Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
117. ElGar's Hotel-Batu City


__ADS_3

Hawa saat pagi di Malang sungguh dingin menusuk. Terlebih dengan jendela kamar yang kubuka sejak habis subuh, kian menggigit ke tulang saja kurasakan.


Sejenak nostalgia mengingat masa naik gunung saat suntuk. Rasa dingin seperti mampu membekukan sementara masalah yang kubawa saat naik. Meski akan menghangat lagi setelah turun, dan bahkan lebih panas lagi saat kembali sampai di rumah. Tetap juga aku ulang pendakian tanpa bosan, bahkan ketagihan.


Begitu juga saat ini. Kubekukan sementara galau hati akan datang dan perginya Garrick dari rumahku semalam, lewat hawa dingin yang masuk menghembus di jendela kamarku.


Meski ingin, kutahan mimpi mendakiku sejak tiga setengah tahun yang lalu. Aku telah janji manis pada ayahku kala sakit, tidak lagi naik gunung. Dan tak lama kemudian ayahku meninggal. Jadi, akan kupegang teguh janjiku.


Menyesali dan merasa bersalah pada Garrick yang pasti sangat kecewa padaku. Dia telah jauh datang demi menemuiku. Tapi balasan apa yang didapatnya dariku.., dari rumahku.. Meski sebenarnya itu bukan mutlak salahku, hanya aku yang kurang tegas bersikap pada ibu dan mas Nino.


Inilah kelemahanku, terlalu terbuka pada siapa pun. Sifat gunungku terbawa dan melekat di kehidupan nyataku hingga sekarang. Jiwa petualangku yang buta pada situasi dan kondisi. Kadang menyesatkanku, lupa bagaimana patutnya bersikap. Kejadian Juan harusnya cukup membuatku jera dan berkaca. Tapi, aku... Garrick...,Maafkan aku..


Telah lelah dan puas menangisi hubunganku dengan Garrick yang kembali mengambang tidak jelas. Ponsel Garrick tidak aktif. Pesan yang kukirim dari semalam, belum juga ada tanda diterima, apalagi dibacanya. Ah, sesal ini sakitnya.. Garrick sekarang pergi entah di mana. Kesalah pahaman dan kesalahanku yang tak berakhir pada perbincangan.. Menggantung tanpa kejelasan.. Ah, kenapa hubungan cintaku masih terus rumit dan tak berkesudahan.. Aku ingin segera bahagia!


...🐒🐒🐒🐒🐒...


Ceklek!


"Loh, Si..! Mau ke mana? Cuantiknya kamu nduk..?! Kayak dari salon!" Ibuku sangat heboh, seperti memang tengah menungguku untuk keluar dari kamar. Dan kurasa sedang merayuku sekarang.


"Rumah teman." Kusambar tangan ibuku dan kucium seperti biasa. Tapi aku berat dan malas bicara padanya, hatiku masih sakit.


"Sarapan sik sebelum keluar,nduk...?!" Ibuku berdiri di samping, tengah kupakai sepatu tinggiku.


"Nanti saja." Bergaya buru-buru kuabaikan ibuku. Terdengar bunyi tin..tin dari GoCar langganan yang telah datang dan tak sabar menunggu.


"Si,..! Ojo pulang malam yo, nduk..!" Ah,teori..


Kutinggal ibu tanpa salam seperti biasa kuucap sebelum pergi darinya. Berharap ibuku merenung dan intropeksi akan sikap tak adilnya padaku.


Semalam, setelah Garrick pamit pergi dari rumah, aku masuk ke kamar dan menangis terisak tak tertahan. Dan keluar lagi saat kurasa mas Nino telah pulang. Saat yang kutunggu akhirnya tiba. Aku memang sering menentang ibuku. Tapi tak pernah kelakukan selama masih ada orang lain.


Aku bertengkar dengan ibuku saat kuprotes akan sikapanya selama Garrick datang berkunjung semalam. Ibuku ngotot bahwa itu demi kebaikanku. Agar Garrick tak datang-datang lagi menemuiku dan tak berharap padaku.


Alasannya, Garrick bukan orang Jawa, ibuku tidak suka. Ibuku takut jika Garrick membawaku. Ibu tidak ingin kutinggalkan dan kehilanganku. Cukup mbak Salsa saja yang jauh darinya dan itu memang sering disesalinya.


Ibuku semakin marah saat kubilang bahwa aku dan Garrick telah sama-sama saling cinta. Tangisan dan keluhan mulai keluar dari bibirnya. Jika begitu aku tak tahan. Kutinggal lagi masuk kamar dengan setengah kubanting pintuku. Kami sama-sama menangis... Ibuku di luar kamar dengan perasaan kecewanya, aku di dalam kamar dengan segala perasaan sedihku..


...🐒🐒🐒🐒🐒...


...🐣🐣🐣🐣🐣...


...πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯...


...🐒🐒🐒🐒🐒...


"Kita meluncur ke mana ini, mbak Elsi..?" Mas Bagus, nama sopir GoCar itu menegurku.


