarkan apa yang ingin istrinya sampaikan sejak tadi.
"Katakan, apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Alex saat keduanya sudah duduk saling bersebelahan.
"Lex .. ini mengenai Kia, putri kita." Airin menatap serius kearah Alex. begitu pun laki-laki itu.
"Maksudmu?" tanya Alex tak mengerti.
"Kia berniat membatalkan rencana pertunangannya!"
Alex langsung bungkam sesaat. Tubuhnya seolah membeku mendengar ungkapan Airin mengenai putrinya.
"Kau ... serius?" tanya laki-laki itu memastikan. Karena yang Alex tahu Kia sangat menyukai Haidar. Lantas, apa alasannya?
Airin mengangguk yakin menjawab pertanyaan Alex baru saja. Laki-laki itu terlihat memijit pelipisnya sendiri, gelisah, lalu bangkit dari ranjang empuk yang mereka tempati.
"Lex ... tunggu!" Airin tidak ingin ucapan Alex sampai melukai hati putrinya. Untuk itu ia berusaha untuk mencegah Alex yang hendak menemui Kia di kamarnya.
"Kau tahu 'kan siapa yang akan di permalukan kalau pertunangan ini sampai gagal?" Suara Alex sudah meninggi, sikapnya juga langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
"Kumohon, Lex ... jangan lakukan apapun yang akan melukai putri kita." Airin menggelengkan kepalanya. Saat ini membiarkan Kia sendiri mungkin keputusan terbaik.
"Tapi Kia sudah keterlaluan, Rin! Bisa-bisanya dia bertindak semaunya begini!!"
__ADS_1