
Tok...! Tok..! Tok..!
Kejutku pada ketukan di pintu, mengalahkan rasa kejut saat terpeleset di perjalanan jiwa yang menuju alam mimpi. Ketukan itu kupastikan dari Zayn, telah kuhafal akan cara bocah sableng itu memukul pintu di kamarku.
Harap maklum kuberikan, mungkin Zayn tak paham jadwal cuti kacung di rumahnya. Tapi tetap enggan kubuka dua mata. Tetap saja berpeluk erat dengan guling di tangan dan kaki.
Tok..! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!
Gedoran kali ini semakin yakin, yang se.dang berdiri di balik pintu kamar adalah Zayn, si puber calon dokter. Dari jurusan yang dipilih, harusnya Zayn paham, umur berapa saja dapat puber. Apa puber pertamanya datang lambat? Atau puber keduanya sampai sangat cepat? Apapun, kelakuan Zayn sangatlah menggangguku!
"El..! Bangun, El! Buka..! Sebentar!" Duh, Maak! Jika berisik begini, sangat meresahkan. Suara kecil pun, di hening malam begini, tentu lebih bising terdengar.
Ku buru pintu bergegas, lebih dari pegas yang di tekan lalu dilepas. Begitulah jalan kakiku yang sedang menuju pintu.
Ceklek!
Orang yang ku tebak, dan memang dialah yang ada. Nampak di antara celah pintu, Zayn sedang berdiri menatapku. Bocah setampang oppa korea itu semakin tampan dan cool di remang teras kamarku. Teras ini telah kubiarkan tanpa lampu.
__ADS_1
"El..."
"Zayn, ini sudah malam. Besok saja bicara!" Kupotong lanjutan ucapan Zayn dengan teguran tegasku.
"El, sebentar saja. Besok aku ada acara dengan orang di Sekupang.." Seperti gaya biasanya, ujung sepatu Zayn siap terjepit di antara celah pintu yang mungkin kututup kemudian.
"Sepulang dari Sekupang saja Zayn.." Kali ini pintu itu ku persempit celahnya, sebatas di sepatu Zayn yang mengganjal.
"Besok petang, aku pergi lagi, El. Malam, aku harus sudah ada di Singapura. Sekarang saja bicara." Bukan kaki bersepatu saja yang menahan di pintu. Tapi tangan Zayn juga mulai mendorong pelan pintuku dengan kuat.
Aku menyerah, selain Zayn telah mengerahkan kuasanya, kantukku telah pergi, dan aku juga ingin bicara.
Kami duduk di bangku tepi kolam. Sinar terang menyorot dari kamar. Sempat ku sambar tombol lampu sebelum keluar. Dan pintu itu ku biar terbuka lebar-lebar.
"Cepat saja kita bicara Zayn. Malam hampir larut." Kami duduk di kursi yang berlainan dan sejajar.
"El, kau paham tidak? Aku menyukaimu. Aku cinta kamu, El. Aku sungguh-sungguh." Bisik bicara Zayn terdengar serius kudengar. Meski sudah ku duga, rasanya pyar..pyar juga! Zayn menembak cinta padaku?!
__ADS_1
"Yang kau rasa itu cinta monyet, Zayn. Betul yang ibumu bilang." Ku datarkan nadaku, kusanggah dengan pelan, berharap sadarnya. Nyonya Mutia, ibunya... bisa jadi menggantungku!
"Jangan ikut memojokkan usiaku, El. Otakku tak sesempit umurku. Aku sudah tahunan belajar kedokteran. Aku sangat yakin dengan perasaanku." Wajah Zayn serius, saat begitu, terlihat bukan bocah..
"Apa hubungan perasaan dengan belajarmu yang tahunan itu, Zayn..?" Aku sedikit ragu dengan pemahamanku pada ucapan Zayn.
Zayn menatap aneh padaku. Wajah putih halusnya, berkilat kian cerah terkena bias lampu.
"Hubungan itu erat, El. Dalam belajarku yang tahunan itu, biologilah ilmu utama yang ku sentuh. Jadi, aku sangat paham dengan perasaanku. Tubuhku bereaksi jika melihatmu, El. Bahkan mengingatmu saja, aku tak tahan. Aku tersiksa, El. Mengertilah perasaanku. Ayolah, El, kita menikah saja." Maak..! Duh.., bocah sableng, sungguh vulgar ucapannya. Bukankah semua pasangan, salah satu alasan menikah memang begitu. Tanpa cinta pun, tiap orang bisa juga merasakannya. Semua pun tahu itu, kan? Dasar bocah..!
"Heish.. Zayn! Kau itu sedang dalam masa puber. Lelaki mana pun, samalah dengan yang kau rasa. Tidak perlu pun belajar kedokteran. Jika solusinya hanya nikah, pak penghulu itu akan banjir job tiap harinya..Sebab anak SMP yang antri ingin nikah!" Ku rasa, aku seperti kakak yang sedang bicara pada adik lelakinya yang puber.
"Baiklah, El, tidak usah menikah. Menurutmu, itu tak perlu kan? Ayolah kita ke hotel saja!" Diiih..! Zayn semakin keladi saja ku rasa. Memandang Zayn seperti itu, aku jadi was-was!
"Jangan asal ngomong, kau Zayn. Kau tidak sopan denganku." Aku menghardik bocah sableng itu dengan suara yang pelan. Suasana sekitar kami sangat sunyi.
"Kau yang meremehkan aku, El. Aku menghormatimu, menghargaimu. Ku bilang cinta kamu, aku ingin serius, tidak memainkanmu. Tapi, apa tanggapanmu? Jika aku mau, sudah ku bawa kau ke kamarku. Siapa yang berani menolongmu?" Ucapan Zayn yang lirih itu sungguh seram kudengar. Benar katanya, siapa yang berani menolongku? Siapa..?
__ADS_1
*Selain berharap dari pertolongan Tuhanku?!*