Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
21. Kau Menyesal ?


__ADS_3

Dengan hati terpaku beku, ku biarkan Anthony erat mengenggam tanganku. Tetap ku nyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan kesan gembira untuk Anthony dan hadirin. Ku pandang sekilas pada Irgi yang lalu berkedip sebelah mata padaku. Dia tetap ada di kala gundah hatiku!


Terus mengikuti petikan gitar Irgi dengan suara merdu maksimal andalanku. Iringan musik kompak dari teman-teman, semakin memeriahkan lagu ultah ini jadi lebih menghanyutkan.


Bernyanyi penuh senyuman dengan jemari dalam genggaman tangan Anthony. Sesekali terasa siksa jiwa saat tanganku di remas kuat olehnya diam-diam. Ku biarkan, karena ini sudah lewat setengah jalan. Tiga puluh juta sebentar lagi dalam genggaman, ku hiburkan diri bahwa ini lebih berkelas dari bernyanyi di jalanan!


*****


Aku telah mundur ke belakang panggung bersama Irgi dan teman-teman. Kami berkumpul melingkar menghadap meja berisi penuh makanan. Irgi telah meminta salah seorang pegawai, untuk diberi pelayanan yang cukup untuk kami berenam.


"Tak sangka, kedatanganmu malam itu membawa berkah, Elsi..." Galih, putra melayu asli dari pulau Buluh, pinggiran Batam itu sempat melihatku bernyanyi dengan Irgi di dek kapal.


"Tak menyangka juga, berani mendekati kalian, membawa rizqi bertuah untukku." Ku pandang mereka bergantian, terutama Irgi.


"Elsi, tulis nomer hpmu !" Irgi menyodorkan ponselnya padaku, menyusul ponsel milik Galih. Diikuti ponsel milik David, Dedik dan Arga, nama-nama teman baruku, mengantri di meja depanku.


"Aku tak bawa ponsel, segera saja kirim pesan padaku. Punyaku di bilik!" Aku terangkan, sebelum mereka meminta ponselku. Kelima ponsel itu telah ku isi semua dengan nomer ponsel milikku. Semoga pertemanan ini membawa kebaikan untuk kami khususnya untukku.


"El..!!" Suara melengking yang sangat ku kenal. Garrick garang telah berdiri gagah di belakang panggung menatapku.


"Boss...!" Ku balas seruannya. Waktuku untuk kembali ke genggaman tangan tuan telah tiba. Ha..ha..ha.. genggaman tangan bernilai tiga puluh juta dari Anthony memang sedang ku pikirkan!


"Irgi, selepas acara ini, datanglah ke bilikku di dek atas! Kita hitung bersama pendapatan kalian!" Garrick menunjukku dengan dagunya setelah habis bicara pada Irgi.


Garrick telah membawaku kembali ke posisi mejanya. Meja itu tidak hanya ada Dora di sana, tapi telah berisi dengan beberapa pegawai direksi, rekan rapat Garrick subuh itu. Degh ! Anthony Lung juga sedang duduk bersama, memunggungiku. Aku telah sangat hafal visualnya, punggungnya sekali pun!


"Duduk, El!" Garrick memerintahku sambil mendorong pelan kursi di samping Anthony Lung, dengan sebelah kakinya. Heemmh.

__ADS_1


Anthony menolehku yang telah duduk di sebelahnya. Lelaki tampan berwajah oriental itu tersenyum lebar begitu melihatku. Ku balas dengan senyum tipisku dan sedikit mengangguk padanya. Sandiwara di panggung itu telah berakhir, aku akan jadi diriku sebagai kacung bermartabat selain di depan tuanku.


"Bicara saja Lung!" Suara Garrick mematahkan rasa kaku di hatiku.


Boss garangku telah duduk di seberang depan, di kursinya semula bersama Dora. Wajah Dora yang dipasang seanggun mungkin itu melirik begitu sinis padaku. Ku redupkan mataku menatapnya, tanda aku tak suka cara memandangnya padaku.


"Elsi.." Ku toleh Anthony Lung yang telah memanggilku. Ku amati paras cukup teduh itu dengan senyum di wajahnya yang putih.


"Iya mas, apa?" Tetap ku sebut mas padanya, seperti pertama aku mengenalnya. Anthony nampak memutar punggung dan benar-benar menghadapku.


"Dari panggung tadi, ku anggap kamu kekasihku, bagaimana?" Tak ada senyum lagi di bibir merah itu. Hanya kesan serius terasa dari ucapannya. Ngeek..ngeekk..rasa bengek serasa menyerang di dada.


"Maaf mas, panggung itu hanya hiburan, habis turun maka selesailah urusan. Sudah tak ada tuntutan untuk diteruskan." Ku balas pandang Anthony dengan tegas tanpa kedip. Ku harap dia berhenti menekanku.


"Tidak masalah... Kamu bekerja saja denganku. Ku bayar dua kali dari upahmu. Aku sudah bicara dengan Garrick, dia akan melepasmu!" Ku tatap Anthony dengan sejuta rasa di hati. Begitupun Garrick, meski terus memandangku, tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Benar-benar tak ada perlindungan dari juragan sepertinya.


