Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
110. Resah Menunggu


__ADS_3

Tok...!Tok..!Tok...!Tok..!Tok..!Tok..!Tok..!


"Si...Elsi..! GoCar sudah datang! Semua sudah siap diantar! Jangan sampai telat! Cepatlah, Elsi!!" Ah, suara itu kini kembali kudengar tiap hari dan begitu berisik tak sabaran.


Mukena yang baru kulepas habis dzuhur, kulipat perlahan dengan hati tak semangat. Sudah enam minggu lamannya, orang yang kutunggu tak juga datang menyusul. Sedang segala pesan yang kukirim bertubi, hanya mendapat balasan sesekali. Dengan balasan teramat singkat dan sama sekali tak memberi kepuasan hati yang sangat.


Ingin rasanya menelepon, demi mendengar sedikit saja suara yang ter-rindu menyapaku. Tapi apalah daya, saat pernah mencoba, justru sapaan dari operatorlah yang terdengar dari sana. Rasa gengsi yang menghampar selautanlah penahan agar jangan kembali mencoba. Bukankah harusnya laporan dari operator itu cukup memberitahunya agar berbalik menghubungiku? Oh,Garrick...teganya kamu..


"Iya, buuuk! Sebentar..., masih memakai kerudung!" Cepat kulengking ibuku, ada suara langkah mendekat sangat cepat. Dan langkah itu menjauh lagi sehabis seruku. Dan itu memang pasti ibuku.


Ya..,beginilah rutinitasku sekarang, setelah aku pulang kampung ke kota Malang. Ikut memajukan usaha katering ibuku dan menjadi kurir baginya. Dengan sesekali kulakukan pemasaran lewat online sebagai wujud dukunganku. Dan hanya sesekali juga kubantu urusan di dapur ibuku. Telah ada dua rewang yang standbay di sampingnya, tiga denganku.


Pelanggan yang kuantar setiap waktu makan ini, hasil yang kudapat dari pemasaran iklan online di akun facebookku. Lumayan, paket komplit nasi kotak ini berjumlah tujuh puluh lima kotak tiap kali antar, dan sehari wajib kuantar tiga kali. Orderan yang kudapat, sangat membuat ibuku bersemangat.


Tiap kotaknya berlabel dua puluh ribu, dan aku mendapat dua puluh persen tiap kotaknya. Ibuku sangat royal kali ini padaku. Dia kata ini rezekiku, dan katanya juga..,agar aku tak pernah pergi lagi meninggalkannya.


Oh..Penghasilanku yang besar per hari, yang hampir sejuta ini.. Membuatku sangat malas lupa diri..Berharap pembangunan hotel ini berterusan dan jangan pernah sampai selesai hingga nanti.. Hi..hi..hi..Tamak?! Tidak!!


Antar nasi kotak ini mulai berjalan sejak dua minggu kedatangan pulang kampungku. Sebab, setelah dua minggu puas melepas rindu di kotaku, telah mulai kubuat iklan untuk usaha katering ibu di akun facebookku. Dan gayung pun tersambut. Kudapat orderan tetap dari seorang pemborong bangunan, yang memintaku untuk memasok makanan sehari tiga kali, ke kota Batu di daerah Paralayang-Songgoriti. Sedang ada pembangunan besar di sana. Sepertinya calon hotel baru berbintang yang megah.


Tentang diriku yang sekarang, aku berubah. Penampilanku yang biasanya terbuka tapi sopan, kini berhijab dan tertutup. Entah hidayah, entah lelah..,busana muslimah syar'i inilah yang telah kuyakin jadi pilihan tepatku. Selain modelnya sopan dan nyaman, saat kupakai keluar pun rasanya aman.


🐢🐢🐢🐢🐢🐢


Mandor bangunan hotel ini cukup baik. Bersikap sopan dan wajar. Aku sudah kenal baik dengannya. Armand namanya, umur mas Armand masih muda tapi sangat dewasa, semua pekerja segan padanya. Tapi jangan salah, sang mandor ini sudah punya anak tiga di usianya yang masih 29 tahun.


"Buru-buru sangat, mau ke mana, Elsi?" Armand, mas mandor itu bertanya padaku. Dia bertanya sambil menghitung lembaran merah rupiah untuk dibayarkan padaku siang ini.


"Ingin cepat pulang, mas Armand. Ingin bobok. Gigiku sakit. Padahal tanpa lubang.." Ya, sejak semalam gigiku sakit sekali tanpa sebab.


"Sudah minum obat?" Mas Armand mengulur gepok uang itu padaku.


"Sudah, tapi waktunya minum lagi. Tadi aku lupa." Tak kuhitung lagi uang itu, Mas Armand sangat teliti dan jujur. Gigiku terlalu sakit, tak nafsu lagi menghitung ulang.


"Cobalah ke dokter.." Pria itu sibuk menyibak-nyibak isi dompet. Apalah yang dicari..

__ADS_1


"Iya mas, ingin ke dokter.Tapi pasti antri ya.." Kubetulkan kaca mata dan masker di wajahku. Aku bersiap undur diri. Ya.., aku memang selalu menempelkan dua benda itu di wajahku.


"Elsi..!!" Kubalik badanku, mas Armand menuju ke arahku.


"Ini temanku, baru selesai pendidikan. Tapi sudah buka praktek hampir dua minggu lamanya. Coba saja ke sana. Mungkin tidak terlalu antri." Kuterima sebuah kartu nama yang diulurkan mas Armand.


"Terima kasih ya, mas. Aku pulang dulu." Segera kuberjalan ke arah GoCar yang kupesan dan datang. Ingin cepat minum obat dan tidur saja di kamarku.


