
Menduga siapa yang datang dari jauh dengan membawa taksi biru, sangat membuatku ingin tahu. Terlebih setelah kuyakin, bahwa bukan mas Armandlah tamu dari Riau itu. Lalu, siapa orang yang sedang mencari dan menungguku? Ah, jadi ingat dia, orang yang sudah berjanji manis akan segera datang menyusulku ke Malang. Apa ternyata memang justru dia? Ah, mana mungkin dia!! Tapi dadaku berdebar dag dig dug tiba-tiba. Berharap bahwa sebenarnya memang dia!
Angin yang biasa berhembus masuk dari pintu samping di sana, semilir menerpa wajahku. Ah, Deg...! Deg..deg...deg...Dadaku semakin berdebar.Hembusan angin ini membawa pertanda. Harum parfum yang ikut terbawa, kian kuharap bahwa wangi ini adalah aroma parfum yang sedang dipakainya.
Deg...! Ah, seseorang yang kulihat telah duduk menunduk dan sedang kalap dalam ponsel itu, memang dia! Garrick Julian tengah duduk manis dan tenang di sofa rumahku..
Ini nyata, bukan mimpi. Orang yang kurindu, telah benar-benar datang menyusulku dan kini menunggu datangku. Oh, Garjuuu.... Really, I miss uuuu..Tapi bagaimana ini, aku justru hanya diam kaku di tempatku!
"Ehemm....! Hallo..Selamat malam, mas!" Oh, sapaan untuk Garju justru datang dari mas Nino. Garju, aku kesikut, maafkan aku...
Garrick yang tadi tenggelam di ponsel tengah menoleh pada kami. Dengan tenang memandang mas Nino sebentar, lalu padaku. Garrick gegas berdiri dan jalan mendekati kami. Oh, dig dug jantungku benar-benar bertalu. Betapa sangat tak percaya.
"Iya. Selamat malam." Garrick mengulur tangan padaku. Ah, ini bukan mimpi.
Duh, aku kesikut lagi. Mas Nino telah gesit menangkap tangan Garrick, dan mereka saling bersalaman sangat erat. Sesaat kemudian, tangan mereka telah saling melepas.
Garrick memandangku, kembali mengulur tangan padaku. Kusambut dengan rasa tak menentu. Degh, kami tengah bersalaman. Tanganku seperti lunglai digenggamnya. Mata Garrick yang sambil menatap, seperti akan menelanku. Mata itu memang teduh, tapi tanpa senyum di wajahnya. Aku pun begitu, terpaku menatap dengan bibir terasa kaku, tanpa senyum yang bisa kuberi untuknya.
"Ehm...! Silahkan, mas. Mari duduk saja" Teguran mas Nino menyadarkanku. Aku dan Garrick sama-sama saling menarik tangan dan melepas pandangan.
Garrick agak ragu mengikuti arahan mas Nino. Tapi kemudian duduk juga mengikuti apa yang dilakukan mas Nino.
"Elsi, tak duduk?" Oh, aku tergugu oleh teguran lembut mas Nino. Deg..Aku dan Garrick saling berpandangan. Garrick..kuharap janganlah salam paham. Aku hanya sangat terkejut berjumpa denganmu. Kedatanganmu tak kusangka, terlalu tiba-tiba. Aku tak siap..
"Ehmm..Maaf, anda dan Elsi memang berteman?" Pertanyaan mas Nino memecah kebisuanku dan Garrick. Aku dan Garrick sedang saling menatap dan mematung, hatiku penuh debar saat mas Nino bertanya barusan.
"Betul. Kami memang berteman." Deg.. Jawapan tenang Garrick justru membuatku risau tak karuan. Garrick dan aku kembali saling berpandangan. Ah, mata coklat berkilat itu benar-benar kurindukan. Apa Garrick tengah marah padaku..Tapi wajah itu nampak adem dan tenang.
"Kalian kenal di mana, mas?" Mas Nino kembali bertanya ramah padanya.
"Di Riau, tepatnya kota Batam. Emm..Kalo masnya ini, siapanya Elsi?" Ah, suara berat empuk itu hari ini benar-benar kudengar. Tapi kenapa dengan moment seperti ini..
__ADS_1
Tiba- tiba ibuku datang membawa nampan. "Ohh..Ini dokter Nino. Sudah bolak balik main ke sinii... Sering mengantar Elsi ke mana-mana. Dan ini tadi pun, mereka baru pulang dari jalan-jalan di pantaii..." Oh, alamaak.. Ibuku! Dengan santuy menyahuti, sambil meletak cangkir kopi di meja mas Nino.