Para direksi memandangku terheran, ada kesan kurang paham akan peran diriku di sini. Samalah dengan yang ku rasa, aku seperti hilang jati diriku sebagai kacung bayaran sekarang.


Segera ku berdiri tahu diri, tak pantas duduk berlama, meski sang pemilik acara memintanya. Ku berharap Garrick perlu tenagaku, agar aku bisa berlalu.


"Lung, acara hampir selesai, aku akan ke kabin. Anak band itu sedang menunggu, jumlah nota akan ku kirim padamu setelah kami selesai bertemu!" Garrick berdiri dan memundurkan kursinya. Dengan gaya acuh dan santai, Garrick melepas jas hitam dari badannya.


"Bawa jasku kembali, El!" Garrick melempar jasnya padaku dengan cepat. Spontan ku tangkap dengan sigap, ku dekap jas wangi itu dengan tangan menempel rapat di dada tanpa sadar. Ku lihat Dora yang nampak memerah wajahnya melirikku.


"Kalian stay di sini, pantau sampai selesai acaranya!" Garrick berpesan pada rekan direksi.


"Aku pamit, Lung. Sekali lagi selamat ulang tahun!" Garrick menyalami Anthony Lung dan berbalik pergi bersama Dora tanpa menoleh meninggalkanku. Tapi jas wangi milik Garrick yang sedang ku dekap erat, meyakinkan agar aku mengikuti mereka di belakang.

__ADS_1


"Mas, aku izin dulu. Semoga acaranya selesai dengan lancar." Aku berlalu tanpa menunggu jawaban ataupun menyalami Anthony yang tengah termangu menatapku. Bergegas berjalan menyusul Garrick yang masih terlihat jelas punggung lebarnya. Tentu, karena ada Dora yang berjalan melenggang di sampingnya.


"Anggun, beristirahatlah yang cukup, jaga kesehatanmu." Mereka berhenti di simpang lorong kapal. Garrick sedang memandang Dora cukup dekat.


"Iya kak, Akan ku ingat." Dora nampak gembira dengan tatapan Garrick untuknya.


"Aku akan ke dek atas, hati-hati, jaga dirimu."


Garrick berpesan mesra dengan pandangan hangat pada Dora. Dora tersenyum manja dan mengangguk. Ku ikuti terus gerakan mereka dibalik gaya acuhku. Dugaan Garrick akan mencium Dora sebagai kata berpisah, tenyata hanyalah prasangka burukku. Garrick dan Dora berjalan berlawanan tanpa saling memberi kenangan.


Garrick kembali menggunakan lift yang sama untuk menuju dek teratas. Tapi kali ini Garrick masuk di belakangku, setelah menyuruhku masuk ke dalam duluan. Tidak ada lagi pantulan bayang Garrick yang lumayan jadi hiburan. Yang ada justru Garrick sebenarnya, tepat segaris di depanku, dan berdiri tegak di dinding lift.


Karena rasa salting berada dekat di depannya dalam hening lift, aku pilih menunduk menatap lantai. Ku hindari bertatapan dengan mata tajam Garrick yang terus memandangku semenjak pintu lift menyatu.


"El..!!" Garrick menyeru namaku.


Kepala yang menunduk ku dongakkan memandangnya. Mata coklat pekat itu menatapku lebih lekat. Haiish.. Wajah garrang Garrick sungguh kelewat tampan. Jiwaku seperti terseret dalam arus kuat sihir dan pesonanya.


"Apa kau tidak merasa rugi menolak tawaran Anthony Lung?! Sekarang kau menyesal?" Garrick yang tadi nampak kiyut dalam garangnya, mendadak berubah seperti monster bertanduk di mataku dalam sekejap.


"Tuankuuu... jagalah bicaramu! Justru akan rugi besar dan menyesal jika aku tergiur memenuhi tawarannya!" Kali ini suaraku kembali keras seperti biasanya.


"Benarkah?! Tujuh puluh juta satu kali..Kau bisa melakukan setidaknya sepuluh kali. Bayangkan berapa yang kau dapat!" Garrick berkata seperti mengejekku.


"Tuankuuu..meski bagimu aku gelandangan..atau kucing jalanan.. tapi aku tak sudi menjual ciuman sembarangan. Coba bayangkan, jika aku mengambilnya, berapapun. Seluruh isi kapal akan menaksir hargaku saat bertemu denganku kapanpun. Dari harga cium pipi itu..mereka akan mengira berapa harga di bibir..harga kencan...mungkin juga harga tidur, atau harga-harga yang lainnya. Aku tak bisa menanggung hal itu!"


Ku bicara sepuas hatiku pada Garrick. Nyala api yang berkobar di dada, membuat rasa gentar dan segan padanya hilang terbakar tanpa sisa. Garrick membuang muka dariku. Ku harap ada sedikit rasa malu yang didapatnya dari seluruh pencerahan tentang prinsip diriku padanya.

__ADS_1


Bukankah pada Dora sikapnya bisa begitu manis? Kenapa jika denganku, bicaranya begitu tidak sopan? Apakah karena aku hanyalah kacung tak bermartabat di matanya?! Ku tekan rasa hatiku dengan meremas jas hitam di tanganku kuat-kuat, tak peduli pemilik jas ini tengah melihat apa yang sedang ku buat pada miliknya.


__ADS_2