Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
118. Rumah Rooftop


__ADS_3

Langkah asisten Ton tergesa menggiringku keluar dari ruangan seleksi HRD. Melewati lorong sebentar yang akhirnya ke lobi. Jalan yang sama saat security mengantarku masuk datang tadi.


Sebuah ruangan di samping lobi dengan penuh dinding kaca yang jernih dan transparant. Menampakkan pemandangan indah di luar yang mendinginkan mata dan kepala.


"Asisten Ton. Apa kamu masih mengingatku?" Sepertinya kami tengah menunggu datangnya lift. Ton menoleh dan tersenyum mengangguk padaku.


"Sebenarnya, kamu mengajakku ke mana?" Kuharap dia mau sedikit berbicara.


"Bertemu pemilik hotel ini, mbak.." Eh, aku akan dipertemukan dengan pemilik hotel? Untuk job kerja apa?


Pemilik hotel...Berarti kan boss pusatnya mas Armand. Apa hubungannya dengan Ton? Atau jangan-jangan...Degh.. Ah, tak mungkin Garju kan?


"Asisten Ton, apa hubunganmu dengan mas Armand? Yang memandori pembangunan hotel ini..." Dengan dig dug kutatap harap wajah lelaki super besar di sampingku.


"Armand adalah adik sepupuku, mbak." Eh...Asisten Ton menjawab sambil sebentar melirikku. Tangannya sibuk menekan tombol angka di kerangka luar lift.


"Lalu, siapa pemilik hotel ini? Apa hubungannya denganmu, asisten Ton?" Kulirik asisten Ton. Pria itu nampak berfikir dalam diam.


"Pemilik hotel ini adalah atasanku. Boss Armand dan bossku adalah orang yang sama." Hahh, apaa?!


Ting...!!


Ck..!Ck..!Ck..! Masya Allah.. Luar biasa... Lift yang datang menjemput pun berdinding kaca di bagian yang menghadap sisi luar. Hanya yang menghadap sisi lobi saja yang tidak. Kini aku dan asisten Ton, berada di kotak kaca yang menarik kami ke atas. Pemandangan indah di luar sana perlahan beralih di bawahku dan kutinggalkan. Membuat sensasi luncuran kotak kaca ini sangat terasa tarikannya.


"Asisten Ton, apa sekarang kamu telah bertukar boss?" Aku masih penasaran. Ton yang juga sepertiku, melihat pemandangan di luar dengan takjub, kini menolehku.


"Bossku masih sama dengan tahun-tahun yang lalu. Tidak pernah bertukar sekali pun. Dan belum ada rencanaku untuk tukar atasan." Degh...! Oh,Tuhankuu...


"Jadi boss mas Armand dan asisten Ton adalah boss Garrick?!" Deguban jantungku serasa berhenti karena sangat lajunya. Sesak karena pertanyaanku sendiri. Berdebar menunggu jawaban asisten Ton selanjutnya.


"Betul, mbak Elsi. Boss Garrick lah boss kami."


Degh.....Ya,Tuhankuu... Oh,jantungkuu... Jangan berulah.. Tenanglah kamu, ya.. Tenang... Dug..dug..dug.. Sedikit susah...Uh...


"Lalu, kita ini menuju kemana, di mana boss Garrick?" Kuhirup nafas dalam-dalam dan kutahan sebentar di dada. Tenang...


"Di rumahnya, mbak. Menunggumu di atas." Rumahnya di atas? Apa di sini pun Garrick membuat rumah rooftop seperti di Garju?


Ting..! Bunyi denting mengawali pintu lift yang membelah. Kuikuti asisten Ton yang tergesa berjalan. Kuraih kacamata dari tasku, lalu kupakai. Mataku pasti masih sangat sembab.


Di mana ini.. Ah, kami di rooftop! Rooftop ini bagiku sangat menakjubkan. Menghampar tanamann sri rejeki Aglaonema dengan daun yang bermacam warna dan motif. Berpetak-petak mengelilingi sebuah rumah cantik minimalis lantai dua. Dan asisten Ton tengah berjalan menuju rumah itu.

__ADS_1


"Silahkan masuk, mbak. Boss ada di dalam. Pintu ini tidak dikunci." Kuikuti asisten Ton yang berhenti tegak di depan pintu rumah. Deg..Garrick di dalam rumah ini.


"Iya, asisten Ton. Terimakasih." Ton samar mengangguk lalu berlalu. Mungkin dia turun lagi.


Tinggal aku di depan pintu dengan dig dug dadaku.


Tok..! Tok..! Tok..! Tanpa sahutan tanpa sambutan. Mengetuk pintu hanyalah basa basiku. Tak masalah jika Garrick tak menyambut. Ton sudah memesanku untuk masuk.


