
Anang dan aku bersepakat mengisi perut di sebuah rumah makan. Rumah makan Padang di seputaran Nagoya. Telur tebal, sambal hijau, oseng daun singkong dan perkedel telah menggunung di piringku. Sedang Anang dengan sate padang dua porsi di piringnya.
"Mbak... berapa yang kau dapat ?" Anang sempat bertanya sambil sibuk dengan sate dan tusuknya.
"Lumayan... Dah, makanlah kenyang-kenyang. Ingin nambah, bilang saja, jangan segan" Ku redam keponya,aku pun sibuk juga dengan daun singkong dalam mulut.
"Mbak... Sudah ada suami kah?" Anang sesekali melihatku sambil terus memamah biak. Aku menggeleng.
"Pacar, mbak..?" Anang melebarkan mata melihatku, mungkin lidahnya sedang kena tusuk sate. Aku terus menggeleng.
"Masak sih, mbak..?" Kali ini aku mengangguk pada Anang. Pria muda itu justru bengong menatapku.
"Kamu umur berapa?" Ganti aku yang tanya soal Anang.
"Dua dua mbak..." Benar, umur Anang di bawahku.
"Punya pacar?" Anang semburat merah di wajahnya. Sudah kuduga.
"Berapa pacarmu..?" Langsung ku tembak saja si Anang.
"Nggak banyak kok mbak. Tiga doang, anak PT Muka Kuning, mbak.." Kali ini Anang cengengesan.
"Emang mau nambah?" Gelagat mukanya, Anang merasa kurang jika tiga! Tapi Anang diam, lanjut melepas sate dari tusuk.
"Mbak... Salah satu pacarku sedang telat, mbak. Hampir dua bulan, sedang terancam aku nih mbak.." Wajah Anang jadi mendung tiba-tiba.
"Hah..Hamil kah Nang?"Karena dia lebih muda, ku panggil Anang nama saja.
"Itulah mbak, doi takut mau test pack!" Anang mengusap wajahnya. Wajah manis plus kocak itu mungkin telah beraroma sate Padang.
"Jika benar doi sedang isi, tanggung jawablah Nang. Putus saja dua pacarmu. Fokus pada pencarian nafkah pada istrimu..." Ku bicara pelan pada Anang. Pengunjung rumah makan padang ini ramai sangat. Anang mengangguk pelan mengiyakan, entah betulan atau sekedar menyenangkan...
***
Anang kembali melajukan mobil menuju arah kota Batam Centre. Perlu waktu sekitar dua puluh lima menit untuk sampai ke rumah itu kembali.
__ADS_1
"Nang.." Pelupuk mata Anang nampak berat dilanda rasa ngantuk.
"Ya mbak..." Anang memandangku dari kaca di depan mukanya.
"Sudah lama kerja di situ?" Ku simak wajah Anang.
"Setahunan... Emang kenapa, mbak?" Anang nampak juga menyimakku.
"Cerita tentang keluarga boss kita dong, Nang!" Ku angkat dua jariku pada Anang. Please...peace... ah, hampir samalah ya dengarnya! Anang nampak senyum samar padaku.
"Bos Garrick anak tunggal, mbak..Tapi katanya juga ada adek di Jawa. Ortunya broken home. Dengar kata, sang ibu di Semarang sama si adek. Ayahnya boss sudah almarhum. Yang tiap hari sama boss tuh, ibu tiri dan adik tirinya yang sekolah dokter. Sedang yang kecil tuh, adiknya si boss, sama ayah lain ibu. Gitu mbak....." Anang menyudahi cerita dengan melirikku di kaca.
"Apa ibu tirinya tuh kejam, Nang?" Aku teringat akan keangkuhan si ibu tiri tempo hari.
"Sebenernya tidak loh mbak. Tapi karena takut saja sama si boss." Anang mengambil sebutir coklat ke mulutnya.
"Apa si boss memang garang, Nang?" Kegarangan Garrick ternyata topeng saja ku rasa.
"Sebenarnya tidak lah mbak, di rumah saja mungkin galak sangat." Anang sependapat denganku.
Kenapa sikap Garrick saat di rumah nampak garang? Dan sukses menakuti seluruh kacung, bahkan keluarganya sekali pun. Apa Garrick merasa sepi..merasa sendiri.. berjaga diri agar tidak dikhianati..?
Aku dan Anang datang tepat di saat apel petang. Anang hilang ke garasi, aku pun terpaksa mampir ke dapur. Gusar menunggu, jadi gabung saja ke barisan. Ratih melirikku, uni Wel melirikku, yang lain juga ikut melirikku.
"Elsi..!" Panggilan pada namaku, berasal dari ibu tirinya tuan garang. Jadi, pergiku satu minggu, membuatnya ingat pada namaku. Posisiku di belakang, kakiku berjinjit melongok ke depan.
"Sini, maju!" Ibu tiri melambaiku. Aku pun melangkah maju agak ragu.
Berdiri tepat di samping meja, ku angguk kepala pada mereka. Menunggu apa yang akan ibu tiri katakan padaku.
