Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
107. Janji Pulang


__ADS_3

Wacana dari ucapan moderator di panggung barusan, sungguh heboh mendapat tanggapan. Mega aula ini seperti penuh lebah mendadak rasanya. Semua sedang diskusi menumpahkan hasil rapat direksi di kepala mereka masing-masing. Sambil sesekali menatap arah panggung lalu kembali berbicara, semua berubah jadi seperti pengamat politik kawakan saja gayanya.


Sebenarnya aku pun ingin begitu, bergosip serta membahas tentang hal yang terbaru dan terpanas. Tapi tak mungkin dua adik kakak di sampingku, aku ajak begitu. Hu..hu..hu..


Garrick sedang bisu menatap panggung, Zaynpun sama, mematung. Apalagi yang kulakukan selain meniru dua gaya mereka itu, bungkam mematung menatap panggung.


Semua orang di sana telah duduk menyamping, bahkan moderatornya juga. Tak ada satu wajah pun yang bisa kurapalkan di sini. Yang jelas, Anggun dan Juan hanya saling menunduk tanpa memandang. Kurasa Anggun masih menangis. Tangannya sesekali menyeka mata dengan tisu yang tak jemu diulur oleh sang ibu.


Juan..Bagaimanan perasaanmu? Aku tak tahu apa saja yang telah terjadi padamu. Apa saja yang kau lakukan selama bersama Anggun. Bagaimana sebenarnya cerita kalian itu. Yang pasti, saat ini aku kasihan padamu. Sama sekali tak ada kerabatmu yang datang. Kau hanya datang sendiri ke sini. Yang juga mewakili kondangan ayah ibumu. Bagaimana perasaanmu? Tapi ini buah dari pohon yang kau tanam. Dan..Ah, kau lelaki Juan !


Acara pernikahan sinetron ini telah dimulai. Pengantin pengganti lelaki, Juan, telah menerima ijab yang sakral dari pihak perempuan dan menimpali dengan jawab qabulnya di hadapan pak naib. Meski Juan harus mengulang hingga tiga kali dan cukup menegangkan, namun akhirnya acara akad nikah berhasil dilakukan dengan lega memuaskan. Makhlum, Juan tidak terfikir berlatih, tapi..mana kutahu ya!


Eh..,Berlatih...Apa Garrick juga berlatih? Apa Garrick telah berlatih dan menyebut nama Anggun? Menyebut Anggun berapa banyak kali? Ah, tak rela ...Sakit..


"El, Bang..! Aku duluan, kalian lanjut saja !" Suara Zayn mengejutkanku. Bocah baik itu telah berdiri akan pergi.


"Kau akan ke mana, Zayn?" Garrick menoleh, memandang Zayn melewatiku.


"Batam Center, bang. Nanti aku mampir ke rooftop!" Mata jernih hitam pekat itu menatapku sesaat. Dan akhirnya berlalu. Tanpa kedip mata sebelah lagi padaku..


"Kutunggu, Zayn!" Garrick berseru. Zayn terus melangkah tanpa menoleh lagi sedikit pun.


"El, kau mau ke mana?" Garrick bertanya pelan begitu melihatku berdiri. Ya..aku memang ingin pergi undur diri. Tak ada lagi kepentinganku di sini. Siapalah aku kini...


"Aku juga pulang. Aku bukan tamu yang diundang.." Aku juga bersuara pelan.


"El.." Garrick menarik tanganku perlahan. Dengan cepat kududuk kembali. Tak ingin adegan ini nampak mencolok dan menjadi tanda tanya.


"El.. Mungkin kau tak nyaman. Kau boleh pergi sekarang. Tapi tunggulah di rooftop. Hanya ke sana kau boleh pulang. Tunggulah aku. Aku masih ada urusan sebentar dengan kerabatku." Garrick masih memegang pergelangan tanganku cukup erat.


"Bagaimana, El?" Garrick bertanya sambil mengeratkan tangannya.

__ADS_1


"Iya..iya...Lepaskan.." Berbisik kujawab cepat-cepat. Tapi tanganku masih juga erat digenggamnya.


"Apa kau janji akan pulang ke rooftop?" Garrick berkata lirih mendekatku. Seperti tak peduli akan jadi bahan gunjing.


"Iya..,iya..,janji.." Perlahan tanganku dilepasnya.


"Istirihatlah, tunggu aku di rumah." Garrick berbisik padaku. Mungkin orang yang melihat, akan segera rapat darurat tentang siapa aku dengannya.