Kliek..!


Bunyi pintu yang kubuka sangat samar. Penuh dig dug, kumasuki rumah Garrick yang unik dan menarik. Sunyi.... Ah, tata ruang dalam rumah ini sangat mirip dengan kabin Garju di dek paling atas, yang kutempati dengan Garrick saat berlayar di kapalnya waktu itu. Bahkan lukisan dan hiasan serupa dengan yang di kapal, juga telah tergantung di dinding dalam rumah ini. Kenapa sama persis?


Kliek..!


Degh... Pintu dari salah satu kamar di depan sana terbuka. Ah,Garrick...,lelaki yang telah kutangisi semalam, muncul dan keluar. Garrick memandangku sambil tangannya menutup pintu. Bejalan ke arahku.


Garrick berhenti tegak di depanku. Pria gagah itu teduh redup memandang dengan senyuman samar di bibir. Menatap lekatku dengan menautkan alis tebalnya merapat. Oh calon suamiku yang tampan..,apa aku masih tetap calon istrimu?


"Boss Garrick...apa kabar..?" Ah suaraku tercekat. Aku ingin menangis, rasa tak percaya berjumpa dengannya. Garrick terus menatap diam dan berdiri agak rapat denganku.


"Hei, El.. Assalamu'alaikum.." Deg..Suara berat yang empuk itu kian seksi saat mengucap salam untukku.


"Wa'alaikumussalam..." Seperti tersindir tak percaya. Garrick bersapa salam denganku.


"Hei..Kenapa kau menangis?" Pertanyaan lembutnya justru membuatku terisak. Garrick mengulur kedua tangannya lagi ke wajahku. Kini menyeka air mataku perlahan. Oh,jantungkuuu...Diam manislah di dadaku..


"Kau berubah, El.." Garrick telah menarik tangannya. Mata coklat berkilat itu bergerak menyusur diriku sekilas. Bajuku adalah gamis, tapi rapi dan modis.


"Boss Garrick. Kamu pun berubah..." Akulah sekarang yang memandanginya terus terang. Pria gagah itu tengah berkoko dan bersarung tanpa peci. Sepertinya habis sholat. Adzan dzuhur agak lama telah lewat.


"Iya, telah lama aku tahu perubahanmu. Aku pun ingin lebih bagus sepertimu. Belajar jadi calon imammu yang baik." Garrick berbisik lirih menatapku. Kami berpandangan tanpa kedip. Garrick tersenyum dan kubalas. Kami saling tersenyum. Ah, perasaanku seperti bertabur kunang-kunang..


"Apa semalam kamu tidak marah? Aku pasti mengecewakanmu..dan ibuku.., apa sangat menyinggungmu?" inilah ganjalan di kepalaku. Aku sangat ingin tahu perasaannya.


"Tidak. Sudah kuduga bagaimana ibumu itu. Sampai kau merantau dan bekerja padaku, lalu aku bertemu denganmu. Jika ibumu tidak aneh begitu, mungkin kita belum juga bertemu." Ah, Garrick senyummu...


"Kau sudah berubah tertutup seperti ini. Aku percaya, kau bisa menjaga dirimu lebih baik lagi. Soal lelaki yang jalan denganmu dan disukai ibumu itu, aku sudah biasa melihatnya di cctv. Dia juga kawan Armand. Jika aku marah dan tak percaya lagi denganmu, aku tidak akan datang ke rumahmu. Lagipula, hatiku sudah biasa risau saat kau diminati lelaki lain." Garrick terdiam, tersenyum lagi. Uh..klepek-klepek hatiku...


"Bagaimana, El.. Apa kau lega dengan jawabanku?" Garrick semakin menunduk menatapku.


"Iya. Terimakasih. Maafkan aku. Tapi...Ibuku tidak setuju dengan hubungan kita.." Garrick bergerak memegang tanganku. Lalu menarikku duduk di sofa.

__ADS_1


"Iya..Sudah jelas. Aku tahu itu. Apa kau tahu apa alasannya, El?" Garrick memajukan punggungnya. Pria itu memilih duduk berseberangan meja denganku. Mungkin Garrick tak ingin lagi jadi garangan.


"Ibuku takut aku ikut denganmu dan kehilanganku. Dia tak mau aku menikah dengan orang jauh. Kakakku sudah menetap jauh di Jakarta. Jadi, akulah yang diharap ibuku untuk menemani di masa tuanya." Sendu kubincang ini pada pria yang menyimak di depanku.


"Jangan bimbang, El. Percayakan padaku. Akan kujinakkan ibumu. Kau cukup doakan aku... Lagipula setelah menikah, aku berniat menetap di kotamu. Kita bisa sambil menemani ibumu." Deg..Oh, Garju..Benarkah?


