Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
19. Dinda Pengganti Dinda


__ADS_3

Garrick mendekat dengan sorot mata coklat pekat yang tajam. Aku pasang kuda-kuda balasan andai dia melarang ataupun menghardikku. Ajakan Irgi untuk menggantikan Dinda ku sanggupi, lalu apa salahku..Kenapa Garrick horor begitu?


"Kau merasa layak mengganti Dinda?" Garrick menatapku sambil bertanya landai membingungkan, jawaban apa yang tepat..


"Elsi sangat layak, bang. Kami bisa kolaborasi dengan bagus !" Irgi merekomendasikanku dengan gaya meyakinkan. Tentu meyakinkan, Irgi adalah gitaris utamanya.


"Kau mampu?" Garrick kembali bertanya dengan pandangan tajam, matanya meremehkan kemampuanku.


"Elsi punya potensi, bang. Aku pernah mengiringi suaranya. Apalagi dengan peralatan musik yang canggih milikmu itu bang. Pasti lebih matching!" Irgi kembali mempromosikanku. Aku agak gentar dengan ucapan Irgi yang otomatis jadi tanggunganku.


"Kau benar-benar mau, El?" Kali ini Garrick memandang sedikit ramah, seperti sedang memberi kesempatan dan tak ingin memaksaku.


"Bossku, apa aku dibayar?" Aku memandang senyum Irgi sekilas. Aku tak mau Garrick mendapat untung banyak, tanpa berbagi laba sepeserpun denganku. Bukankah mengundang Dinda, tentu bagian dari bisnis hiburan di kapalnya?


"Jika kau tidak mempermalukanku!" Garrick yang mematung lama, akhirnya menyanggupi meski mengandung ancaman.


"Apa bayaran untuk Elsi lebih besar dari Dinda, bang?" Irgi berusaha mendapatkan hakku dengan jelas.


"Bisa jadi lebih mahal, bisa jadi tanpa upah!" Garrick memandang Irgi dengan serius.


" Tidak boleh seperti itu, bang. Jangan melihat jika Elsi itu a er te pribadimu, bang. Harus ada apresiasi untuk kesanggupannya naik panggung." Ah, Irgi... aku sungguh salut padamu! Kau tidak mementingkan eksis karir pribadimu belaka, tapi kesejahteraan rekan kau pikir juga!


"Baiklah, ada jaminan upah untuknya! Jika performancenya buruk, keluar sepertiga dari honor Dinda setiap lagunya!" Garrick berkata sambil terus mengamatiku. Sedang Irgi nampak berkerut dahi, menimbang untung rugi untukku. Sedang aku adalah pengamat penuh harap, sebab besar honor Dinda pun aku tak paham.


"Baiklah, bang... Elsi, apa kau terima dapat honor minimal sepertiga honor Dinda tiap lagu?" Aku menatap Irgi bingung.


"Honor Dinda lima juta tiap lagu!" Irgi seakan mengerti kata hatiku. Aku berpikir sejenak.


"Setidaknya, aku perlu nyanyi berapa lagu, Gi?" Ku pandang Irgi dengan mata berbinar.


"Lima lagu, tapi bisa lebih sih... Tergantung respon penonton!" Irgi memandangku dengan hangat, seolah menyemangatiku.


Ah, aku memang bersemangat, Gi! Setidaknya aku akan mengipas uang delapan juta hanya dengan bernyanyi lima lagu. Itu tidak susah ku lakukan.

__ADS_1


Ingat kala gila naik gunung waktu dulu. Aku dan teman-teman suka mengamen dengan door to door sepanjang kampung yang terlewati di jalur pendakian. Tentu selain untuk suka-suka bahagia, juga demi menguatkan dana pada kas keuangan kami. Bagaimanapun, kami perlu dana tambahan cukup besar jika ada rencana mendaki di luar kota ataupun luar pulau.


Aku adalah salah satu vokalis tetap di antara tim pendakiku. Biasanya begini, misal kami mendaki dengan jumlah dua belas orang, maka akan di bagi jadi tiga kelompok. Tiap kelompok akan mendapat satu vokalis, dan kami berjalan sangat berjauhan. Ada puluhan rumah yang akan disinggahi. Bayangkan... Berapa puluh kali aku telah bernyanyi? Jangan salut padaku!


Tapi rute yang kita lewati sama persis. Kami akan bergabung lagi di akhir jalur, dengan menyatukan pendapatan kami, cukup lumayan bukan?


Mungkin cara ini, kalian tidak menyukainya. Memang ku akui ini jaman jahiliyah di kala muda remajaku. Tapi ku pikir kelompokku cukup menghibur dan disukai. Mereka akan mengulur uang setelah ku habiskan setiap laguku.


Kebanyakan tidak memberiku recehan, tapi lembaran kertas, entah hijau, kuning, atau ungu sesekali juga hijau muda. Bahkan pernah juga warna biru. Tapi tak pernah dapat merah! Ha..ha...ha..ngarep!!


