Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
104. Kondangan


__ADS_3

Mungkin satusku memang kacung rumahan saja di kondangan. Tapi telah kusulap jiwa raga ini agar orang yang melihat pun tak sempat berfikir siapa diriku. Hanya kesan pesona dan terpana sajalah yang kuharap dari tiap pandangan mereka padaku. Terserah jika setelah berlalu mereka akan diskusi siapa diriku.


Begitu pun sekarang, meski tanpa gandeng tangan, aku dan Juan mungkin nampak sebagai pasangan yang sayang jika dilewatkan. Juan memang gagah, tampan, dan terpandang. Tapi akan kucipta kesan, bahwa Juan juga sangat beruntung jika bersanding denganku.


Melangkah tegak dan anggun dengan senyum menuju gedung, sungguh tak serupa isi hatiku. Resah sedihku kian parah saja kurasa. Alunan lagu dari mega sound speaker demi kemeriahan pesta nikahan ini begitu gencar kudengar. Aku yang memang suka lirik lagu, semakin sensitif saja sekarang. Sejak rasa rindu-cinta hatiku yang kalap pada si garang.


Aaaah...,sebak..sebak..sebak.. Lagu yang baru ditukar putar ini, sangat sedih kudengarkan. Lagu punya band senior Westlife, Nothing's Gonna Change My Love For You. Lagu barat paling romantis dan sedih sepanjang masa.. Serasa ini adalah Garrick yang sedang bernyanyi untukku dengan suara khas miliknya. Duh..Garjuuu.. Lihatlah,demimu,aku begitu tegar datang ke pestamu!


Dug..dug..dug...Sedih ini telah bercampur dengan debar di dada. Juan dan aku telah melewati pintu masuk ke dalam mega aula. Tamu yang masuk sedang tak ramai. Hanya tiga orang yang jauh di depanku. Dan mereka kini sedang bersalaman.


Aahh...,pak David, istrinya, Garrick, Anggun, Ibu tiri, Daehan dan Zayn kini telah memandang padaku dan Juan. Tak bisa kubaca ekspresi di wajah mereka masing-masing. Aku sibuk menata diri dan hatiku.


"Mas Juan.." Pelan kupanggil Juan.


"El, kenapa, kau okey?" Juan bertanya padaku, mungkin dia heran dengan langkahku yang melambat. Dan Juan telah berhenti melangkah sepertiku.


"Sedikit nervous, aku mas. Boss Garrick hanya mengundangku. Teman-temanku tidak. Jadi mas Juan, jangan jauh dariku!" Kubisik dekat dan rapat di daun telinga lebar Juan. High heels yang melekat cantik di kaki indahku ini sungguh sangat berguna di saat yang tepat.

__ADS_1


"Tidak, El. Aku selalu menunggumu. Nomerku masih kau blokir, bukalah. Aku sudah denganmu, tak mungkin kutinggal. Ayo, kita hampiri mereka." Trims, Juan...Mungkin hatiku tengah jahat padamu.


Saat Juan berganti bisik padaku. Mata ini bertemu pandang sekilas dengan mereka. Pak David memandangku berkerut sama hal dengan pandangan sang istri. Garrick..., ah tatapan yang lama tak kulihat, tatap berkilat dan horor. Kukeraskan hatiku...


Anggun, seperti inginku..Tatapan resah, tajam memicing padaku. Dengan bibir yang selalu digigitnya saat sakit. Meski wajah itu telah tertutup make up tebal yang luar biasa memukau, jelas kulihat kejutnya. Ayo Anggun, Shocklah dengan apa yang kau lihat. Telah kuberi kejutan yang luar biasa untukmu!


Ibu tiri, samar senyum di wajahnya. Daehan...seperti biasa, bocil itu menatap tanpa ekspresi padaku. Meski begitu, mungkin kepala bocil itu sedang rapat direksi di balik wajah datarnya. Daehan sering memberi kejutan dengan mulutnya.


Zayn..Bocah sableng yang baik, siap manangkap mataku dengan senyumnya. Tapi senyum itu terlihat kaku untukku. Mungkin Zayn juga terkejut dengan kedatanganku bersama Juan.


Tamu di belakang menumpuk..Juan segera menyudahi obrolannya. Kini pak David nanar menatapku. Resah cemas dan ragu untuk tidak mengulur tangan padanya kutepis. Ada banyak orang di belakang, jika tak kusambut, rasanya tak etis. Kini tanganku disalam erat pak David. Resah cemas raguku terjawab. Dalam jabat tangan singkat kami, pak David telah berhasil meremas gatal tanganku. Geli mual rasanya.... Kutahan, Garju..ini pun demimu..


Istri pak David menyalam tanganku dan tersenyum. Kurasa Anggun tak mengadu apapun pada ibunya kali ini. Kami saling mengangguk dan aku bergeser...


Dan inilah, serasa kepalaku tiba-tiba mengosong. Rindu-cintaku telah menghampar di depanku. Meski kini tatap matanya tajam padaku, tak kupeduli. Kubalas tatap sayu debar rinduku. Mata coklat itu meredup, menyambut tanganku yang mendingin. Ah..,tangannya juga tak kalah dingin dariku. Kami bersalam bergenggaman. Garrick menggenggamku sangat erat. Aku pun begitu. Tangan ini seperti saling ingin menghangatkan.


"El..!" Aku dan Garrick saling sadar. Kami menarik tangan masing-masing. Juan memanggilku.

__ADS_1


Ah, rival.., pandangilah aku sepuasmu sampai sakit di matamu! Anggun sangat tajam menatap. Matanya menyambar jemariku yang sengaja kulihatkan sambil berkalung tas cantik di tangan. Mata Anggun pasti paham dengan berlian di cincinku.


Kulewatinya dengan senyuman sinisku. Kini ibu tiri memberi salam hangat tangannya.


"Terimakasih datangmu, El." Oh, ibu tiri sangat ramah padaku.


"Sama-sama nyonya.." Kubalas lebih hangat sapanya.


Daehan sangat kuat menyalamiku dengan telapak tanggungnya.


"Kau menyakiti hati abangku, El..!" Maak! Si bocil berseru lirih memandang tajam mataku. Ah, bocil..Abang yang mana maksudmu? Zayn?


"Maafkan aku, Daehan. Aku tak sengaja." Kubisik lirih dengan bungkuk sedikit, di punggung. Aku tak ingin bocil itu menjadi salah paham. Bocil itu mengangguk dengan wajah cerah polosnya. Dan kembali kubergeser.


"Zayn.." Bocah baik di hadapanku ini kusapa baik-baik.


"Kau bilang tak datang. Siapa dia,El? Kupikir setelah abangku menikah, tak ada lagi sainganku..." Zayn agak tak ramah padaku. Dia berkata dengan suara yang datar sambil melirik ke Juan. Ah..Zayn, apa ternyata kau memang sudah tahu tentangku dan abangmu?!

__ADS_1


__ADS_2