Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
Camernya Datang


__ADS_3

"Nang, ambilkan juga untukku!" Anang menangkap ponsel Garrick dengan tepat.


Garrick menatapku sekilas, lalu mengarah Anang dan memasang senyum kaku di muka garangnya. Meski kejut, tetap ku tunjuk senyum ke ponsel dengan kura-kura bersamangat. Ku tahan hatiku agar tidak mengumpatnya diam-diam.


Anang mengembalikan ponsel mewah itu. Muka Garrick semburat merah saat sadar bahwa semua pasang mata memandang tercengang padanya.


"Kenapa?! Kalian ingin berfoto denganku?! Majulah!!" Merah di mukanya hilang bersama suara hardiknya. Hah...! Mana ada yang berani maju untuk selfie dengannya. Jika bukan karena tarikannya, aku pun tak minat!


"Sudahlah, kalian ku ajak ke sini untuk jadi saksi! Bukan untuk selfie! Cepat, habiskan semua makanan di meja ini!" Garrick duduk di sebelah Zayn yang sudah sibuk dengan sendoknya. Hanya kursi di sebelah Garrick yang kosong. Berat hatiku duduk di sana. Mataku berpandangan dengan Ratih dan uni Wel yang seperti kaku di tempatnya.


"Permisi..!" Tetiba uda Fahri telah berdiri di dekat meja kami.


"Maaf, silahkan lanjut makan! Saya ada perlu dengan Elsi...El, Uda tunggu di serambi ya!" Uda Fahri berkata tenang dan sopan.


"Bang, dululah saja! Elsi pulang denganku!" Suara berat empuk si garang, menyahut nyaring di telingaku.

__ADS_1


"Benar, Elsi ?" Lelaki Padang itu seperti mencari kapastian bahwa dia akan meninggalkanku dengan baik. Tentu ku bimbang. Ingin melihat calon kafe baruku.


"Iya, uda. Maaf, uda Fahri duluan saja. Argo yang tadi, bon dulu ya, uda!" Ku jawab yakin saat ku toleh, Garrick yang diam makan itu sangar sangat.


"Apaan tuh, El ! Kandidat calon..., tapi bon..?!" Zayn nyolot dengan bibir ember karetnya. Tak ada yang berani merespon ucapnya. Mengingat siapa uda Fahri, aktivis yang disegani di lingkungannya.


"Uda Fahri hati-hati di jalan!" Ku semangati uda Fahri.


"Siap, El.. Jika ada perlu, hubungi saja uda! Mari semuanya!" Uda Fahri berlalu sangat tenang, seolah ucapan Zayn tak ada makna baginya.


"Jangan banyak bicara, El. Cepat habiskan isi piringmu! Aku buru-buru, akan ada tamu di rumahku!" Garrick menolehku sengit. Dan itu hal biasa bagiku.


"Siapa yang datang ke rumah, bang?" Tanya Zayn mewakiliku.


"Orang tua Anggun." Garrick terdengar malas menjawab.

__ADS_1


"Wah, jumpa camer rasanya gimana, bang?! Aku pun sangat ingin jumpa camer. Boleh kan, El, aku kenal ibumu? Kita pergi ke Jawa ya, El!" Perkataan konyol Zayn itu membuatku tercekat. Candanya yang kelewatan, terus saja berlanjut. Aku malas dihardik abang garangnya.


****


Kami diangkut mobil Garrick yang lainnya. Mobil yang biasa dipakai, beserta sang sopir, sedang mengantar pasangan pengantin baru ke rumah mereka. Anang mendapat cuti tiga hari saja, karena bukan lagi bulan madu. Itulah yang Garrick bilang pada Anang.


Mobil yang kami tumpangi sangat panjang serupa limosin. Zayn dan Garrick duduk di belakang sopir. Lalu Ratih.. lalu ada aku dan uni Wel di belakangnya. Mobil ini sangat hening, tanpa deru mesin sedikit pun. Aku dan uni Wel kadang berpandangan dalam diam, sesekali kami tersenyum. Uni Wel terlihat kaku dan resah, jadi aku diam juga sepertinya.


Mobil telah sampai di rumah utama. Bukan lagi rumah rooftop di hotel. Sebuah mobil juga nampak baru sampai di sebelah mobil ini. Rupanya Anggun dan orang tuanya telah datang.


"Ratih..!" Kami masih hening dalam mobil. Garrick berseru pada ketua kacungku.


"Suruh Elsi melayani tamu!" Garrick bicara keras tanpa menoleh ke belakang.


Ratih dan uni Wel seketika memandangku. Kami termangu. Ku anggukan kepala pada ketua kacungku. Kamipun samar tersenyum. Lalu perlahan turun keluar dari mobil. Zayn dan Garrick telah keluar dengan suara pintu yang ditutup keras dari hempasan tangan Garrick.

__ADS_1


__ADS_2