🐢🐢🐢


Telah kutinggal gedung aula dengan orang-orang penting itu di sana. Dengan rasa berdebar menuju lobi hotel Garju, melewati teras di Kanaya. Ini lepas maghrib, kurasa Kanaya Linha tak ada. Ya sudah, telah gugur janji pamer baju ke dia.


"Elsi..!!" Sari menyeruku dari mejanya. Lalu terburu keluar dan menghampiriku. Tas tali di pundak telah dibawanya. Jam kerjanya sudah habis.


"Wah dari mana kamu, Elsi?" Sari tepat berhenti di depanku, mengamatiku sangat heran.


"Dari lewat butik..Kenapa?" Sari mamandangku sambil mencebikkan bibirnya. Dia tak percaya.


"Wah, gila ini, Elsi..! Pekerja hotel selevelku pun tak ada yang dipelawa ke sana!" Sari geleng-geleng kepala dan terus memicingku.


Tin..! Tin..! Tin..!


"Sariii...Tuh pacarmu, jemput!" Taksi biru tengah menunggu Sari dengan tak sabar. Kuharap gadis manis dan ceria ini cepat saja berlalu. Aku tak ingin terus dikoreknya.


"Iyalah...Aku, pergi. Pacar pasca bayarku sangat tak sabaran! Bye, Elsi..!" Sari telah berlalu tergesa dariku.


Sambil tersenyum kupandangi Sari yang pergi bersama taksi birunya. Sari dah menghilang, senyumku tak lagi mengembang. Bimbang, ke mana aku pulang?


Rindu cintaku di depan mata. Dan teringat pada pintanya. Aku telah berjanji memenuhinya. Maka keputusanku haruslah datang saja.


🐢🐢🐢🐢

__ADS_1


Tok...! Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!


Oh, aku terkejut. Bunyi ketuk di pintu mengejutkanku! Aku tertidur. Kulepas cepat mukena dan kulipat asal saja. Apa Garrick sudah pulang, pukul berapa ini?


Ceklek!


Dia..Pria yang telah kuperjuangkan, berdiri tegak di depan kamarku. Seperti mimpi, kami berdiri saling berhadapan tanpa ada lagi penghalang. Ya, si garang telah sendiri, dia telah jomblo sekarang, sama sepertiku. Harapku...


"El..." Mata coklat itu redup menatapku. Ah, kuharap aku sedang cantik, meski baru saja bangun tidur.


"Iya.." Kulembutkan suaraku. Aku ingin memberinya ketenangan. Bisa jadi dia sedang terguncang.


"Aku ingin bicara" Garrick sedikit menepi, akupun keluar.


Sofa yang kupilih duduki sangat lebar. Tapi Garrick duduk sangat dekat denganku, seperti sofa ini sangat sempit. Aku tak mampu menegurnya. Ah, debar dadaku...


"El..Kenapa kau datang dengan Juan?" Ah, dig dug laju dadaku. Garrick tiba-tiba duduk menghadapku dan begitu dekat saat bicara.


"Kami tak sengaja bertemu saat masuk." Kujawap lirih, suaraku seperti susah keluar. Garrick memajukan dadanya semakin dekat dan menyentuh lenganku. Duh, jantungkuu...


"Kalian sangat mesra, El. Aku tak tahan melihatnya." Oh, Garrick...Debar geli rasanya, dia berbicara sangat rapat di telingaku. Bahkan gerakan bibirnya saat bicara menyentuh daun telingaku. Merinding berdebar raga ini...


"Aku sengaja. Aku ingin calon istrimu itu terguncang. Maafkan, aku." Kutoleh kepalaku, mata kami bertemu. Mata irish coklat itu begitu lekat menatapku. Bertatapan sangat lama....Seperti biasa, aku tak kuat. Debaran ini kian kuat saja rasanya.


"El, jadi..Kau sudah tahu?" Garrick bicara sangat dekat seperti akan melalapku.


"Iya. Aku sudah tahu, dia hamil." Ah..Deg..deg..deg.. laju jantungku, Garrick mengambil kepalaku. Meletakku di dadanya.


Oh, jiwaaa...Tenanglah, ini hanya pelukan di kepala. Oh..harumnya dada ini. Garrick pasti baru mandi, sejak kapan dia pulang? Jam berapa ini? Ah, Garju..,teruslah peluk aku begini.. Ya.ya..hanya begini..


🐢🐢🐢🐢🐢

__ADS_1


Lambat dan pendek. Bebarapa hari ini, otor terlibat di kondangan. Swear..terkewer..kewer...😉.. Mungkin amburadul. Harap maklum. ...🙏❤


__ADS_2