
Malam semakin lengang, mungkin jam sebelas malam sudah lebih sekarang. Hingga kakiku terasa kaku berdiri, tak kudapat juga akang ojek.
Wuuuuussss... Duuh, angin dingin datang berhembus kencang dan panjang tanpa putus. Kupegang erat gamis dan kerudungku yang berkibar, agar tak sampai menyingkap terbuka ke atas. Angin begitu kuat menerpa. Jika saja aku kurus dan tipis, pasti diriku telah diseret jauh oleh tiupan bayu yang kuat menghempas.
Terjangan angin kencang mereda. Sedikit lega hatiku, berharap tanpa susulan lagi setelahnya.
Tes...Degh..! Ah,setetes air jatuh dan basah di pucuk hidungku. Pertanda akan turun hujan sebentar lagi di sini. Aku telah berjalan sedikit, menjauh dari pagar klinik gigi. Rasa gengsi jika perawat atau dokternya nampak diriku masih nyangkut di sana saat mereka sedang keluar untuk pulang.
"Ha..ha..ha..ha..ha.." Deg..! Yang kucemaskan nyata terjadi. Dari gang di depanku, tapi di seberang jalan sana, segerombolan pemuda nampak tertawa tergelak keras dengan cara jalan yang doyong. Kurasa mereka adalah bagian berandal atau juga preman yang habis minum-minum bersama.
Oh, kang ojek, kang taksi, kang becak, kang angkot.. Nampakkanlah wujud kalian, angkutlah dan selamatkan segera diriku!
Dugh...Dugh..Dugh..! Cemas jantungku, sempat kulihat mereka menuding menunjuk-nunjuk padaku dan seperti akan menyeberang jalan ke arahku. Langsung kupilih bergegas jalan ke depan menuju arah ke kawasan Kacuk, kampung rumah tinggal ibuku dan aku. Dengan dada keras berdetak, terus kusebut nama Tuhanku. Memohon perlindungan dan pertolongan dariNya. Keajaiban pasti datang kapan saja, dari mana saja, untuk siapa saja dan tanpa disangkakan.
Ciiiitt..!! Tin..!! Tin..!!
Degh..! Ada mobil berhenti tepat di belakangku. Apa itu taksi? Cepat kubalik badanku menoleh.
"Mbak Elsi..?!" Kulihat dokter Nino telah keluar dari mobil putihnya mendekatiku.
"Iya..Saya, dokter.." Lelaki tampan itu berhenti di depanku, sudah tak berbaju dinas lagi. Mengenakan celana panjang hitam dan berkemeja pendek warna gelap.
__ADS_1
"Masih di sini? Menunggu siapa?" Lelaki itu terdengar heran dengan masih adanya aku di sini.
"Iya, dok. Menunggu ojek atau taksi. Tapi lama sekali..." Setengah mengeluh kujawab tanyanya.
"Mau bareng denganku? Jam segini banyak orang aneh yang mulai keluar. Jika minat, ayo kuantarkan.." Sambil berkata, lelaki itu menolehkan kepala ke belakang sana. Para pemuda mabuk itu terdengar berjalan mendekat ke arah kami.
"Iya, dok. Saya nebeng sebentar yaa..?" Suaraku tergesa menjawab. Gusar pada preman yang mendekat.
"Bagus. Lekaslah...Mari!!" Dokter Nino bergegas mendekati pintu mobil dan membukanya untukku.
"Terimakasih, dokter.." Sangat cepat kusambut tawarannya. Aku telah duduk aman di dalam mobilnya. Dokter Nino berputar cepat untuk duduk di kursi kemudi sebelahku.
Alhamdulillah..Leganya..Aman... Dokter Nino sangat gesit melajukan mobil menghindari para preman malam yang hampir mencapai posisi kami.
"Diantar teman. Tapi terpaksa pulang duluan. Babynya di rumah nyari-nyari." Lelaki itu manggut-manggut mendengarkanku.
"Kenapa tak pergi sendiri? Apa gigimu sangat sakit?" Ah, pertanyaannya lembut dan perhatian.
"Sudah malam, ragu pergi sendiri. Kupikir tak antri, tapi ternyata pasien dokter banyak juga.." Kulirik lelaki itu, dia tengah memegang ponselnya.
"Iya. Hari ini cukup lumayan yang datang. Eh, siapa yang memberimu info tentang praktikku?" Dokter Nino benar-benar menoleh, mengamatiku.
__ADS_1
"Mas Armand. Dia kata temanmu, dok.." Ragu kusebut nama mas Armand.
"Armand?! Dia di sini?! Kamu berjumpa di mana, Elsi?" Dokter Nino terperanjat, seperti tak percaya pada ucapanku.
"Di kota Batu. Dia kerja di pembangunan proyek hotel. Jadi mandor, dok.." Kuamati reaksi lelaki di sampingku. Alisnya bertaut sangat rapat, seperti tengah berfikir sesuatu yang berat.
"Kenapa, dokter Nino?" Aku pun jadi kepo.
"Cepat sekali dia di sini. Terakhir kutahu, dia naik jabatan jadi manager di Riau sana. Dia itu pelaut.. Kerja di kapal pesiar dengan kakaknya. Di sini jadi mandor bangunan?" Dokter Nino berbicara seperti bergumam.
"Aku ingin bertemu dengan Armand yang kamu bilang itu, Elsi. Sudah hampir dua bulan ini kami tak bersapa kabar. Ponselku sempat hilang." Kini akulah yang sedang manggut-manggut padanya. Khayalku melayang sangat jauh. Bicara tentang kapal pesiar, tentu saja menggores hatiku. Sesak sebak dadaku. Sungguh terlalu kau, Garju.. Benar-benar kau tak peduli padaku..Kau seperti tak butuh lagi padaku...Tak pahamkah aku selalu merindumu?!! Garjuuuuu..!!!!
"Elsi..Kamu bisa mengantarku, kan?" Teguran lembut dokter Nino membuatku mengangguk.
"Iya, akan kuantar, dok. Dokter kabari saja aku jika ingin bertemu dengan mas Armand." Aku tulus ingin menyambungkan tali silaturahimnya yang putus dengan mas Armand.
"Kamu tinggal di mana ini, Elsi? Bisa kusimpan nomer ponselmu?" Lelaki itu telah bersiap dengan ponselnya. Tanpa ragu kusebut pelan nomer ponselku agar di simpan.
"Trims, Elsi. Tunggu feedbackku." Ponsel itu kembali aman di saku kemejanya.
"Sama-sama dokter Nino. Akan kutunggu."
__ADS_1
Mobil ini telah memasuki kawasan kampung Kacuk, kota Malang. Nino tahu, mungkin membaca dari dataku di buku daftar pasiennya. Tinggal kuarahkan letak komplek yang tepat, di mana posisi rumahku berada. Selarut ini, ibuku pasti cemas menunggu, apalagi ponselku mati. Bagaimanapun sibuknya, ibuku tetap ingat jam berapa harusnya aku pulang dan berada kembali di rumah dengan selamat..