Drg. Nino Sebastian, itulah nama yang telah direkomendasikan oleh mas Armand. Dokter gigi yang baru buka praktik di daerah Gadang, kota Malang itu, tutup hingga pukul sepuluh malam. Lumayan malam, aku bisa datang sehabis isya' saja. Mungkin antrian sudah sepi, aku ingin cepat saja dilayani.


🐌🐌🐌


Ibuku memandang heran saat aku masuk kembali ke dalam rumah. Sedang GoCar yang membawa nasi kotak itu kubiarkan pergi berlalu. Mas Armand telah kuberitau tentang itu lewat pesan di ponselku.


"Lah, lapo ta, kamu ndak ikut bawa nasimu itu, Si ?" Ibuku terheran melihatku.


"Enggak, buk. Aku mau priksa gigi. Soal nasi, sudah kubilang pada sopirnya dan sama mandor yang di sana. Mereka dah paham sendiri kok, buk.." Kuredam panik ibuku. Dia pasti puyeng jika rupiah yang sudah cermat dihitungnya itu melayang.


"Yo wes, kalo dah jelas. Lha gigimu itu iseh sakit ta, Si?" Kuangguk kepalaku sambil kulihat sekilas ibuku.


Gigi bungsu? Gigi susu? Di usiaku yang dua puluh empat tahun ini? Bisa jadi.., tapi biar dokter ahli sajalah yang mendeteksi.


🐉🐉🐉


Ternyata masih juga harus antri. Lima orang lagi. Padahal sudah malam, pukul delapan lebih.


Aku pergi ke dokter gigi diantar oleh Amel. Sahabatku sejak kecil, yang tinggal sekomplek denganku. Tapi dia sudah menikah mendahuluiku, dan punya anak satu. Itu jugalah yang membuat ibuku kian resah pada jombloku waktu itu. Dan kalap saat Juan melamarku.


"Si.. Bagaimana ini..,anakku bangun dan menangis terus mencariku." Amel sambil miring duduk, berbicara gusar padaku.


"Tinggal dua orang lagi, Mel.. Nanggung. Masak aku kautinggal? Tungguin, yaa. Suamimu kan ada, Mel?" Aku jadi gusar juga sepertinya.


"Hanya aku yang dimau anakku, Si.. Dia nggank mau orang lain. Akan menangis terus dia itu.." Suara Amel sudah tercekat. Ah, mana bisa kutahan bersatunya ibu dan anak.


"Yaah..Okelah, Mel..Duluan saja gih, kasihan babymu. Trims, udah nganter aku." Sambil berkata, kuselip tiga lembar biru ke tangannya.

__ADS_1


"Eh..Si.., makasih ya. Sorry kutinggal..kamu berani kan?" Amel nampak salting denganku.


"Yaelah, Mel. Ke Batam saja nekat..Apalagi ini cuma Gadang..Lah Mel, dekaaat." Amel nampak puas dengan jawabanku.


"Yo weslah. Kalo ada apa-apa telpon ya... Ati-ati.." Hauuh..sakitnya! Amel berlalu sambil menowel pipi kiriku. Dia lupa apa sakitku.. Hu..hu..hu..


Ah, leganya..Pasien terakhir telah keluar. Bentar lagi pasti akulah yang akan dipanggil.


Benar,,, saat ini aku telah masuk di ruangan drg. Nino. Dokter itu tengah mencuci tangan di wastafel memunggungiku. Lalu berbalik dan melihatku sekilas. Dia mengambil sarung tangan karet barunya.


"Buka masker dan kacamata ya... Biar mudah kuperiksa gigimu.." Dokter Nino terdengar ramah dan sabar berbicara. Dipakai sarung tangan itu sambil memandangku. Dia pun bermasker, hanya mata lebar sipitnya yang nampak.


Gegas kubuka masker dan kacamataku. Kusimpan dalam tas pundakku. Aku ingin cepat diperiksa dan selesai, sudah hampir pukul sepuluh malam.


Eh, dokter itu justru tertegun melihatku.


"Sudah, dok.." Aku bersuara.


"Ehm..Oke..Silahkan naik ke sana." Dokter Nino menunjuk sebuah kursi tidur yang besar. Kursi khas yang selalu ada di tiap klinik dokter gigi.


Dokter Nino bertanya tentang sakitku, lalu mengangguk setelah mendengarku berkeluh kesah akan sakit yang kuderita.


"Buka yang lebar mulutnya.." Ah, meski sangat lembut menyuruh, tetap saja kurasa dig dug resah campur takut...


Dokter Nino tidak lama mengorek mulut dan gigiku. Tidak berkomentar apapun pada sakit gigiku. Seperti derita sakit gigi ini sangatlah sepele baginya.


🐢🐢🐢🐢


"Gigi geraham susumu sedang tumbuh, sakit itu timbul karena gigi itu mendesak gusimu untuk kemudian pecah lalu gigimu muncul dan membesar."


Itulah penjelasan singkat yang diberikan oleh dokter tampan Nino Sebastian. Ketampanan dokter gigi muda itu tak bisa dinafikan lagi setelah masker mulutnya dicampak begitu saja sehabis memeriksa gigiku.Aku pergi dari ruang prakteknya dengan menggenggam obat dan aturan minum yang dia berikan padaku.


Hampir pukul sebelas malam. Aku berdiri di tepi jalan, di depan pagar klinik gigi dokter Nino. Ponsel yang hampir low bat saat kubawa pergi tadi, kini telah mati benar-benar. Hatiku risau, belum juga ada tanda-tanda ojek atau taksi yang lewat.


Hawa kota Malang saat malam sungguh dingin menggigit hingga ke tulang.Baru kusadari, kawasan ini adalah daerah Gadang pinggiran dekat halte yang konon rawan preman dan berandal. Jujur aku resah, aku sangat paham daerahku..,daerah ini..

__ADS_1


__ADS_2