"Elsi! Bagaimana, kau terima tidak?" Teguran Irgi membangunkanku.


"Oke, Gi... Aku setuju!" Irgi nampak lega dengan jawabku.


"Ok Bang! Aku bawa Elsi bersamaku!" Irgi memandang Garrick dengan maksud ijin membawaku. Garrick diam memperhatikanku dengan bibir merapat.


"Ton! Bagaimana? Layak tidak?" Garrick tetap memandangku, dan Ton pun ikut mengamatiku dari kepala hingga kaki.


"Perfect, tuan! Siap manggung, hanya make upnya kurang tebal!" Tonton mengomentari riasanku. Ah, lebay kamu Ton!


"Baiklah, bawalah dia. Jangan mengecewakan!" Garrick berpesan menatapku sebelum kakiku melangkah.


"Kami akan berusaha! Bukankah lebih malu dan kecewa jika Elsi tak mau mengganti Dinda, bang?" Ah, Irgi... Garrick, merah padamlah mukamu! Aku pun berlalu mengikuti Irgi melewati beberapa kursi dan meja. Tak lagi ku lirik-lirik mereka di sekitarku.


*****


Irgi adalah ketua kelompok yang baik dan bertanggung jawab. Sebelum waktu tampil tiba, Irgi mengumpulkan kami. Irgi memberi waktu untuk kami mengisi perut dengan cukup dibelakang panggung.


Tim pemain musik yang akan manggung bersamaku berjumlah lima orang, enam denganku. Semua lelaki, akulah perempuan pelengkap sebagai vokalnya. Aku kurang tahu dengan peran mereka masing-masing. Yang ku tahu Irgilah gitarisnya. Irgi sempat mengajakku berlatih hanya dengan diiringi petikan senar di gitarnya.


Mengingat waktu sangat mepet, Irgi bersepakat agar aku mengutamakan fokus pada petikan gitarnya. Irgi akan selalu berdiri dekat denganku saat bernyanyi, agar aku bisa mendengar petikan gitar dengan jelas. Sedang teman yang lain, akan jadi pengiring, mengikuti arah vokal dan gitar dengan alat musik yang akan mereka mainkan. Akupun terus-terusan setuju, karena aku sangat paham dengan maksud yang sedang dikatakan Irgi.


****

__ADS_1


"Baiklah para hadirin semua!! "


"Kita telah dapatkan pengganti Dinda!!"


"Kini kita telah hadirkan bintang tamu baru kita!!!"


"Mbak Dinda!!!!"


"Namanya sama, saudara!!!"


"Dinda! Elshe Dindania!!!"


"Kita sambut! Dinda pengganti Dinda!!!!"


"Beserta grup band pengiringnya!!"


"Band Batam Land!!!"


"Kita Sambut!!! Beri tepuk tangan yang meriah!!"


Penggalan sapaan dari suara dahsyat sang MC terdengar membahana di telinga. Irgi mengkodeku agar bersiap untuk segera tampil maju. Irgi membawaku naik panggung, membaur bersamanya dan teman-teman. Kami seperti anggota grup band yang telah saling kenal dan lama bergabung.


Lagu pertama yang kubawakan adalah lagu ucapan selamat ulang tahun untuk pemilik acara ini, sesuai permintaan Irgi padaku. Dan sebagai bonus, lagu tahun baru juga ku nyanyikan dengan sangat gemilang di hadapan tamu undangan pesta dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.


Mereka nampak diam terpukau dengan nyanyianku yang sangat jelas dan merdu. Aku bernyanyi dengan lantang tanpa keraguan di hatiku. Irgi begitu setia bermain gitar di dekatku, aku tak pernah kehilangan intro, arah, dan nada bernyanyiku berkat petikan gitarnya.


Lima lagu, dengan bonus lagu ultah dan tahun baru telah sukses kami bawakan. Semua tangan bertepuk tangan meriah dengan lama tanpa lelah. Dengan rasa lega dan bahagia, kami telah siap menghilang ke belakang panggung.


Tapi sang MC kembali memanggil kami. MC meminta kami bernyanyi sekali lagi untuk membawakan lagu ultah atas permintaan pemilik acara, sekaligus pelancong yang sedang ultah itu.


"Kepada bang Anthony Ferdiyan Lung, kami ucapkan selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan lancar seluruh busnisnya! Untuk bang Anthony, mohon naik panggung untuk menyertai lagu ultah yang akan kami persembahkan!!!"


Irgi dengan suara khasnya memberi sambutan sebelum ku nyanyikan lagu ultah. Seorang lelaki nampak menaiki panggung dari arah depan. Hah..apakah dia Anthony? Aku kenal dia!

__ADS_1


Lelaki itu berkemeja dengan bekas noda di baju bagian perutnya. Yah, dia orang yang ku tabrak dengan tanganku dan terkena setusuk sateku. Benarkah dia Anthony? Pelancong Tionghoa yang sedang ultah itu?! Alamak!! Acara pesta ini sesempit daun bayam!


__ADS_2