
"Tolong ambil piring, El.." Di meja sudah menunggu ragam makanan yang menggoda. Kali ini Garrick memerintahku dengan kata kunci 'tolong'nya. Kubayangkan andai dia menghardikku.. Apakah aku akan sakit hati..? Mungkin..
"Iya..." Entah didengarnya atau tidak, kakiku sudah jauh berlalu menuju ke dapur.
Kuambil piring, garpu dan sendok masing-masing tiga sekalian. Aku tak ingin bolak-balik mengambil. Ini sudah larut, cepat makan cepat tidur.
Deg, augh..! Piring sendok garpu di tangan hampir jatuh. Garrick yang telah berdiri di belakangku, begitu mengejutku saat aku berbalik. Pria rupawan yang belakangan kurindu setengah ketan, kini telah menjulang tegak di depanku.
Mata coklat pekat yang biasa tajam berkilat menatap, sangat sayu menatapku. Kupandang juga matanya dengan degup laju jantungku. Kami berpandangan sangat dalam, serasa saling tarik dan menyeret menghanyutkan. Saling pandang ini membuat jantungku berdebaran melaju.
"El.." Garrick menyebut namaku sambil mengambil sendok garpu piring dari peganganku dan diletakkannya di atas meja dapur.
__ADS_1
"El, aku ingin memelukmu sebentar, boleh?" Garrick sangat pelan bersuara, malam sangat sunyi, jadi radarku mendengar. Mendapat tanya lirihnya, lidah ini seperti kaku beku dan membuatku jadi patung yang bisu.
"El.." Bibir tegas merahnya kembali bergerak menyebutku. Seperti tersihir, aku telah menganggukkan kepalaku ragu-ragu. Ini hanyalah dipeluk.. saat merindunya pun, inginku hanya bertemu dan dipeluk, memeluk, dan saling berpeluk meluah rindu.Oh Garjuuu..
Ah..Garrick telah memelukku. Rasanya hangat. Tubuhnya empuk tapi keras dan padat. Baunya harum bukan parfum, tapi wangi sabun. Garrick mengambil tanganku yang kaku untuk dilingkarkan di punggungnya. Kuturuti, aku telah memeluk punggungnya.
Garrick semakin menempelkan tubuh dan pelukannya semakin ketat, aku pun menirunya. Kami saling memeluk sangat erat dan saling mengetat. Kini sedang kurasakan semua bagian tubuhnya, mungkin diapun juga tengah merasakan apapun tubuhku. Jangan ditanya..rasanya begitu panas seperti terbakar dan tak sadar.
Ada rasa khawatir dan enggan jika pelukan ini akan melepas. Meski yang kuharap kembali bersatu itu hanyalah tinggal bersama beberapa hari di bawah atap Garju. Dan bukanlah menyatu seperti macam ini, tapi jika begini rasanya...seperti enggan melepaskan.
Garrick sama sekali tak merenggang sedikitpun saat kutolak pelan pinggangnya. Malah sebaliknya, terus memeluk seperti akan dimasukkannya aku ke dalam dirinya.
__ADS_1
"El.." Garrick menyebutku dengan serak, tanpa melonggarkan pelukannya padaku.
"Iyaaa..." Terengah kujawab. Kubenamkan lagi wajahku di dada bahunya. Ah..sebentar saja begini... Kuhirup nafasku dari wangi tubuhnya dalam-dalam..Garrick...
"Terimmakasih, El. Kau berikan pelukanmu. Kau biarkan aku menyentuhmu begini. Terimakasih, El." Garrick terus memelukku sangat lekat. Hingga aku semakin yakin dan mengerti, bagaimana tubuh lelaki bereaksi..
"El.., maafkan aku. Mungkin aku adalah lelaki paling pengecut untukmu. Aku telah putus asa dengan penolakanmu waktu itu padaku. Kupikir aku sama dengan lelaki lain bagimu. Tak bisa memilikimu. Tapi ternyata kau seperti ini. Maafkan aku, El.." Garrick semakin memelukku, suaranya begitu parau.
"El...Semenyesal apapun, sesakit apapun. Aku tak bisa mundur lagi. Bagi kami..antara aku dan keluarga om David, ucapan setujuku yang juga sekali kukatakan itu, adalah janjiku juga pada mereka. Janji lelaki, El.. Aku tak bisa membatalkan sesukaku. Dan aku juga telah mendatangi makam ayahku. Aku seperti terlanjur janji akan menepati perjodohannya. Maafkan aku, El.." Sangat sedih kudengar Garrick yang terus berbicara serak seperti itu. Kinilah aku yang kembali memeluk tubuhnya sangat erat. Telah putus asa dan tak akan mungkin akan memiliki. Garrick telah sangat jelas mengatakannya.
"El.. Berdoalah akan ada keajaiban. Akan ada keajaiban jodoh yang menghampiri kita kemudian. Kuasa Tuhan tak ada yang mengira dan tahu..Apa kau mau menerimaku..El?, " Kami terus saling memeluk dengan erat. Hatiku sesak..sedih.. sepertinya aku akan menangis...Maukah, aku..?
__ADS_1
Ceklek..!
Deg..deg..deg... Aku dan Garrick bersamaan saling merenggang dan menjauh, melepas pelukan. Garrick dengan sigap menyambar piring dengan sendok garbu di atasnya.. Aku..,aku apa.. Ah..,kusambar saja gelas dan tutup.. Uh..Zayn telah membuka pintu dan keluar dari dalam kamar Garrick!