
π’π πSelamat tidur sambil baca.. Jika ada yang menunggu update dariku yang kemarin, harap maaf.. Otor dah semangat setor bab dari petang semalam. Apa daya, terjepit lagi di mesin cetaknya editor. Ingin kupalu godam saja dianya.. ya..dia.. Aku dah buru-buru setor, eh..dia santuy aja sebagai editor... Sudah dulu ya sambutanku ini. Jika banyak-banyak omdo, bukan editor saja yang akan menjontorku.. bisa-bisa kalian juga! Ha..ha..πββ€ππ
...π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’...
...πππππππππππππ...
Ini bukan lagi pura-pura, tapi memang benar-benar kura-kura. Berjalan menyusur jalan raya dengan merayap dan melambat. Bahkan kalah konsisten dari cara jalan siput dan kura-kura, yang biar lambat asal berterusan.
Tapi tidak dengan mobil mas Nino yang kami tumpangi. Sebentar berjalan, sebentar berhenti, dan cukup lama diam saja di tempatnya. Moment jalan kami ini kurang tepat. Bersamaan dengan waktunya pulang kerja. So, jalan raya jadi padat oleh kendaraan pekerja yang pulang. Serba macet di mana-mana.
Bahkan di jam ini, mogok macet akan merambah hingga ke gang kelinci sekalipun. Namun, para penggemar jalan tikus pasti tetap saja berusaha mendapatkan pantang mundur.
Rasanya lama-lama mengantuk. Kurasa mas Nino lebih juga suntuk lagi dariku. Lelaki itu menghidupkan tape dan memutar USB lagu di audio mobilnya. Seketika suara serak khas Charly Van Houten menghangatkan seisi dalam mobil.
"Ngantuk ya, El? Tidur saja, nanti kubangunkan saat sampai.." Suara bass mas Nino bersaing dengan suara serak seksi mas Charly. Hi..hi..hi...
"Memang ngantuk, mas. Tapi nggak bisa tidur." Andai tidur, nggak tahu diri banget diriku.
"Orderan kali ini banyak banget, El. Tadi ibumu bilang jadi berlipat, betul...?" Tangan mas Nino meraih tape dan menekan, suara mas Charly jadi lirih terdengar.
"Iya, mas. Semua nasi kotak ini masih orderan milik mas Armand ." Ini kesempatanku untuk ngomong.
"Emm... Mas Nino, ada pesan dari mas Armand. Dia kata, kita nggak boleh datang ke area proyek bersamaan. Bossnya nggak ngebolehin ada orang luar memasuki area bangunan. Aku sudah biasa masuk ke sana bersama langganan GoCarku. Jadi, mas Nino jangan menjemputku untuk mengantar nasi kotak lagi, ya. Kasihan mas Armand jika dimarah bossnya karena kita." Pelan dan hati-hati kubicarakan ini dengannya. Tidak ingin membuat rasa tersinggung di hati.
Lelaki yang tengah mengelus kemudi itu nampak berkernyit di dahi. Mungkin dia tak habis pikir juga sepertiku. Peraturan aneh dan tak lazim menurutku.
"Aneh sekali peraturan bosnya Armand itu, El. Untuk orang asing yang dilarang masuk ke area proyek, itu memang wajar. Biasanya begitu, aku paham. Sebab di sekeliling proyek bangunan itu telah dipasang pagar dan besi seng tinggi yang tertutup. Tak boleh dimasuki orang luar. Tapi aku kan datangnya bersama kamu. Kenapa Armand tak bilang saja kalo aku ini orangmu, El..." Eh..Lelaki yang biasa bicara dengan tenang dan hangat itu, kini ada nada emosi yang samar pada suaranya.
"Iya juga, mas. Tapi ya kita nggak tau juga tujuan orang. Hati orang itu nggak sama. Ya, mas Nino kalo ingin jumpa mas Armand janjian saja dulu. Hari itu, mas Armand sudah pesan sama mas Nino juga, kan?" Kurasa susah juga berbicara dengan orang terhormat seperti mas Nino. Serba salah, banyak bicara bisa dipikir lancang dan sok pintar. Tak bicara, akan dikiranya kalo perasaanku ini sedang sangat gembira dan suka.
"Bukan Armand yang sedang ingin kutemui, El. Tapi kamu..." Eh...Nah kan..kan..Benar kan..
"Kita kan sudah sepakat berkawan, mas. Ya, tidak apa-apa jika mas Nino berkunjung ke rumahku. Tidak harus mengantarku ke proyek..." Lampu hijau sajalah kubilang pada mas Nino. Cari aman bersama. Membolehkan datang ke rumah sebagai teman biasa, bukan teman kencan!
"Apa aku boleh datang sewaktu-waktu, El? Sebab, aku tak tahu dengan waktu luangku. Ini pun karena hari minggu, klinikku tak buka. Sedang pagi hingga sore, ada piket di rumah sakit Saiful Anwar." Pertanyaan mas Nino mengandung harapan dan nada keluhan.
__ADS_1
"Emm..., mas Nino hubungi aku dulu saja. Soalnya jam terbang ibuku tinggi. Tugasku mengantar semua pesanan ke pelanggan ibuku." Dagu mas Nino manggut-manggut. Mungkin dia memang sudah mengerti.
...π’π’π’...
Dengan wajah menegang, mas Armand mengawasi sepuluh anak buahnya yang sedang mengangkut nasi kotak dari mobil mas Nino. Baru kali ini mas Armand tidak mau membantu. Apa mas Armand sangat marah padaku?
"Ar, sorry. Kupastikan ini kali terakhir aku mengantarnya." Ini kalimat pertama dari mas Nino yang kudengar.