"Kau selesai melayan putra sulungku seminggu. Menimbang kerjamu bagus, bantu Ratih dalam kerjanya." Sang ibu tiri kembali menikmati makanan di piringnya. Lalu aku bagaimana...Mundur ke barisan?
Ku geser mata pada lelaki muda berkulit putih di samping ibu tiri. Lelaki itu berkedip sebelah mata padaku. Maaaak..! Ada hal tak biasa setelah aku kembali dari berlayar seminggu dengan tuanku.
Tanpa di suruh, aku kembali ke barisan kacung paling belakang. Beberapa saat barisan bubar tanpa penghornatan. Teman-teman memandangku sebelum pergi dari barisan. Uni Wel tersenyum padaku, dan aku merangkulnya.
__ADS_1
"Selamat ya... kembali dengan sehat.." Uni Well memandangku penuh makna.
"Hhe..he..he.. Iya uni, Tuan Garrick tidak menjagalku.." Perkataanku mungkin semakin menakuti.
"Apa jari-jarimu masih utuh?" Uni Wel semakin membuat geli di hati.
"Tenang uni, Tuan Garrick tidak mampu menggigit jariku hingga putus !" Uni Wel terlihat tidak paham dengan semua kelakarku.
"Elsi..! Buat apa kau di situ? Sudah makan kah kau?!" Suara Ratih menembus gendangku sangat jelas. Suara keras tapi tak ada nada kasar.
"Sudah kak, di jalan!" Aku juga bicara seperti Ratih. Nampak kuat, tapi lunglai setelah bersembang tuan garang. Tapi itu Ratih ya... bukan aku!
"Ikut aku!" Ratih mengajakku. Ku ikuti setelah melambai tangan pada uni Wel.
Ratih tidak mengajakku ke mana pun, tapi Ratih telah menuju ke kamarku. Oh, kamar hororku...apa kabar dirimu..apa pun, aku merindukamu...
Haaah..!!! Tak salahkah??!! Kamar hororku nampak beda! Warna putih sangat cerah, Kolamnyapun bersih dan indah. Ratih membuka pintu kamar, rupanya dia pun memiliki kuncinya. Plan mengganda selusin milikku jadi batal seketika. Dua anak saja cukup... anak kunci maksudku. Bukan soal beranak di iklan KB itu...
Hah..hah...hah... Bengek ku rasa di dada.. Kali ini bengek jantungan yang ada. Kamarku nampak lain, tak lagi seram kayak kemarin. Terang benderang, dengan cat ungu terang di dindingnya. Begitu pun kamar mandi, semua nampak baru berseri. Kenapa..Kenapa mereka jadi kerajinan padaku? Kenapa kamarku jadi begini...Rasa curiga hadir seketika di dada..
"Ada apa dengan kamar ini, kak?" Ku tunjuk wajah biasa, ku sorok rasa debar di dada. Bisa jadi kamar ini bukan lagi punyaku. Dan Ratih menyuruhku berkemas, beberapa barangku masih ada di dalam lemari bekas.
"Kau tidak gembira?" Ratih lekat menatapku, rasa heran tergambar di matanya.Bisa jadi Ratih merasa kecewa di hatinya.
"Hal ini tak wajar.., apa tujuan kamar ini dipugar.. Lalu aku pindah ke mana, kak ?"
"Dengar, Elsi... Kau sudah lulus seleksi. Kau adalah asisten tangguh dan kuat hati. Kau tidak kabur atau pun lari. Itulah yang ku cari. Maaf, aku jahat padamu selama ini." Ratih berkata pasti dengan senyum samar di bibirnya. Tapi aku tak paham juga apa maksudnya.
"Maksudmu, kak..?" Akupun lekat menatap Ratih.
"Keluarga ini butuh asisten sepertimu. Niat kerja betul-betul. Tidak terus kabur setelah dirasa tak suka. Jadi mulai sekarang, kau harus siaga, Elsi.. Tuan Garrick tak ada, tapi mereka bertiga masih ada. Kau paham ?" Ratih menyudahi ucapannya. Tapi ku rasa tak puas dengannya.
"Jadi jika ada panggilan dari mereka, aku yang datang?" Ku tatap Ratih dengan ku tunjuk dadaku. Ratih mengangguk padaku.
"Selain itu, temani Welvia masak. Juga... Rapikan kamar mereka setelah apel pagi usai." Aku tersenyum manis untuk Ratih. Tugas ini tak berat, hanya tantangan baru untukku.
__ADS_1
"Elsi.. Saat mengemas kamar tuan muda Zayn, kau sedikitlah waspada. Meski masa remajanya telah lama lewat, sifat pubernya justru kian bertambah." Ratih berkata sambil berlalu di pintu. Ku dengar langkahnya menjauh berlalu.
Ratih menyebut nama Zayn. Siapa dia? Apa adik tiri tuan garangku? Lelaki muda tampan sekelas idola anak kuliahan, yang calon dokter itu? Sekilas ku ingat kedipan mata sebelahnya padaku. Pasti dia! Tak mungkin bocah kecil SD itu! Hu..hu..hu.. Sepertinya akan ada masalah baru menungguku. Aku telah gagal total dalam penyamaranku!