Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
119. Aglaonema Penjinak Camer


__ADS_3

Hawa dingin di Malang pagi ini masih juga menggigit kulit dan tulang. Tapi tidak dengan suhu derajat di hatiku yang terus stay menunjuk di angka hangatnya.


Jika kemarin kubangun tanpa semangat, tapi pagi ini kusambut mata terbukaku dengan perasaan indah berdebar dalam gelungan selimut tebal yang lembut dan nyaman.


Sore nanti, Garrick akan datang menemui ibuku. Garrick menolak saat kutawarkan mengajak ibu ke tempat lain yang nyaman untuk bertemu dan berbincang. Tapi Garrick lebih memilih menemui ibu dengan datang saja ke rumah.


Garrick juga berpesan untuk tidak mengatakan akan kedatangannya nanti pada ibu. Hanya memintaku bertenang dan mendukung apapun usahanya untuk mengambil hati ibuku. Aku pun pasrah dan berkewajiban menjaga ibu agar tidak jauh pergi keluar, sampai Garrick datang ke rumah menjumpai ibuku.


...🐒🐒🐒🐒🐒...


Ding ding dong...🎢Ding ding dong...🎢


Ding ding dong...🎢Ding ding dong...🎢


Deg...! Bunyi bell dari pagar rumah telah bernyanyi riang dan nyaring. Tepat saat kuselesai berhias setelah kutunaikan salat maghrib. Itu pasti Garrick yang datang dan telah menekan bell di pagar. Sambil mengumpet aman, aku kura-kura sibuk dulu di kamar.


Diam senyap menepi, berharap ibuku keluar rumah dan menyambut Garrick di luar. Berdoa agar ibu menyambut baik Garju sebagaimana pada tamu yang datang. Telah sangat lama, tapi ibuku belum juga mengabari akan datangnya Garrick untuk memintaku keluar dari kamar.


Karena cemas jika diam-diam Garrick telah ditolak pulang oleh ibu, aku keluar sendiri saja akhirnya. Berjalan menuju ruang tamu yang menyambung ke depan. Berharap Garrick masih ada atau mereka ternyata tengah berbincang sekarang... Ah, aku diabaikan..


Degh..! Kudengar suara ibuku yang seru.


"Wah..wah...wah...Ya ampuuun, nak Garrick.. Iki jan ayu-ayu tenan.. Sueger-seger, sehat-sehat.. jian ngglemoh-ngglemoh.. Laah..iki malah wes manak.. pada bawa anak.. Biyuh-biyuuuh...Jian nggemesne tenan iki..."


Eh, apa yang sedang dihisteriskan ibuku hingga terdengar heboh begitu. Mereka terkesan jadi akrab mendadak. Apa yang sedang menarik ibuku itu.. Anak?!Anak siapa yang dibawa Garrick...??


Cepat ingin kulewati ruang tamu. Sangat penasaran dengan maksud ibuku. Kulajukan jalanku, seperti peluru yang dilepas dari ketapel ke teras.


Eh...Maak! Pemandangan apa ini? Seketika kupahami keseruan ibu. Tawa senyumku mengembang tertahan memandangnya.. Betapa terharu kulihat mereka. Cepat sekali mereka nampak akrab begitu.. Oh,memanglah kelakuanmu itu Garjuuu...


"Laah..iki kan si Diana sing uayuu... weeh punya anak pisaan... Anak'e tigaa..."


"Ladalah... Iki Tiara... Iseh gadis iki.. Belum bawa anak.." Ah,hebohnya ibuku, aku jadi malu padamu, Garju..


"Lhooo..ada si Angela..,biyuuuh jan sueger.. weeh, anak'e limo ikii.."


"Lha iki ada Paulina sing kualem iki.. Biyuuuh..cilik-cilik wes nggendong anak sepuluh.. Hemh..hemh...hemh.."


"Wuaduuh... iki Tamara..adududuh.. Sejak dulu pengen iki rung keturutan..Sekarang dapat.."


"Iki..opo meneh iki... Wuaduuuh reeeek..si Lotus iki reeek.. Biyuh Garriiiick, habis piro iki kamu beli iki..." Ah, mereka sangat sibuk berdua. Tak menyadari datangnya aku ke teras. Garrick terlihat sabar menunjukkan apa yang dibawanya satu-persatu pada ibu. Dan ibu sangat antusias memperhatiakan setiap nama yang ditunjuk Garrick padanya.


Ya..! Ibuku tengah kalap dengan bermacam tanaman hias Aglaonema yang dibawakan Garrick malam ini untuknya. Kini sedang mengelus daun-daun cantik itu dengan tisu basah di tangan. Dan nama-nama cantik yang disebut tadi, adalah nama aglaonema yang diidamkan tapi sayang dibelinya.

