Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Bertengkar


__ADS_3

Desas-desus kabar mengenai lamaran Haidar ternyata sampai juga ke telinga Kia. Entah dari mana gadis itu mendapat kabar tersebut yang pasti Kia sangat marah dan tidak terima saat tahu gadis yang Haidar cintai ternyata sahabatnya sendiri.


Hari ini Kia berencana menemui Mutia di kantor Pratama Group. Gadis itu sengaja menyetir sendiri karena tidak ingin ada siapapun yang mengetahui kepergiannya untuk menemui Mutia.


Mamacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi, Kia tidak ingin sampai melewatkan waktu yang sebentar lagi mulai beranjak senja. Saat tiba di parkiran pun Kia langsung memarkir mobil secara asal lantas melangkah masuk melewati lobby kantor yang terlihat masih ramai.


"Maaf, Nona, Anda mencari siapa?" tanya salah satu pegawai baru yang bertugas menyambut setiap tamu yang datang ke kantor. Wanita berusia sekitar tiga puluh tahun itu menatap penampilan Kia dengan penuh tanda tanya.


Siapa gadis ini? Apa tamu Tuan Haidar? bisik pegawai itu memastikan.


"Kamu nggak kenal siapa aku?!" tanya Kia dengan sorot mata tidak terima. Padahal dulu Kia sering ke sini, tidak mungkin jika mereka tidak mengenalinya.


"Maaf, Nona, saya baru bekerja di sini," ucap pegawai tadi dengan kepala menunduk.


"Aku mau ketemu Mutia, apa dia udah pulang?" Matanya melirik ke jam yang melingkar di tangan. Seharusnya sih jam kerjanya sudah habis kalau tidak lembur.


"Oh Mutia, dia ..." Pegawai tadi baru saja ingin menjelaskan jika Mutia mungkin sebentar lagi akan keluar. Tapi belum sempat ia menyelesaikan ucapannya dari arah depan sana Mutia muncul dengan beberapa orang rekan kerjanya.


"Kia ..." Mutia menghentikan langkah tepat di depan gadis itu. Ia menatap wajah Kia yang terus menatapnya dalam diam, hingga ...


Plak!


Sebuah tamparan keras Kia hadiahkan pada pipi mulus Mutia. Gadis itu terjingkat kaget memegangi sebelah pipinya yang terasa perih.


"Kia, kenapa kamu tampar aku?" Mutia sama sekali tak mengerti kenapa tiba-tiba Kia berbuat kasar lagi padanya.


"Kamu masih tanya kenapa aku tampar kamu? Ck, dasar tak tahu malu!" Kia menyunggingkan senyum kearah gadis di depan sana. Pura-pura bodoh atau memang sengaja ingin mempermainkannya. "Puas kamu udah berhasil menjerat Kak Haidar, hahh! Dasar gadis murahan!" Ucapan Kia sontak membuat Mutia membelalakkan mata sempurna. Mutia sungguh tak percaya jika ia akan mendapatkan penghinaan seperti itu dari sahabatnya sendiri.


"Kamu sengaja 'kan deketin Kak Haidar cuka mau manfaatin dia? Kamu sengaja menggodanya agar bisa masuk ke dalam keluarga Pratama. Aku nggak nyangka Mutia ternyata kamu semurahan itu sampai menggunakan kecantikanmu buat dapetin apa yang kamu inginkan," ucap Kia dengan tuduhannya yang bertubi-tubi.

__ADS_1


"Kia, apa maksudmu? A–aku sama sekali nggak punya pikiran seperti itu." Ternyata benar yang Mutia takutkan selama ini jika orang-orang, bahkan Kia akan menganggapnya sengaja mendekati Haidar hanya untuk memanfaatkan harta kekayaan laki-laki itu.


"Jangan munafik, Mutia. Aku tahu kamu udah terima lamaran Haidar, kan?" ucap Kia dengan sorot mata tajam. Suaranya yang nyaring sontak membuat semua orang yang berada di lobby berkerumun melihatnya. "Kamu senang, kan sebentar lagi tujuanmu berhasil untuk memanfaatkan kekayaan keluarga Pratama. Kamu dan orang tuamu memang sama aja, Mutia. Mamamu pelakor, dan kamu ..." Menunjuk kearah wajah Mutia. "Kamu sekarang kamu juga pelakor!"


Plak!