"Buuk... Tidak begitu, kan?! Tadi kan mas Nino hanya mengantarku kirim nasi orderan dari Arema? Itu pun, ibuk yang nyuruh. Dan ternyata, mereka kebetulan sedang ada kegiatan di pantai. Seperti itu kan, mas?" Ah, ibuku sungguh terlalu kali ini. Dia mengubah fakta demi inginnya.
Ibuku hanya manyun memandangku. Mas Nino..Ah, lelaki itu hanya diam santai memandangku. Huh, dia dan ibuku memang setali lima uang!
Garrick....Pelan kupandang pria yang duduk tepat di depanku. Garrick tengah menaikkan alisnya tanpa ekspresi apapun dengan memandang padaku. Ah, Garju..Lama tak jumpa, kamu semakin tampan saja!
"Lho, Siiii.. Kan acara arema di segoro guo cino ta? Pas tak telpon video sore, posisi kalian di pantai boyo modar, bener ta Si ?" Duh, maak!! Suara nyaring ibuku telah mengungkap fakta yang sebetulnya kurang tepat. Tapi.., kini aku jadi merasa mati kutu. Tak bisa kusanggah lagi ibuku. Hanya bisa menahan geram di dadaku.
"Maaf, bisa dijelaskan lagi pada kami? Mas ini sebenarnya siapa?" Mata kami tertuju sebentar pada soalan mas Nino yang sedang saling pandang dengan Garrick. Ah,Garrick..
"Mas, buk. Namanya Garrick. Sebenarnya dia ini bossku. Dia adalah boss tempatku bekerja saat di Batam." Kuharap setelah mengakuinya sebagai boss, Garrick tidak akan dipandang sebelah mata, terutama oleh ibuku.
"Berarti kan hanya bekas bossmu di sana saja ta, Si.. Sekarang wes bukan, ta?" Ternyata penjelasanku masih tak berguna juga bagi ibuku. Dan aku tak mampu lagi menjawabnya.
Oh, Garrick berbicaralah... Jelaskan semuanya. Aku tak akan mengungkapkan jika bukan dirimu yang mengawali.
"Ehm..!" Ah, gayungku tersangkut. Deheman kali ini, Garricklah yang membuat. Kami kini fokus menatap pada sang tamu yang datang bertaksi biru itu. Tamu menawan yang tengah menatap ibuku dengan wajahnya yang tenang.
" Saya tidak punya kerabat satu pun di Malang. Jadi, hari ini saya baru sampai di kota ini, langsung berkunjung ke sini untuk berkenalan dengan ibu dan berjumpa dengan anak gadis ibu. Dan tujuan saya datang ke Malang ini, selain untuk menengok anak gadis ibu, saya juga ada sedikit urusan kerja di sini. Saya akan agak lama menetap di Jawa. Jadi, kemungkinan saya akan lebih sering singgah dan main ke rumah ini untuk bertemu Elsi. Apa ibu keberatan?"
Degh...! Oh, hanya begitu.. Garrick tak menjelaskan kebenaran hubungan kami. Garrick tak melamarku pada ibuku. Apa Garrick tak minat lagi padaku? Tak jadi menikahiku? Apa Garrick sebetulnya sangat marah dan kecewa telah menangkap basahku habis jalan dengan mas Nino? Tapi ini salah paham...
Lalu, bisa apa aku.. Mengejar dan memepetnya lagi tanpa ingat malu..? Ah, Garju..Aku ingin menangis. Merasa bersalah dan menyesal. Harusnya dari awal kubilang saja tentangmu pada ibuku. Tapi aku terlalu gengsi jika ternyata kau hanya menipuku dan tidak menyusulku...
"Eeeeeiih... Ayo, semua minum dulu iku kopinya. Wes duingin nanti ora enak lhoo.." Pertanyaan Garrick diabaikan, ibuku justru mengalihkan dengan tawaran minum kopinya.
Garrick meredupkan mata memandang ibuku, pria itu nampak mendesah samar sambil kemudian memandangku. Kami berpandangan, aku merasa iba, bersalah dan sedih. Bagaimana perasaanmu Garrick, maafkan aku. Garrick terus merenungku tanpa berkedip. Garrick....
