
Menjemput kantuk dengan membuka ponsel, membuka pesan sangat penting yang lupa ku baca.Aduan dari banking, jumlah transfer dari Irgi. Memuaskan, bisa ku beli perhiasan! Ada lagi...,dari dia..,si garang...Tak ku sangka, angka fantastis ku baca di sana. Apa uang hanyalah angka tanpa makna baginya? Kuyakinkan, rencana angsur kredit untuk kafe, kubatalkan. Modal tambahan telah ada, jadi rencana nyicil itu...ku ganti tunai saja!
Memang juga sempat ragu, pada bagaimana status uangku! Ku yakinkan, aku tak menjual diriku. Tapi ini adalah rizqi, dari hoki yang dicurah Tuhan padaku! Adakah yang tak sependapat denganku? Iri, bilang boss! 😂 (Iyalah, El..Otor sungguh iri denganmu!)
Ketenengan batin berlipat, seiring menebalnya isi dompetku. Ku bentang tangan menikmati rebahan nyaman di pembaringan. Ku harap kantuk cepat datang menghantam mata. Tanganku tersentuh sesuatu selain bed coverku.
Oh, jas hitam si Garrick! Jas tanpa daya itu teronggok di sampingku. Terbawa masuk ke kamar saat ku dilanda frustasi. Frustasi karena pemilik jas ini. Ku tepis kasar jas hitam itu dan jatuh melorot ke lantai. Sesaat rasa puas di hati.
Tapi sadar diriku ..,geram pun menipis, terkikis besar kompensasi yang dikirim tuan garang ke akunku. Ku bangkit melompat, menyambar jas di lantai. Kuletak semula di sampingku. Ku remas jas hitam itu sebagai pelampiasan sisa geramku. Terus begitu sampai kantuk menyergap dan menawan jiwaku ke mimpinya.
******
Tok...! Tok..!Tok...!Tok...!
Tergagap bangun oleh ketuk di pintu. Pasti si Garrik..Siapa lagi? Jam berapa ini? Kepalaku sakit berdenyut.
Ceklek!
__ADS_1
Garrick menjulang di depan pintu dengan wajah kusutnya. Matanya redup melihatku.
"Ya, boss, ada apa?" Ku perhatikan wajah kiyut bantalnya, mata redup itu nampak sedikit memerah.
"Bangunlah, El. Ini bukan Rabu lagi. Ini hari Kamis. Kembalilah dari pulang kampungmu. Saatnya bekerja!" Garrick berkata dengan suara terdengar parau. Apa dia kurang tidur?
"Sebentar,boss. Saya cuci muka!" Ku tutup paksa pintuku, Garrick menepi dan pergi.
Ku lihat ponselku, masih jam empat, subuh pun belum. Lalu, kerja apa sepagi ini... Sekali lagi, ku ratapi profesi kacung rumahanku.
"Buatkan coklat hangat, El! Gelas besar!" Garrick segera berseru saat ku muncul di pintu. Semalam dia makan sedikit, mungkin sekarang kelaparan. Apa dia tak tidur.. Manja! Bikin coklat pun tak mau!
"Pramusaji hotel akan datang, tak usah masak." Garrick telah menggelosor badan besarnya di sofa. Ada bantal dari kamarnya di sana. Tumben si garang bawa bantal dan tidur di sofa.
Saat ku kembali dari wastafel mencuci gelas bekasnya. Garrick telah tidur pulas di sofa. Mungkin dia kenyang dengan segelas coklat hangat buatanku. Apa semalam dia menahan untuk tidak menyuruhku? Baguslah...Dia mengerti protesku!
Ngantukku telah hilang. Tugas berkemas rumah juga beres. Kamar Garrick..nanti sajalah ku kemas.
__ADS_1
Tok...!Tok...!Tok..!
Kancing terakhir di dress yang kupakai, baru saja ku kaitkan. Aku habis mandi setelah siap kemas rumah. Buru-buru ku buka pintu di kamarku. Bayangan Garrick menghardik, seperti trauma bagiku.
"Mana jas kerjaku, El!" Seruannya langsung ku dengar begitu pintu kubuka. Garrick terlihat fresh dengan kemeja biru panjang yang berdasi.
"Tak dicuci, boss?" Garrick menggeleng. Oh, tampan sekali.
Gas ku balik badan masuk kamar, sambil mengingat bahwa jas miliknya di mana.
Ku genggam jas hitam itu setelah kudapati di kasur.
"El..! Semalam aku tak tidur! Apa kau tidur bersama jas kerjaku dengan nyenyak?" Maaakk.. Garrick telah berdiri tegak di belakangku, di samping tempat tidur. Ini pertama kali tuanku masuk ke kamarku. Meski ini rumahnya..,tapi seperti ini tidak sopan.
"Kenapa mengikuti ke dalam kamarku, tuan Garrick?! Tolong lain kali tunggu saja di luar!" Ku ulur jas yang diminta agar dia keluar lebih cepat. Tapi Garrick hanya diam menatapku tak berbalik keluar.
Seeet!! Tetiba tangan Garrick menyambar kasar jas hitam itu dariku. Adegan yang ku pikir hanya tipuan, kini nyata ku alami. Aku huyung dan Garrick menangkapku. Tercium parfum yang harum lembut darinya.
__ADS_1
Cup!
Haah..!!! Garrick menciumku! Bibir merah itu telah ditempel di pipiku saat ku sibuk lepas diri darinya. Bahkan bibir itu tetap menempel di pipiku, nafas hangatnya tengah berhembusan di pipiku, benar-benar bengek rasanya. Aku seperti tengah mendapat karma dari adegan yang tak pernah ku percaya!