
Seperti harapanku, uda Fahri telah berjalan di samping menyusulku.
"Uda lihat, kau buru-buru, El?" Uda Fahri menolehku.
"Aku segan dengan kawan uda. Bajuku tak senonoh. Aku seperti menakutkan saja, makanya aku cepat menghindar, uda!" Aku iseng saja berkata, ingin tahu tanggapannya!
"Ha..ha..ha.. Elsi, itu tidak menakutkan, tapi bisa dibilang mengancam, mengancam iman!" Uda Fahri tertawa, tapi suaranya lirih dan tetap bertenang.
"Uda Fahri nampak dekat dengan mereka, tapi sikap uda biasa saja." Ku pandang uda Fahri, lelaki dewasa yang nampak bersahaja.
"Bukan apa ya, El. Uda sebenarnya ketua taklim di Masjid. Kawan-kawan tadi, anggota uda. Tapi uda harus bisa akur dengan dunia. Uda ini supir, macam-macam dah lihat. Jadi bajumu tuh sopan saja, El." Salut dengan uda Fahri, mungkin juga ilmunya tinggi. Tapi dia tidak menggurui. Menyarankan aku berkerudung misalnya. Yang ini sih aku sadar, tapi selalu diperdaya dengan kata 'belum saatnya' !
"Trims. Uda." Ku jawab lirih kata-kata Uda Fahri. Dia tersenyum sambil mengeluarkan kunci mobil dari saku bajunya.
Kami sampai di tempat parkir mobil. Sungguh luas sekali. Di antara tiupan angin, ku pandang sekeliling. Ada begitu banyak mobil, lengkap dengan para pemiliknya, terlihat hilir mudik menuju kendaraan masing-masing. Mereka keluar bersamaan dari Masjid, habis shalat berjamaah.
__ADS_1
Eh.. Deg..! Ku lihat lelaki gagah berdiri tegak menjulang bersandar di mobilnya. Meski samar, jelas ku lihat itu siapa. Ya..Tuan garangku berdiri memandang ke arahku. Cepat ku toleh kepalaku, pura-pura tak kulihat. Ku teruskan sedikit pandangan kosongku. Hanya mencipta kesan bahwa aku memang tidak melihatnya.
"Elsi, cepat masuk. Angin kencang, nanti kau masuk angin!" Seruan uda Fahri dari kemudi adalah pendukung pura-puraku.
Cepat ku lipat badan, duduk di dalam kursi mobil. Harapan agar uda Fahri cepat pergi, terasa langsung dituruti. Lampu dalam mobil tak dinyalakan, suasana dalam kegelapan.
Ku lirik Garrick yang ku lewati. Pandangannya terus mengikuti kepergian taksi ini. Hari liburku.. tak sebebas keinginanku. Masih saja bertemu dengan tuanku. Oh, deritanya si kacung babu! Hu..hu..hu..
Taksi telah dirapatkan oleh uda di tepi teras lobi. Bersiap turun sambil ku ulur selembar merah pada uda. Argo taksi tidak nyala, jadi ku beri saja kira-kira. Tapi uda Fahri menolaknya.
"Ambil saja buat jajan, El. Tapi jangan segan, uda terus siap mengantar ke mana saja tujuanmu ." Uda fahri membuka kaca di pintu. AC pun tidak dinyalakan.
"Tentu tidak, El. Jika terus free, uda bisa lapar!" Jawaban uda terasa enak didengar, jadi kerja sama ini akan terus ku lanjutkan.
"Terimaksih tumpangannya, uda. Jika kapan-kapan perlu, aku telpon uda!"Aku telah turun, jadi ku berseru dari luar. Uda mengangguk dan melambai, membawa taksi birunya berlalu dariku. Ku lanjut berbalik melangkah.
__ADS_1
Sesaat, uda Fahri yang baik dan lajang itu mengingatkanku pada uni Wel. Uni Wel berkerudung dan baik. Mereka sama-sama orang Padang. Juga sama-sama dah berumur. Uni Wel tiga puluh tahun, uda Fahri tiga puluh enam, sungguh serasi, akan kujodohkan mereka! Semoga saja ada ladang amalku di sini!
Eh..Duh.. Si Garrick sudah berdiri di depan pintu lobi. Berdiri menghadapku, apakah menungguku? Sinar lobi membuat penampilan gagahnya memanah mataku. Duh..Bossku!
"Malam, boss! Anda belum naik?" Ingin ku lewati saja tuan garangku. Bisa jadi dia akan lama di sini. Tak ku jumpa nampak security di lobi. Bayangan tuan garang akan berjaga menggantikan, membuatku ingin tertawa tapi ku tahan!
"Bawakan El !" Garrick mengulurkan tas kerjanya warna hitam, kembali sedikit mengena perutku. Garrick memang susah bersikap lembut padaku.
"Ini juga!" Jas hitam yang tak jelas kapan dilepas, telah dihempas kasar ke dadaku. Untung tak nampak orang disekitar, jika ada, akan semakin turun saja harga diriku!
Derita kacung rumahan, seperti kerja terus dua puluh empat jam. Meski punya, tapi tak memiliki penuh kebebasan. Seperti libur hari rabuku ini contohnya!
Tiba-tiba tak bersyukur. Ingin jadi kacung kantoran...kacung pabrikan..kacung pemerintahan...kacung perhotelan.. Sari pun sudah tidur nyenyak sekarang. Jam kerjanya di hotel, dimulai pukul tujuh hingga pukul lima. Akan ada tim shift lain yang gantikan.
"Kenapa, El. Kau kesal?!" Lamunanku ambyar dengan hentakan Garrick di depanku.
__ADS_1
"Iya, bossku! Tak bebas dengan hari liburku! Pagi-pagi berangkat, bersamamu..sekarang pulang malam pun denganmu!" Ku luah rasa sesak tak tertahan. Namun ku tahan tangisanku. Garrick mematung memandangku.
" Elsi !" Kepatungan ini terpatah oleh seruan seseorang padaku. Kami menoleh bersamaan. Terperanjat di dada. Orang itu datang tiba-tiba, Anthony Lung ! Lelaki tampan oriental itu telah berdiri nyata dan ada di sampingku!