"Eheemm..Buk, gelas ini unik. Dapat di mana?" Aku dan Garrick melepas pandangan. Dan bersamaan melihat apa yang dimaksud mas Nino. Eh...Apa?! Itu gelas khusus kesayanganku! Kenapa ibu memakaikannya untuk mas Nino?
__ADS_1
"He..he..he...Iku gelas khususnya Elsi. Tanyao saja sama Elsimu...." Ibuku menjawab santai sambil berdiri dan berlalu ke dapur. Ah, sepertinya aku sudah terlalu marah pada ibu. Tapi..sabar.. Kuhirup kuat dan dalam nafasku. Berharap Garrick telah paham bagaimana sifat ibuku.
"Betul ini gelas kesayanganmu, El. Darimana kau dapat?" Mas Nino nampak serius bertanya. Gelas porselen tebal itu memang kusayang. Sangat indah, berukir seikat edelweis-si bunga abadi, ukir edelweis gimbul itu timbul dan sangat menggemaskan saat diraba.
"Seseorang memberiku saat mendaki ke Merbabu empat tahun lalu. Tapi aku tak tahu siapa orang itu." Mas Nino manggut-manggut. Kuharap dia puas dengan jawabanku.
"Lelaki atau perempuan, pemilik gelas itu ?" Garricklah kini yang menanyaiku. Wajahnya bahkan jauh lebih serius dari mas Nino.
"Lelaki, tapi aku tak tahu wajahnya. Lelaki itu memakai topi gunung rajut, hanya mata saja yang nampak." Garrick tidak megangguk seperti mas Nino. Tapi memandang lekat padaku, seperti sedang berfikir sesuatu.
Tap..!Tap..!Tap..!Tap...! Ah, ibu datang lagi!
"Heeih...Semuanya, ayo ke belakang dulu. Makan dulu, ora mbayar, gratiss. Ayo Si, ajak semua ke belakang!" Eh, ibuku ternyata cukup baik.
"Ayolah semua ke belakang, makan dulu!" Aku bingung bagaimana kusebut Garrick di depan orang lain. Jadi, begitulah bunyi ajakan makanku pada keduanya.
Saat akan makan di meja makan, Garrick dan Nino sama-sama mendapat panggilan di ponsel mereka. Ruang makan kami berada di teras belakang rumahku. Ruang makan terbuka ini langsung menghadap halaman di belakang rumah. Dan halaman itu dipenuhi dengan tanaman hias aglaonema milik ibuku. Aku sangat betah berdiam di sini sangat lama.
"Ayo dimakan..Dihabiskan..... Eh, iki lho Nino, ayam kecap. Kamu mesti suka. Ibumu iki lho yang masak.." Ah, ibuku bikin onar lagi. Ayam kecap semangkok itu hanya didekatkan pada piring mas Nino.
Garrick tak peduli, mendengar kata ibuku pada Nino, dia hanya sekilas memandangku. Sepertinya buru-buru, dia makan sangat cepat. Sedang aku..makanan ini seperti tersangkut, sangat susah kutelan. Benar-benar serba salah aku pada Garrick. Tapi Garrick terkesan tak peduli. Aku sangat ingin berbicara dengannya. Tapi bagaimana..?
"El,.. Sehabis makan, aku akan pergi." Deg... Inilah yang kurisaukan. Dan Garrick telah benar-benar mengatakannya. Pergi ke mana kamu Garrick? Apa akan menginap di hotel? Hotel mana?
"Kapan akan ke sini lagi?" Kuletak sendokku menatapnya, kubertanya penuh harap. Tak peduli dengan pandangan mas Nino yang heran padaku.
"Aku tak tahu, El. Nanti kukabari." Jawaban Garrick acuh tak acuh padaku. Terus menunduk menyendok makanan di piring. Tak peduli pada perasaan gusarku. Ah, Garrick mulai abai padaku.. Sakiit....
...πππππ...
...π΅π΅π΅π΅π΅...
__ADS_1
...π’π’π’π’π’...
πΊπΊπΏπΏπ’π’ Mungkin readers akan merasa bahwa di bab ini ternyata mengecewakan, kurang menggembirakan dan tidak seperti harapanan...Kecewa pada sikap tokoh2nya...Maafkan... Beginilah kenyataannya ya.... Hidup, tidak selalu mampu menghasilkan sikap yang sempurna. Telah berusaha bersikap sebaiknya pun, sering juga jatuh di lubang fitnah dan sesal. Meski juga karena salah mengambil sikap dan keputusan. Selamat membaca..Selamat berakhir pekan!!!πβπβ€π’π’π’π’