"Ke Batu, mas. Proyek yang kemarin itu." Kami berpandang sejenak lewat kaca yang tergantung di atasnya.


"Nggak antar nasi kotak lagi, mbak?" Mas Bagus jauh berusia di atasku, empat puluh tahunan. Tapi selalu sopan padaku.

__ADS_1


"Pekerja proyek di sana dah nggak ada mas. Bangunannya dah kelar." Kubetulkan kacamataku. Mataku sangat sembab, seperti habis tersengat lebah tebalnya.


"Lha sekarang, kok ke sana, mbak?" Mas Bagus terus kepo dengan tanyanya.


"Interview mas. Aku ngelamar, ada lowongan dan aku berminat. Jadi ini kucoba." Sebenarnya sedang malas berbicara.., tapi mas Bagus bertanya lagi padaku.


"Ooh. Kudoakan, semoga lolos final ya mbak !" Mas Bagus berseru padaku.


"Aamiin. Terimakasih, mas!" Kubalas seruan mas Bagus dari kaca di atasnya.


"Kalo menang final, siap antar jemput, mbak..!" Mas Bagus menambahkan dukungannya.


"Siap, mas!" Aku pun menimpali.


...🐒🐒🐒🐒🐒...


Semalam saat aku menangis, sehabis bertengkar dengan ibuku, ada pesan masuk di ponselku. Dari mas Armand, mengabarkan bahwa berkas lamaranku lulus seleksi tahap awal. Dan jadwal wawancara yang katanya tiga hari lagi dimajukan jadi besok.


Dan hari ini, di sinilah aku sekarang... Memenuhi panggilan seleksi pemilihan pegawai resepsionis, di hotel baru ini. Tawaran mas Nino untuk jadi asistennya tidak lagi kupikirkan.


Dan yang lebih membuatku bersemangat, jika terpilih, pegawai resepsionis akan mendapat fasilitas penunjang. Yaitu, sebuah kamar hotel yang boleh ditinggali selama bekerja sebagai karyawan dalam hotel. Aku ingin menepi dari rumah dan ibuku sementara.


Dulu... Entah ini hobi atau kebiasaan kurang baik, aku akan lari ke gunung, bergabung dengan teman saat kudapati masalah di rumah.


Begitu juga waktu itu, saat Juan datang melamarku lewat ibu. Karena menyingkir mendaki bukan lagi solusi, maka minggat jauhlah pilihanku yang tepat. Berlayar jauh menyeberangi lautan ke Batam. Karena perlu waktu lama untuk menyapu masalahku. Dan tak kusangka, justru di sanalah awal kudapat masalah baru dan sekarang membelitku.


Jalan tikus di samping bangunan, tempatku keluar masuk bersama GoCar saat antar naskot waktu itu, telah ditutup total dan tidak lagi nampak bekasnya. Telah terganti dengan pagar tembok yang tinggi dan tanpa celah, tanpa lubang.


Dan kini mas Bagus tengah berputar menuju gerbang hotel di bagian depan bangungan. Yang aku pun tak pernah melihatnya. Mas Armand selalu melarang jika aku ingin mencoba berkeliling bangunan.


...🐒🐒🐒🐒🐒...


Bangunan megah dan nampak mentereng di balik gerbang itu sekilas nampak lengang. Hanya terlihat seorang security yang bergegas mendekat saat melihatku di gerbang.


Security mengajakku masuk gedung, yang kini kuikuti di belakang. Sambil berjalan, kucuci mataku dengan menanar gedung baru yang megah. Bangunan hotel ini bernuasa alam sangat asri. Bercat dinding warna hijau dengan taman-taman dan tanamannya yang rindang. Serasa berada di dalam taman kota. Dan cukup mampu memanjakan mataku. Ah, andai aku lulus interview, bahagianya.. Aku suka suasana hotel ini, hijau.. Oh, gunung..


Mataku menangkap tulisan nama hotel yang terpampang di tengah atas dinding gedung, bagian depan. ElGar's Hotel-Batu City, itulah bunyi tulisan nama hotel yang kubaca.


Menyebut nama hotel, terasa mengganjal kurasakan. Aku mengeja lagi nama hotel ..ElGar...Jiwa haluku meronta. Andai saja itu kepanjangan Elshe Garrick.. Ha..ha.. Ngarep, mana mungkin... Hanya senyum kecut saja kuciptakan.


Gaarrick, kau di mana? Tak adakah maaf untukku? Apa kelakuan ibuku juga sangat memuakkanmu? Ah..serasa diri seperti calon cinderela yang batal dan gagal. Jalanku jadi berat dan gontai. Tidak..tidak.. Aku harus bersemangat. Jangan letoy-jangan lebay. Akan ada maaf untukku. Hai jodohku, kaulah milikku. Hai Garjuuu, di mana dirimu? Hah..Semangatlah diriku !


...🐒🐒🐒🐒🐒...


Namaku akhirnya dipanggil. Entah bagaimana mas Armand meletak berkas lamaranku. Yang jelas di antara dua puluh orang pelamar, dan akan diloloskan enam orang saja, akulah yang terakhir dipanggil. Kesabaranku benar-benar diuji.


