Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
112. Dokter Nino


__ADS_3

Rumahku terletak di pertigaan jalan Kacuk, kota Malang. Rumah ibuku tidak kecil. Bergaya rumah belanda, namun terawat dan jauh dari kesan kata usang. Semasa ayah hidup, beliau telah merenovasinya beberapa kali. Dan itulah hasil kreasi ayahku, rumah modern bernuansa Belanda.


Tapi bukannya orang tuaku dari golongan keluarga kaya. Itu hanya rumah turunan. Buyutku dulu berdarah pribumi, dan Belanda.Lalu dinikahi lelaki Jepang. Lahirlah nenekku yang bungsu. Lalu lahirlah ibuku, bungsu juga. Terakhir, dirikulah si bungsu yang ada saat ini.


Itulah, rasanya berat jika aku menikah dan suami membawaku keluar dari rumah. Sedang kakakku, mbak Salsa sudah menetap dan punya rumah sendiri di Jakarta. Suaminya seorang pengusaha pertamina.


Aku suka dengan rumah ortuku. Sayangnya... Rumah ibuku tanpa halaman di depan, tidak seperti kebanyakan rumah Belanda yang punya halaman cukup luas di depan.


Entah kenapa kesalahan bangunan itu seolah jadi pilihan, justru halaman luas itu terletak di belakang rumah ibu. Apakah karena dulu demi menyamarkan suatu pergerakan perjuangan di jaman penjajahan? Ah, entahlah..Yang jelas di kota Malang sangat banyak berteberan rumah bergaya Belanda.


Mobil ini berhenti tepat di depan pagar rumah ibuku. Tapi dokter Nino tak juga membebaskanku. Pintu mobil masih tetap disegelnya.


"Inikah rumahmu, Elsi?" Dokter Nino mengamati rumah ibu dengan pandangan melewatiku.


"Iya, dok. Betul, rumah ortuku tepatnya." Aku juga memandang rumahku yang lengang namun terlihat terang benderang. Pertanda ibuku belum tidur.


"Rumahmu nampaknya asyik, El. Sayang sudah sangat malam......" Suara dokter Nino terdengar menggantung saat bicara.


"Iya, dok. Hampir tengah malam. Emm.. Terimakasih ya, dokter Nino telah berbaik hati mengangkutku. Jika tidak....Eng..Jujur saya tadi sedang panik, dok." Dokter Nino nampak mengangguk satu kali. Lalu memandangku.


"Elsi, apakah kita bisa berteman? Jika aku sedang lewat, boleh nggak aku mampir?" Pertanyaan ini terdengar serius dikatakannya. Masak kubilang tak boleh pada orang yang telah berjasa padaku? Kepalaku mengangguk juga satu kali padanya.


"Boleh saja kok dok, mampir saja jika lewat.." Keramahan kutanamkan pada siapapun. Selama orang itu masih batas wajar dan menghormatiku.


"Terimakasih, Elsi. Senang mengenalmu!" Setelah habis berkata, Dokter Nino membuka pintu dan melompat. Akupun gegas membuka pintu sendiri dan turun dengan cepat. Tak ingin dokter Nino bersikap lebih manis lagi padaku.


Dokter Nino memandangku sambil mengangkat alis panjangnya saat menjumpaiku sudah tegak di luar sambil senyum. Lalu menjepit dan menarik dua sisi lubang hidung yang tanpa ingus sedikitpun.


"Oke, dokter Nino. Terimakasih sudah selamat mengantarku. Terimakasih juga obat ini." Kuangguk kepalaku sedikit sambil geser kaki memegang pagar rumahku. Tapi Dokter Nino tak juga pergi masuk ke mobilnya.


"Masuklah dulu, Elsi. Ini tengah malam, agak rawan." Itulah ucapan Dokter Nino yang terakhir padaku. Aku hanya mengangguk lagi dan tersenyum.


Kupencet bell pagar rumahku. Mungkin saat ibuku membuka pintu dan pagar nanti, akan tercipta drama sama kembali seperti yang sering terjadi saat dulu.


Ibuku nampak membuka pintu rumah, dan keluar membuka pagar. Benar yang kusangka.