__ADS_1


Ya, Aglaonemalah kelemahan ibuku yang pasti. Tanaman yang dicintainya hingga setengah mati. Sebab, kalo sudah mati tidak akan diliriknya lagi sedikit pun. Akulah yang terpaksa merawatnya hingga kemudian hidup dan sehat aman kembali. Dan akan dirawat lagi olehnya dengan senyum-senyum bahagia.


Apa yang dilakukan Garrick sama persis dengan apa yang diberikan pak walkot, ayahnya Juan pada ibuku. Pak Suharsono, ayah Juan, pernah memberi ibuku rumpun aglaonema Widuri yang cantik. Dan itulah salah satu penyebab ibuku termehek-mehek pada lamaran Juan padaku waktu dulu.


Ah, Garrick..Bagaimana kau bisa tepat dengan caramu untuk mengambil hati ibu? Aglaonema ibuku sangat banyak di belakang. Tapi untuk nama-nama lain dan yang telah umum dimiliki. Hanya aglaonema Widuri rumpun tiga belas dari ayah Juanlah yang istimewa bagi ibuku.


"Ehemmm..!" Eh, Garrick yang semula berjongkok memunggungi kini telah berdiri menatapku. Ibuku masih asyik dengan aglaonema barunya.


"Eh, lha yang ini apa?!" Ibuku tiba-tiba kembali berseru. Mengamati dua bungkusan sedang, yang terbiar di dekat Garrick.


"Monggo, dibuka saja, buuu.. Barangkali njenengan juga suka..." Duh, Garjuuu....Pas banget logatmu..


"Lho.. Kok bisa ngomong luwes begitu..?!" Ibuku pun nampaknya juga heran.


"Nggih, buu..Ibu saya asli Semarang. Hanya ayah yang dari Riau.." Garrick terdngar sopan menjawab. Ah, hilang sudah kesan garangnya..


"Lha ibumu Semarang, ayahmu Riau. Kok bisa akan menetap di sini?" Eh, ibuku telah tahu? Ibuku berdiri dan berjalan menuju kursi di teras. Garrick mengikuti, aku pun juga. Kami duduk bertiga saling berhadapan.


"Iya bu, saya telah selesai membuat tempat kerja di sini. Mohon ibu doakan, agar tempat kerja saya nanti berjalan sesuai rencana dan harapan." Garrick berbicara pelan dan ibuku tengah manggut-manggut mendengarnya.


"Tempat kerja apa itu?" Ibuku nampak berkerut menatap Garrick di depannya.


Garrick sekilas memandangku. Seperti ingin mencari dukungan dariku.


"Saya telah selesai membangun sebuah hotel kecil di Songgoriti, dan akan segera beroperasi dalam waktu dekat ini, buu.." Ucapan Garrick terdengar khidmat. Ibuku memandang kosong padanya. Entah apa yang tengah dipikir ibuku.


"Berarti, nak Garrick sungguh-sungguh akan menetap di Malang?" Ibuku nampak serius menatap Garrick lekat-lekat.


"Nggih, buu. Semua saya lakukan demi niat saya. Saya serius ingin mempersunting anak gadis ibu. Ngapunten, saya berencana ingin segera menikahi Elsi. Bagaimana, buu...?" Degh..Auwh...Garrick..Apa perasaanmu juga sedang berdebar sepertiku?


Tapi ibuku terdiam, tidak menjawabnya. Ibuku nampak bingung serba salah. Kuambil dan kugenggam tangan ibuku. Berharap ibu paham rayuanku dan mengangguk setuju padaku. Kami terdiam berpandangan. Mata ibuku nampak berair dan berkaca. Apalagi yang dibimbang ibuku?


"Itu tadi, yang belum dibuka, apa ya..? Ayo, bantu ibu membukanya, Sii..." Ibu seperti mengalihkan pembahasan. Dia berdiri dan berjalan.


Garrick juga berdiri, mengikuti aku dan ibu. Dengan sigap memegang bungkusan yang sangat rapi itu, lalu membukanya hati-hati.


Haah..! Juga aglaonema lagi. Tapi...


"El..Yang ini khusus untukmu. Kurasa kau pernah menginginkannya.." Degh..Oh,Garrick.. Lagi-lagi aku tak mampu berkata-kata.


"Bagaimana kamu tahu aku menginginkannya?" Ya, aku pernah berliur ingin memiliki.


"Lihatlah ini, El.." Garrick mengulur ponselnya padaku, sebuah video. Ibuku mendekat dan ikut menonton.

__ADS_1


Eh, isi rekaman video ini diambil dari cctv. Saat aku tersesat di Garju Park. Karena berlari dari dinner bersama Anthony Lung setelah menciumku. Di video, aku tengah mengagumi si Khanza. Ah, Garrick...harunya aku..