Semenjak kami memasuki area dalam proyek, mas Armand hanya diam dengan pandangan dan sikap serba salah pada kami. Mas Nino pun begitu, dokter muda itu terkesan mengabaikan mas Armand. Keduanya saling bungkam.
"Kau, menyulitkanku, No.." Sahutan mas Armand yang lirih itu terkesan sudah pasrah pada kedatangan kami.
"Sorry, Ar..." Mas Nino minta maaf namun wajahnya datar saja. Seperti tetap merasa ini bukan kesalahan. Kurasa memang bukan kesalahan. Hanya janjiku pada mas Armandlah yang membuatku merasa bersalah.
...π’π’π’π’π’...
Telah pukul dua belas malam kurang sedikit menit. Merebahkan tubuh lelah di atas busa kasur empuk di kamarku. Berpeluk guling dengan selimut tebal dan lembut. Sungguh nyaman kurasakan.
Seperti sebelumnya, malam ini mas Nino kembali mengantarku lambat pulang. Dokter muda itu mengajak pergi ke tempat favoritku, alun-alun wisata kota Batu.
Selain bermacam hiburan, hamparan kreasi kuliner juga berderet dan berlomba memikat pengunjung yang berkeliling di luar pagar alun-alun.
Rasa gembira memang ada, tapi tidak sepenuhnya kurasakan. Siapa lagi orang yang selalu meneror hatiku selain dia. Ya...Garrick Julian yang jauh di sana. Garju..!
Rasa bersalah terus ada tiap aku diajak jalan oleh mas Nino. Pesan terakhir Garju padaku, agar aku tak menikung dan selingkuh, seperti hantu yang selalu menerorku. Tapi terus kutepis dengan rasa dongkolku padanya. Lagipula, aku dan mas Nino bukanlah siapa-siapa. Tak ada hubungan apapun diantara kami, hanya berteman.
Bunyi pesan di ponselku telah memecah sunyi malam. Sangat sigap kusambar. Rasa mengantuk sebab lamunan panjang, telah hilang tak tersisa. Penuh harap bahwa si pengirim pesan adalah dia. Aaaah...Benar. Nama pengirim pesan ini adalah nama yang telah kurindu siang malam. Dan mulai kubaca..Deg...deg..deg...Ah, dadaku...
*Di mana?* Ah... sebak senang hatiku. Garju tak pernah bertanya begini padaku.
*Di kamarku.* Senyum berdebar kutunggu balasnya.
*Hari ini minggu. Kau pergi keluar?" Deg...bagaimana harus kubalas.. Ini pertama kalinya dia kepo padaku.
*Iya. Mengantar orderan milik ibuku.* Apa dia akan bertanya lagi... Ah, janganlah berhenti membalas...
__ADS_1
*Habis itu ke mana?* Deg.. perlukah aku jujur..
*Alun-alun, hanya sebentar.* Ah... Gentar juga jika dia terus bertanya. Tapi, setelah lewat berbulan, baru kali ini dia perhatian...
*Dengan siapa?* Duh..ini nih...
*Teman...* Aku tak kuasa berbohong.
*Lelaki atau perempuan?* Duh..mak!
*Lelaki. Hanya teman, bukan siapa-siapa..* Ah, aku jadi panik sendiri. Kenapa tadi tak bohong saja... Ah, terlanjur.
*Zayn..Juan...Anthony Lung..Apa bagimu mereka bukan teman?* Deg...Auh.. Tajam sekali Garju menyelidikku.
*Lalu, apa yang harus ku sebut?* Garju..kau jangan marah, teruslah balas pesan ini..
*Bagaimana perasaanmu?* Ah, kesempatanku merayunya.
*Perasaanku...? Aku sedang merindukanmu.* Deg...berdebar sendiri sebab pernyataan nekatku. Oh, cepat dibalasnya.
*Betulkah? Tapi kau bisa pergi bersama teman kelakimu dengan mudah. Sedang aku..Aku jauh lebih tersiksa merindukanmu, kau tahu?* Auw..auw..Ah, apakah pesan ini benar- benar Garju yang menulis. Seperti mendapat oasis di padang pasir saja rasanya.
*Cepatlah menyusulku. Kenapa sangat lama?* Berdebar...Apa dia akan menyuruhku sabar lagi...
*Sebentar lagi. Bersabarlah, El..* Ah,benar.. Tapi jika begini, tentu jadi sewindu kutunggu dengan sabar.
*Aku tidak sabar* Ha...Bagaimana reaksi wajahmu saat ini Garju? Beberapa menit..tak ada balasan. Ah, mungkin akan kembali digantungnya. Tapi tak mengapa, percakapan ini sudah cukup dan mampu meyakinkan hatiku kembali. Eh..pesan masuk..
*Apa di rumahmu tak ada mobil?* Pertanyaan apa ini..
*Tak ada garasi. Rumahku tak ada halaman. Motor pun susah masuk.* Memang inilah alasan utamanya. Bahkan, motor matic yang kutinggal ke Batam, telah dibawa sepupuku. Ibu kata, menghalangi jalan saja.
*Apa rumahmu sangat kecil, El..?* Rumahku ini mungkin sangat kecil dan tanpa makna baginya.
*Iya...* Rumah Garju selalu super besar di mana-mana.
__ADS_1
*Bersabarlah. Tidurlah.* Sudah...? Ingin terus.. Tapi status punyanya sudah offline. Ah..Garju..Sebentar lagi saja kenapa.. Kau selalu menarik ulur perasaanku. Saling balas pesan ini bukannya sembuh rinduku, tapi malah semakin menebal saja kurasakan.