"Siapa, Si..?" Ibuku berbisik curiga sambil matanya nanar menatap dokter Nino. Kami berdiri di dalam batas pagar.

__ADS_1


"Dokter gigi di klinik, buk. Aku tak sengaja menumpang. Tak jumpa ojek." Kuberkata biasa pada ibuku. Mungkin dokter Nino pun mendengar.


"Suruh duduk dulu dong, Si. Buatkan teh, ada banyak kue cucur di belakang." Benar, ibuku mulai lupa akan sikon.


"Sudah malam, buk. Nggak sopan. Ibuk mau disamperi satpol ****?!" Kuberseru lirih pada ibuku.


Ah, aura ibuku yang biasa muncul kala dulu, mulai nampak keluar di mukanya. Dengan senyum ramah di wajah, ibuku mendekati dokter Nino di pagar.


"Selamat malam bu..Nama saya Nino..Maaf, saya tadi memeriksanya paling akhir, jadi pulangnya sangat lambat." sapaan dokter Nino begitu hangat pada ibuku.


"Eeeh..Ora opo-opo mas. Terimakasih lhoo.. Wes mengantar pulang anak gadisku ini. Sering-sering pun yo boleh, jika dokter Nino ndak keberatan lho yaa...." Hemmh..Itulah kalimat sksd ibuku yang terakhir kali kudengar. Kutinggalkan ibuku diluar, melanjutkan perbincangan. Sangat risih kurasa mendengar obrolan Ibuku yang kelewat ramah dengan orang yang baru kukenal malam ini.


🐢🐢🐢🐢🐢🐢


*Boss Garrick, apa kabarmu hari ini? Sebenarnya hubungan kita ini bagaimana? Aku ingin kejelasan lagi.... Sebenarnya jadi tidak menyusulku, kapan?*


Itu adalah bunyi pesan yang kukirim di malam-malam buta semalam, sehabis pulang dari klinik gigi dan berakhir diantar dokter Nino. Nekat kukirim pesan lagi untuknya. Sebab, kemungkinan aku akan berhadapan lagi dengan lelaki yang ingin lebih dekat denganku. Jadi, aku butuh kepastian dan dukungan darinya.


*Tolong bersabar dulu ya, El..*


Jika dia selalu begitu, bisa saja janji hati untuk menunggunya hingga sewindu, akan goyah dan kugoyang kapan saja. Bukankah kata-katanya itu berkesan hanya aku yang mengejarnya? Sepertinya dia sama sekali tak merasa rindu padaku. Aku mampu saja bersabar menunggu, tapi kan harus saling menguatkan, dan bukan begini caranya...


Namun sangat susah kurasa.., aku tetap rinduu.. Dan juga, aku tetap saja merasa cinta!


Buta karena cinta itu tengah jatuh menghantamku. Sebenarnya, apa maksud kamu Garjuuuu?! Kapan kamu membuatku bahagia, yang katamu susah senang pun bersama?!


Tok..! Tok..!Tok...! Tok..!Tok..! Tok..!


"Iya Buuuuuk!!! Sebentar..! Sholat dulu..!!" Kuseru pada ibuku sebelum dia menyeruku. Memang beginilah aku. Sedikit semauku. Tapi sekarang ini jauh lebih baik. Ibuku jauh lebih bersabar padaku. Sedang aku juga jauh lebih tunduk pada ibu. Perpisahan kami yang hampir setengah tahun itu membuat kami jadi saling menghargai. Dulu sangat sering aku bersitegang dengan ibu..Hu..hu..hu..


Ceklek..!!


"Si.., dokter Nino wes nunggu.. GoCar langganan wis tak suruh mbalik. Malam iki dokter iku yang mengantarmu. Semua kotak nasi wis ditatakan di mobil. Cepetan sitik, Si.. !"


Auww...Oh, ibukuuu, kagetnya aku! Ibuku bicara pelan menyambutku saat aku baru saja keluar dari kamar. Ah, jika begini, mana bisa kutolak. Tak mungkin juga kusuruh ibu sendiri yang mengantar. Teman dokter Nino kan aku, bukan ibu. Meski sebetulnya aku tahu, dokter Nino sedang mendekatiku lewat ibu.


