Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
50. Layani Aku


__ADS_3

Himpitan tubuh Garrick yang memepet di kursi, membuatku terasa terjepit di jiwa. Debar hadir di dada, sungguh tak nyaman ku rasa. Hati yang bergemuruh tiba-tiba, juga susah ku tepikan.


"Apa yang dikata Juan di resto semuanya benar, tuanku!" Ku jawab cukup keras pertanyaan lembut tuan garang padaku. Berharap menyamarkan debar dada yang susah payah ku tutupi.


Deg! Bukan hanya jiwaku. Ragaku pun mulai tak beres saat tangan Garrick berada di atas bahuku. Aku akan berdiri untuk membebaskan rasa sesak di jiwa. Tapi Garrick menahan gerakku dan menarik kembali bahuku.


"Lalu?" Garrick kembali bertanya. Ah, bagaimana ku jawab, tangan di bahuku itu, seperti juga kian memberati suaraku. Apa yang terjadi..., sewajarnya aku menolak tidak terima. Tapi serasa tak berdaya tiba-tiba. Ish ini memalukan, akan runtuh harga diriku!


"Tuan, aku tidak nyaman duduk begini. Tolong menjauhlah, kursi ini sangat sempit." . Hanya itulah ucapan yang bisa ku bilang dari lidahku. Berharap Garrick segera pulih dari sikap anehnya, entah apa lagi yang sedang merasuki tuan garangku kali ini. Tapi, tangan besar Garrick justru lebih menahanku, memegang kian rapat bahu kecilku. Meski tak sakit, tapi seperti akan meremukkan tulang bahuku. Mengingatkan pada cengkeraman Garrick saat di Panbill waktu itu.


"Istilah kasarnya, Ibu mungkin memang menjualku, mendapat kebebasan namun dengan jaminan Juan menikahiku." Mulutku kembali lancar berbicara. Tangan besar Garrick yang mematung, terpaksa ku tepis cukup kasar. Kini bukan hanya tangan, tapi tubuhnya pun telah berpindah, tak lagi bersentuhan denganku. Rasa lapang di jiwa telah kembali ku dapatkan.


"Lalu, El...Kau akan pulang?" Garrick memandangku, seperti telah lupa pada perlakuannya barusan. Lampu rooftop yang menyorot wajahnya, membuat pesona tuanku seperti sihir saja ku rasa.


"Tidak. Aku tak kan pulang. Mereka keluarga terpandang, keluarga walikota, keluarga panutan. Jika ku tolak, tak mungkin Juan melakukan kekerasan, nama keluarganya akan jadi taruhan. Sikap ayahnya begitu, pasti karena Juan." Ku pandang tuan garang yang juga terus menatapku. Seperti tak sabar menunggu bicaraku.

__ADS_1


"Lalu, El..?" Pertanyaan Garrick sangat lembut, seperti hembusan angin lalu.


"Jadi, apa tuan Garrick sudi membantuku?" Segan ku pandang wajahnya. Was-was mendapat penolakan.


"Bantuan macam apa itu, El..?" Ah, suara Garrick masih lembut saja ku dengar.


"Tolong beri saya jam kerja dan hari libur yang jelas. Agar saya tak suntuk berada di rooftop dua puluh empat jam. Itu sajalah, tuanku." Harap-harap cemas ku tunggu jawaban Garrick yang duduk di depanku. Garrick telah menyeret kursi untuk dibawa mendekat.


"Hanya itukah bantuan yang ingin kau dapat dariku, El..?" Apa maksud Garrick.. Manis sekali soalannya. Apa bermakna hamparan bantuan bisa diberinya? Ya..ya..ya..ini peluang!


"Lain-lain bagaimana, El..?" Garrick tak paham, aku pun sebenarnya tak paham.


"Jika sewaktu-waktu saya perlu bantuan lain, akan ku ajukan, boleh boss?" Garrick punya kuasa, ku rasa apa pun bantuannya, pastilah berguna!


"Ada syaratnya, El..!" Mak...Ada syaratnya pulak! Mungkin jin baik yang menempelinya sudah lelah, dan pindah rebahan di toilet!

__ADS_1


"Apa syaratnya berat, tuanku..?" Cemas-cemas ku harap..


"Bisa berat bisa tidak.." Garrick sedikit memajukan wajah dan punggungnya.


"Apa itu, tuanku..?" Ku mundurkan tubuhku hingga habis di sandaran.


"Tolak saja Juan. Jangan menikah dengannya. Kau bekerja saja padaku, terus layani aku, El.." Garrick menarik punggungnya kembali mundur. Lah..., memang itulah yang sudah ku pilih, Garrick aneh sekali!


"Siap tuanku, ikatan kerjaku denganmu masih lama, lima bulan lagi!" Ku ingatkan Garrick akan status kerjaku.


Garrick tidak menimpaliku, hanya diam saja menatapku. Belakangan, lelaki itu sering sangat menatapku. Tak lagi seperti dulu, khawatir akan juling jika melihatku...


"Boss, sepertinya akan hujan. Baiknya masuk dalam!" Ku berseru, bersaing dengan hembusan angin rooftop yang kuat. Garrick tak juga bangkit bergerak.


"Masuk saja, El..!" Garrick pun berseru. Tetap duduk bersandar tak peduli.

__ADS_1


Aku pun melangkah berlalu. Memasuki rumah rooftop dan menuju kamarku, untuk cepat tidur dan tenggelam di mimpiku. Terlalu lama bersama Garrick, membuatku merasa mati gaya!


__ADS_2