Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
99. Ulat Bulu


__ADS_3

Mendengar penolakanku, Kanaya tersenyum dan mengangguk memandangku.


"Betullah itu, Elsi.. Bagus kau bayar sendiri. Meski aku tak dapat apapun, memang itulah niat awalku. Ayo, coba dulu dress barumu..Biar mereka melihatnya!" Kanaya Linha bersemangat menyodor lagi dress itu padaku.


"Kak, aku juga yakin dress ini bagus. Tapi tak usah kucoba. Langsung packing saja, kak." Hanya kupegang baju itu sambil kusodor lagi pada Kanaya.


"Tapi, aku ingin melihat saat kau pakai, El." Ekspresi Kanaya Linha terlihat kecewa.


"Akan kupakai setelah aku mandi dan berdandan. Saat begitu, pasti lebih baik. Akan kutunjuk padamu saat kupakai. Aku akan ke sini, kak." Kanaya tersenyum lalu mengangguk dengan janji manisku. Aku pun tak mau dilihat Garrick atau Anggun dan juga pak David saat kucoba dress itu. Kurasa mereka pasti akan menungguku atas permintaan Kanaya.


🐢🐢🐢


Kami berjalan sangat pelan menyaingi kelambanan kura-kura saat meninggalkan butik Kanaya. Empat kepala yang sedang berjalan ini, termasuk aku, seperti tengah diberati oleh berton masalah di dalamnya masing-masing. Teras Kanaya telah sepi dan lengang. Kami berjalan dalam tenang dan diam.


Langkah ini berubah resah dan ingin melaju saat di lorong temaram penghubung Kanaya dan lobi hotel, pak David berusaha menggenggam tanganku hingga lima kali mencoba. Anggun dan Garrick memang berjalan di depanku. Pak David tak pernah membiarkanku untuk berjalan di belakangnya. Aku menyesal kenapa tak jalan di depan Anggun dan Garrick saja dari awal. Aku siap heboh jika pak David sampai nekat berusaha memegang milikku yang lain.

__ADS_1


Apa yang kurisau tak berlaku. Pak David telah menyerah dengan setiap kibasan tanganku pada tangannya. Lorong temaram telah tamat, kami tiba di lobi yang lumayan ramai oleh pengunjung saat malam.


"Bagaimana kalau kita makan malam di luar?" Pak David memandang lekat Garrick dan sekilas padaku.


"Tidak masalah, om." Garrick menyetujuinya.


"Baiklah, ayo kita cari tempatnya." Mereka bertiga berjalan ke depan. Aku tak ingin mengikuti, selain tak minat, siapalah aku.., jadi kuberdiam saja di tempat.


"El..!" Garrick telah berbalik dan memanggil menungguku.


"Elsi, Garrick ! Kita makan di resto terdekat saja!" Ayah si Anggunlah yang berbicara ini. Ah, harusnya si garang saja yang dipanggil.


"Pa..! Ngapain papa panggil dia juga?! Buat apa, pa? Ayo kak Garrick..!" Anggun mendekati si garang. Tangan runcing itu akan menggandeng sebelah tangan Garrick. Tapi dengan cepat, Garrick telah bersedekap tangan di dada.


"Lekas, El. Ayolah.." Garrick berkata seperti memaksaku. Ash sudahlah, daripada aku repot lagi cari makan!

__ADS_1


Tak ingin mengulang hal buruk, kupimpin berjalan. Tapi dengan gesit pun, pak David telah ada di sampingku. Tapi kini kurasa aman, ada si garang di belakangku.


Pesanan telah datang, dan pramusaji sedang menata. Aku duduk berhadapan dengan pak David dan di sebelahku ada Anggun. Anggun berhadapan dengan pujaan hatinya, Garrick.


Rumah makan yang sering kudatangi bersama Sari ini, entah milik siapa. Yang jelas, pesanan isengku pada mi goreng dan oseng kangkung ternyata benar ada dan diantar di mejaku. Dan ternyata..Garrick pun mendapat menu yang sama, tanpa kusadari bagaimana dia memesannya.


Tak sadar kupandang si garang, ternyata dia pun tengah menatapku, aku samar tersenyum, dia pun juga..Kami saling tersenyum.. Ah, hatiku...Di masa mendatang..mungkin, akulah yang bisa jadi sepertinya. Pecinta mi goreng kangkung di saat hatiku sedang rindu.


"Ehm..!!" Eh..Aku dan Garrick bersamaan menunduk pada piring kami masing-masing.


Tanpa perlu kupandang orang yang duduk tepat di depanku itu. Aku tahu..suara deheman adalah dari mulut pak David. Kulanjut makanku dengan cepat. Ingin segera undur diri dan kuakhiri dinner ini. Aku tak nyaman dengan pak David di depanku.


Deg..! Ah,inilah yang sangat kutakutkan. Betis kakiku sedang dirambati sesuatu yang hangat! Ya, kaki pak David..entah itu jempol atau apa, yang jelas kaki tanpa sarung kaki itu telah mengusap betis kakiku yang terbuka. Seperti ada beribu ulat bulu gatal yang sedang merambati betisku. Dress cantikku hanyalah sampai bawah lutut. Ah..mualnya aku!


Ting..ting..!! Inilah bunyi sendok dan garbu yang setengah kubanting di piring. Bersama berdirinya aku dari kursiku.

__ADS_1


"Tuan Garrick, aku pergi dulu ke atas!" Kupandang sekilas tuanku sambil berlalu pergi menjauh. Bergegas jalan tergesa, kutinggal meja dan mereka. Perasaanku ini sungguh sedang tidaklah baik-baik saja. Rasanya ingin cepat pulang kampung saja ke jawa!! Aku rindu padamu, ibuku !!!


__ADS_2