"Jika menatap di sini. Bagaimana usahamu yang di Batam?" Tentu saja aku sedih jika bisnis Garrick berantakan setelah menikahiku.


" Bukankah kau juga punya kafe yang sedang dipegang Anang itu, El. Begitulah kujalankan hotelku, sepertimu. Tapi sewaktu-waktu, kita perlu juga buat sidak. Kita berkunjung ke Batam bersama." Auh..Garrick, indah sangat rencanamu.


"Kapal pesiarmu bagaimana? Kenapa semua mengikutimu ke sini? Asisten Ton dan mas Armand.." Garrick menghirup nafas dan mengangkat alis menatapku.


"Aku menjual kapal pesiarku. Dan hotel ElGar inilah hasilnya. Aku sudah lelah, El. Kapal itu sangat menguras fisik dan waktuku. Aku angkat tangan. Jadi, salama ini aku sangat sibuk. Urusan di sini, kuserahkan pada Armand. Dan Ton masih bersamaku. Maaf jika aku terkesan mengabaikanmu. Urusan mencari pembeli dan pindah tangan kapal itu sangat rumit." Oh, begitu rupanya. Garju,Aku selalu padamu..


"Tapi, El.. Mungkin kau pun telah tahu. Aku selalu melihatmu tiap hari. Lewat cctv dan laporan Armand. Jadi, aku sangat memperhatikanmu. Dan aku tak sabar menunggu hotel ini jadi. Mungkin kau tak sadar.." Garrick tersenyum menawan memandangku. Ah, sekarang aku sangat sadar dan paham Garrick..


"Boss Garrick, apakah hotel ini hanya milikmu? Bukan join saham dengan orang?" Aku sangat ingin tahu, apa Garrick masih bekerja sama dengan pak David..


" Setelah kita nikah, hotel ini akan jadi milik dua orang El.. Hotel ElGar. Milik Elshe dan Garrick.." Degh...Ah, dadaku... Garrick semakin menatapku, senyum itu terus ada tanpa pudar. Ah, Garrick..Apa kau juga sangat bahagia seperti yang tengah kurasa?? ElGar's Hotel. Hotel milik Elshe dan Garrick! Ah...


"El.. Dzuhur sudah akan lewat, apa kau halangan?" Eh, maak..! Garrick memang berubah. Tapi, cara dia mengingatkanku.. Gokil sangat..! Dia mengusirku..?!


"Apa aku sedang diusir?" Aku tak paham maksudnya. Lelaki itu berdiri dari sofa dan jalan bergeser.


" Itu kamarmu, El. Shalatlah di sana. Sementara, sebelum akhirnya kita sekamar." Eh...Garrick berkata sambil menaik-naikkan alisnya berulang. Ish, bisa juga si garang bercanda. Candaannya membuatku sangat dah dig dug..


"Kau membawa alatmu kan, El ?" Garrick mendekat, berdiri rapat lagi di depanku. Degh..wangi parfumnya berhembusan masuk ke dadaku.


"Mukena, aku bawa. Tapi sajadah tak ada.." Garrick tak menyahutku.., tapi hanya terus menatapku. Tatapan yang sayu dengan ekspresi tegangnya.


"El, apa kau tak rindu padaku?" Degh... Ah,Garrick.. aku telah mulai bisa memahami gelagat nada dan suara bicaramu... Dig dug debar dadaku..


"Aku rindu.." Terus terang kukatakan, aku memang tengah kangen padanya setengah ketan.


"El..Aku tak kuat menahan rindu. Boleh aku memelukmu? Tak lama..." Tubuh Garrick semakin mendekat lagi padaku. Deg,,deg,, deg.. Berdebar rasanya..


"Kita bilang sudah saling berubah.Apa tak segan?" Duh, aku tak membolehkan, tapi juga tidak menolak..


"Apa itu segan, El..? Sedang Gandrung?" Auwh..Deg,,de,,deg..Garrick sangat cepat merapat dan kini memelukku. Garrick tak butuh lagi jawabaanku. Ah,tubuhku. Tanpa daya, kupasrah lemah dipeluknya. Hanya sebentar,, tidak lama.. Adakah gadis dengan pakaian beradab tapi berperilaku sepertiku? Berpelukan sangat erat dan rapat dengan kekasihnya..? Oh Tuhan.. Jika ada, aku telah jadi salah satu di antaranya. Duh,mak! Ampun..!


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ

__ADS_1


Harap ikuti akun author rengginan ini yaa... Author sangat ingin dukunganmu di setiap karya baru author.. Aku sangat kekurangan followers..πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™πŸ˜‹


__ADS_2