🐢🐢🐢🐢🐢

__ADS_1


"Jauh juga tempatmu mengantar nasi kotak ya, El..?" Dokter Nino telah memarkirkan mobil di tempat biasa GoCarku menyandar. Kami berdiri di depan bagasi yang telah dibukanya. Mengahadap nasi kotak yang sangat banyak disusun.


"Iya, dok. Tapi lumayan. Mas Armand setuju saja dengan harga nasi kotak yang kupasang. Rezeki dok, jauh pun kukejar.." Dokter tampan itu tersenyum bersamaan denganku.


"Betul juga itu, Elsi. Sambil jalan-jalan, kan?" Kuangguk kepalaku, dia sedang menolehku.


"Sayang aku terlanjur buka praktik. Kalo tidak, aku bersedia jadi GoCarmu saja, El..." Dokter Nino tertawa setelah bicara, akupun juga. Kami tertawa-tawa kecil bersamaan.


"Ehemm..!!!" Sebuah dehem besar lelaki tetiba mengejutkanku. Aku dan dokter Nino berbalik badan bersamaan.


Oh..Mas Armand..Tapi tatapan mas Armand terkesan tajam padaku. Dan..tiba-tiba ekspresinya berubah setelah menatap dokter Nino cukup lama. Bahkan mas Armand dan dokter Nino saling tuding telunjuk bersamaan. Mereka sama-sama sedang tersenyum lebar menganga sekarang.


"Haih..Nino!!"


"Yaaah ..Armand!!"


Heemmh, kini keduanya tengah saling peluk dan tepuk bahu bersamaan. Aku sedang diacuhkan sekarang,,,tapi rasanya sungguh senang melihat dua lelaki melepas rindu..mereka terlihat lucu.


"Kau ini ya, Armand. Diam-diam menyimpan kartu praktikku ...tapi tak mau mencariku. Sombong kau ya..!!" Dokter itu menyerukan protesnya.


"Sorry, No..! Boss pusat ingin proyek ini cepat rampung..!" Mas Armand menepuk lagi bahu dokter Nino. Tapi mata mas Armand memandangku agak aneh.


Ah, mungkin mas Armand paham isi hatiku, aku tak ingin proyek ini cepat-cepat berakhir. Proyek pembangunan ini kan sumber aliran uangku yang hebat..


Mas Armand, dokter Nino, dan lima orang pekerja bangunan, bahu membahu membantuku mengeluarkan kotak nasi dari mobil dokter Nino. Lalu di bawa ke bagian dalam bangunan yang telah setengah jadi untuk mereka makan bersama.


Mas Armand nampak sangat sibuk. Dokter Nino memahami, dia mengajakku untuk segera pamit undur diri. Aku pun setuju, memang aku juga tak pernah lama-lama. Selain semua pekerja proyek adalah lelaki, mas Armand pun tak pernah lambat mengulur pembayaran padaku. Mas mandor yang baik itu seperti tidak suka jika aku tak segera undur diri dari sana.


"Nino!" Mas Armand menghampiri dokter Nino di jendela mobil.


"Ada apa, Ar?" Dokter Nino lebih menurunkan lagi kaca jendela di samping. Sedikit melongokkan kepala keluar.


"Aku akan menemuimu lain kali. Tapi bukan di sini. Maaf ya, No. Saat ini aku sangat sibuk..!" Raut mas Armand terlihat serba salah.


"Betul, Ar.. Kutunggu kabar darimu di nomorku yang tadi!" Mas Armand mengangguk sambil mundur menepi. Mereka berlambai tangan kemudian.


Mas Armand terus memandang kami dengan tatapan yang janggal. Seperti sedang ada yang tengah dipikirnya tentang kami. Mas Armand terus saja berdiri melepas kepergian kami dari pelataran proyeknya. Mas Armand kenapa, bukankah dia kata banyak kerja? Harusnya tak ada waktu baginya, untuk berdiri dan mematung..

__ADS_1


__ADS_2