"Rumahnya sudah kujual, El.. Jadi,rawatlah.."


Aglaonema Khanza jika rumpun banyak dan sehat begini, mungkin puluhan juta harganya.. Oh, Garrick..


Garrick mengantongi ponsel lalu mulai membuka bungkusan satunya. Kurasa Aglaonema juga. Ah, betull....


"Wuaduh...! El,, iku Golden Hope, El..Ngipi aku, El..!" Ibuku sedang shock saat ini. Aku pun tahan nafas juga melihatnya.


"Betul bu, ini Golden Hope. Monggo, buu.. Njenengan rawat.." Garrick menyodorkan hadiah langka itu pada ibu.


"Loh.. Lha ada tulisan namaku yoo... Buiyuuuh...!" Ibu mengangkat dan menilik hadiah terakhir yang barusan Garrick ulurkan padanya. Duh, maak! Garjuuu...


Ada tulisan nama ibuku yang diukir indah di pot porselen tebal itu. Nama Aslamiah Haryanti terukir timbul di permukaan pot yang mulus dan halus. Duh, bagusnya... Ah, ibuku pasti termehek-mehek, deh!


Belum lagi si ratu daun yang nangkring gagah di dalamnya. Aglaonema Golden Hope, yang pernah kulihat di televisi bersama ibuku. Saat peluncuran live oleh penyilangnya, Greg Hambali. Yang harga perlembar daunnya mencapai jutaan bahkan puluhan juta. Jadi ibu Aslamiah Haryanti pasti sedang menaksir dan mengira berapa harga Golden Hope ori yang dibawakan Garrick untuknya. Duh, buuk..!


"Duuh, nak Garrick.. Iki ibu pasti ora iso tidur nanti malam.. Terimakasih hadiahnya lho yoo, ibu ora bisa mbalas. Tak doakan ae rezekimu luancar. Jodohmu dekat..." Eh.. Aku dan Garrick bersamaan saling pandang. Lalu sama-sama tersenyum. Dag dig dug dadaku.


"Aku...Terimakasih, ya. Boss Garrick juga memberiku hadiah yang kusuka." Aduh, rasa syahdu saat ku-ucap begitu..


"Hei...Si.. Manggil kok boss..! Katanya kalian saling cinta..Yo manggil itu, mas Garrick ngono..Sii...!" Duh, buuuk..!


Kupandang perlahan wajah Garrick. Eh, wajah tampan itu sedikit memerah, matanya redup memandangku. Apa dia suka.. Apa dia berharap kupanggil mass.. Mas Garrick.. Tapi dia tak pernah meminta.. Ah,Garrick mengulum senyum lagi memandangku.


"Si..Kok malah diam-diaman.. Sanalah, Si..! Buatkan mas Garrickmu opo ngono.. Kopi, opo teh, opo coklat..Sanalah, Si.. Dari tadi kamu nggak bikin opo-opo..." Duh, buuk..!


Garrick dan aku kembali bertatapan. Garrick mengulum senyumnya, menggerakkan alis ke atas sambil melirik ibuku sekilas. Kami tersenyum bersamaan, mungkin kami tengah sama-sama merasa lega sekarang. Izin restu dari ibu untuk menikah, telah di depan mata dan siap disambar lalu digenggam.


...πŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“š...


...🐒🐒🐒🐒🐒...


...🐞🐞🐞🐞🐞...


...🌻🌻🌻🌻🌻...


* Merasa konyolllll..*


Sorry..Worry..Lorry... Aku ponteng setor semalam.. Bab yang siap setor, terdelete tak sengaja... Esmossie doong...!πŸ˜‰βœŒ


Pagi bikin lagi, siap setor.. eh,kepencet lagi deletenya... Entahlah, dosa apa yang kubuat..!!πŸ˜„βœŒ

__ADS_1


Dan ini tulisan ke-3 ku di bab 119.. Kulompati dan Tak kutulis lagi rasa pelukan antara El dan Gar yang memang novelable uwwu.. Dan jadilah sekarang...InsyaAllah selamat meluncur ke tujuan...Mendarat aman ke alamat kalian... Ini cerita nyata penulisanku di bab 119. Benar-benar menguji semangatku. Dan hanya komentar kakak-kakak reader.. serta vote..hadiah.. meski tak banyak.. membayang di mata, terpaksa membuatku bersemangat. Terpaksa.. Sebab sedang lelah.


Mungkin hal yang paling menyakitkan bagi author adalah kehilangan naskah tapi belum disetor.πŸ˜‰πŸ˜„πŸ˜˜βœŒβ€


__ADS_2