Mutia masih berusaha menahan diri saat Kia terus menghinanya, memakinya, bahkan menuduhnya sebagai gadis murahan. Ia masih menghargai gadis itu agar jangan sampai melukainya. Tapi, saat Kia kembali menyebut sang mama dan berusaha menghinanya, Mutia menyerah. Gadis itu telah kehilangan akal sehatnya karena Kia terus saja menyebut Mama Naila sebagai pelakor.


"Kamu ....!" Pandangan Kia menajam kearah Mutia. Ia mengusap pipinya yang memerah bekas tamparan Mutia baru saja.


"Kamu boleh hina aku, Kia. Kamu juga boleh memakiku sepuasmu. Tapi, tolong ... jangan pernah menghina Mama karena aku nggak akan diam saja!"


"Jadi kamu nggak terima aku menyebut mamamu pelakor? Memang benar, kan pelakor! Pelakor murahan lebih tepatnya." Bukannya jera dengan satu tamparan yang sudah mendarat di pipinya. Kia justru semakin memancing kemarahan Mutia tanpa peduli seperti apa wajah gadis itu saat ini.


"Kia ...!!"


Kedua tangan gadis di depan sana sudah mengepal. Detik selanjutnya Mutia maju dan langsung menarik rambut panjang Kia dengan sangat kencang.


"Akhhh ....!" Kia memekik terkejut sekaligus kesakitan saat cengkeraman kuat tangan Mutia semakin menariknya. Beberapa helai rambut gadis itu juga sampai tercabut dari akarnya.


"Apa sakit?" Mutia terkekeh pelan. Sungguh, Kia benar-benar tidak mengenali Mutia saat ini. Bagiamana Mutia bisa jadi berubah seberani itu?


"Bukannya kamu sendiri bilang kalau aku harus berani membalas orang-orang yang udah nyakitin aku? Dan, sekarang ini yang aku lakukan ke kamu!"


"Akhhh ... sakit! Lepas, Mutia! Lepas!" pekik Kia dengan jerit kesakitan. Tapi tetap saja Mutia enggan melepaskannya.


"Kamu bilang apa, sakit?"


Bahkan semua orang yang menyaksikan aksi Mutia menatap tak percaya dengan keberanian gadis itu. Mereka hanya berbisik di belakang tanpa ada yang melerainya.

__ADS_1


"Lepas, Mutia, lepas!"


"Akhhh ....!" Tanpa pikir panjang Kia membalas perlakuan gadis itu dengan cara yang sama yaitu menarik rambut Mutia hingga mereka sama-sama mengaduh kesakitan.


Aksi saling tarik, jambak dan cakar dua gadis itu malah di jadikan tontonan asik para pegawai yang hendak melangkah pulang. Di sana mereka tidak tahu siapa yang salah dan entah siapa pula yang benar, keduanya hanya saling memaki dan terus memberikan serangan pada lawannya.


Hingga akhirnya Nina muncul dari dalam sana dan memergoki perkelahian dua gadis tadi.


"Astaga, Mutia ...! Nona Kia!!" Gadis itu memekik sendiri melihat dua gadis yang sangat ia kenal.


"Bagaimana ini?" Berpikir keras. Jika di biarkan terlalu lama pasti akan membahayakan keduanya. Nina terpaksa membalikkan tubuh lagi dan berlari memasuki lift dengan tujuan Kembali ke lantai paling atas.


Tidak peduli dengan pegawai lain yang sempat berpapasan dengannya atau menatapnya dengan penuh tanda tanya. Nina hanya ingin segera sampai di ruangan milik Haidar dan segera menyampaikan kabar jika di bawah sana sedang terjadi ...


Brakkk!


Pintu ruangan itu terpaksa Nina dorong dengan sangat keras. Hingga sang pemilik di dalam sana terkejut dan langsung bangkit melihat pegawai yang masuk dengan sangat terburu-buru.


"Nina, ada apa?" tanya laki-laki itu dengan raut wajah bingung.


"Hei, ada apa?"


"Di bawah, Tuan. Di bawah!" ucap Nina dengan suara yang masih tersendat.


"Di bawah? Memangnya ada apa bawah?" tanya laki-laki itu tidak mengerti.


"Mutia, Tuan, Mutia!"


"Mutia? Ada apa dengan Mutia?"

__ADS_1


__ADS_2