Nama HRD itu mbak Ririn, tinggi dan cantik, berusia tiga puluh lima tahun. Serta seorang lagi mbak Tini, berwajah manis dan lebih mungil dari mbak Ririn, tapi sangat enak dilihat. Berumur tiga puluh tahun. Seperti itulah data tertempel yang kubaca di dinding. Dan lalu kucocokkan dengan wajah orangnya.


"Ssst..Tin! Barusan ini cocok banget dipajang." Samar kudengar bisik mbak Ririn di balik kubikel.


Aku disuruh duduk menjauh setelah tamat diinterviewnya. Bergabung dengan seluruh temanku. Tapi kini akulah yang duduk paling dekat dengan kubikel HRD itu.

__ADS_1


"Setuju. Meski pake kerudung, padu padan bajunya masuk. Aku suka. Centang sajalah yang terakhir tadi, mbak!" Ini bisik sahutan dari mbak Tini.


"Ya, jangan buru-buru dulu. Ngomongnya gimana, oke apa enggak? Itu penting juga.." Suara mbak Ririn kembali lirih kudengar. Radarku benar-benar kutegak luruskan.


"Luwes mbak. Cas cis cus. Sat set, das des, dia menjawabnya." Mbak Tini kembali menyahut. Ah, tegangnya.. Akukah yang sedang dibahas oleh mereka?


"Tapi susah senyum, Tin. Padahal yang utama kan senyum." Ini suara mbak Ririn.


"Tapi senyumnya lumer deh mbak. Bagus kok.. Baru putus kali mbak.." Degh..Oh, mbak Tini..Mudah-mudahan yang kalian bincang itu aku. Dan kalian mencentang biruku. Lalu aku boleh memakai fasilitas kamarku dan sukses menyingkir aman di sini. Aamiin.


Deg..deg..deg...Terlalu berharap, membuat hatiku berdegup tak sabaran. Sunyi, hening dan tegang saat menunggu panggilan lolos ini sebentar lagi berakhir.


Mbak Ririn yang sempat menghilang keluar, telah masuk kembali ke ruangan. Tapi dia tidak sendiri. Seorang lelaki berbadan besar bersamanya. Mereka nampak baru mengakhiri sebuah percakapan.


Eh...Dia...Lelaki itu aku pernah melihatnya! Duh, grup direksi di kepalaku, cepatlah kalian merapat. Katakan, siapa lelaki itu.. Ya! Aku ingat. Lelaki itu adalah asisten Garrick di kapal pesiarnya. Ton, Hartono! Aku yakin, ingatanku tidak salah. Lalu, ngapain dia di sini?! Apa ternyata Garrick di sini? Memilih menginap di hotel baru ini?


"Utti!" Oh, mbak Ririn telah mulai menyebut nama yang lolos. Bukan aku...


"Cici!" Ah, bukan lagi..


" Rina!" Bukan juga...


" Nian !" Duh...Bukan lagi...


"Musti!" Lemess.., bukan juga diriku..


"Elis!" Eh, mirip... Apa mbak Ririn salah sebut? Elshe, tapi lidahnya kesleo jadi Elis? Ah, tapi tidak salah.Yang punya nama Elis sudah maju ke depan..


Lemesnya, kecewanya, patah semangat... Bincang mereka yang kudengar tadi dan sempat membumbung tinggikan harapku, justru kian mengsedihkanku...


"Elsii!! Elshe Dindania!!" Deg..Maak! Namaku..


"Saya..!" Kurentang tangan kananku ke atas.


"Elsi, silahkan keluar mengikuti tuan Hartono. Ada kesempatan job kerja lain untukmu!" Degh..,mbak Ririn mengarahkanku untuk keluar mengikuti asisten Ton. Job kerja yang lain untukku? Apa? Apa Ton masih bekerja pada Garrick? Apa aku akan dibawa untuk berjumpa dengannya?


Degh...deg..deg... Gegas kuberdiri dan berjalan mendekati Ton dengan dada cemas penuh harap. Ton berdiri menunggu dan tersenyum mengangguk padaku.


...🐒🐒🐒🐒🐒...


...🐾🐾🐾🐾🐾...


...πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡...


...🌡🌡🌡🌡🌡...


πŸ“šπŸ“š Readerku yang baik, hanya seginilah semampu updateku. Dan tak berubah sedari dulu. Hanya bedanya, dulu dua chapt, sekarang satu bab.


Dulu kupecah dua bab, demi mengutip like banyak darimu. Tapi saat sadar bahwa angka bab sudah banyak, tapi tamat masih jauh, aku panik. Jujur, aku belum level dengan novel yang babnya itu banyak banget.


Jadi, berusaha kukejar tamat dengan bab yang terlanjur berlebih. Untuk yang berkomen mulai mbulet.. Hi..hi..hi..πŸ˜‰πŸ˜„ terimakasih.. Tapi selalu kuhindari kata mbulet. Bersabarlah.. Harap baca terus updateku...!πŸ˜˜πŸ˜‰πŸ™βœŒβ€

__ADS_1


__ADS_2