
Garrick menatap tajam, seolah mencari kebenaran di wajahku. Juan telah mengadu pada tuanku bahwa surat izin orang tua yang ku serahkan di syarat lamaran kerja itu palsu.
"Kau memalsukan tanda tangan ibumu.., benar itu, El ?" Ku rasa Garrick telah paham bahwa ayahku tak ada. Tuan Garang habis menyimak berkas lamaran kerjaku yang tersunting di ponsel pintarnya.
"Kau tak ingin mengaku? Baiklah. Kau pun dengar sendiri, El. Mas Juan telah izin padaku, akan membawamu ke kota asalmu. Apa kau mau?" Garrick memandangku, ponsel di tangan telah diletak di meja.
"Apa tuan ingin memutus kerjaku, karena tanda tangan ibuku yang ku palsu?" Ku harap, Garrick tidak terpengaruh pada surat izin abal-abal buatanku. Berharap Garrick sudi mempertahankan aku sebagai pekerja, agar Juan tak semakin merendahkan.
"Tidak,El. Jika kau masih ingin bekerja padaku, tetap saja ku tampung. Tapi jika kau ingin pulang kampung ikut mas Juan, tidak juga ku halangi." Mendangar jawab Garrick, ku sembunyikan senyum legaku. Ku tahu, jawaban tuan garangku kemungkinan besar begitu. Meski jika Garrick menolakku, masih sangat banyak rencana di kepala. Yang jelas, aku tak kan tunduk pada Juan!
__ADS_1
"Aku tidak akan pulang ikut mas Juan. Aku lebih suka bekerja dengan anda saja, tuanku." Garrick memandangku sekilas dari meja di seberang.
"Bagaimana, mas Juan?" Keduanya kini saling melempar pandang. Cukup lama, dan berakhir dengan pandangan geram Juan padaku.
"Aku tak menyerah, El. Aku sangat menunggu menemukanmu. Kini sudah di depan mata, mana mungkin aku mundur? Kita akan berbicara lagi lain kali." Juan melirik tuan garang di sebelah. Juan memang begitu, keras kepala dan egois. Sebelum Juan menembak cinta padaku, kami sempat berteman cukup baik. Dan berakhir dengan lamaran nekat Juan pada ibuku. Dari situ kian ku pahami, betapa egoisnya Juan padaku.
Ya, dia Anggun, bukan Dora lagi, penampilannya berubah. Dan itu cukup membuatku mendapat hidayah, tidak lagi menyebut Anggun dengan yang bukan namanya. Seberapa tak bertuah pun dia padaku!
"Ya..Duduklah, Anggun. Kau ingin makan?" Garrick lembut bertanya. Perlakuan Garrick semakin manis saja pada si Anggun. Apa mereka semakin mencinta?
__ADS_1
"Tidak, kak. Aku duduk saja!" Anggun duduk di samping tuan garangku. Kenapa..harusnya duduk berhadapan dengan Garrick, kan? Apa demi mengawasi gerakan mataku pada tuan garangku?
"Ini, El..Makanlah! Kau suka lobster kan?" Juan menyodor piring berisi irisan daging lobster yang siap ku makan. Tangannya masih memegang pisau dan garpu yang habis digunakan.
Sisi baik Juan padaku, perhatian! Saat masih berteman, Juan Sering bawa lobster saus panggang untukku dan ibuku. Tapi ternyata kebaikan Juan ada maunya. Dan sekarang..tentu saja ada yang dia mau!
Tak sengaja, ku sapukan mata ke meja sebelah.Anggun dan Garrick, dua pasang mata itu sehati melihatku. Garrick dengan tatapan tajam yang biasa ku dapat. Mungkin, Garrick geli denganku, si kacung yang biasa melayaninya, kini dilayani Juan dengan manis.
Anggun...Inilah yang heran, Anggun kudapati kerap menatap Juan sangat tajam. Dan terkadang perang mata denganku sesekali. Terlebih saat ini..., ada yang aneh dari Anggun. Apalagi yang dipikir Anggun? Bukankah aku telah duduk terpisah dengannya? Sepatutnya...,Anggun gembira saja duduk berdua di sana dengan pujaan hatinya!
__ADS_1